Mengemban Tugas sebagai Pemimpin

Mengemban Tugas sebagai Pemimpin

Kamis, 22 Februari 2018

Pesta Takhta St. Petrus Rasul

Bacaan I 1Petrus 5: 1-4

Bacaan Injil Matius 16: 13-19

Mengemban Tugas sebagai Pemimpin

Hari ini Gereja merayakan Pesta Takhta St. Petrus sebagai pemimpin Gereja. Berkaitan dengan kepemimpinan, saya teringat kisah selama 11 tahun di Seminari saat tiba waktunya pemilihan pemimpin umum komunitas. Seluruh kandidat calon selalu tidak mau terpilih, bahkan seringkali mereka saling melempar pujian kepada lawannya. Alhasil, situasi “Pemilu” komunitas biasanya menjadi riuh karena ulah dari para kandidat calon pemimpin. Namun, setelah salah satu terpilih resmi sebagai pemimpin umum komunitas, mau tidak mau dia menerima tugasnya dan melaksanakan dengan kesungguhan dan keseriusan. Inilah yang membuat saya kagum dengan mental disponibilitas atau siap sedia diutus dari setiap pemimpin umum di komunitas kami. Mereka menyadari tetang makna Injil, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Pemimpin bukanlah penikmat pelayanan, melainkan justru sebagai pelaku pelayanan. Pelayanan itu merupakan kriteria seorang gembala yang memperhatikan domba-dombanya dengan sungguh-sungguh.

Kriteria kepemimpinan macam itulah yang diharapkan oleh Gereja, sebagaimana tertulis dalam bacaan I, “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu”. Kita semua diutus menjadi gembala bagi siapapun: sebagai orangtua, anak, pekerja, imam, biarawan/i, dsb. Tuhan mempercayakan tugas penggembalaan sesuai takaran kita masing-masing. Santo Petrus diberi kepercayaan sebagai pemimpin Gereja adalah tanda betapa Tuhan senantiasa percaya akan karakter Petrus itu sendiri. Pemimpin yang diharapkan Tuhan bukan berorientasi pada keluhuran nama, potensi ketenaran atau mendatangkan keuntungan pribadi; melainkan lebih pada karakter melayani, jiwa seorang hamba dan kesungguhan diri menerima tugasnya. Sampai sekarang saya sangat kagum dengan hirarki Gereja Katolik dimana kepemimpinan Gereja sangat teratur dan relevan dengan Paus sebagai pemimpin tertinggi. Paus mengemban jabatan pemimpin Gereja dengan sukarela, pengabdian dan menjadi teladan, sebagaimana Rasul Petrus telah melakukannya secara utuh dan menyeluruh.

Maka, marilah kita bersyukur atas kepemimpinan Sri Paus, sekaligus berdoa agar Gereja tetap hidup dan memberi cahaya bagi kehidupan kita semua. Dari situ, kita semoga semakin merasakan adanya Allah yang terlibat dalam berbagai urusan kehidupan kita sehari-hari. Semoga, Tuhan memberkati kita semua.

Comments are closed.
Translate »