MENJADI PELITA BAGI SESAMA

MENJADI PELITA BAGI SESAMA

Kamis, 29 Januari 2015

Ibr 10:19-25

Mrk 4:21-25

Tuhan menganugerahkan panggilan sebagai orang beriman. Iman adalah pelita yang menerangi hati dan akal budi kita. Oleh karena itu iman tidak bisa hanya disimpan hanya untuk dirinya sendiri. Iman pada hakekatnya adalah anugerah Allah dan jawaban manusia untuk mau mengikuti Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Jawaban manusia itu adalah menjadi pribadi yang memancarkan kasih dan kebaikan Tuhan.

Jika orang mengatakan sebagai orang beriman namun hidupnya lebih mementingkan diri-sendiri dan bahkan menjadi batu sandungan bagi sesamanya maka perlu melihat kembali apakah artinya beriman dan menjadi murid Kristus. Pelita selalu memancarkan cahaya untuk sekitarnya. Demikian juga iman, seharusnya selalu memancarkan kasih Allah untuk orang-orang disekitarnya.

Pertanyaan penting kita adalah, bagaimanakah dampak kehadiran kita dalam keluarga, komunitas dan masyarakat? Jika segala yang kita lakukan bersumber dari iman dengan hidup baik, rendah hati, pemurah, penuh kasih, suka menolong, adil, jujur, setia dan penuh damai, maka kehadiran kita akan menjadi berkat bagi sesama. Sebaliknya jika kita hanya memikirkan diri sendiri dan egois, maka kita tidak memancarkan Kasih Tuhan Yesus dan itu berarti juga mengingkari iman dan Kristus yang kita imani.

Tuhan Yesus yang Maha Kasih, trima kasih atas Kasih yang Engkau curahkan kepada kami. Engkau telah memilih kami untuk menjadi pelita bagi sesama. Kami menyadari ada banyak kelemahan dalam diri ini yang membuat pelita tersebut redup. Tambahkanlah iman kami, agar kami selalu bersemangat untuk mewartakan Kasih-Mu kepada sesama. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami, Amin.

Comments are closed.
Translate ยป