Browsed by
Month: January 2017

He left Nazareth and went to live in Capernaum by the sea, in the region of Zebulun and Naphtali (Mat 4:13)

He left Nazareth and went to live in Capernaum by the sea, in the region of Zebulun and Naphtali (Mat 4:13)

Third Sunday in Ordinary Time
January 23, 2017
Matthew 4:12-23
 
“He left Nazareth and went to live in Capernaum by the sea, in the region of Zebulun and Naphtali (Mat 4:13)”
 
Jesus began His public ministry by moving to another town in Galilee. From his hometown Nazareth to a bigger and more dense Capernaum. It was an ancient urbanization! Nazareth was small and scarcely populated, while Capernaum was one of the fishing centers in the Sea of Galilee. It was where people came, gathered, and interacted with each other. Had Jesus commenced His mission in Nazareth, probably, it would have taken more time to grow. Capernaum gave critical advantages for Jesus. It was easier to gather people, preach and attract followers. As a port city, it eased up Jesus mobility to other places in Galilee. And, Capernaum provided Jesus with shelter and other resources for His preaching. The reason for migrating was practical and yet decisive.
When St. Dominic started his Order, one of the first things he did was to send his small and fragile group of friars to big university cities like Paris and Bologna. His move was criticized as careless and dangerous. It could have swept away the infant community of Dominic. But, He insisted. “Stored seeds rot!” Dominic was actually able to think like Jesus. In bigger cities, it was much manageable not only to study, but also to preach and invite generous souls to be part of the community. Thus, Dominic made a clear instruction as he sent his brothers: “to study, preach and build community.”
Our time is characterized with mega migration. Countless people move from town to another, from one country to another, and from one continent to another with ease and speed. And like Jesus, we migrate for practical cause as well as survival. We go places because of our works, our family, or our dreams. My life as a seminarian and a Dominican is also marked with constant movement. As early as fourteen years old, I left my hometown Bandung to enter the seminary in Magelang. Then, from Indonesia to Manila in the Philippines.
Going back to today’s Gospel, St. Matthew does not only see Jesus’ migration as practical solutions to His ministry, but as fulfillment of God’s promise: “the people who sits in darkness have seen a great light.” As Jesus travelled from one place to another, He brought light to others that they may see God whose Kingdom has come. Jesus immediately preached the Good News and called Andrew, Peter, James and John to His disciples. Jesus accommodated the practical and temporal things in His disposal for His mission. And He was faithful to this to the end. He used the cross, the practical means of torture and humiliation as means of presenting God’s love and salvation.
The same mission is given to us. As we move from one place to another, we bring also the light of Christ with us. Like newly-wed persons, we are called to enlighten our new families. As workers, we are to denounce what is evil in our new workplaces. As people who live on this earth, we shall take care of the creations in every land we step.   
 
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
KORBAN SALIB DAN DARAH KRISTUS

KORBAN SALIB DAN DARAH KRISTUS

HARI SABTU PEKAN II MASA BIASA

21 January, 2017

Hibrani 9:2-3, 11-14
Markus 3:20-21
Saudara-saudariku terkasih,
    Tujuan utama dari surat St. Paulus kepada jemaat di Hibrani hari ini ialah kepada umat Kristiani Yahudi yang lagi mengalami krisis kepercayaan oleh pelbagai macam tuntutan sebagai orang kristen. Sepertinya mereka juga mengalami sikap acuh tak acuh dari sesama Kristen. Oleh karena itu, thema utama dari surat St. Paulus ini adalah korban salib dan darah Kristus yang digambarkan untuk membangun kembali semangat mereka yang telah hilang dan meneguhkan kembali iman mereka, meskipun olehnya mereka tidak merasa tersiksa.
    Selanjutnya dalam hubungan dengan bacaan pertama hari ini pula yang dimulai dengan gambaran akan tabernakel Perjanjian Lama dan pelbagai macam ritualnya, termasuk didalamnya ialah kurban darah; Maka kurban darah adalah thema yang sangat utuk bangsa Israel pada zaman itu karena mereka sudah percaya akan korban penghapusan dosa. Oleh karena itu, St. Paulus melihat dan memakai kesempatan ini untuk diterapkan sebagai model korban darah dab kematian Yesus. Atas dasar pemikiran itu pengarang surat inipun mengetrapkannya sebagai perjanjian, ritual dan pelayanan imamat Kristus.
Saudara-saudariku terkasih,
    Sejak Kristus menyempurnakan pengampunan dosa melalui kematianNya di salib,Yesuspun sekaligus menjadi Pengantara Perjanjian Baru. Sebelumnya korban darah dari Perjanjian Lama tidak pernah untuk pengampunan dosa dimana mereka sudah harus mengulangi ritualnya setiap tahun. Sekali Yesus wafat di salib, ia menghapus semua dosa-dosa dunia. Korban Salib dan DarahNya telah menjadi sumber kehidupan kekal.
    Oleh karena itu Injil hari ini mengisahkan apa saja yang Yesus lakukan di atas gunung.  Yesus memilih rasul-rasulNya dan sejak saat itu Yesus membuat mereka menjadi lebih dekat denganNya. Para murid sudah harus mulai mengalami perjalanan salib dan korban darahNya. Begitu mereka turun dari bukit sudah ada begitu banyak orang yang  berkumpul sampai mereka sendiri tidak sempat untuk istirahat dan makan. Sementara orang lain berpikir bahwa Dia sudah tidak normal. Namun kasih dan belasksih kemanusiaanNya, demikian juga kehendakNya melaksanakan kehendak Bapa, membuat Dia terus melanjutkan apa yang harus Ia laksanakan.
Saudara-saudariku,
    Hari inipun gereja secara khusus menghormati St. Agnes yang sudah mengungkapkan cintanya kepada Allah sejak masa mudanya. St. Agnes hidup selibat, dan ketika saat itu banyak orang yang menjadi martyr; St. Agnespun memilih jalan itu, mesikupun pada saat itu St. Agnes masih berumur duabelas tahun. Oleh karena itu warna pakaian misa hari ini ‘merah’ symbol api dan darah. Secara liturgis, perayaan hari ini sungguh perayaan kemartiran. Meskipun kita tidak dapat mengorbankan hidup kita dengan menumpahkan darah seperti St. Agnes yang mempertahankan imannya, tetapi yang penting bahwa kita semua sadar akan panggilan yang telah kita terima dalam dan melalui sakrament Pembaptisan dan Krisma serta sakramen-sakramen lain sesuai dengan panggilan kita masing-masing, kiranya kita bisa memberikan sesuatu dari kehidupan kita sebagai pernyataan kasih dan cinta kita kepada sesama. Amin.
Indahnya relasi kita dengan Tuhan dalam doa

Indahnya relasi kita dengan Tuhan dalam doa

HARI JUMAT PEKAN II MASA BIASA

20 January, 2017

Hibrani 8:6-13
Markus 3:13-19

Saudara-saudariku terkasih,
    Beberapa tahun yang lalu, pengalaman iman diatas gunung Sinai memberi kesan tersendiri kepada saya. Di atas bukit batu itu, setelah melalui suatu perjuangan yang melelahkan, para peziarah boleh merasakan betapa nikmatnya boleh masuk kedalam keheningan dan keintiman dengan Tuhan; Dan bahkan bisa membayangkan betapa Musa pada waktu itu ketika ia menerima kesepuluh hukum Tuhan. Pengalaman itu sudah bisa membantu untuk lebih mengerti mengapa Daud di dalam kitab Mazmur 8:2-3 dikatakan: “Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, Kekuatanku! Ya Tuhan, Bukit batuku, Kubu pertahananku dan Penyelamatku. Allahku, Gunung batuku, Tempat aku berlindung, Perisaiku, Tanduk keselamatanku, Kota bentengku!” Dengan demikian keheningan diatas gunung atau di tempat yang tinggi membuat kita merasa lebih dekat dengan Tuhan, lebih mesrah dan intim dengan Tuhan.
    Yesus sendiri selama masa hidupnya seringkali pergi ke atas bukit, ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Demikian juga dalam bacaan injil hari ini dikatakan bahwa Yesus naik ke atas bukit, ke tempat yang lebih tinggi bersama para muridNya. Diatas bukit itu, dalam kesempatan yang istimewa, Yesus memilih kedua belas rasulNya. Keduabelasan itu dipanggil “rasul”, dalam bahasa Yunani berarti “mereka yang diutus untuk melaksanakan suatu tugas.” Tugas melanjutkan misi messianic Nya, melayani dan membantu semua orang untuk bisa mengalami kehidupan yang baru bersama dan dalam Allah. Diatas bukit itu, Simon diberi nama baru, ia dipanggil Petrus yang berarti batu karang. Peristiwa itu membuat Petrus menjadi lebih dekat hubungannya dengan Yesus.
    Sebagaimana kita ketahui bahwa pelayanan para rasul itu menjadi pilar dalam karya pewartaan kepada semua orang. Pewartaan mereka berpusat pada perjanjian baru yang telah dibangun melalui kehidupan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga. Perjanjian baru itu ditegaskan lagi dalam bacaan pertama hari ini oleh St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Hibrani… yang dikutip dari kitab nabi Yeremia 31:31-34. Perjanjian baru ini akan mencapai ke kedalaman hati setiap orang yang selalu berpedoman pada hukum dalam melaksanakan tugas pengabdian serta pelayanan mereka kepada sesama.
    Di dalam perjanjian baru juga termasuk semua hukum Tuhan, yang senantiasa memungkinkan semua orang dengan senang hati melaksanakan kehendak Allah. Untuk membangun perjanjian ini Allah dan umatNya sungguh-sungguh menikmati keintiman itu. Oleh karena itu pengampunan dosapun telah menjadi suatu bukti keabadian kasih Tuhan. Dengan menjalankan perjanjian baru ini, kita akan menemukan dan melayani Tuhan dan sesama dalam segala aspek kehidupan kita.
    Hal ini kita temukan dalam kehidupan kedua martyr, St. Fabianus dan Sebastianus yang kita rayakan hari ini. Mereka telah mengintegrasikan hukum-hukum Tuhan bahkan dengan kesediaan mereka untuk mati demi iman mereka kepada Allah.
Saudara-saudariku terkasih,
    Kemampuan kita untuk meningkatkan semangat cinta kita kepada perjanjian baru ini terletak pada kesediaan kita untuk naik keatas bukit agar kita bisa menimba rahmat, berkat serta keintiman relasi kita dengan Dia yang telah menjadi gunung batu kita. Kita perlu waktu hening dalam doa dan meditasi untuk mendapat ketenteraman dalam dan kebersamaan kita dengan Allah, bukit batu kita. Kalau kita berdoa, Allah akan benar-benar masuk kedalam lubuk hati kita. Ia akan merobah pola hidup kita yang lama dan digantikan dengan yang baru agar kita dapat dipenuhi oleh kehadiran Kristus, Putera Allah. Dengan demikian kitapun akan dapat menghadirkan Kristus dalam hubungan kita dengan orang lain dan bisa mewartakan kasih Kristus itu dalam dan melalui pelayanan kita. Amin.
Doa Kristus Imam Agung kita

Doa Kristus Imam Agung kita

HARI KAMIS PEKAN II MASA BIASA

19 January, 2017

Ibrani 7:25-8:6
Markus 3:7-12


Saudara-saudari terkasih,
     Injil hari ini berbicara tentang apa yang Yesus lakukan sesudah kebangkitanNya. Untuk selama-lamanya Yesus Kristus Imam Agung kita terus berdoa dan mendoakan kita kepada Bapa di Surga. Ia menjadi pengantara rahmat bagi kita. Oleh karena itu, St. Paulus dari bacaan pertama hari ini dalam suratnya kepada jemaat di Hibrani menegaskan bahwa “Yesus Kristus imam agung telah menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh dia datang kepada Allah.” Sebagai bukti kita tahu bahwa ada begitu banyak perikope dalam bacaan-bacaan injil diberitakan tentang apa yang Yesus lakukan seperti berdoa kepada Bapa di surga atas nama kita semua.
    Dari injil Yohanes 17:1-26 – “Doa Yesus untuk murid-muridNya.” Bukti doa Yesus yang menyelamatkan, “Aku tidak memnta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, setapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.”.…sebelumnya pun pada ayat 11 dikatakan pula bahwa “Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” Saudara-saudariku, benar-benar ini adalah suatu bukti bahwa Yesus masih akan terus mendoakan dan mencintai kita. Itulah yang Yesus lakukan untuk kita sampai dengan saat ini. Ia terus menerus berdoa atas nama kita kepada Bapa di Surga, agar kita selalu dipelihara, dikaruniai dengan rahmat dan berkat, supaya kita tetap setia dan tahan uji dalam segala percobaan, penganiyayaan; agar  kita senantiasa bertumbuh dan berkembang dalam kesucian sampai akhirnya kita semua bisa mengenyami kebahagiaan bersamaNya di surga. Oleh karena itu, ketika kita dibaptis, ketika kita merayakan Ekaristi kudus, ketika kita menerima sakramen pengakuan dan lain sebagainya, kita terus menerus menerima kebaikan dan berkat Allah.
Saudara-saudariku terkasih,
Dalam injil Matius, kita masing-masing sudah bisa lihat betapa Bapa Allah di surga selalu mendengarkan doa-doa kita dalam kesatuan dengan doa Yesus. Matius 7:11 dikatakan “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yangn meminta kepadaNya.” Jadi Yesus Kristus Imam Agung kita selamanya akan terus mendoakan kita, agar kita dikaruniai dengan pelbagai macam rahmat dan berkat, rahmat kesembuhan dan pembebasan dari segala kesalahan dan dosa-dosa kita dimasa lampau dan sekarang.
    Oleh karena itu saudara-saudariku, marilah kita hari ini secara khusus dan istimewa menyampaikan rasa syukur dan terimakasih kita kepada Yesus, meningkatkan kesatuan serta keintiman kita dengan Yesus dalam Ekaristi kudus yang kita terima, untuk kesembuhan, pembebasan, pengharapan dan tabah dalam menghadapi tantangan dunia ini yang berusaha menjauhkan kita dari Tuhan. Amin
Damai

Damai

HARI RABU DALAM MINGGU BIASA II
18 January, 2017

Ibrani 7:1-3, 15-17
Markus 3:1-6

Saudara-saudariku terkasih,
    Sekali lagi bacaan pertama hari ini berbicara tentang Melkisedek, raja Salem dan  imam Allah yang Mahatinggi. Melkisedek sebagai raja Salem, tetapi juga sebagai raja damai.  Imam agung Melkisedek inipun adalah pralambang Yesus, yang sering kali kita kenal sebagai Pangeran Perdamaian, atau Raja Damai. Bagi Yesus konsep “damai” menjadi sangat penting dalam misi perutusanNya, namun seringkali juga tidak dimengerti oleh dunia, bahkan menimbulkan konflik.
    Sementara orang berpendapat bahwa damai berarti tidak ada konflik. Lebih tepat, damai adalah suatu resolusi tanpa kekerasan dalam suatu tatanan kehidupan bersama diantara dan dengan orang lain. “Crucial Conversations” salah satu the best-seller dari New York Times pernah mengangkat satu topic tentang “How to stay in Dialogue when you’re angry, scared, or hurt.”
    Yesus dalam bacaan Injil hari ini coba mengontrol the crucial conversation dengan kaum pharisi, tanpa harus membakar emosi mereka, tetapi mengajak mereka untuk lebih berpikir dan menganalisa serta lebih kritis dalam menangani suatu kasus yang erat berhubungan dengan kehidupan manusia, dan kemanusiaan. Karena kita semua kiranya bisa menyadari bahwa hidup bersama, konflik, beda pendapat suatu kenyataan dan konsekwensi yang tidak dapat kita hindari dari kehidupan berkomunitas, bermasyarakat dan bahkan bernegara. Yesus dalam bacaan injil hari ini memberikan kita suatu contoh bagaimana kita tidak menjadi sangat legalistis tetapi lebih melihat dan menekankan aspek manusiawi.
    Ketika Yesus menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat, kaum Pharisi yang sangat taat kepada hukum menjadi sangat marah….kesal dan bahkan samasekali tidak setuju dengan apa yang Yesus lakukan. Keadaan seperti ini oleh kaum Pharisi boleh dibilang suatu tindakan “penistaan agama.” Tetapi Yesus mempergunakan konsep dialog, mempergunakan akal sehat dengan mengajukan pertanyaan kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyeamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Kaum pharisi diam saja…berpikir?…merenungkan?…mawas diri?… Ternyata mereka punya rencana lain lagi…yang lebih jahat. Oleh karena itu Yesus menjadi sangat sedih oleh “ketegaran hati mereka.” Menghadapi, mengatasi sikap hati mereka yang jahat itu, Yesus tunjukkan dalam suatu tindakan kemanusiaan dengan mengatakan: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan orang yang lumpuh  sebelah tangan itu “mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.”
Saudara-saudariku terkasih, 
    Sikap apakah yang dapat kita pelajarai dari Yesus hari ini untuk kita terapkan dalam kehidupan berkomunitas, berbangsa dan bernegara, dimana kita hidup diantara dan dengan orang lain? Hari ini Yesus memberi kita clue/petunjuk untuk kita simak, apabila kita menghadapi konflik, beda pendapat dalam kehidupan bersama.  Kita tahu bahwa Yesus juga pernah marah. Menghadapi ketidakadilan atau ketegaran hati manusia terhadap Tuhan. Yesus menghendaki agar kita dapat menyalurkan kemarahan secara tepat dan mengungkapkan perasaan kita secara baik. Apa yang Yesus lakukan? Yesus mengungkapkan perasaan dan kemarahananNya secara tepat.
    Yesus tidak melampiaskan kemarahan dengan adu fisik atau kata-kata kasar dan brutal. Yesus memberi contoh bagaimana kita harus menahan diri dan tidak bertindak agresip, juga tidak dengan kata-kata kasar. Tetapi Yesus dengan tegas menunjukkan prinsip-prinsip kemanusiaan. Seseorang yang tegas adalah orang yang bisa menyikapi apa yang ia hadapi dan dengan penuh kesadaran tahu bahwa kata dan perbuatannya adalah benar; dengan kalem menghadapi persoalannya serta tidak berkompromi terhadap hal-hal yang menjadi prinsip. Kadang-kadang hal ini bisa saja dibilang fleksibel terhadap hal-hal yang membuat kita harus membuat pilihan ketika dihadapkan dengan yang setuju dan tidak setuju.
Selamat merenungkan!!!
Translate »