Paham
Bacaan I : Efesus 1:1-10
Bacaan Injil: Lukas 11:47-54
Di dunia banyak orang yang punya maksud baik yang mendorong mereka melakukan tindakan-tindakan tertentu. Tetapi jelas juga, intensi baik tidak cukup untuk mewujudkan kebaikan manakala dihadapkan pada kenyataan bahwa kita tidak hidup sendirian, melainkan dengan orang banyak yang punya kepentingan dan daya tangkap yang berbeda-beda. Konflik bisa dengan mudah terjadi antar orang-orang yang sama-sama berniat baik, karena salah paham. Persoalan menjadi lebih berat saat orang yang punya niatan baik, ternyata pahamnya salah. Kalau salah paham membuka ruang untuk percaya akan kebaikan pada orang lain, dan konflik yang muncul karenanya hanyalah soal tata cara dan komunikasi, persoalah paham salah bisa membutakan dan menghancurkan seluruh eksistensi orang lain dan kebaikan-kebaikan umum yang layak ditegakkan. Akibatnya, niat baik tak segan memeluk niat yang jahat, demi tujuan yang tak lagi bening hening.
Bacaan Injil beberapa hari ini menampilkan suara keras Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Tindakan ini kiranya dipicu keras hatinya para ahli agama itu dalam menilai segala ujaran dan tindakan Yesus, Sang Nabi baru yang kuasa kata dan lakuNya menakjubkan begitu banyak orang. Lukas mencatat bahwa mereka terus menerus berupaya menjebak Yesus dengan rupa-rupa soal agar mereka dapat menangkapNya berdasar sesuatu yang diucapkanNya. Pertimbangan pilihan sikap dan tindakan mereka bukan lagi didasarkan pada pencarian kebenaran, keadilan, kedamaian, -kiranya ini semua niat baik yang membuat mereka kritis terhadap Yesus- tetapi pada terpenuhinya kepentingan pribadi dan golongan, terlampiaskannya nafsu kekuasaan, keangkuhan dan kesombongan. Vonis sudah dijatuhkan jauh sebelum saat Yesus ditangkap dan diseret ke pengadilan di rumah Imam Besar atau pun di hadapan Pilatus dan Herodes, para penguasa negara. Tak ada ruang dialog, tak ada tempat bagi proses pencarian. Semua sudah fix, sudah usai, tinggal dijalankan.
Dengan rendah hati kita harus akui, kadang kita menempatkan diri pada posisi para ahli agama tersebut, saat kita dengan dingin mengadili sesama berdasar fakta-fakta yang dirangkai sepotong-sepotong untuk membenarkan prasangka. Saat kita menakar saudara, teman atau lawan dengan paham yang salah macam itu, kita turut melanggengkan penindasan kebenaran atas nama kepentingan. Dan langit kembali akan meneteskan air mata dan menangis, karena manusia lebih suka berpesta pora dalam kekelaman daripada mensyukuri Terang yang membuat segalanya menjadi baik, seperti saat penciptaan yang pertama. Karena manusia tak puas menyiksa dan menyalibkan Sang Putra sekali saja dalam sejarahnya.
