Browsed by
Month: March 2022

MARILAH KEPADA-KU

MARILAH KEPADA-KU

Rabu, 16 Maret 2022


Matius 20:17-28

Yesus menunjukkan sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap murid-murid-Nya, yaitu sikap berani berkorban demi pelayanan, kebaikan dan kebenaran. Pengorbanan bukan sesuatu yang menyenangkan tetapi sesuatu yang bernilai yang akan melahirkan kebaikan. Dengan demikian,  menjadi murid Kristus bukan bertujuan untuk mencari “kesenangan” tetapi untuk menjadi terang dan berkat, artinya menjadi mematik kebaikan yang akan menularkan kebaikan tersebut ke banyak orang. “….sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”(Mat 20:28).

Oleh karena itu, sebagai pengikut Kristus perlu menyadari dan memiliki kesiapan untuk menghadapi hal-hal yang tidak nyaman sebagai konsukuensinya sebagai murid Kristus, yaitu ketika harus setia pada hal-hal yang baik dan kemudian mendapat bertentangan dari yang lain. “Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”(Mat 8:20). Tututan sebagai murid Kristus memang tinggi, oleh sebab itu tidak banyak orang yang setia mengikuti-Nya, namun bukan berarti hal itu tidak mungkin, sebab bukan karena manusia tetapi karena kehendak Allah seseorang bisa menjadi murid-Nya, dan kekuatan Allah yang akan bekerja dan menopang hidup mereka yang setia mengikuti Kristus. “Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”  Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.(Yoh 6:65-66).

Dengan demikian, di dalam perjalanan hidup setiap pribadi manusia menuju satu tujuan, yaitu hidup yang kekal, tempat Bapa Sang Kebaikan berada,  diperlukan penuntun arah hidup supaya tidak berputar-putar dan tersesat, yaitu Yesus Kristus. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”(Yoh 14:6). Dia sudah datang dan menyapa manusia, oleh karena itu jawaban setiap orang untuk berani mengikuti-Nya selalu Dia serukan. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:28).

Rm. Didik, CM 

TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN

TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN

Selasa, 15 Maret 2022


Matius 23:1-12

Setiap murid Kristus dipilih untuk ambil bagian dalam karya keselamatan menghadirkan Kerajaa  Allah. Dengan demikian mereka dipilih bukan untuk cari keselamatan dirinya sendiri. Sebaliknya  mereka dipanggil dan pilih untuk memikirkan keselamatan sesama. Dengan memberikan diri untuk keselamatan orang lain berarti juga menyelamatkan diri mereka sendiri. Sebaliknya jika hanya memikirkan dirinya sendiri, ia tidak punya arti apa-apa sebagai murid Kristus.
Dengan demikian jika seseorang hanya mementikan dirinya sendiri hal itu bertentangan hakekatnya sebagai orang-orang terpilih dan juga bertentangan dengan apa yang diajakan oleh Yesus. “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.”(Luk 9:24).

Oleh karena itu, sebagai murid Kristus, mereka dipercaya dan memiliki tanggung jawab besar guna terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan bersama bagi seluruh umat manusia, melalui peran dan karya dari masing-masing orang/murid. Dengan keberanian memberikan diri di dalam pelayanan, mereka telah mewujudkan iman mereka yang sejati, sebab iman tanpa disertai dengan perbuatan pada hakekatnya mati. “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”(Yakobus 2:26).

Siapakah mampu melakukan semua itu? Jika seseorang hanya melihat dirinya sendiri akan pasti ia tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi jika seseorang menyadari penyertaan dan kebersamaannya dengan Kristus maka semua yang bagi manusia mustahil, akan menjadi terlaksana. Kata Yesus: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.”(Luk 18:27).Bagaimana agar kekuatan Allah bekerja di dalam diri manusia? Kuncinya adalah iman dan kerendahan hati. Seseorang bisa percaya/menginani Allah karena sikap rendah hati, dan orang yang rendah hati akan semakin menyadari kerapuhannnya sebagai manusia sehingga ia akan mengandalkan Allah. Dan jika Allah sudah bertindak tidak ada yang tidak bisa terjadi, artinya semuanya menjadi mungkin dan terlaksana. Oleh karena sikap demikian maka Allah meninggikan orang tersebut dengan menarik-Nya sebagai orang yang dekat dengan-Nya. “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”(Mat 23:12).

Rm. Didik, CM

BERMURAH HATI

BERMURAH HATI

Senin, 14 Maret 2022


Lukas 6:36-38

Yesus mengajak para murid-Nya untuk lebih mengenal siapa Allah yang mereka imani. Allah yang diimani adalah Allah yang Murah Hati, yang telah  hadir  ke dunia di dalam diri Putera-Nya untuk menyatakan kasih kemurahan Allah yang tanpa batas kepada manusia. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”(Yoh 3:17).
Oleh karena itu, setiap orang yang percaya, memiliki tanggung jawab untuk menyalurkan belas kasih Allah tersebut kepada sesamanya. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”(Luk 6:36).

Dengan demikian sikap bermurah hati adalah sikap Allah terhadap manusia yang diharapkan sikap tersebut juga menjadi sikap yang dihidupi oleh semua orang yang percaya kepada-Nya. Jika sikap murah hati tumbuh baik di dalam diri seseorang maka ia akan mudah menerima kemurahan hati Allah yang mengalir ke dalam hidupnya melalui peristiwa-periatiwa hidupnya. Hal itu bisa seperti seorang petani yang menanam benih tanaman yang baik dan pada suatu saat ia akan menunai hasil atau buahnya. “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”(Luk 6:38).

Oleh karena itu, setiap keputusan dan tindakan seseorang bersumber dari dalam dirinya, dan jika hatinya sudah dipenuhi oleh kasih dan kemurahan Allah maka dengan sendirinya ia ditumbuhkan oleh kasih Allah dan buah kebaikannya bisa dirasakan oleh orang-orang disekitarnya. Sebaliknya jika hatinya jauh dari Allah, maka jauh juga dari sifat dan sikap Allah, sebab ia memiliki sumber yang lain yang bukan dari kekuatan Allah. Sumber lain diluar Allah  berarti tidak sejalan dengan nalai-nilai kehidupan dari Allah dan dengan demikian bisa merusak kehidupan manusia; relasi  manusia dengan Allah  dan relasi dengan sesamanya. Kekuatan yang melawan Allah tersebut adalah egoime yang menyebabkan dosa. Seberapa besar kadar dosa tersebut sudah merusak manusia, bisa dilihat seberapa besar keberanian manusia untuk bermurah hati terhadap sesamanya.

Rm. Didik, CM 

Eksodus: Dari Transfigurasi ke Kalvari

Eksodus: Dari Transfigurasi ke Kalvari

Minggu Kedua Prapaskah [C]

12 Maret 2022

Lukas 9:28b-36

Setiap Minggu kedua Prapaskah, Gereja memilih kisah Transfigurasi untuk pembacaan Injil kita. Pada saat ini, Yesus bersama dengan tiga murid yang dipercaya, naik ke sebuah bukit, dan di sana, dia berubah rupa. Dia memancarkan kemuliaan ilahi dan wajah-Nya berubah menjadi cahaya terang. Bahkan dua orang terbesar dalam Perjanjian Lama, Musa dan Elia hadir dan menemani Yesus. Dia memanifestasikan kodrat ilahi-Nya kepada ketiga murid-Nya, dan itu adalah saat yang sangat menyenangkan. Simon tidak ingin pengalaman itu berlalu begitu saja, dan menawarkan untuk membangun tenda di sana. Pertanyaannya adalah mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah?

Jawabannya terletak pada topik yang sedang dibahas oleh Musa, Elia dan Yesus: Eksodus atau Keluaran. Ketika kita mendengar kata eksodus atau keluaran, hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah bangsa Israel di bawah Musa keluar dari perbudakan Mesir. Dari Mesir, orang Israel melewati Laut Merah, padang gurun dan akhirnya memasuki Tanah Terjanji. Tujuan akhir mereka adalah kota Yerusalem. Lalu, mengapa Yesus berbicara tentang eksodus-Nya?

Alasannya adalah bahwa Yesus adalah Israel yang baru, dan seperti Israel lama yang melewati eksodus, Yesus harus menjalani eksodus-Nya. Namun, tidak seperti Israel lama yang memulai eksodus mereka di Mesir, Yesus memulai eksodus-Nya di Yerusalem. Tidak seperti Israel lama yang tidak setia kepada Tuhan di padang gurun, bersungut-sungut dan menyembah berhala, Yesus taat kepada Bapa-Nya melalui penderitaan dan kematian. Tidak seperti Israel lama yang memasuki Tanah Perjanjian dengan banyak pertempuran dan kekalahan, Yesus bangkit dari kematian dan menang secara definitif terhadap Setan dan kerajaan-Nya. Tidak seperti Israel kuno yang naik ke kota Yerusalem duniawi, Yesus dengan mulia naik ke Yerusalem surgawi.

Setelah peristiwa Transfigurasi, Yesus tidak lagi tinggal di Galilea, tetapi terus bergerak menuju kota Yerusalem. Inilah alasan mengapa kita memiliki bacaan ini untuk masa Prapaskah. Saat Yesus melakukan perjalanan menuju eksodus-Nya di Yerusalem, kita juga berjalan bersama Yesus di masa Prapaskah ini menuju Trihari Suci: dari gunung Transfigurasi ke gunung Kalvari.

Kisah Transfigurasi dalam konteks Prapaskah memberi kita pelajaran berharga. Seperti Petrus, kita suka berlama-lama di saat-saat mulia dalam hidup kita. Namun, Yesus mengajarkan bahwa kemuliaan sejati ada setelah melewati eksodus. Mesir kita tidak lain adalah diri kami yang lama dimana kita diperbudak oleh dosa. Setiap kemuliaan tanpa mau mati terhadap diri kita sendiri adalah palsu, semu dan bahkan membuat ketagihan. Ini tentu tidak mudah karena kita mencari perasaan nikmat, dan ketika kita terbiasa, semakin sulit untuk melepaskan diri. Melalui aksi Prapaskah, yakni puasa, doa dan amalkasih, kita belajar bagaimana mati terhadap keinginan kita untuk menikmati kepuasan secara instan. Ketika kita mampu mengatur keinginan duniawi kita dengan benar, semakin hati kita menginginkan Tuhan, dan saat kita menyatu dengan Tuhan, kita menemukan kemulian sejati kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

From Transfiguration to Calvary

From Transfiguration to Calvary

Second Sunday of Lent [C]
March 12, 2022
Luke 9:28b-36

Every second Sunday of Lent, the Church chooses the event of Transfiguration for our Gospel reading. During this moment, Jesus, together with three trusted disciples, went up to the mountain, and there, he was transfigured or changed appearance. He was radiating a divine glory, and His face turned to be a bright light. The two most outstanding persons in the Old Testament, Moses and Elijah, appeared and accompanied Jesus. He was manifesting His divine nature to the three disciples, and it was an overwhelmingly joyful moment. Simon did not want the experience to pass and offered to build tents there. The question is that why does the Church choose this reading for this season of Lent?

The answer lies on the topic that Moses, Elijah and Jesus were discussing: Jesus’ exodus. When we hear the word exodus, the first thing that comes to mind is that the Israelites under Moses escaped the slavery of Egypt. The Israelites passed through the Reed Sea, the desert from Egypt and eventually entered the Promised Land. Their final destination was the city of Jerusalem.
Then, why did Jesus speak about His exodus?


The reason is that Jesus is the new Israel, and as the old Israel passed through exodus, Jesus had to undergo His exodus. However, unlike the old Israel that started their exodus in Egypt, Jesus began His exodus in Jerusalem. Unlike the old Israel that was not faithful to God in the desert and worshipped idols, Jesus was obedient to His Father through suffering and death. Unlike the old Israel who entered the promised Land with many lost battles, Jesus rose from the death and won definitively against Satan and His kingdom. Unlike the old Israel who went up to the earthly city of Jerusalem, Jesus gloriously ascended to the heavenly Jerusalem.


After the event of Transfiguration, Jesus no longer stayed in Galilee but steadily moved toward the city of Jerusalem. This is why we have this reading for the season of Lent. As Jesus journeyed to His exodus in Jerusalem, we are also walking with Jesus in this season of Lent toward the Paschal Triduum: from the Mount of Transfiguration to the mount of Calvary.


The story of Transfiguration in the context of Lent gives us a precious lesson. Like Peter, we like to linger in the glorious moments of our lives. Yet, Jesus teaches that our real glory has to pass exodus. Our Egypt, our starting point, is none other than our old and sinful selves. Any moment of glory without dying to ourselves is fake, fickle and even addictive. It is undoubtedly not easy because we are craving for the feeling of pleasure, and when we get used to it, the harder it is to detach ourselves. Through the disciple of Lent, fasting, prayer and almsgiving, we are learning how to die to our desire to enjoy instant gratifications. When we can adequately order our worldly desires, the more our hearts desire for God, and the moment we are one with God, we find our true joy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »