Browsed by
Month: August 2014

Turun Gunung

Turun Gunung

Hari Raya Transfigurasi Tuhan Yesus

berk2

Matius 17:1-9

Sebelum saya meninggalkan Berkeley, saya sempat hiking ke atas Berkeley Hills. Tiba-tiba saya sampai pada suatu tempat yang memberi saya suatu pemandangan yang sungguh menakjubkan. Saya memutuskan untuk berhenti dan mengagumi pemandangan ini, di mana terbentang Berkeley, Oakland, San Francisco, dan tentu saja Golden Gate Bridge yang terkenal itu. Saya juga mengabadikan pengalaman itu dengan kamera di cellphone saya, sebagai kenang-kenangan sebelum saya berpisah dari San Francisco Bay Area.

Pengalaman lain saya adalah ketika di Jakarta dulu. Jika keluarga saya mengajak untuk berpergian ke Puncak, bukan main senangnya. Lagu yang saya sering nyanyi dan dengarkan dari masa kecil menjadi begitu nyata dalam perjalanan melalui kebun teh yang asri, jalanan berkelok, di antara kabut tipis dan hawa yang sejuk.

Naik, naik, ke puncak gunung,
tinggi, tinggi sekali.
Kiri, kanan, kulihat saja,
banyak pohon cemara.

Saya tidak tahu persis keadaan gunung tempat Yesus, Petrus, Yakobus, dan Yohanes pergi dalam bacaan hari ini. Tetapi yang para murid lihat pasti lebih dari keindahan pemandangan alam atau hawa yang sejuk. Mereka melihat Yesus yang dimuliakan, bersama para Nabi terbesar bangsa Israel. Para murid mengalami sesuatu yang sangat mengagumkan, sampai-sampai Petrus ingin mendirikan tenda dan menetap di sana. Dari atas gunung semua tampak sempurna. Pemandangan begitu indah dengan rumah-rumah yang kelihatan kecil. Di Puncak hawanya begitu sejuk dan segar. Pada saat Transfigurasi, Yesus begitu mulianya dan berbaju putih seperti salju. Siapa yang tidak mau tinggal di tempat seperti itu?

Meskipun demikian, saya pun harus kembali dengan keluarga ke Jakarta, kembali ke hiruk pikuk kota dan udara yang penuh polusi, kembali ke sekolah dan PR yang menumpuk. Para rasulpun diajak Yesus untuk kembali turun gunung, kembali menghadapi orang-orang Yahudi yang membenci mereka, kembali ke perjamuan di mana seorang dari mereka akan berkhianat, dan pada akhirnya kembali ke perjalanan Yesus yang mati disalibkan, telanjang dan penuh luka, jauh dari rupanya yang begitu mulia di atas gunung.

Tetapi inilah dasar iman kita, iman yang percaya akan besarnya cinta Tuhan pada kita sehingga dia mau “turun gunung” dan hidup, sengsara, dan wafat sama seperti kita. Beribu-ribu tahun lamanya Abraham, Musa, dan para nabi Israel harus naik ke gunung untuk bertemu Allah. Kali ini, sesuatu yang sama sekali lain terjadi. Tuhan tahu penderitaan kita karena Tuhan sendiri menjadi manusia dan merasakannya.

Ada lagu terkenal dari Bette Midler berjudul “From A Distance”. Beberapa kata-katanya sebagai berikut:
From a distance, there is harmony.
From a distance, we all have enough.
From a distance, you look like my friend.
God is watching us from a distance.

Dari atas Berkeley Hills saya tidak bisa melihat orang-orang homeless yang memenuhi daerah Tenderloin di San Francisco. Dari sana saya tidak bisa melihat lebih dari 100 orang yang tertembak mati setiap tahunnya di Oakland. Begitu juga kalau Tuhan hanya melihat “from a distance”, saya tidak yakin dia bisa merasakan perihnya penderitaan manusia di dunia. Kita percaya pada Inkarnasi, pada sang Emmanuel (Tuhan beserta kita).

Seringkali Gereja atau kelompok kita menjadi seperti puncak gunung di mana kita bisa merasa aman, nyaman, dan tenteram. Tidak ada yang salah dengan ini, tetapi kita juga harus ingat untuk turun gunung. Dengan menerima tubuh Kristus dalam Ekaristi, kita dikuatkan untuk kembali ke tengah masyarakat, ke dalam suka duka para sesama kita, dan menjadi tubuh Kristus yang menyalurkan kasih dan pengampunanNya bagi dunia.

Antara yang Kotor dan Yang Bersih

Antara yang Kotor dan Yang Bersih

Matius 15:1-2, 10-14

nurmahmudi-kanan

Salah seorang teman saya ada yang memasang foto di atas di halaman facebook. Ini adalah poster seorang pejabat di Indonesia yang mengajak masyarakat untuk memakai tangan kanan untuk makan dan minum. Ketika ditanya oleh wartawan, dia menjawab alasannya adalah untuk membentuk karakter bangsa dengan menghormati kesopanan. Saya yakin banyak dari kita yang tumbuh di keluarga di mana diajarkan untuk selalu menggunakan tangan kanan untuk hal-hal yang sopan dan bersih dan tangan kiri untuk yang kotor. Budaya ini sudah mendarah daging di masyarakat kita dan menjadi kebiasaan yang sudah seperti natural.

Sesuai dengan bacaan ini, mungkin kita bisa lebih mengerti konteksnya dengan membayangkan Yesus dan para muridnya makan dan minum dengan memakai tangan kiri. Kita yang melihat itu mungkin terperanjat. Katanya guru besar, juruselamat dunia, anak Tuhan. Kok cara makannya tidak tahu sopan santun? Mungkin hal itu jugalah yang ada di benak para orang Yahudi yang melihat Yesus dan muridnya tidak mencuci tangan sebelum makan. Tapi lebih dari sekedar budaya, mereka melihatnya sebagai pelanggaran hukum dari Allah sendiri.

Ketika Yesus menjawab, Dia tidak mengatakan bahwa hukum itu adalah salah. Dia tidak mengatakan bahwa sekarang ada hukum baru di mana makan harus pakai tangan kiri. Yang Dia katakan adalah, coba buka pandangan kita. Manakah yang lebih kotor, orang yang tidak cuci tangan dulu sebelum makan atau orang yang memakai mulutnya untuk menyebar fitnah dan kebencian? Hal mana yang lebih melawan hukum Tuhan?

Sama seperti pepatah “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak,” kita seringkali mempersoalkan hal-hal kecil dalam orang lain dan tidak introspeksi diri kita sendiri. Orang-orang Yahudi dalam cerita ini, dengan mencibir murid-murid Yesus, justru menggunakan mulut yang katanya sudah bersih karena makan dengan tangan yang bersih untuk menyebarkan kebencian.

Kita boleh menepuk dada karena selalu bersikap sopan dengan makan dengan tangan kanan. Tapi hal apalagi yang kita lakukan dengan tangan kanan itu? Apa kita memakainya untuk menyakiti orang lain? Apa kita menggunakannya untuk mengkorupsi jatah yang bukan milik kita? Apakah kita memakainya untuk merusak karya ciptaan Allah? Apa kita menggunakannya untuk menulis atau mengetik pesan yang penuh kebencian? Jika demikian, mungkin malahan kita harus makan dengan tangan kiri karena ternyata lebih bersih.

Antara Empati dan Simpati

Antara Empati dan Simpati

Yeremia 28:1-17

Summer ini saya ditugaskan untuk belajar menjadi “chaplain” di sebuah rumah sakit di Los Angeles. Di sini saya belajar banyak tentang pelayanan terhadap orang sakit dan keluarga atau teman-teman mereka. Sebelumnya, saya, seperti juga banyak orang, selalu ingin memberikan pengharapan kepada mereka yang sedih atau menderita dengan cara mengatakan sesuatu yang positif seperti: “Tuhan pasti buka jalan,” atau “Ini sudah rencana Tuhan,” atau “Pasti ada hal yang positif dari pengalaman ini,” dan semacamnya. Pesan-pesan semacam ini menunjukkan simpati saya. Tetapi sering kali, mereka yang berada dalam penderitaan yang berat atau kesedihan yang dalam tidak bisa menerima pesan demikian pada saat itu. Bagaimana kita bisa mengatakan rencana Tuhan pada orang tua yang kehilangan anaknya yang masih kecil. Bagiamana kita bisa mengatakan semuanya akan baik-baik saja pada orang yang baru didiagnosis kanker yang kecil kemungkinannya untuk sembuh.

Di saat-saat seperti itu, empati lah yang lebih dibutuhkan mereka. Empati adalah kemampuan atau niat untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Pembimbing saya mengibaratkan empati adalah seperti menghadapi orang yang masuk sumur. Orang yang bersimpati akan mengungkapkan rasa kasihan mereka pada orang di dalam sumur, atau langsung akan mencoba mengeluarkan mereka. Tapi jika orang itu belum siap keluar dari sumur, akan sia-sia saja usaha kita. Empati adalah mencoba masuk ke dalam sumur itu untuk menyertai mereka, untuk memberi tanda pada mereka bahwa mereka tidak sendiri. Jika sudah tiba saatnya mereka siap keluar, maka saat itulah kita bersama-sama keluar dari dalam sumur.

Dalam bacaan hari ini Nabi Hananiah bernubuat bahwa penderitaan bangsa Israel akan berakhir dalam dua tahun. Nabi Yeremia mengatakan bahwa suatu kabar yang baik kalau itu benar-benar terjadi, tapi dia tahu bahwa pengasingan Israel akan lebih lama dari itu. Hananiah ingin mengeluarkan Israel dari penderitaannya dengan segera, tapi dia memberikan harapan kosong. Maksudnya baik, tetapi dia tergesa-gesa ingin mengembalikan Israel kepada tanah asal dan kejayaannya. Bangsa Israel belum siap, proses pertobatan mereka belumlah selesai. Kabar baik yang terburu-buru seperti itu adalah dangkal dan tidak akan berbuah banyak.

Seringkali kita ingin kabar baik secepatnya, mungkin tidak banyak beda dengan kebiasaan kita yang semakin “instant”. Segala kebutuhan harus dipenuhi secepat mungkin. Sabda Tuhan yang kita mau dengar adalah yang menjanjikan kita menjadi makmur atau sembuh atau berhasil dengan secepatnya. Tetapi Tuhan tidak bekerja demikian. Dia tidak mau hanya bersimpati pada kita, tapi dia mau hadir, berjalan bersama kita dalam lika-liku, pasang surut kehidupan kita. Itulah alasan Kristus turun ke dunia dan mati di kayu salib. Padahal Tuhan bisa saja dengan lebih gampang menghapuskan penderitaan atau dosa dunia, tetapi Dia memilih jalan untuk menjadi seperti kita dan menanggung penderitaan kita. Orang yang diberi simpati mungkin akan berterima kasih dan merasa berbalas budi. Orang yang merasakan empati dari orang lain akan menjalin hubungan persahabatan yang dilandasi kasih karena mereka sudah melalui masa sulit bersama-sama.

Setia

Setia

Matius 14: 1-12

 

Salahsatu keutamaan Kristen adalah sikap setia. Dan tentu saja lawan dari setia adalah tidak setia, atau mungkin dapat dikatakan dalam kata yang praktis yaitu selingkuh. Kedua sikap ini ada dalam diri setiap orang. Selama seseorang masih hidup maka kedua sikap ini akan saling bertentangan dalam diri orang tersebut.

Dalam Injil yang kita dengarkan hari ini kedua sikap ini ditunjukkan oleh Yohnes Pembaptis dan Herodes. Yohanes menampilkan sikap setia. Di lain pihak Herodes menampilkan sikap tidak setia, yaitu dalam tindakannya berselingkuh dengan iparnya. Yohanes sungguh setia dalam panggilannya sebagai seorang nabi. Ia tidak takut-takut memberikan teguran kepada Herodes manakala Herodes melakukan sikap-sikap yang tidak baik, terutama sikapnya menyelingkuhi iparnya sendiri. Herodes yang mendapat teguran dari Yohanes merasa marah. Pertama-tama sebagai seorang raja ia tidak terima ditegur oleh orang biasa. Namun ia menyadari bahwa Yohanes bukanlah orang biasa sebagaimana kebanyakan orang. Ia adalah nabi yang diutus oleh Allah. Maka ia sadar bahwa memang tugas dari Yohanes adalah meluruskan sikap-sikap yang keliru dengan memberi teguran.

Namun ternyata kemarahan Herodes tidak berhenti di situ saja. Ia masih memendam kemarahannya dan ternyata kemarahannya semakin terpupuk, meskipun ia sadar bahwa ia tidak dapat melampiaskan kemarahannya kepada Yohanes karena ia takut akan banyak orang yang menganggap Yohanes sebagai nabi. Ternyata kemarahan adalah ladang subur untuk tindakan-tindakan kejahatan. Ternyata pula kemarahan yang dipadu dengan sikap tidak setia akan melahirkan persekongkolan yang namanya pembunuhan.

Lewat Injil yang ditulisnya, Matius mengajari kita bahwa hendaknya kita berlaku lurus dalam hidup kita. Jangan sampai hidup kita dikuasai oleh sikap-sikap tidak setia. Tambahan lagi, jangan sampai sikap tidak setia tersebut dipupuk dengan subur oleh sikap-sikap kita yang gampang sekali marah. Karena sebagaimana kita renungkan di atas, sikap marah yang dipadu dengan sikap tidak setia akan melahirkan apa yang namanya pembunuhan. Semoga Tuhan menolong kita sekalian untuk senantiasa setia dalam hidup kita. Amin.

Meremehkan

Meremehkan

Jumat, 1 Agustus, 2014: Peringatan Wajib Santo Alfonsus Maria deLiguori,

Uskup dan Pujangga Gereja

Matius 13: 54-58

 

 

Yesus sering kali dikenal sebagai Yesus orang Nazaret. Nazaret pada masa Yesus hidup tidaklah dikenal, bahkan Natanael dalam salah satu perjumpaannya dengan Yesus mengatakan demikian, “Dapatkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret”. Ungkapan Natanael ini adalah sebuah candaan namun sekaligus sebuah satire. Nazaret adalah sebuah backwater of backwater, artinya kampungnya kampung. Jadi kebanyakan orang yang hidup di dalamnya terkungkung dengan keadaan mereka. Nerima pasrah. Dan seringkali mentalitas dari orang-orang yang nerima pasrah bongkok’an adalah sinis, apatis dan juga gampang sekali untuk merendahkan, apalagi bila yang tampil bicara adalah seseorang yang berasal dari kalangan mereka sendiri. Mereka cenderung untuk silau bertemu atau melihat orang yang berasal dari strata hidup yang lebih tinggi. Inipun dialami oleh Yesus.

Hari ini dalam Injil Yesus merasa jengkel dengan sikap orang-orang sekampungnya yang merendahkan Dia. Mereka meremehkan Yesus karena Ia mereka kenal sebagai anak si tukang kayu, yang kemudian juga menjadi tukang kayu. Tentu saja mereka, orang-orang Nazaret bertanya-tanya “bisa apakah anak tukang kayu ini”, atau “ajaran apakah yang diajarkan oleh si tukang kayu ini”. Memang sering kali kita akan mudah sekali memberikan penilaian ataupun stigma-stigma yang kurang baik kepada orang-orang yang berasal dari kalangan kita sendiri. Namun hari ini Yesus mengajari kita bahwa sikap demikian tidaklah benar. Sering kita akan mendapatkan hal-hal besar manakala kita mau membuka hati dan telinga kita pada orang-orang yang saudah biasa kita jumpai. Semoga Tuhan membuka hati dan pikiran serta telinga kita hingga kita mampu untuk mendengarkan, menerima dan terbuka pada orang-orang yang ada di sekitar kita, karena lewat merekalah Tuhan seri kali menyampaikan pewahyuanNya. Amin.

Translate »