Browsed by
Month: November 2021

Orang Kusta dari Samaria

Orang Kusta dari Samaria

Bacaan Keb. Salomo 6: 1-11; Luk 17: 11-19

Suatu saat Yesus  berjalan melewati batas daerah antara Samaria dan Galilea. Ia akan pergi ke Yerusalem. Di situ, dia berjumpa dengan orang yang sakit kusta. Menurut aturan Yahudi, orang kusta dilarang masuk dalam pemukiman. Orang zaman dulu sudah sadar bahwa kusta bisa menular sehingga mereka harus dipisahkan. Obat sakit kusta baru dikembangkan tahun 1940-an.

Sekelompok orang kusta itu berteriak pada Yesus dari jauh dan minta disembuhkan. Yesus pun berbelaskasihan dan menyembuhkan orang kusta itu yang berjumlah 10 orang. Namun hanya ada 1 orang yang kembali pada Yesus dan mengucap terima kasih padanya. Orang itu dari Samaria.

Kemampuan untuk berterima kasih muncul karena orang sadar akan pemberian cuma-Cuma dari orang lain. Kadang kita tidak bisa berterima kasih karena kita menginginkan sesuatu lebih dari apa yang kita dapatkan. Akibatnya kita menjadi sedih dan tak bersemangat karena keinginan kita tak tercapai.  Kemerdekaan untuk menerima akan diikuti juga kemerdekaan untuk memberi. Dalam pengalaman menerima, kita tidak hanya belajar berterima kasih, tapi juga kita menemukan kepercayaan  dan kekutaan untuk memberi, u ntuk berbagi apa yang kita punya bagi sesama.

Rasa syukur tidak akan datang spontan dalam hati kita kalau kita tidak dengan rendah hati dan sadar mengakui bahwa hidup ini adalah anugerah. Saya baru sadar kalau saya punya gigi, saat saya sakit gigi beberapa waktu lalu. Gigi saya berlubang dan sakitnya bukan main. Namun karena sakit itulah, saya bisa bersyukur ketika sembuh dari sakit setelah datang ke dokter gigi. Mari, buatlah rasa syukur menjadi gaya hidup kita agar kita mudah melihat anugerah Allah yang datang pada kita setiap hari.

Perayaan Pemberkatan Gereja Basilika Lateran

Perayaan Pemberkatan Gereja Basilika Lateran

Bacaan: Yeh 47: 1-2, 8-9, 12 dan Yoh 2: 13-22

Kadang kita bertanya-tanya, apa hubungan perayana pemberkatan gereja basilica Lateran dengan kita yang jauh dari Roma? Bukannya perayaan pemberkatan itu hanya untuk mereka umat paroki Gereja Basilika saja?

Gereja Basilika Lateran adalah tempat dimana Paus Roma menjadi uskup di sana. Kita orang Katolik seluruh dunia merayakannya sebagai tanda kesatuan seluruh Gereja dengan Paus sebagai pengganti Petrus. Gereja Basilika Lateran disebut sebagai ibu dan kepala Gereja Roma dan seluruh dunia.

Kisah Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem mengingatkan kita kalau ada berbagai kepentingan dan kebutuhan orang mengapa mereka pergi ke tempat doa. Bait Allah Yerusalem bagaikan sebuah basilika, pusat dari semua tempat ibadat bagi orang Yahudi yang tersebat di berbagai tempat. Tentu saja orang pergi ke Bait Allah untuk beribadah. Namun ada pula orang datang ke Bait Allah untuk mencari nafkah. Orang membuka tempat penukaran uang recehan untuk persembahan. Ada pula orang menjual binatang mulai dari burung merpati sampai kambing domba sebagai syarat kurban bagi pengampunan dosa atau kurbah silih.

Melihat semua kegiatan tukar menukar uang dan jual beli dalam Bait Allah membuat hati Yesus meradang. “Cinta akan rumahMu menghanguskan aku!” Dia melemparkan uang para penukar uang. Mengusir para pedagang ternak dan menghalau mereka dengan cambuk. Luar biasa kemarahannya.

Kalau tantangan yang dihadapi Yesus saat itu adalah soal ekonomi dan penyalahgunaan tempat ibadat untuk bisnis serta mencari keuntungan. Lain  lagi persoalan Gereja Katolik yang ada sekarang ini. Kesatuan dan keutuhan Gereja digerogoti oleh pertentangan antara sesama orang Katolik yang berseberangan karena berbeda idiologi. Ada yang me nyebut diri Katolik liberal, ada pula orang memandang sesama Katolik masuk dalam kelompok konservatif. Selain itu, ada pula orang-orang Katolik yang menentang Paus Fransiskus dan tidak menerimanya.

Dalam perayaan pemberkatan Gereja basilika Lateran ini, kita diajak untuk berdoa bagi kesatuan umat Katolik. Semoga perbedaan pendapat, perselisihan idiologi, dan ketidakpercayaan pada pemimpin Gereja tidak membuat Gereja semakin lemah dan memudar maknanya. Kita menyadari bahwa umat yang membentuk Gereja Katolik ini memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Namun janganlah semua kekurangan itu meruntuhkan dan melemahkan iman kita akan Yesus Krisus.

Senin 7 Nov 2021

Senin 7 Nov 2021

Bacaan Liturgi, Senin 7 Nov 2021:  Wis 1:1-7; Lk 17:1-6

Bacaan Injil Lukas ini memiiki 3 bagian yaitu, pertama persoalan tentang penyesatan (ayat 1-2); kedua tentang pengampunan (ayat 3-4) dan yang terakhir tentang iman (ayat 5-6). Ketiga ajaran Yesus itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah menghadapi orang yang dengan sengaja berusaha menyesatkan orang lain, mengambil keuntungan dari sesama,  memanfaatkan kelemahan mereka, dan menjatuhkan sesamanya agar tidak hidup sesuai dengan kebaikan. Kita sering tidak tahu mengapa orang berbuat demikian jahat pada sesama. Yang pasti bahwa kejahatan, penyesatan, penipuan dan bahaya kedosaan selalu membayangi Langkah setiap orang yang berusaha hidup baik dihadapan Allah dan sesama. Yang lebih dikecam oleh Yesus adalah orang yang menyesatkan orang lemah dan tidak berdaya. Orang menyesatkan mereka karena orang lemah lebih mudah dipengaruhi dan dijatuhkan dibanding dengan orang yang secara spiritual sudah kokoh imannya.

Selanjutnya Yesus berbicara soal pengampunan. Ajaran ini sama dengan kisah Petrus yang bertanya berapa kali saya harus mengampuni saudara? Yesus menjawabnya, berkali-kali dan tanpa henti. Kalau dalam ajaran ini, orang yang minta ampun sehari 7x harus kita ampuni. Artinya tiada henti, seorang beriman diajarkan untuk mengampuni orang yang bersalah walau ia berkali-kali jatuh dalam kesalahan. Namun kalau kesalahannya dilakukan karena menyesatkan orang lemah, ia haru dihukum berat.

Pasti tidak mudah mempraktekkan ajaran Yesus untuk mengampuni orang lain yang datang 7x sehari pada kita. Mengampuni yang datang hanya sekali saja sering kita tidak mampu mengampuninya, apalagi datang berkali-kali.

Kemampuan orang agar bisa mengampuni itu perlu didasarkan pada iman yang kokoh. Para murid meminta, “ Tuhan tambahkan iman kami!” agar mereka bisa mengampuni sesama. Yesus sendiri memberi jaminan, kalau imanmu sebesar biji sesawi saja, imanmu bisa mengubah apa yang dinilai mustahil dalam hidup.

Oleh karenanya, bacaan Injil ini mengingatkan agar kita tidak jemu-jemu meminta iman yang besar. Kalau kita  masih berat untuk mengampuni sesama, dendam pada orang karena mereka bersalah, dan sakit hati karena disesatkan dan dijatuhkan, mintalah iman agar kita dikuatkan untuk menghadapi semua itu.

Janda Miskin: Kritik untuk Gereja

Janda Miskin: Kritik untuk Gereja

Minggu Biasa ke-32 [B]
7 November 2021
Markus 12:38-44

Kita memiliki dua karakter utama dalam Injil kita hari ini. Yang pertama adalah para ahli Taurat dan yang kedua adalah sang janda miskin. Ahli Taurat adalah kelas elit masyarakat Israel kuno. Mereka adalah orang-orang terpelajar karena mereka tahu cara membaca dan menulis, keterampilan yang sangat berharga pada masa itu. Kemampuan dan hak istimewa mereka untuk mengakses Kitab-Kita Taurat membuat mereka sangat berpengaruh karena mereka mengerti dan mengajarkan Hukum Allah, dan orang-orang biasa harus mendengarkan mereka. Di sisi lain, ada janda miskin. Menjadi seorang wanita di zaman Yesus tentu bukan hal yang mudah. Selain menghadapi diskriminasi, wanita umumnya tidak diperbolehkan memiliki atau mewarisi properti. Hal ini menyebabkan mereka sangat bergantung pada anggota keluarga laki-laki mereka, seperti ayah, saudara laki-laki, atau suami. Jadi, jika seorang wanita kehilangan suaminya, dia kehilangan pelindung dan pemberi nafkahnya, dan jika seorang janda yang tidak memiliki anak laki-laki, dia adalah yang paling miskin di antara para janda. Tapi, Tuhan Yesus memberikan kejutan.

Yesus memuji janda miskin dan mengecam para ahli Taurat. Kemiskinan dan kesengsaraan janda miskin tidak menghentikannya untuk bermurah hati. Mungkin, dia mempersembahkan kepada Tuhan dua koin kecil terakhir yang dia miliki, dan dia mungkin akan kelaparan sepanjang hari. Namun, kasih dan imannya kepada Tuhan sangat besar. Dia tidak berpegang koin yang dapat penyelamatan hidupnya, tetapi dia percaya bahwa Tuhan akan menjaganya.

Sementara itu, tanpa berpikir dua kali, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat. Yesus mengungkapkan alasan-Nya: ahli-ahli Taurat berada di puncak masyarakat Israel dan hierarki agama Yahudi, tetapi yang mereka pedulikan adalah kepentingan diri mereka sendiri. Mereka menggunakan setiap kesempatan untuk menambah kemuliaan dan popularitas mereka. Mereka menginginkan kursi terbaik, tempat tertinggi, dan kehormatan terbesar dari orang-orang di sekitar mereka. Aksi-aksi megalomania ini dapat ditolerir, tetapi ada satu hal yang hampir tidak bisa dimaafkan. Menggunakan pengetahuan mereka akan Hukum untuk memanipulasi dan mengeksploitasi sesama mereka yang miskin. Ada kemungkinan bahwa janda miskin menjadi salah satu korban mereka. Dengan hak-hak istimewa dan kebijaksanaan, mereka seharusnya membantu dan meningkatkan kehidupan orang-orang Israel yang miskin. Namun, mereka melakukan yang sebaliknya, dan menjadi penyebab penderitaan dan penindasan yang lebih besar bagi orang-orang sederhana ini. Mereka adalah ahli hukum Taurat, tetapi mereka menjadi pelanggar pertama hukum Allah ini, “Jangan mengambil keuntungan dari seorang janda atau anak yatim!” [Kel 22:22].

Injil hari ini adalah tamparan bagi banyak dari kita, terutama bagi kita yang dipercayakan dengan pewartaan Sabda Allah, dengan posisi otoritas di Gereja, dan dengan kuasa sakramen. Berkali-kali, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa yang terbesar harus menjadi hamba dari semua. Semakin tinggi posisinya, semakin besar kasih dan pelayanannya, terutama kepada orang miskin dan yang membutuhkan. Sebagai imam, saya harus bertanggung jawab dalam menggunakan properti dan harta benda Gereja, saya dipanggil untuk melayani dengan penuh dedikasi, saya harus mempersembahkan hidup saya untuk umat, jika tidak, saya akan melakukan ketidakadilan yang serius kepada umat Allah. Kita berdoa agar kita tidak menerima penghukuman yang sama seperti para ahli Taurat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Poor Widow: A reminder for all of us

Poor Widow: A reminder for all of us

32nd Sunday in Ordinary Time [B]
November 7, 2021
Mark 12:38-44

We have two main characters in our Gospel today. The first one is the scribes and then the poor widow. The scribes are the elite class of the ancient Israelite society. They are the learned ones because they know how to read and write, extremely precious skills during those times. Their ability to access the Torah makes them powerful because they read and teach the Law, and ordinary people should listen to them. At the other end of the spectrum, we have the poor widow. Being a woman in the time of Jesus is undoubtedly not the best time. Women generally are not allowed to possess or inherit properties. This causes them to rely heavily on their male family members, like their father, siblings, or husbands. Thus, if a woman loses her husband, she loses her protector and provider, and a widow with no sons is the neediest. But, here comes the surprise.

Jesus praises the poor widow because her poverty and misery do not stop her from becoming generous. Perhaps, she offers to the Lord the last two small coins she has, and she may go hungry for the rest of the day. Yet, her love and faith in God are enormous. She does not hold to her life-saving coins, but she trusts that God will take care of her.

Meanwhile, without a second thought, Jesus condemns the scribes. Jesus reveals His reason: the scribes are at the top of the Israelite society and Jewish religious hierarchy, but they care about their self-interests. They use every opportunity to advance their glories and fame. They desire the best seats, the highest place, and the greatest honor from the people around them. This megalomanic tendency can be tolerated, but there is one thing that is almost unforgivable. By using their knowledge of the Law, they are manipulating and exploiting the poor neighbors. There is a possibility that the poor widow is one of their victims. No wonder that Jesus calls them ‘the devourers of the poor widows. With their privileges and wisdom, they are supposed to aid and improve the lives of the poor Israelites. Yet, they do the opposite and turn to cause greater suffering for these simple people. They are masters of the Law, but they stand in direct opposition to God’s Law, “Do not take advantage of a widow or an orphan” [Exo 22:22].

Today’s Gospel is a slap on the face for many of us, especially for the people who are entrusted with God’s Word, with positions of authority in the Church, and with the power of the sacraments. Time and again, Jesus reminds His disciples that the first shall be the servant of all. The higher the position is, the greater love and service will be, especially to the poor and the needy. As priests, we must be responsible for using Church’s properties and goods, we are called to serve with dedication, we are to offer our lives for the people, otherwise, we shall commit grave injustice to the people of God. We pray that we will not receive the same condemnation as the scribes.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »