HIDUP ADALAH PERAYAAN IMAN
Kamis, 19 Agustus 2021
Matius 22:1-14
Setiap hari Allah mengundang orang beriman untuk menjalini hidup sebagai perayaan iman. Artinya, bahwa setiap peristiwa yang ada adalah sesuatu yang bukan kebetulan, termasuk juga peristiwa kelahiran masing-masing orang. Semua terjadi dalam satu bingkai, dimana Allah yang menjadikan semua, yang menjadi penyelengaranya dan Dia memberikan juga hukum-hukum-Nya untuk mengatur bagaimana perayaan tersebut bisa berlangsung dengan baik. “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”(Mat 22:2-3). Setiap yang yang masuk di dalamnya akan bisa merayakannya dengan baik dan sukacita jika mengikuti aturan-aturan-Nya. Aturan yang mengatur dan menjaga perayaan tersebut adalah Hukum Cinta-Kasih. “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (1 Kor 16:14).
Namun, sekalipun Allah telah menyediakan undangan dan hidangan dalam perayaan tersebut, yaitu kasih, damai, harapan dan keselamatan bagi mereka yang mau datang dan percaya, tetapi setiap orang dengan kebebasannya bisa saja memilih jalan dengan mengabaikan tawaran dan undangan dari Allah. Menyedihkan sekali dan sikap yang memprihatinkan jika mereka menolak tawaran kasih dari Allah, dan memlilih jalan sendiri menuruti keinginan-keinginannya sendiri, yaitu kesenangan-kesenangan, dan ambisi-ambisi. “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.”( Amsal 4:18-19 ). Oleh karena itu, tanggung jawab dalam hal memilih dan menentukan jalan yang akan dilalui ada di dalam diri masing-masing orang. Sementara itu Allah tidak bisa memaksa manusia, namun Dia selalu mendorong mereka agar memilih jalan yang benar dan telah menyiapkan berkat-Nya, damai sejahtera, dan keselamatan bagi mereka yang setia.
Hidup akan menjadi merayaan yang penuh damai dan sukacita apabila masing-masing orang tidak mengabaikan undangan dan tawaran kasih Allah. Tanda bahwa seseorang tidak mengabaikannya adalah dengan hidup menurut hukum-Nya (Cinta-Kasih). Kasih adalah bagaikan pakaian yang layak untuk merayakan perjamuan dengan Allah. Sebab di dalam kasih, seseorang masuk didalam relasi yang dekat dengan Allah yang Maha Mulia. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”(1 Yoh 4:7). Apa yang telah dimulai di dunia ini akan berpuncak dan menjadi perayaan yang penuh, yaitu persatuan manusia dengan Sang Pencipta di Sorga. Kerajaan Allah bisa sudah di alami dan dirasakan di dunia ini ketika setiap orang bersatu dalam kasih persaudaraan dan menerima serta percaya kepada Yesus Kristus, Putera Allah. “ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, malainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3:16). Semuanya itu di mulai dari percaya kepada Kristus Yesus sebagai awal untuk kemudian akan tumbuh dan berkembang, serta berbuah dalam karya cinta kasih, dan akhirnya menjadi sempurna dalam kepenuhan; hidup kekal di dalam sorga.
Serawai, Rm. Didik, CM