Konsekuensi
Bacaaan I: Galatia 5:18-25
Bacaan Injil: Lukas 11:42-46
Dari banyak teori Moral yang membantu kita memahami cara kita menilai dan memilih tindakan-tindakan dalam kasus moral, barangkali teori Utilitarianisme yang paling populer. Rasionalitas sebuah pilihan moral diukur dari konsekuensi, akibat dari suatu tindakan, karena pilihan ditimbang dari kegunaannya, dari faedahnya (utility). Hitung-hitungan untung rugi dalam metode sains sederhana diterapkan untuk menentukan pilihan terbaik berdasar mana yang membawa kebahagiaan bagi lebih banyak orang. Kebahagiaan terbesar bagi jumlah khalayak yang terbesar, kata Jeremy Bentham (1748-1832). John Stewart Mill lebih jauh menyatakan, hukum kasih dari Yesus (kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi sesamamu), beserta perintah-perintah senada (misalnya: sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka –Luk 6:31) juga mengikuti prinsip pertimbangan konsekuensi dan faedah tersebut. Setiap keputusan kita, hendaknya mempertimbangkan siapa-siapa saja yang terpengaruh oleh keputusan kita tersebut.
Meskipun juga jelas bahwa Yesus mengutamakan kemanusiaan di atas perhitungan hukum agama yang ketat dan keras, juga jelas bahwa Ia mempromosikan kemurahan hati yang sepintas dapat dilihat sebagai dapat “merugikan” diri sendiri, kita dapat memanfaatkan pertimbangan konsekuensi dan manfaat dalam menentukan pilihan sikap dan tindakan kita, dengan menempatkan kepenuhan dan keutuhan kemanusiaan sebagai konsekuensi dan faedah yang kita cari. Dalam surat Paulus, kriteria perbuatan baik dan buruk menjadi sangat jelas, ditimbang dari konsekuensinya, dari buah-buahnya, dari faedahnya terhadap perkembangan dan pertumbuhan kemanusiaan dalam diri sendiri dan sesama.
Tindakan yang digerakkan Roh Jahat masuk dalam golongan perbuatan daging: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, mengejar kepentingan diri sendiri, perpecahan, kedengkian, kemabukan, pesta pora dsb. Semua tindakan ini berakibat penurunan derajat hingga hancurnya kemanusiaan.
Tindakan yang digerakkan Roh Baik, sebagai lawannya, akan mengembangkan kemanusiaan, memuliakannya: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan.
Hidup, memang tidak selalu sejelas kontras hitam dan putih. Tak jarang dibentangkan di hadapan kita wilayah abu-abu yang butuh kearifan dan ketajaman budi serta nurani. Belum lagi soal kehendak yang seringkali tak sekuat pemahaman betapapun jelas tegasnya situasi menurut pandangan hati dan budi. Toh selalu baik kita kembali pada pertimbangan sederhana itu: apapun tindakan yang kita pilih hendaknya menumbuhkembangkan kebaikan kemanusiaan, bukannya mencederainya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.
