Menggantungkan Hidup Hanya Kepada Allah
Pesta Santo Lukas
Bacaan I 2Tim 4: 10-17a
Bacaan Injil Lukas 10: 1-9
Menggantungkan Hidup Hanya Kepada Allah
Bersama seluruh Gereja, hari ini kita merayakan Pesta Santo Lukas, Penulis Injil. Di dalam hidupnya, Santo Lukas telah memberi teladan bahwa imannya kepada Yesus mendorong dia untuk menjadi pewarta. Tugas sebagai pewarta merupakan buah dari perutusan yang diperintahkan oleh Yesus. Panggilan menjadi rasul mengandung konsekuensi untuk berani diutus. Maka, panggilan dan perutusan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Injil hari ini mengisahkan bagaimana para murid diutus untuk melaksanakan tugasnya yakni menyebarkan kesaksian atas Yesus Kristus. Yang menarik adalah bahwa dalam perutusan itu, mereka tak boleh membawa apapun. Dengan tidak membawa bekal apa-apa, maka hidup mereka tergantung pada orang lain, sekaligus mereka diajak untuk semakin berserah kepada Penyelenggaraan Ilahi.
Saya pernah mengalami kegiatan berjalan kaki seperti para murid itu dalam masa formasi sebagai calon imam. Kegiatan tersebut berjudul “peregrinasi” dengan jarak tempuh 200-an kilometer. Berjalan jauh tanpa bekal apapun membuat saya rajin berkidung dan berdoa memohon pertolongan Allah. Selama seminggu kami menempuh perjalanan itu dan pertolongan Allah tidak pernah surut. Ada saja orang-orang yang iba, perhatian atau tergerak untuk memberi kami makan. Intinya, masih banyak orang baik di segala macam tempat. Peregrinasi memperlihatkan kepada saya betapa untung jika saya sungguh-sungguh menggantungkan hidup dalam Penyelenggaraan Ilahi. Saya meyakini bahwa matematika Allah berbeda dengan matematika kita. Maka, cara pertolongan yang Allah berikan juga senantiasa berbeda dengan ekspektasi saya.
Menggantungkan hidup hanya kepada Allah, itulah poin renungan yang saya angkat. Bahwa kita perlu sadar betapa tidak mudah bagi kita untuk mengandalkan Allah. Selalu saja kita masih menggunakan rasio dan pemikiran manusiawi kita sehingga menutup jalan pertolongan yang hendak Allah berikan. Para rasul dengan patuh menjalankan perutusan mereka dan benarlah bahwa di perikop selanjutnya, mereka pulang dengan kisah masing-masing. Mereka masih hidup, masih utuh dan semakin bersukacita sebab mereka sungguh menyerahkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi. Jika kita terbiasa mengandalkan Allah, maka hidup kita semakin cemerlang dan penuh dengan ungkapan syukur.
Pertanyaan untuk kita, apakah kita sungguh-sungguh berkenan untuk mengandalkan Allah? Dan, sanggupkah kita menundukkan diri agar karya Allah semakin bersinar dalam hidup kita?