BERBAHAGIALAH!
Kamis, 1 November 2018
HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (P)
Why. 7:2-4,9-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; 1Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a
BERBAHAGIALAH!
Hidup manusia adalah keterkaitan antara pengalaman sedih dan pengalaman gembira. Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa hal yang membuat tertawa suatu saat akan membuat menangis, dan apa yang kini membuat menangis adalah hal yang akan membuat tertawa kelak. Tertawa dan menangis adalah hal yang sehat dan normal dalam hidup manusia. Ada orang yang saking menderitanya berkata bahwa “air mata mereka sudah kering”. Namun, ini justru menunjukkan kondisi jiwa yang tidak sehat. Biasanya orang-orang semacam itu menyangkali perasaan mereka sendiri dan berusaha untuk tegar tanpa bantuan orang lain. Termasuk Tuhan.
Menarik bahwa dalam khotbah-Nya di bukit, Yesus menyebutkan dukacita sebagai salah satu ciri orang yang disebut berbahagia. Sebab kesedihan dan ratapan bisa beragam. Dalam dunia kita saat ini, sangat mungkin kesedihan dan ratapan berkaitan dengan status sebagai rakyat kecil yang tak punya banyak akses ke arah kekuatan dan ketahanan sosial-material, kondisi sakit dan terpinggirkan. Yesus memberi pengharapan bahwa mereka sedang berjalan ke arah pintu penghiburan. Justru siapa yang tak pernah mengalami kesedihan, tak akan pernah dapat mengalami hangatnya penghiburan. Mari kita bertanya dalam diri: kapan kali terakhir kita membawa dukacita ke hadapan Tuhan? Ataukah kita merasa itu tak ada gunanya sebab Tuhan tak peduli? Saat Anda jujur dan hancur hati di hadapan-Nya, ingat janji Yesus: Anda akan beroleh penghiburan-Nya. Jadi, berbahagialah!
Selamat pagi, selamat berbahagia. GBU.