Hukum
Bacaan 1 : Roma 9:1-5
Bacaan Injil : Lukas 14:1-6
Akar kata Farisi (prushim), dekat dengan akar kata suci (qodesh), keduanya berarti disisihkan, dipisahkan. Tersebar di seluruh negeri, mereka mengajar di rumah-rumah ibadat, menjadi penjaga hukum Musa dan pelaksanaannya. Interpretasi atas tradisi serta hukum tertulis dan lesan berkembang dan memiliki wibawa yang tak kalah penting dibanding hukum pokok yang menjadi inspirasinya.
Pertanyaan Yesus pada mereka yang “mengamat-amati Dia dengan seksama” dalam Injil hari ini menggugat pelaksanaan hukum yang lupa akan rohnya: Diperbolehkan menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak? Pertanyaan sulit yang membuat mereka kehilangan akal dan kata untuk menjawabnya. Jika jawabannya adalah “Ya”, mereka jadi kelihatan lemah dalam pelaksanaan hukum yang mereka junjung tinggi. Jika mereka katakan “Tidak”, mereka jadi nampak kejam pada Si Sakit yang berharap mendapatkan mukjijat kesembuhan.
Yesus pun memegang tangan orang sakit itu, menyembuhkannya, dan menyuruhnya pergi. Dengan tenang Yesus lalu melemparkan satu tantangan lagi,pertanyaan refleksi dengan mengambil contoh kasus sehari-hari soal menyelamatkan nyawa anak atau lembu. Dalam hal nyawa, hari Sabat atau bukan hari Sabat tak lagi relevan.
Ketegangan antara pendekatan keadilan dan belas kasih selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. Tak sedikit murid-murid Yesus di jaman sekarang ini mengambil peran seperti orang-orang Farisi yang ditantang Tuhan Yesus: hukum adalah segalanya. Di sisi lain tak sedikit yang sangat menekankan belas kasih dan mengikut arus yang mengabaikan atau bahkan menyerang otoritas hukum.
Peringatan Paus Fransiskus lewat Bula yang mencanangkan “The extraordinary Jubilee of Mercy” mungkin dapat memberikan pencerahan bagi kita: Keadilan Tuhan adalah belas kasihnya (no 20). Salib Kristus adalah penghakiman Allah bagi semua dan seluruh dunia, karena melalui salib suci ini Ia menawarkan pada kita kepastian cinta dan hidup (no.21). Pada akhirnya, hanya kasih semata yang sungguh penting. Karena dalam kesempatan lain Yesus pun berpesan: “Pergilah dan belajarlah apa artinya –Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan”.
