“Iman yang Kecil”

“Iman yang Kecil”

KetutLasia-MeredakanAnginRibut

Mat 8:23-27

Sebagai anak kota, saya jarang naik kapal laut atau perahu. Ada tiga perjalanan panjang naik kapal yang sampai sekarang masih berkenan. Pertama kali saya perjalanan di laut adalah dari Jakarta ke Medan. Malam pertama, menyeberangi Selat Sunda, kapal diguncang begitu hebatnya sampai saya pusing semalaman. Kali kedua, saya ikut Papi naik kapal kecil untuk trip memancing di laut lepas. Tiga hari di laut, tiga hari makan buncis kalengan sampai perut saya mual dan kepala saya berputar sampai dua hari setelah mendarat. Terakhir, beberapa tahun lalu, saya menumpang kapal yang membawa saya dari Kupang, NTT ke Ende di Flores. Karena ruang dalam penuh sesak, saya harus mencoba tidur di geladak luar. Perjalanan hanya satu malam, tapi disertai hujan dan angin. Alhasil saya tidak tidur semalaman.

Gambaran dan pengalaman kita tentang laut memang luar biasa. Laut memang indah tetapi juga bisa menakutkan. Apalagi di malam hari dan di mana kita tidak bisa melihat daratan lagi. Para nenek moyang kita dalam iman, bangsa Yahudi kuno pun menggunakan simbol laut atau air bah untuk menggambarkan sesuatu yang menyeramkan dan harus ditaklukkan. Di awal Kitab Kejadian, bumi belum berbentuk dan gelap gulita menutupi samudra raya. Hanya dengan Sabda Allah lah, kegelapan diganti dengan terang, air yang begitu besarnya dipisahkan oleh cakrawala dan daratan.

Dalam bacaan hari ini, Yesus, Sang Sabda sendiri, menunjukkan kuasaNya atas angin dan lautan, sesuatu yang menyeramkan dan mengancam murid-muridNya. Tapi Ia bukan hanya mau pamer kekuatan, tapi meyakinkan mereka bahwa tidak ada yang perlu ditakuti. Yang diperlukan hanyalah iman bahwa Tuhan yang berkuasa, yang memegang kendali atas segalanya dan menjamin keselamatan mereka. Karena itu Yesus menyebut mereka “orang yang kurang percaya” atau kalau diterjemahkan langsung dari bahasa Yunani adalah “orang yang kecil imannya”.

Kita semua pasti merasa sebagai murid Yesus yang beriman. Kita memutuskan untuk ikut Yesus, sama seperti murid-muridNya jaman itu yang mengikuti Yesus naik ke dalam perahu. Yesus tidak memanggil kita “orang yang tidak beriman” tapi Dia sadar iman kita masih kecil. Terutama di tengah badai kehidupan, di saat kita tidak bisa membayar hutang, di saat orang yang kita cintai kecelakaan atau meninggal, di saat kita putus cinta, atau musibah-musibah hidup lainnya. Saat masa depan terlihat suram dan hidup kita seperti kehilangan makna, Yesus menyatakan kehadiranNya. Dia tidak marah bila kita ragu, tapi Dia mau mengingatkan bahwa Dia selalu menjaga kita. Dia selalu akan menolong kita, dan Dia berjanji bahwa kita tidak akan dibiarkannya binasa.

Comments are closed.
Translate ยป