Browsed by
Month: July 2014

Tanda dari Juan

Tanda dari Juan

Bacaan Injil Mateus 12:38-40

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.”  Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.

Sebuah tanda sederhana yang menyelamatkan hidup! Bacalah kisah dari Juan di bawah ini:

Juan bekerja di sebuah pabrik pendistribusian daging. Suatu hari, ia pergi ke ruangan pendingin daging untuk memeriksa sesuatu. Sayang, nasib buruk menimpanya, pintu ruangan itu menutup, dan ia pun terkunci di dalamnya tanpa seorangpun yg melihatnya. Karena ruangan pendingin daging itu kedap udara, maka yang di luar tidak mungkin mendengar teriakan dari dalam ruangan itu.

Lima jam kemudian, saat Juan berada di ambang kematian karena kedinginan, penjaga keamanan pabrik membuka pintu dan menyelamatkan nyawanya.

Juan meminta penjaga keamanan itu menceritakan padanya bagaimana ia bisa membukakan pintu ruangan pendingin daging itu, karena pekerjaan itu bukan bagian dari rutinitas pekerjaannya.

Penjaga keamanan itu menjelaskan begini, “Ratusan pekerja datang dan keluar setiap hari, Anda adalah salah satu dari sedikit yang selalu menyapa saya di pagi hari dan mengatakan selamat tinggal kepada saya setiap malam ketika meninggalkan tempat ini setelah jam kerja usai. Banyak yang memperlakukan saya se-olah2 saya tak terlihat. Hari ini, seperti biasanya, Anda menyapa saya saat masuk kerja. Tapi setelah jam kerja berakhir, saya belum mendengar Anda mengucapkan kata ‘selamat tinggal sampai ketemu besok’. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memeriksa di sekitar pabrik. Saya masih berharap mendengar kata ‘Hai’ dan ‘Bye’ dari Anda setiap hari.

Karena tidak mendengar kata ‘selamat tinggal’ dari Anda, saya tahu sesuatu telah terjadi. Lalu, saya berusaha mencari dan menemukan Anda!”

 Dikirim oleh Pius Nugraha 27 Juni 2014 di Serayunet.

Hamba yang menderita

Hamba yang menderita

 

Kutipan dari Yesaya menggambarkan bagaimana Allah yang agung dan mulia menerima kondisi hidup manusia yang rapuh dan dalam kesetiaan dan kelemahlembutan seorang hamba menderita bagi keselamatan manusia (Mt 12:14-21).

Di sini, penginjil Matius hendak membawa pembacanya ke dalam pengenalan yang benar bahwa Allah yang mereka imani adalah Allah yang maha pengampun dan penuh kasih. Ia berani mengambil jalan hidup manusia yang lemah, menderita bersama mereka, dan bahkan mati sebagai orang bersalah. Ia membiarkan diri-Nya merana, dan dalam kesendirian beban dosa manusia ditanggung-Nya. Ia merendahkan diri, menjadi satu di antara orang-orang yang sering menjadi sandaran kebencian orang-orang berkuasa. Tak ada perlawanan dari-Nya terhadap musuh yang mengincar. Sepatah kata pun tiada terdengar dari bibir-Nya. Ia menanggung nasib sebagai manusia yang terdindih oleh dosa dan kematian. Allah seperti inilah yang menjadi tanda harapan dan kebangkitan bagi kaum kecil dan sederhana.

Panggilan kita sebagai orang beriman adalah untuk menghadirkan Kristus yang menjadikan diri-Nya hina dina di salib. Salib adalah lambang penolakan manusia yang tidak mengenal Allah. Hanya dengan mata iman nan jernih, rendah hati dan penuh kelembutan dapat membawa kita untuk masuk dalam kasih-Nya yang jauh melampau batas-batas pengertian manusia. Allah itu maha pengampun. Ia mengasihi kita hingga akhir, hingga kematian. Dengan menjadikan diri-Nya menderita, kita diberi contoh tentang ketaatan pada kehendak Bapa, agar keselamatan itu sungguh menjadi nyata, agar pertobatan terus menuntun kita kepada kemerdekaan dan kasih satu akan yang lain.

Ya, Allah Putra-Mu diutus untuk menebus kami dengan menjadi hamba yang turut merasakan penderitaan. Semoga kami selalu mau mengampuni sesama dan mengasihi menurut teladan Yesus sendiri. Amen!

Bukan huruf (koreksi)

Bukan huruf (koreksi)

 

Injil hari ini bercerita tentang orang-orang farisi yang berusaha menjerat Yesus. Konteksnya, Yesus bersama para murid-Nya sedang berjalan-jalan pada hari Sabat. Saat itu karena lapar para murid memetik bulir-bulir gandum dan makan. Menurut aturan, Sabat itu hari Tuhan dan orang dilarang mengerjakan apapun, termasuk petik buah-buahan (Kel 20:9-10). Maka orang-orang farisi itu komplain: Lihat, murid-murid-Mu sedang melakukan apa yang tidak halal pada hari Sabat.

Yesus lalu membuka pikiran orang-orang farisi dengan memberi dua contoh. Pertama, kisah tentang Daud mendapatkan roti sajian di dalam Bait Suci dan diberikannya kepada para pengikutnya yang lapar padahal roti itu hanya boleh dimakan oleh para imam (Im 25:5-9). Kedua, kalau hari sabat itu hari istirahat kenapa imam bekerja pada hari itu dengan mengeluarkan roti-roti sajian dari tempat suci dan memakannya pada akhir pekan tanpa merasa dinodai (Im 24:8; Bil 28:9-10).

Setelah berargumen dengan mengemukakan dua alasan historis ini, Yesus memberikan sebuah alasan yang lebih fundamental: Sesuatu yang jauh lebih besar ada di sini. Yesus merujuk pada diri-Nya sendiri. Alasan ketiga ini tidak lagi bersifat literer historis tapi personal. Di sini, kita melihat dua hal: huruf hukum dan roh hukum. Yang pertama merujuk pada apa yang tertulis sebagai hukum (letter), yang berikutnya dinamakan dengan apa yang tidak tertulis oleh yang membuat hukum yaitu isi, roh hukum (spirit). Jika orang dengan iklas menuruti the spirit of the law, ia sedang melakukan apa yang para pembuat rujuk kendati tidak perlu punya rujukan langsung pada tulisan hukum.

Yesus memberi alasan yang lebih dalam lagi: bukan korban, melainkan belas kasih, mercy. Kata mercy ini ada dalam kitab Hosea 6:6 bahwa Allah, penulis hukum yang sesungguhnya, lebih berkenan pada hati yang setia, bukan sajian bakaran. Mercy memiliki arti-arti yang amat kaya: compassion, grace, charity, forgiveness, heartedness, ternderness, symphaty, generosity, liberatility. Paus kita sekarang, Francis, sering sekali memakai istilah-istilah di atas dengan rujukan pada hati manusia yang ikhlas bagi Tuhan dan di saat yang sama ada simpati kepada sesama, miserando.

Allah berkenan bagi yang ikhlas hatinya, bukan kepura-puraan. Bukan huruf, tapi Roh yang membawa hidup. Yesus menyelamatkan hukum sekaligus manusia yang menjalankannya: Putra Manusia adalah Tuan atas hari Sabat!

 

 

Take my yoke

Take my yoke

 

Sesudah memperkenalkan kepada para murid bahwa Allah itu Bapa dan Tuhan atas langit dan bumi, Yesus membukakan kepada mereka misteri diri-Nya. Ada dua ungkapan yang mengindikasikan misteri hidup Yesus: lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:28-30).

Seperti anak-anak yang selalu butuh bimbingan dan bergantung pada orang yang lebih dewasa, Yesus memakai ungkapan-ungkapan ini pula untuk mengajar para murid. Salah satu sifat anak-anak adalah kecenderungan untuk tahu yang tinggi. Sering kali ada orang tua yang berhadapan dengan anak-anak yang suka bertanya tentang banyak hal.

Yesus sendiri memperkenalkan diri-Nya kepada mereka yang mendengarkan-Nya: Datanglah kepada-Ku …

Undangan Yesus ini mendorong kita untuk membuka diri dan belajar. Karena itu kerelaan hati untuk mau dibimbing akan membawa kita untuk mengenal Yesus. Pengenalan akan Yesus inilah yang menjadi motivasi dasar mengikuti Yesus.

Undangan Yesus juga membawa kita kepada inti dari ziarah dan hidup baru yang ditawarkan-Nya. Hidup baru itu bahwa Allah hadir dalam peristiwa salib. Di dalam peristiwa salib kelemahlembutan dan kerendahan hati Allah menjadi penuh dan membawa makna baru bagi keselamatan manusia. Di sini kerapuhan manusia diangkat oleh Allah melalui wafat dan kebangkitan Putra-Nya. Di sini Allah dalam keserupaan manusiawi-Nya memikul beban-beban dosa kita yang tidak bisa kita pikul sendiri. Yesus menawarkan: take my yoke, yakni suatu tawaran keselamatan dengan ketaatan akan sabda-Nya. Di bawah ketaatan inilah kita boleh berjalan bersama Dia, sumber damai dan kelegaan sejati.

Ya Bapa, berilah kami rahmat kemurnian iman seperti para murid agar setia pada sabda keselamatan-Mu. Hapuslah beban-beban dosa dan kesalahan kami, agar kami boleh mengalami damai dan sukacita surgawi dalam diri Yesus, Putra-Mu. Amen!

Misteri Kerajaan Allah

Misteri Kerajaan Allah

Bacaan Injil hari ini (Mt 11:25-27) adalah sebagian dari teks yang biasanya dibaca saat pelayanan sakramen minyak suci.

Bacaan ini menarik karena mengajak kita untuk memahami misteri kerajaan Allah. Ada sesuatu yang khusus di sini bahwa misteri Ilahi diberikan terutama bagi orang-orang kecil dan sederhana. Yesus menyebut orang-orang ini berhati mulia dan polos seperti anak-anak. Yesus mensyukuri hal ini karena sesuai dengan kehendak Bapa-Nya di Surga.

Inilah rahasia dari keberpihakan Allah. Rahasia Ilahi ini yang dinyatakan kepada dunia dalam diri Putra-Nya sendiri. Yesus sendiri, melalui hidup dan seluruh karya-Nya, adalah rahmat kasih dan kebaikan sempurna dari Bapa. Kenyataan iman ini yang selalu hadir untuk menyapa dan menghibur kita manusia yang rapuh. Terutama ketika kita bertemu dengan penindasan, penggusuran dan pengucilan terhadap orang-orang kecil. Mereka yang dianggap berdosa, tak sekolah, dianggap bodoh atau diperbodoh dan sampah masyarakat. Terbelakang! Tapi hati orang-orang seperti ini dekat dengan Allah. Merekalah yang menghadirkan kuasa dan keberpihakan Allah. Dalam diri mereka inilah terpancar sentuhan kasih dan kebaikan Ilahi. Pada mereka roh kebijaksanaan hidup dan pengetahuan akan Allah berpihak dan bekerja.

Ada kisah tentang Lazarus dan saudari-saudarinya, Martha dan Maria. Mereka ini menjadi model yang menerima kunjungan Yesus. Maria, dalam kesempatan itu menunjukkan suatu sikap kemuridan dengan duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan apa yang disabdakan-Nya. Yesus memuji tindakan Maria itu sebagai jauh lebih berharga dari apa yang dapat diberikan oleh dunia (Luk 10).

Yesus sahabat orang-orang kecil mengenal secara utuh kehendak Bapa-Nya. Yesus adalah komunikasi diri dan realitas keselamatan Allah yang sesungguhnya. Pengenalan akan Yesus seperti inilah yang menjadi harapan bagi manusia; kondisi di mana Allah dan kehadiran-Nya membuka mata banyak orang kepada kebebasan dan sukacita sejati.

Marilah kita membuka hati untuk menerima sabda Yesus. Dialah sukacita dan harapan utuh semua orang. Allah telah menyatakan kehendak-Nya untuk tinggal dalam hati manusia. Terutama dalam hati mereka yang dengan tulus dan iklas mau mendengarkan dan menerima kehadiran-Nya.

Translate »