Apabila kita teguh dan setia kepadaNya, kita menyadari bahwa Iapun akan selalu setia menyertai kita dalam perjalanan hidup ini.‏

Apabila kita teguh dan setia kepadaNya, kita menyadari bahwa Iapun akan selalu setia menyertai kita dalam perjalanan hidup ini.‏

HARI SABTU MINGGU KE 22
MASA BIASA
5 September, 2015.

Kolose 1:21-23
Lukas 6:1-5

Saudara-saudariku terkasih,

Bacaan Injil hari ini mengingatkan saya akan pengalaman saya mengunjungi Israel. Puji Tuhan selama perjalanan hidup imamatku, sudah tiga kali saya mendampingi kelompok ziarah ke Tanah suci. Dalam perjalanan ziarah itu saya selalu bisa mengalami suasana hari Sabat di kota Yerusalem. Berangkat dari pengalaman ini membuat saya bisa lebih memahami betapa ketatnya hukum itu, karena pada hari sabat, elevator di hotel dimana kami tinggal samasekali tidak beroperasi. Dengan demikian sudah bisa dimengerti bahwa kaum Farisi dalam bacaan Injil hari ini mengungkapkan kekecewaan mereka kepada Yesus atas tindakan para muridNya yang memetik bulir gandum dan memakannya pada hari Sabat : “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Kelihatannya tindakan para murid Yesus itu seperti tindakan anak-anak yang tidak dan atau belum mengerti samasekali tentang hukum Sabat.

Mendengar bacaan Injil hari ini, sangat boleh jadi kitapun lalu bertanya kepada diri kita masing-masing: “siapakah kita dan dimanakah kita atau pada posisi manakah kita dalam peristiwa injil hari ini?” Apakah kita adalah salah satu dari para murid Yesus yang juga sedang berjalan bersama Dia dan sedang menikmati berkat dan kebaikan serta cinta Tuhan? Atau apakah kita adalah salah satu dari kaum Farisi, yang suka melihat kesalahan orang lain betapapun kesalahan atau kekeliruan itu sangat tidak seimbang dengan kebaikan dan cinta Tuhan?

Saudara-saudariku terkasih,

Kadang-kadang hidup di dunia yang complex ini kita sering mengalami kesulitan untuk memberi suatu jawaban yang tepat dan tegas/jelas atas pertanyaan-pertanyaan diatas. Kadang-kadang kita menjadi sangat kritis baik terhadap pemerintah maupun terhadap sesama yang berada di sekitar kita. Kita bisa saja lupa bahwa kita sendiripun tidak terlepas dari kesalahan dan kelemahan-kelemahan serta keterbatasn-keterbatasan manusiawi. Bahwa kitapun sering melanggar hukum dan perintah Tuhan. Bahkan kita seringkali tidak menyadari bahwa kita ternyata adalah manusia yang tidak sempurna. Kita begitu berani menunjukkan kesalahan orang lain tetapi kita lupa bahwa kita sendiripun melakukan banyak kesalahan dan dosa.

Saudara-saudariku terkasih, St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose menjadi suatu contoh yang baik untuk kita ketahui dan teladani. …”hendaklah kamu bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” St. Paulus mengingatkan, bahwa kita juga telah diperdamaikan dengan Yesus di dalam tubuh jasmani oleh kematianNya, untuk menempatkan kita menjadi kudus dan tak bercela, atau bercacat di hadapanNya. Oleh karena itu supaya menjadi lebih kuat dalam iman dan kebenaran, kita harus tetap setia, dekat dan hidup bersama Tuhan dalam seluruh perjalanan dan tindakan kita.

Akhirnya, agar kita tetap teguh dan setia kepada Yesus kita diminta untuk membuka diri untuk kehadiranNya, memupuk dan memelihara relasi kita dengan Yesus dalam doa-doa harian, setia membaca, mendengar dan merenungkan sabdaNya dalam Kitab Suci, menghadiri perayaan Ekaristi dan latihan-latihan rohani dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Selain itu akan menjadi lebih baik kalau kita memiliki seorang spiritual director (Pembina rohani) yang dapat membantu kita untuk bisa menemukan dan melihat kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian, kita akan bisa selalu merasakan betapa indahnya kalau kita selalu mebuka diri dan mengikutsertakan Yesus dalam seluruh perjalanan hidup ini. Amin.

Comments are closed.
Translate »