Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

PERUBAHAN HATI DI TAHUN YOBEL

PERUBAHAN HATI DI TAHUN YOBEL


Jumat 14 Maret 2025


(Matius 5:20-26)

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, Pada hari ini, kita merenungkan sabda Tuhan dari Injil Matius yang mengingatkan kita tentang pentingnya hidup yang tidak hanya terfokus pada peraturan lahiriah, tetapi juga pada perubahan hati yang mendalam. Dalam bacaan ini, Yesus menekankan bahwa “jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ahli Taurat dan orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Matius 5:20).

Kebenaran yang Lebih Tinggi

Yesus mengajarkan kita bahwa kebenaran sejati bukan hanya mengenai pelaksanaan hukum secara eksternal, tetapi juga tentang motivasi dan niat hati. Ketika kita mengikuti perintah Tuhan, kita diundang untuk menghidupi kebenaran dalam seluruh keberadaan kita—baik dalam perkataan, perbuatan, dan pikiran. Oleh karena itu, Yesus menunjukkan bahwa kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang datang dari hati yang dipenuhi kasih dan pengampunan, bukan sekadar kepatuhan pada aturan atau tradisi.

Dalam konteks Tahun Yubileum “Peziarah Pengharapan”, tema ini sangat relevan. Kita dipanggil untuk menjadi peziarah yang tidak hanya mengikuti aturan gereja, tetapi juga untuk merasakan pengharapan yang datang dari Allah, yang menyelamatkan kita tidak hanya dari dosa-dosa kita yang tampak, tetapi juga dari semua kedegilan hati kita yang tersembunyi. Tahun Yubileum mengajak kita untuk memperbarui hidup kita, untuk melangkah lebih dekat kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati dan penyerahan diri.

Rekonsiliasi dan Pengampunan

Yesus mengajarkan kita untuk tidak hanya memperhatikan tindakan kita, tetapi juga relasi kita dengan sesama. Dalam Matius 5:23-24, Dia berkata, “Jika kamu mempersembahkan korban di atas altar dan di situ teringat bahwa saudaramu mempunyai sesuatu terhadap kamu, tinggalkanlah korbanmu itu di depan altar dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu.” Ini adalah panggilan untuk rekonsiliasi.

Di dalam perjalanan hidup kita sebagai peziarah, kita pasti menemui berbagai konflik dan perbedaan dengan sesama. Pengampunan menjadi jalan utama untuk menemukan damai sejahtera sejati. Pada Yubileum ini, Tuhan mengundang kita untuk memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Pengharapan sejati terwujud dalam hati yang penuh kasih dan pengampunan. Dalam merayakan Yubileum, kita diajak untuk melepaskan semua kebencian, dendam, dan perasaan negatif lainnya, agar kita dapat kembali berjalan dengan Tuhan dalam damai.

Pengharapan yang Memperbarui Hidup

Tahun Yubileum juga adalah waktu untuk merenungkan kembali perjalanan iman kita. Sebagai peziarah, kita sedang berjalan menuju Kerajaan Allah yang penuh kedamaian dan sukacita. Matius 5:25-26 mengingatkan kita agar tidak menunda-nunda rekonsiliasi dengan sesama, karena setiap kesempatan adalah waktu yang berharga. Kita tidak tahu kapan waktu itu akan berakhir, dan pengharapan kita hanya akan terwujud dengan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam pengharapan ini, kita mengerti bahwa hidup sebagai peziarah tidak selalu mudah. Namun, kita diajak untuk menjaga semangat pengharapan yang membara, yang akan membawa kita melalui segala tantangan. Pengharapan ini bukanlah sekadar harapan kosong, tetapi harapan yang berasal dari kasih dan janji Tuhan, yang tidak akan pernah gagal.

Saudara-saudari yang terkasih, pada saat kita merayakan Tahun Yubileum Peziarah Pengharapan ini, marilah kita membuka hati kita untuk hidup dalam kebenaran yang lebih tinggi, yakni kebenaran yang lahir dari hati yang penuh kasih dan pengampunan. Marilah kita mendamaikan diri dengan Tuhan dan sesama, serta memelihara pengharapan yang sejati dalam hidup kita.

Semoga kita semua menjadi peziarah yang setia, yang menapaki jalan pengharapan dengan penuh iman, dan yang terus berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, hingga kita sampai di tujuan akhir kita, yaitu Kerajaan Allah yang abadi.

Tuhan memberkati.
RD. Ignasius Adam Suncoko

“Coba dan Rasakan Dulu”

“Coba dan Rasakan Dulu”

Rm Yusuf Dimas Caesario

Bayangkan Anda sedang berada di sebuah restoran mewah. Anda memesan makanan, dan ketika hidangan datang, Anda berkata kepada pelayan, “Tolong buktikan dulu bahwa makanan ini enak. Saya mau bukti bahwa ini benar-benar layak dimakan.” Pelayan pun bingung. Bagaimana caranya membuktikan rasa makanan tanpa Anda mencicipinya? Akhirnya, pelayan itu hanya bisa berkata, “Cobalah dulu, baru Anda tahu.”

Nah, dalam hidup rohani, kita sering bersikap seperti itu. Kita meminta “tanda” dari Tuhan: “Tuhan, kalau Engkau benar-benar ada, tunjukkanlah mukjizat!” atau “Tuhan, kalau Engkau mengasihiku, berikanlah aku pekerjaan yang lebih baik!” Padahal, seperti makanan di restoran itu, iman butuh dicicipi, dirasakan, dan dialami, bukan hanya dilihat dari “tanda”-nya.

Refleksi:

Yesus dalam bacaan ini sedang menghadapi orang-orang yang terus meminta tanda. Mereka sudah melihat Yesus menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan bahkan membangkitkan orang mati. Tapi tetap saja, mereka ingin “tanda” lagi. Yesus pun berkata, “Tidak akan diberikan tanda selain tanda Yunus.” Apa maksudnya?

Tanda Yunus merujuk pada peristiwa Yunus yang berada di dalam perut ikan selama tiga hari, lalu pergi ke Niniwe untuk memberitakan pertobatan. Tanda ini juga menunjuk pada kebangkitan Yesus setelah tiga hari dalam kubur. Yesus ingin mengatakan, “Aku adalah tanda terbesar. Kebangkitan-Ku adalah bukti tertinggi. Percayalah!”

Tapi, seperti orang-orang di restoran tadi, kita sering kali masih meminta tanda tambahan. “Tuhan, berikan aku satu tanda lagi, baru aku percaya.” Padahal, Yesus sudah memberikan diri-Nya sendiri sebagai tanda terbesar. Kebangkitan-Nya adalah bukti nyata kasih dan kuasa-Nya.

  1. Iman yang Melampaui Tanda:        
    Iman sejati tidak selalu membutuhkan tanda mukjizat. Iman adalah percaya meskipun kita tidak melihat. Seperti kata Santo Agustinus, “Credo ut intelligam” (Aku percaya supaya aku mengerti). Percaya dulu, baru kita akan mengerti.
  2. Respons yang Tepat:          
    Ratu Selatan datang dari jauh untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan orang Niniwe bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus. Mereka merespons dengan iman dan pertobatan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita merespons firman Tuhan dengan serius, atau kita masih sibuk meminta tanda?
  3. Tanda Terbesar: Yesus Sendiri:     
    Yesus lebih besar dari Salomo dan Yunus. Kebangkitan-Nya adalah tanda terbesar kasih dan kuasa Allah. Mari kita mengakui kehadiran-Nya dalam hidup kita dan merespons dengan iman yang tulus.

Doa:

Tuhan Yesus, sering kali kami meminta tanda dari-Mu, padahal Engkau sudah memberikan diri-Mu sendiri sebagai tanda terbesar. Ampuni kami jika kami kurang percaya. Bantulah kami untuk memiliki iman yang tulus, yang tidak selalu membutuhkan tanda untuk percaya. Ajarlah kami untuk menanggapi firman-Mu dengan hati yang terbuka dan siap bertobat. Terima kasih untuk kehadiran-Mu dalam hidup kami, yang lebih besar dari segala hikmat dan mukjizat. Amin.

Roh Kudus dan Padang Gurun

Roh Kudus dan Padang Gurun

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [C]

9 Maret 2025

Lukas 4:1-13

Ketika kita memulai masa Prapaskah, kita sekali lagi diajak untuk merenungkan kisah Yesus yang diuji di padang gurun selama empat puluh hari. Namun, Injil Lukas memberikan detail yang menarik: Roh Kuduslah yang membawa Yesus ke padang gurun, tempat di mana Ia berpuasa dan menghadapi si jahat. Apa artinya ini?

Dengan membawa Yesus ke padang gurun selama empat puluh hari, Roh Allah bermaksud agar Yesus menghidupkan kembali peristiwa penting dalam Perjanjian Lama, yaitu perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Seperti bangsa Israel, Yesus juga menghadapi tantangan dan kesulitan. Cuaca padang gurun yang sangat keras, dengan panas yang menyengat di siang hari dan dingin yang menusuk tulang di malam hari. Makanan dan air sangat langka, dan padang gurun merupakan rumah bagi binatang-binatang buas yang mengancam kehidupan manusia. Yesus menghidupkan kembali pengalaman bangsa Israel, yang mengalami kondisi yang sama sulitnya. Tetapi selain itu, Iblis melihat kesempatan untuk mencobai Yesus, karena ia tahu bahwa Dia sedang lapar dan lemah secara badani. Ini adalah roh jahat yang sama yang mencobai bangsa Israel di padang gurun. Lukas mengungkapkan tiga pencobaan yang dihadapi Yesus: kenikmatan jasmani (membuat roti), kekayaan duniawi (asal menyembah setan), dan kemuliaan pribadi (dengan mempertunjukkan mukjizat di tempat umum).

Bangsa Israel di padang gurun menghadapi tiga godaan yang sama. Ketika mereka lapar dan haus, mereka bersungut-sungut kepada Allah, bahkan menyalahkan-Nya karena telah membebaskan mereka dari Mesir (Kel. 16). Ketika Musa berdoa di atas gunung, orang Israel menuntut ilah baru, menggantikan Allah yang hidup dengan anak lembu emas-sesuatu yang secara materi berharga dan menarik, tetapi pada akhirnya tidak bernyawa (Kel. 32). Beberapa orang Israel, yang dipenuhi dengan kesombongan, mencari kemuliaan untuk diri mereka sendiri. Harun dan Miryam mencoba mengklaim kepemimpinan atas Musa (Bil. 12), sementara Korah dan para pengikutnya berusaha merebut posisi imam besar (Bil. 16). Dengan memasuki padang gurun dan menghidupkan kembali peristiwa ini, Yesus menjadi Israel yang baru dan sempurna. Secara fisik Dia lemah, diuji, dan dicobai, tetapi Dia tidak jatuh. Dia bahkan mengalahkan Iblis dalam peperangan rohani yang pertama ini.

Injil mengatakan bahwa Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun, di mana Dia “dicobai” oleh Iblis. Apakah ini berarti bahwa adalah kehendak Allah untuk “mencobai” Yesus? Kata Yunani yang digunakan di sini adalah “πειράζειν” (peiratsein), yang dapat diterjemahkan sebagai “menggoda”, tetapi juga “menguji”. “Menggoda” dan “menguji” ini bukan sinonim, tetapi keduanya berkaitan erat karena saat pengujian sering kali mencakup kesempatan untuk godaan. Sama seperti dalam ujian sekolah, kita mungkin merasakan godaan untuk berbuat curang.

Injil mengajarkan kita bahwa Tuhan, dalam hikmat-Nya yang tak terbatas, tidak selalu melindungi kita dari masa-masa sulit, tetapi mengizinkan kita untuk menghadapi ujian hidup. Ujian-ujian ini, seperti kelaparan, masalah keuangan, penyakit, dan relasi yang sulit, sering kali digunakan oleh roh-roh jahat untuk menggoda kita untuk mencuri, menipu, tidak setia, dan menyalahkan Tuhan. Namun, kita harus ingat bahwa Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus ketika Dia memasuki padang gurun. Satu-satunya cara untuk bertahan dalam ujian hidup dan melindungi diri kita dari godaan adalah dengan mengandalkan Roh Kudus. Ketika kita mengandalkan diri sendiri, kita pasti akan gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita akan menang, seperti Yesus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apa saja pengalaman padang gurun kita? Ujian apa yang perlu kita hadapi dalam hidup? Godaan apa yang sering kita hadapi? Apakah kita mengandalkan Roh Kudus di masa-masa sulit ini? Bagaimana kita dapat lebih mengandalkan Tuhan? Hikmat apa yang kita peroleh setelah mengalami pencobaan?

RENUNGAN 8 MARET 2025 

RENUNGAN 8 MARET 2025 

Masa Prapaskah dimulai sejak hari Rabu Abu lalu. Masa retret agung dan kesempatan bagi kita merefleksikan diri dalam rangka relasi dengan Tuhan, semesta alam dan sesama saudara. Satu masa di mana kita diajak masuk ke dalam diri sendiri, melihat kembali pikiran dan perasaan yang tumbuh selama ini. Selaraskah pikiran dan perasaan kita dengan Tuhan? Masa Prapaskah mengantar kita pada pertobatan sejati agar siap menerima Penebusan Yesus Kristus.

Bacaan-bacaan hari ini mengantar kita pada refleksi semacam itu.  Betapa mudahnya kita menunjuk-menunjuk kekeliruan dan kesalahan orang lain. Kita menebarkan berita bohong dan fitnah tentang pribadi orang lain. Mungkin saja orang lain tidak melakukannya.   Bahkan orang lain diberi cap stempel sebagai pendosa, penjahat, penjilat, perampok dan sebagainya. Kita menghambat rahmat Tuhan bekerja melalui orang lain. Kitapun banyak melukai diri sendiri dengan sikap iri, benci dan dendam yang tak ada habisnya.

Setiap orang bisa salah dalam merencanakan dan memutuskan sesuatu. Tetapi dia tidak boleh dianggap sebagai pesakitan atau orang yang bersalah terus menerus, kecuali hukum dapat membuktikan kesalahannya.

Dalam Injil hari inipun kita mendengarkan bahwa Yesus mencari dan bertemu dengan Lewi pemungut cukai. Sebuah pekerjaan yang dianggap hina dina. Para pemungut cukai kerap mencari keuntungan untuk memperkaya dirinya sendiri dari rakyat. Betapa pedihnya ketika seseorang disingkirkan dari public. Tidak ada orang lagi yang mau percaya padanya. Ini sebuah penderitaan. Masa gelap yang dialaminya berakhir ketika Yesus menyapa dan berkata,”Ikutlah Aku.” Satu kalimat singkat yang menguhkan harapan masa depannya. Ada orang lain yang mau menyapa dan menjadikan Lewi bagian dari para murid Yesus. Kiranya ini sebuah keajaiban dan mukjizat dalam diri Lewi pemungut cukai.  Yesus datang, menyapa dan mengajaknya tinggal bersama, bergabung bersama komunitas para murid.

Bagi Yesus orang yang tersingkirkan, termarginalkan dan diabaikan seperti Lewi perlu disapa dan diyakinkan dengan hidupnya. Orang yang mungkin dianggap hina dan terkutuk karena perbuatannya, akhirnya dipulihkan oleh Yesus. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Kalimat itulah yang dikatakan oleh Yesus kepada ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka bersungut-sungut kepada Yesus karena mau datang makan minum bersama pendosa. Orang sakit, orang berdosa perlu dipulihkan hidupnya agar mereka sehat dan sembuh dari beban fisik, beban mental dan rohani.

Setiap orang membutuhkan sapaan, agar dapat bangun dan berdiri tegak kembali dari keterpurukannya. Setiap orang pernah terjatuh dan tersungkur! Tidak jarang banyak kawan pergi meninggalkannya. Justru pada saat itulah dia sesungguhnya membutuhkan uluran tangan dari kawan dan sahabatnya. Yesus menunjukkan kepada kita arti yang sesungguhnya sebagai sahabat dan saudara pada orang yang terjatuh.

Mari kita membebaskan dan membaharui diri pada Masa Prapaskah ini. Bebaskan diri kita dari sikap menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain dan dari sikap memfitnah orang lain dari sesuatu yang tidak mereka lakukan. Dan pada akhirnya berani memulihkan semangat hidup dari saudara yang sedang menderita dan tersungkur. Tuhan Yesus memberkati setiap perjuangan kita untuk membaharui diri.

(rm. Medyanto, o.carm)

Renungan, 07 Maret 2025

Renungan, 07 Maret 2025

Matius 9:14-15

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

PUASA DAN MEMPELAI

Yesus berbicara tentang PUASA yang dikaitkan dengan MEMPELAI. Ketika mempelai itu ada bersama kita, puasa tidak berlaku. Yang ada hanyalah sukacita pesta. Begitu mempelai tidak bersama lagi, saat itulah diperlukan puasa. Bagaimana hal ini bisa dimaknai?

  1. SANG MEMPELAI

Lewat sabda hari ini, Yesus menunjuk pada diri-Nya sendiri sebagai mempelai laki-laki. Dan kita, umat-Nya adalah mempelai perempuan. Kita dan Yesus satu dalam kasih yang tak tergantikan. Kasih yang begitu mendalam seperti kasih suami dan istri.

Dengan gambaran ini, Yesus hendak menunjukkan hasrat cinta Allah yang ingin bersatu dengan manusia. Demikian halnya, dalam hati manusia tersemat cita-cita hidup rohani, yakni mencapai kekudusan, sehingga dipersatukan dengan Sang Mempelai.

  • BERPUASA

Meski terdapat hasrat Allah dan juga cita-cita manusia, namun dosa telah menjadi penghalang yang memisahkan kedua hasrat itu. Rahmat Allah yang begitu besar tidak menembus hati nurani manusia. Bahkan, manusia sulit melihat kebaikan dan cinta Allah.

Di sinilah puasa ditempatkan. Untuk bisa merasakan getaran cinta Allah, manusia mesti dibebaskan dari dosa dan kesalahan. Berpuasa adalah cara jitu untuk kembali kepada Sang Mempelai dengan meninggalkan keterikatan akan dosa dan kecenderungan jahat.

  • BUKAN SOAL JASMANI

Dengan cara pandang mempelai, berpuasa bukan semata-mata tidak makan dan tidak minum. Puasa adalah tindakan jasmani yang mengekspresikan olah rohani, agar bisa bersatu dengan Allah. Maka, puasa itu begitu ringan, indah, dan enak, karena kita sedang merindukan kesatuan dengan Sang Mempelai, yakni Allah.

Akhirnya, puasa bersentuhan erat dengan salib. Kita berpuasa seraya merenungkan salib atau bahkan belajar memikul salib. Karena dengan cara itu, kita akan semakin mengerti dan memahami betapa kuat-Nya cinta Allah, Sang Mempelai kepada kita.

Translate »