BERJUANG DEMI KESEMBUHAN ROHANI
Jumat, 6 Juli 2018
Hari Biasa (H)
[Am. 8:4-6,9-12; Mzm. 119:2,10,20,30,40,131; Mat. 9:9-13]
BERJUANG DEMI KESEMBUHAN ROHANI
Beberapa waktu yang lalu, ada seorang pastor yang meninggal setelah operasi bypass jantung di salah satu rumah sakit. Mungkin cerita ini bukan satu-satunya, karena banyak orang yang mengalami demikian. Bagi sebagian orang, ketika tahu bahwa dirinya sakit, akan segera berusaha mencari cara supaya penyakitnya sembuh atau minimal, berkurang rasa sakitnya. Entah dengan mencari obat-obatan, mendatangi dokter atau rumah sakit, dan seterusnya. Semua dilakukan karena kesadaran bahwa dirinya sakit, dan sadar pula ingin sembuh. Kesadaran untuk ingin sembuh ini, pun mendorong orang untuk berolahraga, menjaga pola makan dan aktivitas sehari-hari. Nah, ini tadi soal penyakit fisik dan kesehatan badan, tapi juga bisa diterapkan pada ‘penyakit jiwa’ dan kesehatan rohani. Bahwa kesadaran akan ‘penyakit jiwa’ dan kesadaran untuk mendapatkan kesehatan rohani, mendorong orang untuk melakukan usaha-usaha yang berguna.
Yesus hari ini bertemu dengan Matius, si pemungut cukai. Sapaan Yesus kepada Matius, dengan berkata: “Ikutlah Aku”, telah mengubah segalanya. Pemungut cukai, pada zaman itu adalah pemeras rakyat dan orang yang mengumpulkan kekayaan dari usaha yang tidak halal, pun demikian dengan Matius. Sapaan Yesus kepada Matius telah menyadarkannya bahwa dia adalah orang yang memiliki ‘penyakit jiwa’, karena telah berdosa dengan merugikan banyak orang. Namun kesadaran bahwa dia ‘sakit’, mendorong dia untuk mendapatkan kesehatan rohani. Tanpa kesadaran itu, mungkin Matius masih menjadi orang yang sama. Benar bahwa Yesus mengatakan: “Bukan orang yang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit.” Semoga, kita selalu sadar diri bahwa kita adalah manusia-manusia yang ‘sakit’, sehingga kita senantiasa berusaha untuk sembuh, dengan bantuan rahmat Allah.
Selamat pagi, selamat berjuang mendapatkan kesembuhan rohani. GBU.