HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH
28 Maret, 2016
Kisah Para Rasul 2:14, 22-33
Matius 28:8-15
Sudah menjadi tradisi untuk umat Kristiani pada hari Minggu Paskah bahkan setelah misa malam Paskah umat sudah saling mengucapkan “Selamat Paskah”. Mereka tidak lagi hanya sekedar menyapa “hello”, atau “selamat pagi.” Ucapan “Selamat Paskah” sudah sangat pasti berhubungan dengan “Kebangkitan Kristus”…”He is risen indeed!”
Dan sekarang kita berada dalam oktaf paskah, hari raya kedelapan seperti yang telah diumumkan oleh Gereja. Di luar masa biasa dalam kalendar liturgy, Oktaf Paskah ini adalah masa yang paling panjang, karena masa ini berlangsung selama limapuluh hari sampai dengan hari Minggu Pentekosta. Hal ini terjadi karena perayaan Kebangkitan Tuhan kita adalah peristiwa yang amat sangat penting dalam kalendar liturgy gereja.
Penjelasan diatas mengingatkan saya akan tehnik berpidato yang baik dan efektip. Dalam teori dan tehnik berpidato dikatakan bahwa untuk membawakan sebuah pidato yang baik dan berarti harus bisa mengikuti ketiga hal penting berikut; pertama menyampaikan apa yang mau bicarakan, kedua ceritakan inti pidato itu, dan yang ketiga sampaikan lagi kepada pendengar apa yang telah disampaikan.
Oleh karena itu didalam kalender liturgy bersama semua bacaannya Gereja menyampaikan ketiga tehnik yang sama.
Pada masa Prapaskah Gereja mewartakan tentang “persiapan batin”…karena “Kebangkitan” akan menjadi tujuan dan harapan kita.
Lalu Paskah, oleh Gereja dikatakan bahwa “kebangkitan” adalah segala – galanya untuk harapan kita.
Saudara-saudari terkasih,
Selanjutnya Masa Biasa yang ditentukan oleh Gereja, dimana setiap Perayaan Liturgy Hari Minggu kita semua diajak untuk kembali ingat akan Kebangkitan Yesus Kristus yang menjadi tujuan dan dasar harapan kita.
Karena kita sebagai umat kebangkitan, “kebangkitan” telah menjadi dasar panggilan dan alasan kita untuk bereksistensi. Oleh karena itu bacaan injil hari ini mengingatkan kita kembali akan penampakan Yesus setelah kebangkitanNya; sementara dipihak lain ada usaha untuk melupakannya. Yesus sudah tahu bahwa “kebangkitanNya” adalah amat sangat penting untuk dimengerti. Untuk sementara orang samasekali tidak cukup untuk membuktikan bagaimana batu pintu makam itu digulingkan, dan bagaimana Yesus berada dalam kebun. Ia menampkan diriNya kepada para muridNya dan berbicara dengan mereka. Beberapa kali sampai peristiwa “kenaikanNya ke Surga” Yesus juga menampkan diriNya kepada beberapa orang lain.
Saudara-saudariku terkasih,
Bacaan injil hari dikatakan bahwa setelah kebangkitanNya, para muridNya sangat ketakutan dan bimbang. Jesus menanggapi kecemasan mereka dalam dan melalui tugas pemuridan, suatu tugas yang besar dan mulia: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan arlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kami senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Sementara dari bacaan pertama hari ini kitapun mendengar bagaimana Petrus berkhotbah pada hari Pentekosta. Petrus yang dipenuhi dengan Roh Kudus berkhotbah kepada orang banyak. Petrus sudah tidak gentar, tidak takut lagi, bahkan sangat radikal dan penuh dengan rahmat mewartakan kabar gembira. Petrus menegaskan bahwa “Kebangkitan” tidak lagi hanya merupakan suatu pendapat, tetapi kebangkitan adalah kepercayaan kita. “Kebangkitan” adalah harapan kita, janji dan jaminan kita. Paskah ngingatkan kita: Bahwa Ia telah bangkit, dan Ia sungguh bangkit. Amen.