Antara Empati dan Simpati

Antara Empati dan Simpati

Yeremia 28:1-17

Summer ini saya ditugaskan untuk belajar menjadi “chaplain” di sebuah rumah sakit di Los Angeles. Di sini saya belajar banyak tentang pelayanan terhadap orang sakit dan keluarga atau teman-teman mereka. Sebelumnya, saya, seperti juga banyak orang, selalu ingin memberikan pengharapan kepada mereka yang sedih atau menderita dengan cara mengatakan sesuatu yang positif seperti: “Tuhan pasti buka jalan,” atau “Ini sudah rencana Tuhan,” atau “Pasti ada hal yang positif dari pengalaman ini,” dan semacamnya. Pesan-pesan semacam ini menunjukkan simpati saya. Tetapi sering kali, mereka yang berada dalam penderitaan yang berat atau kesedihan yang dalam tidak bisa menerima pesan demikian pada saat itu. Bagaimana kita bisa mengatakan rencana Tuhan pada orang tua yang kehilangan anaknya yang masih kecil. Bagiamana kita bisa mengatakan semuanya akan baik-baik saja pada orang yang baru didiagnosis kanker yang kecil kemungkinannya untuk sembuh.

Di saat-saat seperti itu, empati lah yang lebih dibutuhkan mereka. Empati adalah kemampuan atau niat untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Pembimbing saya mengibaratkan empati adalah seperti menghadapi orang yang masuk sumur. Orang yang bersimpati akan mengungkapkan rasa kasihan mereka pada orang di dalam sumur, atau langsung akan mencoba mengeluarkan mereka. Tapi jika orang itu belum siap keluar dari sumur, akan sia-sia saja usaha kita. Empati adalah mencoba masuk ke dalam sumur itu untuk menyertai mereka, untuk memberi tanda pada mereka bahwa mereka tidak sendiri. Jika sudah tiba saatnya mereka siap keluar, maka saat itulah kita bersama-sama keluar dari dalam sumur.

Dalam bacaan hari ini Nabi Hananiah bernubuat bahwa penderitaan bangsa Israel akan berakhir dalam dua tahun. Nabi Yeremia mengatakan bahwa suatu kabar yang baik kalau itu benar-benar terjadi, tapi dia tahu bahwa pengasingan Israel akan lebih lama dari itu. Hananiah ingin mengeluarkan Israel dari penderitaannya dengan segera, tapi dia memberikan harapan kosong. Maksudnya baik, tetapi dia tergesa-gesa ingin mengembalikan Israel kepada tanah asal dan kejayaannya. Bangsa Israel belum siap, proses pertobatan mereka belumlah selesai. Kabar baik yang terburu-buru seperti itu adalah dangkal dan tidak akan berbuah banyak.

Seringkali kita ingin kabar baik secepatnya, mungkin tidak banyak beda dengan kebiasaan kita yang semakin “instant”. Segala kebutuhan harus dipenuhi secepat mungkin. Sabda Tuhan yang kita mau dengar adalah yang menjanjikan kita menjadi makmur atau sembuh atau berhasil dengan secepatnya. Tetapi Tuhan tidak bekerja demikian. Dia tidak mau hanya bersimpati pada kita, tapi dia mau hadir, berjalan bersama kita dalam lika-liku, pasang surut kehidupan kita. Itulah alasan Kristus turun ke dunia dan mati di kayu salib. Padahal Tuhan bisa saja dengan lebih gampang menghapuskan penderitaan atau dosa dunia, tetapi Dia memilih jalan untuk menjadi seperti kita dan menanggung penderitaan kita. Orang yang diberi simpati mungkin akan berterima kasih dan merasa berbalas budi. Orang yang merasakan empati dari orang lain akan menjalin hubungan persahabatan yang dilandasi kasih karena mereka sudah melalui masa sulit bersama-sama.

Comments are closed.
Translate ยป