Semua Manusia Setara
Bacaan I Ef 1: 11-14
Bacaan Injil Lukas 12: 1-7
Semua Manusia Setara
Seorang teman pernah mengeluh kepada saya tentang hidupnya yang dirasa telah tidak berharga. Kesia-siaan adalah kesimpulan dari rentang kehidupan yang telah dijalaninya. Lalu, saya hanya mengajak dia berefleksi: “Jika engkau yang diberi kehidupan merasa sia-sia dan tidak berharga, sudahkah engkau bertanya kepada Allah sebagai pemilik hidupmu? Tentu, Allah akan kecewa sebab anugerah yang dia berikan kepadamu secara cuma-cuma telah dipandang tidak berharga olehmu semata”. Dari situ, teman saya tadi mulai menyadari bahwa hidupnya masih “ada harganya”. Allah masih memberinya hidup sehingga Allah masih memandang dirinya berharga.
Hari ini Injil mengajak kita untuk menyadari betapa diri kita mempunyai harga di mata Allah. Allah tidak memandang jenis pekerjaan kita, rumah kita, bakat kita atau ukuran fisik kita. Semua manusia adalah setara di hadapan Allah. “Jangan takut, sebab kalian lebih berharga daripada banyak burung pipit”, demikian sabda Yesus di akhir Injil. Yesus memberi motivasi agar setiap manusia mampu hidup dalam optimisme. Maka, tak perlulah kita mudah jatuh dalam kekhawatiran dan kecemasan. ‘Takutilah Dia, yang setelah membunuhmu mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka”. Yesus mengajak kita untuk takut semata-mata kepada Allah. Takutlah pada perkara bagaimana jika Allah melupakan kita? Namun, Allah tak pernah melupakan kita; bahkan rambut kepala kitapun masih bisa dihitung oleh Allah.
Jika Allah memandang setiap manusia adalah berharga, kita juga harus melakukan hal yang demikian adanya. Tidak ada yang paling istimewa di antara setiap manusia sehingga tidak perlulah kita memperbandingkan orang ini dengan orang itu. Tidak perlulah kita mencari perbedaan antara diri kita dengan orang lain. Sebab, semua manusia adalah sama, yakni setara dan berharga di mata Allah. Untuk bisa sampai pada penghayatan kesetaraan itu, kita membutuhkan rasa saling menghargai. Betapa indahnya hidup ini jika kita mudah memberi penghargaan kepada orang lain daripada saling melempar kebencian. Dengan saling menghargai, maka kita telah turut mensyukuri anugerah Allah dalam rupa kehidupan bersama banyak orang.
Pertanyaan bagi kita, sudahkah kita mewujudkan rasa saling menghargai dengan sesama? Sudahkah kita membuka “jendela dan pintu rumah” kita agar interaksi kebersamaan dengan orang lain semakin terwujud