Sabtu, 26 September 2015

Sabtu, 26 September 2015

 

Bacaan: Za. 2:1-5; 10-11a; Yer. 31:10-12b; Luk. 9:43b-45.

Dalam Injil yang dibacakan hari ini, Yesus menegaskan, “Dengarkanlah dan camkanlah segala perkataanKu ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Mendengar perkataan Yesus itu, Injil menjelaskan bahwa mereka tidak mengerti makna perkataan Yesus itu. Apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi oleh para murid ialah bahwa Yesus akan menang mengalahkan penguasa pada waktu itu dan mengubah tatanan hidup menjadi sejahtera lahir dan batin; keadilan dan kebenaran menjadi udara yang melegakan kehidupan.

Kita bisa memahami apa yang membuat penginjil mengatakan bahwa para murid tidak mengerti perkataan Yesus itu, walau pun Yesus sudah dengan tegas menjelaskannya apalagi ditambah dengan kata-kata “Dengarkanlah dan camkanlah” pada awalnya. Kita pun bisa bertanya-tanya, apa yang membuat Yesus bersedia menerima “kenyataan nasibNya” yang hina dengan penderitaan dan kematian mengerikan di kayu salib? Sebagai seorang nabi besar bukankah Ia semestinya akan menampakkan kejayaan dan kemenangan atas musuh-musuhNya.

Lebih lagi kita bisa meraba-raba apa yang menjadi motivasi atau energy yang menggerakkan Yesus memiliki kesediaan untuk menderita dan mati di bunuh orang-orang tak beriman? Kepada kita pernah diajarkan, bahwa menjadi orang suci adalah menjadi orang yang digerakkan oleh kegembiraan dengan rasa syukur atas kehidupan. Ada banyak orang yang melakukan sesuatu yang sangat baik dengan motivasi yang salah. Pengorbanan Yesus sampai mati secara keji di kayu salib digerakan oleh energy cinta ilahi. CintaNya kepada Allah Bapa dan umat manusia itulah yang menggerakkanNya untuk rela berkorban.

Kiranya Injil hari ini mengajak kita untuk meninjau kembali energy di balik tindakan kita. Apa yang membuat kita merayakan Perayaan Ekaristi setiap Minggu atau bahkan setiap hari bagi yang bisa mengikuti Misa harian? Apa yang mendorong kita untuk berdoa, hidup baik secara moral, membantu orang kesusahan, mewujudkan persaudaraan sejati di lingkungan hidup kita, dan memiliki kegembiraan mengalami hidup ini dengan suka dukanya? Kita bisa melakukan hal-hal di atas dengan energy yang salah seperti: rasa marah, pahit, frustrasi, rasa salah, atau untuk sekedar memenuhi keinginan hati sendiri atau kebutuhan jiwa kita sendiri.

Apa yang diharapkan dari kita adalah memiliki energy cinta dan “compassion” yakni empati yang keluar dari hati yang penuh rasa syukur dan gembira. Menjadi orang suci adalah menjadi pribadi yang menghendaki satu hal saja, yakni Cinta Kristus dan memiliki motivasi mengapa aku mencintai Yesus. Secara umum para martir memiliki kesadaran dalam hatinya atau pun diungkapkan, “Kalau Yesus bersedia menumpahkan darahNya dan mati bagi saya, maka saya pun bersedia menumpahkan darah dan mati bagi Kristus.”

Comments are closed.
Translate »