Browsed by
Month: September 2022

Mengasihi atau Membenci Keluarga

Mengasihi atau Membenci Keluarga

Minggu Biasa ke-23 [C]

4 September 2022

Lukas 14:25-33

Sekali lagi, kita menjumpai perkataan Yesus yang keras. “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnyadan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku [Luk 14:26-27].” Pernyataan ini memang membuat kita bertanya-tanya. Apakah Yesus benar-benar ingin kita membenci orang-orang yang seharusnya kita hormati dan kasihi? Mengapa Yesus meminta untuk membenci orang tua kita, tetapi Dia mengajarkan kita untuk mengasihi bahkan musuh kita? Apakah ini sebuah kontradiksi? Bagaimana kita perlu memahami perkataan Yesus yang keras ini?

Hal pertama adalah mempertimbangkan arti ‘benci’ dalam konteks Alkitab. ‘Benci’ tidak berarti melakukan hal-hal yang merugikan atau jahat kepada seseorang. ‘Benci’ berarti ‘mencintai’ seseorang dengan intensitas yang lebih rendah. Sebuah contoh yang baik adalah dalam cerita Yakub, Rahel dan Lea. “Maka Yakub pergi menemui Rahel, dan dia lebih mencintai Rahel daripada Lea… Ketika Tuhan melihat bahwa Lea dibenci, Dia membuka rahimnya… (Kej 29:30–31)” Yakub ‘membenci’ Lea, artinya dia mencintai Rachel lebih dari Leah. Jadi, ketika Yesus berkata bahwa dalam mengikuti Dia, kita perlu membenci keluarga kita, ini berarti kita harus mengasihi Yesus lebih dari keluarga kita. Ini memang tuntutan yang adil. Jika Yesus adalah Tuhan kita, maka kita harus mengasihi Dia di atas segalanya, termasuk orang tua, saudara, atau anak-anak kita sekalipun.

Hal penting kedua yang perlu kita lihat adalah konteks Injil ini. Yesus sedang dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, dan di sana, Dia akan menghadapi salib-Nya. Jika para murid benar-benar memutuskan untuk mengikuti jejak sang Guru, mereka harus ‘membenci’ keluarga, pekerjaan, dan bahkan kehidupan mereka. Jika tidak dan mereka tetap terikat pada keluarga, harta benda dan hubungan duniawi mereka, mereka tidak akan mampu menanggung penderitaan sebagai konsekuensi mengikuti Yesus. Tidak heran dalam bab-bab sebelumnya, Yesus bahkan berkata kepada mereka yang ingin menjadi murid-Nya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati!”

Dari dua perspektif ini, ajaran Yesus yang terlihat keras sebenarnya masuk akal. Namun, yang menarik adalah bahwa dalam kehidupan nyata, semakin kita mencintai Yesus, semakin kita mencintai keluarga kita. Sejatinya, tidak ada persaingan antara Yesus dan keluarga kita, karena Yesus dikasihi saat kita mengasihi keluarga kita. Kuncinya adalah bahwa kasih kita kepada keluarga harus berpusat pada Kristus. Para ayah mengasihi Tuhan dengan memimpin keluarga mereka lebih dekat kepada Yesus, dan mendidik anak-anak mereka untuk menghormati Allah dan menghidupi iman yang benar. Para ibu mengasihi Tuhan tidak hanya dengan merawat dan membesarkan anak-anak mereka, tetapi dengan mengajari mereka pengabdian yang tulus kepada Tuhan. Akhirnya, orang tua menguduskan anak-anak mereka sebagai persembahan terbaik mereka.

Memang benar bahwa beberapa dari kita memutuskan untuk mengikuti Kristus dengan cara yang lebih radikal dan total, seperti para imam, biarawan dan biarawati dan bahkan misionaris awam. Hal ini tidak berarti bahwa kita berhenti mencintai keluarga kita. Kita membawa mereka dalam doa dan Misa harian kita.

Mengasihi Tuhan dan menempatkan Yesus sebagai pusat kehidupan kita dan keluarga menjadikan segala sesuatu dalam urutan yang benar. Dan, ketika segala sesuatunya sesuai tatanan, kita menemukan kebahagiaan dan pencapaian sejati dalam hidup ini.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

To Love or to Hate our Family

To Love or to Hate our Family

23rd Sunday in Ordinary Time [C]
September 4, 2022
Luke 14:25-33

Once again, we stumble upon the hard sayings of Jesus. “If anyone comes to me without hating his father and mother, wife and children, brothers and sisters, and even his own life, he cannot be my disciple.” This statement indeed makes us wonder deeply. Did Jesus really want us to hate someone we should respect and love the most? Why did Jesus ask to hate our parents, but He teaches us to love even our enemies? Is He not contradicting Himself (once again)? How do we need to understand Jesus’ tough saying?

The first thing is to consider the meaning ‘hate’ in the context of the Bible. ‘Hate’ does not mean to do harms or evil things to someone. ‘Hate’ simply means to ‘love’ someone ‘less’. A good example is in the case of Jacob, Rachel and Leah. “So Jacob went in to Rachel also, and he loved Rachel more than Leah… When the Lord saw that Leah was hated, he opened her womb… (Ge 29:30–31)” Jacob ‘hated’ Leah, means that he loved Rachel more than Leah. Thus, when Jesus said that in following Him, we need to hate our family, this means that we have to love Jesus more than our family. This is indeed a just demand. If Jesus is our Lord, then we should love Him above everything, including our beloved parents, siblings or children.

The second important thing we need to see is the immediate context. Jesus was in His way to Jerusalem, and there, He would face His cross. If the disciples really decide to walk in the footstep of His Master, then they have to ‘hate’ their family, their works, and even lives. Otherwise, if they remain attached to their family, possessions and earthly relations, they would not be able to bear the sufferings as consequence of following Jesus. No wonder in the previous chapters, Jesus even said to those wanted to become His disciples, “let the dead bury the dead!”

From these two perspectives, Jesus’ hard teachings makes sense. However, what is interesting is that in real lives, the more we love Jesus, the more we love our family. In truth, there is no competition between Jesus and our family, because Jesus is loved through loving our families. The key is that our love to our family has to be Christ-centred. The fathers of the family love God by leading their families closer to God, and educating their children to honor God and love the true faith. The mothers love God not only by caring and raising their children, but by teaching them the genuine devotion to God. Finally, parents consecrate their children to as their best offerings.

While it is true that some Christians decided to follow Christ in more radical and total way, like the priests, religious man and women and even the lay missionaries, it does not mean we stop loving our families. In fact, we are offering them in our prayers and Mass.
To love God and to place Jesus as the center of our lives and families put everything in proper order. And, when things in order, we find the true happiness and fulfillment in this life.


A Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

ARTI HUKUM SABAT

ARTI HUKUM SABAT

Sabtu, 3 September 2022



Lukas 6:1-5

Ketika para murid Yesus memetik bulit gandum dan memakannya pada hari Sabat, beberapa orang Farisi menegurnya, mengapa melanggar Hari Sabat?  “Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” (Luk 6:2)
Mengapa mereka mengatakan hal yang demikian arogan? Mereka merasa lebih baik dalam menafsirkan hukum Sabat. Namun penafsirannya salah karena mereka menafsirkan secara sempit, yaitu hanya melihat cara melaksanakan, namun meninggalkan isi dan tujuan dari Hukum Sabat. Isi dan tujuan hukum Sabat adalah Allah sendiri yang harus dihayati kehadiran-Nya yang penuh kasih, sehingga memuliakan Allah sama dengan menghidupi Kasih Allah di dalam hidup mereka. Dan kasih Allah sungguh tampak di dalam kehadiran Kristus yang telah mengampuni dan menebus dosa umat manusia. “Oleh karena itu di dalam Dia terpenuhi Hukum Sabat. Artinya jika seseorang percaya dan mengikuti cara hidup-Nya, maka ia melaksanakan hukum Sabat.  Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”(Luk 6:5).

Dengan demikian penghayatan Hukum Sabat tidak bisa dipisahkan dengan iman akan Allah yang Maha Kasih yang telah turun ke dunia di dalam diri Yesus Kristus. “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”(Yoh 20:31). Persoalannya apakah setiap orang mau terbuka, menerima dan percaya kepada Kristus? Jika mereka tidak percaya, maka mereka akan menolak Kristus dan semua kebenaran iman yang telah dicatat di dalam Kitab Suci. “Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.”(Mat 22:15).

Oleh karena itu, setiap orang dengan kebebasannya perlu memutuskan dan memilih siapakah Tuhan bagi hidupnya, untuk keselamatan kekal. Hukum Sabat ditulis untuk menyadarkan bahwa diatas segala-galanya, ada pemilik dan penyelenggara kehidupan yang tidak bisa dilupakan, ialah Allah Bapa yang Maha Baik, yang telah mengutus Anak-Nya ke dunia menjadi penyelamat dan mengutus Roh Kudus untuk menyertai dan menuntun manusia di jalan yang benar. “Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.”(2 Yoh 1:3). Oleh karena itu manusia tidak punya hak untuk mengatakan penentu segala-galanya.

Didik, CM 

HATI YANG BARU

HATI YANG BARU

Jumat, 2 September 2022



Lukas 5:33-39

Yesus menyatakan bahwa kasih dan kebaikan Allah yang ditawarkan kepada manusia, membutuhkan tanggapan yang baik pula dari pihak manusia, sebab jika hati manusia masih belum siap karena segala kejahatan dan kesombongan yang masih mereka pegang, maka sia-sia-Lah apa yang ditawarkan oleh Allah kepada mereka. “Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur.”(Luk 5:37).

Oleh karena itu, setiap orang yang ingin mengalami pendampingan dan belas kasih Allah perlu menyediakan dan menyiapkan hati yang baru yang rindu akan kehadiran Allah serta membersihkan hati dari semua kecongkaan dan kejahatan. “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”(Yehezkiel 36:26). Dengan iman yang mendalam, maka Allah akan menolong untuk menyediakan hati yang baru sehingga mereka siap untuk menerima berkat-berkat-Nya.

Dengan demikian, setiap orang yang telah menerima Allah adalah mereka yang telah melewati proses pertobatan diri, yaitu dimulai dari percaya akan Kristus, kemudian meninggalkan kesombongan dan kejahatan, serta siap melayani-Nya dalam diri sesamanya yang menderita. “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”(Yoh 12:26).

Didik, CM 

IMAN TANPA SYARAT

IMAN TANPA SYARAT

Kamis, 1 September 2022



Lukas 5:1-11

Suatu saat Yesus menyatakan kepada para murid-Nya yang sudah payah menjala ikan tapi tidak menujukkan hasil, dengan mengajak mereka untuk mencoba lagi dan menuju ke tempat lebih dalam untuk menebarkan jalanya. “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” (Luk 5:4). Simon Petrus menangkap pesan Yesus tersebut dan ia percaya, maka terjadilah keajaiban dimana mereka mendapatkan ikan yang sangat banyak. “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.”(Luk 5:5-6).

Dengan demikian keajaiban atau mujizat bisa terjadi jika seseorang berani menyerahkan usaha, harapan dan hidup-Nya kepada Tuhan Yesus. Pada saat manusia mempercayakan seluruh hidupnya pada kasih dan bimbingan-Nya , maka Roh Kudus akan memberikan sesuatu atau hal-hal yang baik dan yang tidak terduga.
“Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” (Mat 20:23). Tantangan bagi mereka yang mau dan sedang percaya adalah  setia pada saat proses Tuhan membimbing dan  berjalan dengan penuh harapan. Tidak sedikit orang tidak sabar menunggu di dalam proses, sebab mereka ingin semuanya cepat dan jawaban jelas dari Tuhan.

Oleh karena itu, untuk bisa melihat dan merasakan kuasa Allah berkerja, maka dibutuhkan iman yang tanpa syarat. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”(Ibrani 11:1). Di dalam iman inilah seseorang telah menemukan harapan, tanda, dan bukti bahwa Yesus Kristus telah hadir dan menyelamatkan umat manusia. Dengan keyakinan tersebut mereka yang percaya akan dimampukan oleh Roh Allah dan merasakan penyertaan dan kuasa-Nya yang besar, sehingga mereka tidak takut lagi dan hidup dalam pengharapan serta suka cita.

Didik, CM 

Translate »