Browsed by
Month: November 2022

Why Marriage?

Why Marriage?

32nd Sunday in Ordinary Time [C]
November 6, 2022
Luke 20:27-38

In today’s Gospel, the Sadducees attempt to test Jesus. Sadducees are a religious faction in first-century Judaism like the Pharisees, but unlike the more popular Pharisees, they only hold Torah as the only valid source of Jewish religious teachings and practices, and refuse the writings of the prophets, the wisdom books, and later traditions. One of their main teachings is that they do not believe in the resurrection of the body. Jesus and the Pharisees though always in debate, they share in a common fundamental belief in the bodily resurrection. Later on, the resurrection of the body will be one of the Christian core beliefs.

Thus, to ridicule this kind of belief, the Sadducees are using the practice of the levirate marriage. In the Law of Moses, there is a practice to secure the bloodline and inheritance of a man who does not have any offspring. As a solution, the brothers or relatives of the diseased man will marry the widow and produce offspring in his behalf. Then, the Sadducees move to checkmate position. “In the resurrection, whose husband, this woman be?” There will be confusion in heaven!

Yet, Jesus makes it crystal clear that in the resurrection, men and women are living like angels, and marriage is no longer needed. There will be no confusion in heaven. However, we can go deeper and ask, “If marriage is no longer necessary in heaven, why do we need to have it here on earth?

The first answer is that marriage is a biological necessity, like the need to eat, to rest, and to breath. It is necessary for our survival, especially as a species on earth. Yet, if marriage is just biological need, then why does the Church honor greatly the marriage? Why does the devil and his cohorts try their best to destroy the traditional institution of marriage? Marriage must not be only about biology, but also God’s design for men and women. Marriage is not just biological or cultural motivated, but divinely planned. Yet, if marriage is part of God’s plan, why does it cease in heaven?

The answer lays on the purpose of marriage itself. Marriage is a means for men and women to give themselves totally in love. It empowers us to go beyond ourselves and love radically. It is a way of holiness, a staircase to heaven. Now, if we have reached our goal in heaven, then the marriage, as the means, is no longer necessary. Marriage has served its purpose.

This is the reason that holy marriage is fundamental on earth. The Savior also raises the dignity of marriage to a sacrament because it is truly a means of holiness (see CCC 1601), just like the sacrament of baptism or penance. Before men and women become like angels, we must live fully as human persons on earth, and one of the best ways to make us live fully as men and women of God is marriage.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

BERSYUKUR DARI HAL-HAL KECIL

BERSYUKUR DARI HAL-HAL KECIL

Sabtu, 5 November 2022



Lukas 16:9-15

Yesus mengajak para murid-Nya untuk belajar setia dari hal-hal yang kecil, sebab jika seseorang bisa setia dari hal-hal kecil maka ia akan bisa menghargai setiap tahapan dalam proses menjadi pribadi yang semakin dewasa dan akhirnya  mereka juga akan siap dipercaya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”(Luk 16:10).

Mengapa seseorang perlu belajar setia dari hal-hal kecil? Selain agar seseorang bisa mengahargai hal-hal kecil juga agar dari proses yang terjadi mereka belajar untuk bertekun, belajar memaknai setiap peristiwa hidup yang tidak semua kejadian sesuai atau sama dengan yang mereka pikirkan,  dan kemudian tumbuh keutamaan kesabaran yang membuat mereka bisa melewati perjalanan hidup dengan segala dinamika yang muncul. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”(Efesus 4:2). 

Dengan demikian, sebagai murid Kristus, setiap orang tidak memakai jalan pintas atau instan untuk sampai pada kedewasaan iman yang matang dan akhirmya bisa berbuah dalam karya-karya cinta kasih. Namun, semua itu bisa dicapai dengan menghayati iman dalam ketekunan dan setia dalam peristiwa hidup sehari-hari.  Demikianlah Kerajaan Allah (Kerajaan Damai),  bisa tumbuh di dalam diri mereka yang mampu menghargai hal-hal kecil, artinya mampu menerima dan bersyukur dari hal-hal yang dialami dan dijumpai dalam hidup sehari-hari. “Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.”(Mrk 4:26-27).

Didik, CM 

KESEMPATAN BERHARGA

KESEMPATAN BERHARGA

Kamis, 3 November 2022



Lukas 15:1-10

Yesus menyatakan bahwa sikap yang diperlukan untuk membawa seseorang pada kebaikan dan kedekatan dengan Tuhan adalah kemauan untuk bertobat. Ketika seseorang betobat maka ia menemukan kembali jalan yang membawanya pada pengharapan dan keselamatan. Mengapa setiap orang diajak untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar? Karena hanya dengan cara itulah seseorang menerima kembali belas kasih dan pengampunan dari Allah yang akan mengembalikan relasi yang telah rusak ; manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan sesamanya,  serta menemukan kembali apa yang telah hilang akibat kesalahan dan dosa, yaitu  damai, suka cita dan keselamatan. Oleh karena itu pertobatan membawa kegembiraan dan suka cita bagi manusia, bahkan juga bagi Allah dan semua orang kudus di sorga. “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”(Luk 15:7).

Dengan demikian, pertobatan adalah jalan yang dianugerahkan oleh Allah bagi setiap orang untuk memperoleh keselamatan. Namun, apakah setiap orang mau mengambil kesempatan tersebut? Tidak sedikit orang mungkin tenggelam dalam pandangan yang kurang tepat akan pentingnya pertobatan, sehingga mereka kurang terbuka hati untuk penerima kesempatan tersebut.  Pertobatan dimulai dari diri sendiri, yaitu dari kesadaran iman bahwa Allah adalah Bapa yang penuh pengampunan, karena Dia mengasihi manusia, yang tampak jelas lewat Yesus Kristus yang telah datang untuk membela manusia berdosa dan menebus dosa-dosa mereka. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”(Luk 5:32). Dengan kesadaran tersebut, seseorang akan terdorong untuk datang kepada Allah memohon belas kasihan-Nya.

Dengan demikian, pada dasarnya setiap orang memerlukan pertobatan, sebab setiap orang tidak lepas dari kelemahan dan keterbatasan yang memungkinkan orang jatuh dalam dosa. Oleh karena itu, pengampunan ditawarkan Allah kepada semua manusia. Tinggal sekarang apakah menusia mau menyambut kesempatan berharga, yaitu anugerah  pengampunan Allah tersebut? “Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”(Luk 3:3)

Didik, CM 

SABDA BAHAGIA

SABDA BAHAGIA

Selasa, 1 November 2022



Matius 5:1-12a

Yesus menyampaikan Sabda Bahagia kepada semua pengikut-Nya dengan harapan dengan menghayati dan melaksanakan Sabda-Nya, semua orang bisa semakin dekat dengan Allah dan menerima anugerah kekudusan, kebahagiaan dan keselamatan.  Sabda Bahagia dibuka dengan Sabda yang mengajak orang untuk merindukan belas kasih Allah, sama dengan orang miskin yang merindukan belas kasih dari Tuannya. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”(Mat 5:3).

Mengapa semua yang baik dan kudus dimulai dari kerinduan kepada Allah Bapa yang penuh belas kasih? Karena di dalam kerinduan tersebut terkandung keterbukaan hati yang penuh iman dan harapan yang kuat kepada Tuhan yang mampu memberikan kekuatan dan pertolongan. Dengan demikian tidak mungkin ada kerinduan kepada Allah, jika seseorang tidak percaya kepada-Nya. Kemudian dari sikap hatinya yang demikian, maka tumbuh dorongan untuk hidup menyerupai Tuhan yang  suci, murah hati, lemah lembut,  penuh damai, dan setia dan berani berkorban demi kebenaran. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.”(Mat 5:6-7).

Dengan demikian kekudusan, kebenaran, kemurahan hati, kelembutan hati, ketabahan, harapan, dan segala yang baik berasal dari Allah. Oleh karena itu, jika seseorang semakin dekat dengan Yesus Kristus, Putera Allah maka ia akan diarahkan hidupnya untuk menerima dan memiliki semua  itu, yaitu kekayaan rohani yang dimiliki oleh Allah. Disanalah akan muncul kebahagian dan suka cita, sebab Allah dekat dan bersemayam di dalam dirinya dan mereka yang dekat  dan setia dengan-Nya telah hidup di dalam Kerajaan-Nya.  “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:10-12).

Didik, CM 

Translate »