Browsed by
Month: January 2017

Sudahkah Kamu Berbuat Baik Hari Ini?

Sudahkah Kamu Berbuat Baik Hari Ini?

cbn_1920x800_028_small-business-with-a-heart-1920x800

Bacaan I : Ibrani 2:14-18
Bacaan Injil : Markus 1:29-39

Di ruang belajar bersama para frater Yesuit di rumah studi filsafat Hermanum Johar Baru Jakarta, ada sebuah stiker menarik dari Komkep KAJ dengan pesan pertanyaan: Sudahkah kamu berbuat baik hari ini? Pertanyaan sederhana dan menarik. Pertanyaan ini mengisyaratkan bahwa kebaikan adalah hal yang hakiki, fundamental, sekaligus ukuran kenormalan seperti bernafas, makan minum, dan berpikir. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan reflektif sekaligus performatif: untuk direnungkan kesesuaiannya dengan fakta yang ada, sekaligus untuk ditindaklanjuti demi mengubah kenyataan jika ide dasarnya (mengalirnya kebaikan) belum dihadirkan. Pertanyaan ini menyatakan bahwa kebaikan tidaklah cukup diperkatakan. Ia harus dinyatakan dalam tindakan. Dibuat. Diwujudkan. Dalam aliran waktu keseharian kita. Dalam kebiasaan kita.

Minggu ini kita meninggalkan Masa Natal dan memasuki Masa Biasa. Bacaan Injil hari ini menampilkan dinamika harian biasa dari Yesus: berdoa saat subuh dalam keheningan sebelum fajar merekah, mengajar di sinagoga, sibuk mengunjungi dan menyembuhkan orang sakit serta mengusir roh jahat dalam keramaian kerumunan orang-orang yang datang padanya, hingga petang setelah matahari tenggelam di ufuk Barat. Berdoa dan bekerja. Kontemplasi dalam aksi. Ada nuansa keluarbiasaan: Yesus sudah mulai beraktivitas sebelum bumi terbangun oleh pancaran sinar matahari pagi, dan masih sibuk saat Sang Mentari pamit untuk menerangi belahan bumi yang lain. Di sisi lain, dinamika itu dinyatakan dengan singkat seperti biasa terjadi, sebuah gambaran gerak harian Yesus, dirangkai dengan satu pilihan aksi perekat: Yesus mengajak para muridNya untuk terus bergerak berpindah meski permintaan setempat tinggi, “karena untuk itulah Aku datang”. Untuk pergi ke seluruh Galilea, mengajar, menyembuhkan, mengusir roh-roh jahat. Pendek kata: untuk berbuat baik di mana saja, kapan saja, pada siapa saja.

Jadi, mari kita bawa saja pertanyaan itu seharian ini dalam usaha mengkontemplasikan-merenungkan sambil menghadirkan, Yesus yang sibuk berkarya dan berdoa, menjalin relasi erat dengan sesama dan BapaNya: Sudahkan kamu berbuat baik hari ini?

Otoritas

Otoritas

authority-directories

Bacaan I : Ibrani 2:5-12
Bacaan Injil : Markus 1:21-28

Hari-hari ini perhatian bangsa Indonesia tertuju pada kesadaran yang menguat akan adanya berita-berita bohong alias hoax yang telah membuat kerusakan besar pada jalinan ikatan kebangsaan, persatuan, serta penghargn akan perbedaan. Bukan pertama kalinya Indonesia mengalami badai ini, tetapi intensitasnya dirasa makin mengkhawatirkan. Teknologi informasi yang telah membantu pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan termasuk menjadi sarana pewartaan kabar baik seperti Lubuk Hati ini, juga menjadi wahana perluasan kebusukan prasangka, fitnah dan kebencian. Keprihatinan ini, tentu bukan monopoli Indonesia, karena Amerika Serikat sebagai kampiun teknologi dan budaya dunia pun baru menghela nafas usai pertarungan pemilihan presiden yang mengharu biru dan belum rampung pula menjernihkan dampaknya.

Ada sisi positif dari adanya kelompok-kelompok yang dengan menggunakan kacamata kuda memperjuangkan kepentingan golongannya dengan segala macam cara. Muncul kesadaran pada banyak kalangan yang lama tak bersuara untuk bangkit dan mengambil tanggung jawab mempertahankan kebenaran, memperjuangkan keadilan seraya terus menebar kebaikan. Meski kita menyayangkan adanya ekses tindak kekerasan fisik, proses pencerdasan wawasan ilmu, kebangsaan dan kemanusiaan berjalan makin serius, mendalam dan meluas.

Di sini, salah satu diktum sains bisa membantu memberi pedoman dalam melayari samudera informasi: wibawa sains muncul dari kebenaran yang dipertanggungjawabkan sebagai relasi-koneksi yang tepat antar aneka pernyataan dan antar pernyataan dengan kenyataan. Kebenaran tidak dapat didasarkan pada suatu fantasi apalagi rekayasa data dan makna demi kepentingan pribadi dan kelompok, demi kepentingan meraih kekayaan material maupun kekuasaan. Kebenaran tidak dapat didasarkan pada otoritas di permukaan atas nama atribut-atribut keagamaan dan kemasyarakatan yang tidak sungguh teruji dan terpuji dalam memperjuangkan kebaikan bersama. Di hadapan data dan informasi yang jauh lebih melimpah dibanding kemampuan kita mengunyahnya, hendaknya kita tetap berhati-hati mengkaji dan mengujinya.

Injil Markus hari ini menampilkan Yesus yang memulai karyanya. Dengan ringkas Markus menggambarkan reputasi Yesus yang dengan cepat menyebar di seluruh penjuru Galilea dan sekitarnya: ajaranNya punya wibawa yang otentik dan otoritasnya dikukuhkan dengan pengakuan dari roh-roh jahat yang terusir dari orang-orang yang mereka ganggu. Yesus menunjukkan kualitas yang tak pernah ada sebelumnya, yang terangkum dalam sebuah pengakuanNya kelak: Ia adalah Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup. Otoritasnya bukan dibangun di atas cerita-cerita yang mencekam, kata-kata penuh semangat yang mengaduk-aduk emosi menggelora yang membuat orang menangis menghujat kedosaan diri sendiri atau orang lain, tidak pula dengan kata-kata lembut yang mengambang karena tidak konsisten dengan hidup pribadinya. Pesan yang disampaikanNya, adalah kesatuan ide, kata dan tindak nyata. HidupNya sendiri adalah belas kasih, seperti yang diwartakanNya.

Hidup kita semua pun membawa warta, suka atau tidak suka. Meski lingkaran pengaruh kita berbeda-beda, kita punya tanggung jawab yang sama: ada otentisitas yang musti ada, berakar dari diri sebagai citra Sang Pencipta, yang membuat kita punya otoritas cukup untuk menyebarkan dan menebarkan kebaikan, mengikuti teladan Guru, junjungan dan Tuhan kita. Seraya memandang dan belajar dari cara Yesus bertindak dalam hidupnya, mari kita mohon, semoga kita terus diberkati dengan terang budi dan kehendak hati yang teguh untuk mengikuti kehendak Ilahi. Dalam koneksi dan relasi erat dengan Yang Ilahi, hingga kebenaran sajalah yang kita serukan dalam hidup sehari-hari.

The Star

The Star

The Epiphany of the Lord. January 8, 2017 [Matthew 2:1-12]
“We saw his star at its rising and have come to do him homage (Mat 2:2).”
Today we are celebrating the Epiphany of the Lord. The word Epiphany comes from the Greek word ‘epiphananie’, meaning ‘appearance’. Therefore, today is also known as the feast of the manifestation of the Lord. This celebration is considered to be one of the oldest and most important because the Baby God invited not only the Jews but also the Gentiles, represented by the Magi, to visit and finally worship Him. In His earliest appearance, Jesus brought light to all the nations.
One little question may linger: why did the Magi from the East follow the star? Their journey was based on an ancient belief that the birth of a great king was signified by the appearance of a new star in the sky. Yet, we are never sure what ‘star’ the Magi actually saw. Was it a comet, a supernova, an unusual constellation, a planet, or a supernatural light? One thing we are sure of, this star possessed the greatest importance, that Gaspar, Balthazar, and Melchior abandoned the comfort of their homeland, traveled thousand miles westward and faced all the dangers and uncertainties.
Now if we look at the night sky, we may observe hundreds and hundreds of stars. Then, we may ask what makes this star of Jesus different from the rest of the lights? These Magi were expert in astronomy or studies of celestial bodies, and they were able to distinguish the star as the one that would bring them to the newborn King. This star does not simply shine just like the rest, but it also illuminates and guides. Like the seasoned fishermen, before the discovery of GPS, they would depend their lives on the light of the stars, and among billion stars on the clear sky, they recognize that only a few truly point them the true directions.
We are all called to be a star. But the temptation is that we simply shine and attract others to ourselves. We fail to recognize that the light that God has given us is to illuminate and guide others to Jesus. When St. Thomas Aquinas was asked what makes his Order more prominent than other congregations, he answered that just like it is better to illuminate than to shine, so it is better to share one’s fruits of contemplate than just merely to contemplate. Of course, the Benedictines will disagree! One of the major features in the image of St. Dominic is the star at his forehead. Certainly, this is a symbol of guidance and direction for anyone who seeks God. No wonder if St. Dominic is less famous than other Dominican saints like St. Thomas Aquinas, St. Catherine of Siena or St. Martin de Porres, it is because until the end of his life, like a guiding star, his life always pointed to God.
To have the light is not enough. We may become stars that merely shine brightly. We turn to be a campus star, company star, parish star or even star preacher. Certainly, to receive a lot of attention from many people gives pleasure and sense of fulfillment, but that is not the true purpose of our light. Epiphany is the appearance of the Lord, but who among us have tried to cover Him with our dazzling lights? How many people have we led to Jesus? Yet, it is not too late. Epiphany is a time for us to realign with the real objective of our light: not to merely shine, but to illuminate.
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Sabtu, 7 Januari 2017

Sabtu, 7 Januari 2017

Sabtu, 7 Januari 2017

1 Yoh 5:14-21

Yoh 2:1-11

Hubungan antara Yesus dan Bunda Maria sangatlah dekat. Sebelum Bunda Maria mengandung Yesus karena Roh Kudus, Maria telah mengatakan kesiapannya untuk melahirkan dan setia menemani Sang Putra hingga akhir. Oleh karena itu apa yang disampaikan Maria kepada Yesus Krustus putranya akan selalu didengar. Dalam peristiwa mujizat perubahan air menjadi anggur, jelas ditunjukkan bahwa apa yang disampaikan Maria kepada Yesus sungguh diperhatikan dan dilaksanakan.

Oleh karena itu tidak perlu ragu lagi untuk menerima Maria sebagai Bunda untuk semua orang beriman.Bunda Maria menjadi perantara agar kita bisa semakin dekat bersatu dengan Yesus Kristus dan memperolah keselamatan kekal. Karena perannya yang sangat penting dalam karya keselamatan, Maria menerima penghargaan dan tempat yang istimewa sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja. Yesus telah menyerahkan Bunda Maria kepada para murid sebagai Bunda mereka dan kepada Bunda Maria Yesus menyerahkan murid-murid Kristus menjadi anak-anak nya.

Semakin kita dekat dengan Maria maka semakin dekat dengan Yesus Kristus sebab Maria sangat dekat dengan Yesus Kristus putranya. Maria yang rendah hati dan taat pada kehendak Allah menjadi model hidup orang beriman. Oleh karena itu sudah selayaknya kita memberikan penghormatan kepadanya dan meneladani sikap dan keutaman Bunda Maria.

Marialah berdoa,

Allah yang Maha Kasih, kami bersyukur atas kehadiran Bunda Maria. Lewat teladan hidupnya kami semakin menyadari bahwa kerendahan hati dan ketaatan pada kehendak Mu adalah keutamaan yang terpenting dalam tugas dan penggilan. Maria menjadi pribadi yang menjadi inspirasi untuk selalu setia dalam iman dan harapan dari Allah.

Jumat, 6 Januari 2016

Jumat, 6 Januari 2016

Jumat, 6 Januari 2016

1Yoh 5:5-13

Mrk 1:7-11

Kehadiran Yesus Kristus menjadi bukti dan tanda kasih Allah yang sungguh nyata bagi manusia yang berdosa. Kasih Allah lebih besar dari segala-galanya. Sekalipun manusia berulang-ulang menyakiti hati Allah, namun Allah tidak meninggalkan manusia. Sebelum Yesus datang, terlebih dahulu Allah mengutus Yohanes pembaptis datang untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan. Yohanes pembaptis mengajak semua orang untuk bertobat. Sikap tobat ditandai dengan menerima pembaptisan.

Ketika Yesus hadir apakah manusia siap untuk menerimaNya? Sikap tobat menjadi tanda kesiapan kita dalam menyambut dan menerima kehadiran Tuhan Yesus. Sikap tobat mendorong kita untuk menyelaraskan pikiran, hati dan tindakan dengan jalan Kristus. Dengan demikian ketika kita menerima kehadiran Yesus dibutuhkan kesiapan diri dengan mau bertobat atau mengubah diri seturut kehendak Allah. Dorongan untuk bersatu dengan Tuhan mendorong dengan suka-rela hidup baik seturut kehendak Nya.

Dalam diri Yesus Kristus kita menemukan keselamatan abadi. Oleh karena itu sudah selayaknya kita bersyukur atas berkat Allah yang Agung ini. Iman kepada Kristus mendorong untuk terus mencari kebenaran dan damai. Ketika menyadari kasih dan anugerah Tuhan maka kita akan selalu menjaga, merawat dan menghayati iman dalam kehidupan sehari-hari.

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih sertailah kami untuk menghayati iman kepadaMu. Kami menyadari bahwa hanya kepadaMu kami bersandar dan berharap. Bersama Mu kami mendapat ketenangan, kekuatan dan keberanian. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, Amin.

Translate »