Love, not for the Fainthearted
Sabtu, 18 Februari 2017
Sabtu, 18 Februari 2017
Bacaan: Ibr 11:1-7; Mk 9:1-13
Ibrani 11 mengingat kembali saksi-saksi iman yang mulia di jaman Perjanjian Lama yang mana iman dan ketekunan mereka dipelihara sebagai model bagi kita orang-orang Kristen. Nama-nama yang disebut adalah Habel dengan persembahannya; Henokh yang karena imannya ia tidak mati melainkan diangkat diangkat; Nuh yang mentaati perintah Allah.
Peristiwa Yesus dimuliakan di sebuah gunung yang tinggi merupakan perwahyuan akan peristiwa penyelamatan umat manusia melalui sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Pembaca injil Markus ini akan teringat peristiwa di Sinai (Kel 24:15-18) dan penjelasan mengenai Anak Manusia dalam kitab Daniel (Dan 7;8;9). Peristiwa transfigurasi Yesus itu adalah rangkuman pemahaman umat Kristen akan misteri Yesus Kristus. Ia adalah Musa yang baru; dan menurut kitab Maleakhi bab empat, Nabi Elia akan kembali pada “Hari Tuhan”. Pada hari itu ketika nabi Elia akan ada penghiburan bagi umat.
Dengan mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk mengalami Yesus yang dimuliakan, para murid mendapatkan penghiburan iman; keyakinan bahwa Yesus akan menang atas kuasa dosa; kemenangan ini untuk seluruh umat manusia. Yesus bermaksud agar para Rasul dan murid-muridNya menjadi kuat iman dan tabah hati dalam menjalankan misi penyelamatan umat manusia ke dalam dunia. Misi penyelamatan ini bukan untuk difahami sebagai misi untuk mengalahkan musuh yakni dunia sekuler atau dunia modern ini; juga bukan untuk menaklukannya, melainkan untuk membangun dialog yang sehat dengan dunia sekuler; membantu dunia sekuler untuk menemukan sang penyelamat; mengajak dunia sekuler untuk melihat tujuan akhir kemanusiaan bukan dengan cara pragmatis melainkan spiritualis.
Hal ini bisa kita terapkan dalam kehidupan keluarga kita. Kita mengalami bahwa tidak sedikit orang tua jaman sekarang merasa tidaklah mudah meneruskan iman dan tradisi spiritual kepada anak-anak mereka. Orang tua terus melanjutkan memberi cinta dan dukungan kepada anak-anak mereka , disamping mengalami ketegangan dan ketidaksetujuan atau bahkan awal sebuah permusuhan bisa terjadi. Akan tetapi orang tua juga sadar bahwa kalau mereka mencintai dan mendukung anak-anak mereka, itu tidak berarti orang tua setuju dengan anak-anak dan mendukung hidup anak-anak yang menyimpang dari aturan moralitas kristiani.
Orang tua yang baik terus mencintai, bahkan ketika anak-anak mereka terus menantang dan menolak untuk menjalani praktek iman dan tradisi spiritual keluarga mereka. Orang tua yang baik mencintai anak-anak mereka akan tetapi tetap berdiri di atas nilai-nilai moral tanpa kompromi. Orang tua yang baik menyadari bahwa mereka tetap mendengarkan tantangan-tantangan yang dihadirkan oleh anak-anak mereka yang menjelang dewasa, juga dengan menantang kembali anak-anak mereka untuk memiliki iman dan mencari penghiburan hanya dalam diri Yesus kristus.
Jumat, 17 Februari 2017
Jumat, 17 Februari 2017
Bacaan: Kej 11:1-9; Mk 8:34-9:1
Bahkan setelah dibersihkan oleh perjanjian Allah sesudah datangnya air bah umat manusia kembali berdosa. Umat manusia telah mengabaikan Berkat dari Allah, perjanjian dengan nabi Nuh. Umat manusia yang telah direstorasi itu kembali mengikuti cara hidup nenek moyang mereka. Dosa telah bersemi dalam diri umat manusia. Kisah tentang menara Babel adalah ilustrasi akan ambisi manusia dan akan penolakan umat manusia untuk menyerahkan dan merendahkan diri kepada Allah. Rencana untuk membangun menara yang puncaknya bisa mencapai langit adalah sebuah pengakuan akan keinginan manusia dengan kekuatan sendiri memasuki ranah Allah. Keinginan untuk membuat nama bagi umat manusia sendiri muncul dari suatu kesombongan yang tidak memperdulikan hak-hak Sang Pencipta. Namun rencana itu digagalkan oleh Allah sendiri ketika umat manusia terpecah-pecah, suatu keadaan yang hanya akan bisa direstorasi oleh Allah sendiri pada hari Pentakosta (Kis 2:1-11).
Allah senantiasa turun tangan ketika umat manusia ada dalam bahaya yang akan memusnahkan peradaban. Ketika umat kristiani dianiaya, yang nampaknya dialami juga oleh umat pembaca Injil Markus, bergemalah kembali Sabda Tuhan Yesus agar umat tidak kehilangan iman karena harapan akan kemenangan sudah di depan mata. Kemenangan hidup abadi dalam Kerajaan Allah adalah segalanya bagi pengikut Kristus. Pada jaman penganiayaan tidak sedikit orang yang takut dan malu mengakui iman akan Kristus Sang Raja Penyelamat. Nasehat Yesus dalam Injil ini sangat meneguhkan. Hidup sejati adalah hidup yang dipertaruhkan bagi kerajaan surga yang akan datang.
Maka penderitaan yang dialami oleh pengikut Kristus hendaknya diangkat bersama Kristus yang menderita memanggul salib dan mati tergantung padanya. Untuk ini sangat dibutuhkan terus menerus menegaskan pada diri sendiri bahwa penderitaan karena mengikuti Kristus ini tidaklah sebanding dengan kebahagiaan dalam kerajaan Allah yang akan dianugerahkan kepada kita. Di samping kegagalan untuk memahami ini, kita hendaknya terus mencoba meyakinkan diri kita bahwa keabadianlah lebih dari segala-galanya di dunia ini. Proses menginternalisir Sabda Tuhan Yesus itu membutuhkan juga intensifitas akan kegiatan rohani yang teratur: Perayaan Ekaristi secara teratur, doa-doa pribadi dan pembacaan Sabda Tuhan setiap hari akan membantu kita semakin memahami apa artinya hidup sebagai salib Kristus. Dengan kegiatan rohani yang intensif dan teratur itu kita percaya bahwa Roh Kudus turun membakar api iman kita agar tak pernah padam.
Kamis, 16 Februari 2017
Bacaan: Kej 9:1-13; Mk 8:27-33
Sebagaimana Allah memberkati Adam dan Hawa orang tua seluruh umat manusia (Kej 1:28), nabi Nuh dan anak-anaknya diberkatiNya juga sedemikian rupa sehingga generasi baru umat manusia memasuki masa perjanjian yang diperbaharui oleh Allah.
Berkat dari Allah itu menjadi sebuah perjanjian. Sebagaimana nanti sesudahnya Allah membuat perjanjian bersama Abraham (Kej 15) dan umat Israel di Sinai (Kel 19-24), sekarang Allah membuat sebuah perjanjian dengan Nuh. Tanpa memasukkan berbagai macam syarat sebagaimana lazimnya dalam sebuah perjanjian kepada Nuh Allah meyakinkan ia bahwa Ia tidak akan menghancurkan dunia lagi dengan air bah lagi.
Kejadian di Kaisarea Filipi merupakan titik balik karena merangkum karya Yesus di Galilea (Engkau adalah Mesias) dan pemberitahuan Yesus akan tujuan baru karyanya (Anak Manusia harus menderita). Pendengar sudah mengetahui apa makna gelar Sang Anak Manusia yang adalah keturunan Raja Daud yang akan merestorasi keadaan politik bangsa Israel (1 Sam 2:10; 10:1; 2 Sam 23:1). Gelar ini disebut christos dalam bahasa Yunaninya, yang nanti akan diterapkan kepada Yesus yang telah dibangkitkan dari kematian, namun Perjanjian Baru menolak makna politis dari gelar itu. Itulah sebabnya “ lalu Yesus memperingatkan mereka, supaya tidak memberitahukan kepada siapa pun tentang dirinya.”
Pengakuan para murid dan Petrus tentang siapa jati diri Yesus berjalan secara bertahap. Mulai dari para nabi sampai pada pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Kristus, sang Raja Penyelamat dunia. Nampaknya Yesus tidak menerapkan gelar Kristus kepada dirinya sendiri, Ia lebih menyebut dirinya sebagai Anak Manusia. Hal ini dilakukan agar pendengar tidak salah mengerti Dia sebagai mesias yang bersifat politik praktis dan pragmatis. Ini bukan soal kemenangan politik dan memakai kekuasaan untuk menghancurkan lawan, melainkan melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan kuasa Allah menang atas kuasa dosa yang mengungkung umat manusia.
Kita umat kristiani adalah umat yang telah diselamatkan walaupun masih dalam perjalanan perziarahan menuju kesempurnaan abadi. Kita diajak untuk tekun menepaki hidup ini dengan tidak mudah meninggalkan iman kita pada Yesus Kristus dan janji keselamatan kekal yang akan diberikan kepada kita. Perziarahan hidup ini bagaikan berjalan kaki di Padang atau di hutan, bahaya senantiasa ada mengancam diri kita jiwa dan raga. Kita diingatkan untuk terus menggemakan pertanyaan Yesus menurut kita sendiri siapakah diriNya bagi hidup kita.
Dengan mengakui Yesus sebagai Raja penyelamat entah bagaimana iman kita dikuatkan. Tekanan hidup sehari-hari mungkin tidak bisa kita hindari; beban finansial apalagi kalau kehilangan pekerjaan akan sangat berat untuk ditangani; memiliki penyakit yang sudah lama tidak sembuh-sembuh tentu membuat hati kita bisa hancur. Apakah pegangan kita? Atau lebih tepat siapakah pegangan kita?