Browsed by
Month: December 2017

NATAL BUTUH PERSIAPAN HATI!

NATAL BUTUH PERSIAPAN HATI!

HARI MINGGU ADVEN III

[Yes. 61:1-2a,10-11; MT Luk. 1:46-48,49-50,53-54; 1Tes. 5:16-24; Yoh. 1:6-8,19-28]

NATAL BUTUH PERSIAPAN HATI!

Hari-hari ini, meski masih seminggu lebih sedikit, suasana Natal sudah ‘sangat’ terasa! Bahkan beberapa instansi atau sekolah, sudah ‘merayakan’ Natal, karena saat Natal, mereka pastinya sudah libur. Kalau anda ke mall, atau tempat-tempat umum, gambar dan pernak-pernik Natal sudah menghiasi sudut-sudut keramaian. Di media-media sosial, promosi tentang kue-kue kering sebagai hidangan ‘khas’ Natal, adalah promosi yang paling sering saya lihat. Saya suka iseng bermain ke kamar teman-teman, dan lagu-lagu yang mereka setel di kamar juga adalah lagu-lagu Natal, semacam Transeamus, atau Holy Night, dan termasuk Christmas Lullaby. Selain itu, beberapa teman juga sudah mempersiapkan tugas-tugas untuk Natal, entah di paroki atau di seminari, sehingga kemeriahan Natal sudah sedemikian akrab dan lekat. Oh ya, hari ini, hari Minggu Adven III, sering kita kenal dengan Minggu Gaudete, dengan ciri khasnya adalah warna liturgi berwarna merah muda atau pink. Minggu Gaudete menggambarkan kegembiraan dan sukacita yang semakin mendekat. Namun, meski begitu, masih ada satu lilin ungu, yang akan dilewati. Itu artinya apa? Memang, harapan tentang Natal sudah semakin dekat secara waktu, namun lilin ungu yang terakhir itu mau memastikan bahwa kita pun tidak sekedar mempersiapkan segala sesuatunya secara jasmani atau materi, namun juga secara rohani, menyangkut persiapan hati untuk menyambut Sang Juru Selamat.

Bercermin dari pewartaan Yohanes Pembaptis, yang berkarya untuk ‘membuka-jalan’ bagi Yesus, kita bisa belajar tentang artinya mempersiapkan kehadiran Sang Juru Selamat secara rohani. Yohanes Pembaptis, bisa kita sebut sebagai ‘nabi’ pada jaman itu, bahkan nabi besar, karena berkat pewartaannya, banyak orang menyediakan diri untuk dibaptis dan bertobat. Dan untuk segala hal yang pernah ia lakukan, tentu pantas kalau dia bangga dan bermegah diri, namun dia tidak pernah memilih jalan yang seperti itu. Justru, dengan kesadaran penuh, dia mengatakan bahwa dia sekedar ‘suara yang berseru-seru di padang gurun’, untuk mempersiapkan kedatangan Yesus. Dia sadar tentang posisi dan perannya dalam seluruh rencana keselamatan. Dia mampu mengambil perannya secara pas, tanpa pernah mau mengambil keuntungan atau bahkan memonopoli ‘jalan keselamatan’. Yohanes Pembaptis justru memilih jalan ‘sunyi’, sepi, dimana ia sendiri ingin bahwa segala sesuatu yang dilakukannya, tidak pernah sebanding dengan sesuatu yang akan datang, yang ia katakan sebagai ‘Dia yang datang kemudian setelah aku, dan membuka tali kasutNya pun aku tak pantas’.

Dari sini, bolehlah kita belajar dari Yohanes Pembaptis, bahwa mempersiapkan kehadiran Sang Juru Selamat, pertama-tama adalah soal kesiapan batin dan hati, dan justru bukan dengan persiapan-persiapan jasmani dan materi, yang barangkali setelah perayaan akan segera hilang dan musnah. Apa gunanya pernak-pernik di ujung kamar, pakaian baru, kue-kue yang enak, lagu-lagu Natal, dan belanja besar-besaran, kalau hati kita, yang nanti akan menjadi tempat Sang Juru Selamat bersemayam, justru tidak pernah mempersiapkan tempat khusus untukNya? Untuk itulah, mengapa Gereja juga memberi kesempatan bagi umatnya untuk memberi pelayanan pengakuan dosa, yang menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan kehadiranNya dalam batin dan hati. Termasuk ketika kita juga berkenan untuk memperhatikan saudara-saudara yang lemah dan berkekurangan, sesama yang kurang beruntung lewat berbagai macam cara dan upaya, sehingga sukacita dan kegembiraan itu tidak hanya milik kita sendiri. Semoga, kita sungguh menjadikan Natal sebagai peristiwa iman, bukan sekedar ‘pesta’ yang sehari-dua hari kemudian hilang musnah, tak berbekas.

Selamat pagi, selamat mempersiapkan kehadiran Tuhan dengan segenap hati. GB

John the Witness

John the Witness

John the Witness

3rd Sunday of Advent

December 17, 2017

John 1:6-8, 19-28

“John came as a witness to testify to the light , so that all might believe through him. (Joh 1:7)”

In the Fourth Gospel, John the Baptist has an important role. It is not only to baptize, but to become a witness. He is to witness to the light, to the true Messiah, to Jesus Christ. When the priests, Levites, and Pharisees from Jerusalem, come to him , and interrogate him to clarify his identity, he makes it clear that he is not the Messiah, not even the prophet, but rather enigmatically saying “a voice that cries in the desert.” It seems it is an easy thing to do for John. Questions are thrown at him, and he simply gives straight and confident answers. Yet, looking deeper into the reality, it is actually the opposite.

John the Baptist is a highly popular and influential man. He is able to draw many people from all corners of Palestine. People listen to him and ask to be baptized. He is a charismatic preacher that changes many Jews’ lives. When afforded with so much success and praise, it is easier for John to see himself as the best and main actor. He could have said to the priests, “I am the light, the Messiah. See how many people follow and gather around me!”  He has become the epitome of successful preacher and minister. Yet, he does not claim the praise to himself , but points to the true light and Messiah.

Our modern society may be scandalized by John the Baptist’s attitude. Our societies are driven by success and achievement. We are taught to think positive, to feel good about ourselves, to shun failures. We are trained to reach our dreams, to compete to become the best , and to believe in our abilities. Books, articles, and videos about self-help, success-coaching, positive thinking, effective leadership and efficient management are flooding in our book stores , televisions, and internet. I need to admit also that I am using a time-management method “Pomodoro” to help me finish this reflection. We are living in the world that is confident of itself and believe that we can achieve anything. The sky is the limit!

No wonder if the value of our contemporary society is in conflict with John’s. We might say John should not think himself too low, he should have more self-esteem, or he should not be too pessimistic. Yet, this is not about John having low self-esteem or being too shy. John’s humble act is prophetic, not only for his own time , but also to our days. His testimony points to a radical recognition that God is the source of all our goodness and to God alone, all these perfections shall go back. I am not saying that many motivational materials produced by our generation are not good. They are in fact helpful to bring out the best of us. Yet, the danger is when we begin to think that we can do things on our own. With so many achievements, the present world begins to believe that God is not necessary, and we start playing God. We destroy the environment, manipulate human lives, and abuse ourselves. At the bottom of all of these is pride.

John’s life becomes a witness to the true light, to the true source of all goodness. His prophetic action reminds us of what matters most in our lives. The invitation for us now is not only to become humble by recognizing God’s presence in all our achievements , and give thanks to Him. Yet, like John, we and our lives are to become a sign that points to God himself. It is no longer about us, but God who works in me.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP

KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN BUKAN NAMAKU, TAPI NAMA TUHAN!

KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN BUKAN NAMAKU, TAPI NAMA TUHAN!

KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN

Sabtu, 16 Desember 2017

[Sir. 48:1-4,9-11; Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19; Mat. 17:10-13]

BUKAN NAMAKU, TAPI NAMA TUHAN!

Kalau kita lihat, orang yang benar-benar kaya, biasanya justru memiliki penampilan yang sederhana dan apa adanya. Kita pasti ingat sosok Mark Zuckerberg, penggagas Facebook, yang kemana saja selalu berpenampilan kasual dan sederhana, namun di balik penampilan itu, sudah berapa banyak keuntungan dan kekayaan yang dia miliki. Namun, kadang ada juga yang sebaliknya. Orang yang sebenarnya tidak memiliki apa-apa, namun ‘berpura-pura’ menjadi orang kaya: pakaian bagus, perhiasan mahal tapi imitasi, pakaian bermerek tapi palsu dan seterusnya, sehingga orang yang melihat dan memandang akan terpesona pada penampilan. Padahal itu, hanya ‘pura-pura’ dan bukan kenyataan yang sebenarnya. Bisa dikatakan, ada orang yang kaya, tapi mentalnya sederhana, dan ada orang biasa, tapi mentalnya ‘sok’ kaya.

Hari ini kita mendengarkan kisah dua orang nabi terhormat, bukan karena kuasa dan hartanya, karena mereka justru tidak memiliki harta yang dibanggakan. Yang mereka pegang adalah tentang cara menjadi hamba Allah yang setia pada tugas dan karya. Mereka tidak pernah memikirkan penghargaan dan penghormatan, karena semua itu tidak perlu dicari dan dipikirkan. Yang justru harus dipikirkan adalah soal keselarasan hidup dengan sabda Tuhan dan segala sesuatu dilakukan demi semakin besarnya nama Tuhan sendiri. Kadang kita terjebak pada situasi ketika kita justru mencari-cari kemuliaan bagi nama kita sendiri sedangkan nama Tuhan dilalaikan. Maka, semoga melalui hidup kita, nama Tuhan selalu diwartakan meski untuk itu kita pun ikut menanggung derita, namun dia yang memiliki Kristus akan dimuliakan Allah dan dihormati selama-lamanya.

Selamat pagi, selamat memiliki Kristus. GBU.

KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN

KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN

*KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN*

Jumat, 15 Desember 2017

[Yes. 48:17-19; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Mat. 11:16-19]

KARENA ALLAH PUNYA BANYAK CARA

Saya termasuk orang yang mudah bosan. Maka, banyak hal dalam hidup saya yang mudah berganti-ganti. Kalau saya bosan di kamar, maka saya akan pindah ke perpustakaan atau olahraga, atau mencuci atau setrika. Kemarin sore, saya juga baru saya mengganti tata letak kamar. Saya hitung, ini perubahan yang ketiga dalam setengah tahun. Ya, karena saya mudah bosan dengan situasi yang sama. Namun, meski saya bisa merubah banyak hal dan cara, banyak suasana dan keadaan, selalu saja ada yang tetap dan tak berubah, yaitu tugas harian dan tanggungjawab studi yang mesti dikerjakan dan diselesaikan. Maka,cara dan suasana yang terus berganti, jangan sampai membuat tugas dan tanggungjawab lalu diabaikan. Karena, hal, cara, suasana dan keadaan adalah sekedar sarana, sedangkan tugas dan tanggungjawab adalah memang tujuan hidup saya, maka itu jauh lebih penting bagi saya.

Dan itulah yang mesti kita tangkap dari karya Allah yang tidak pernah berhenti dalam hidup kita. Sayangnya, manusia tidak menyadari dan tidak peka pada cara Allah bekerja, karena kadang kita terlalu mengandalkan pengetahuan dan kemampuan sendiri. Yesus bersabda: “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.” Allah berkarya dengan berbagai macam hal, cara, suasana dan keadaan, namun kehadiranNya kadang tertutupi oleh sesuatu yang barangkali kita anggap lebih penting. Kita bisa bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah saya merasakan dan menemukan kehadiran Allah hari ini?” Dan jawaban untuk ini, tidak ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan, namun pengalaman. Dan, semoga kita hari ini diberi kesempatan, kepekaan dan bahkan menjadi bagian cara Allah untuk menghadirkan diri bagi setiap orang yang kita jumpai.

Selamat pagi, selamat menjadi bagian dari kehadiran Allah. GBU.

SIAPA BERTELINGA, HENDAKLAH IA MENDENGAR!

SIAPA BERTELINGA, HENDAKLAH IA MENDENGAR!

Kamis, 14 Desember 2017

PW. St. Yohanes dr Salib

[Yes. 41:13-20; Mzm. 145:9,10-11,12-13ab; Mat. 11:11-15]

SIAPA BERTELINGA, HENDAKLAH IA MENDENGAR!

Kemarin semua frater tingkat VI menjalani ujian ad-audiendas, atau sering disebut dengan ujian kebijaksanaan. Kalau dirunut asal katanya, barangkali asalnya dari kata: ‘ad audiendas confessiones’, atau mendengarkan pengakuan dosa. Ya, karena dalam ujian ini ada tiga poin penting, yaitu mendengarkan kasus pengakuan dosa, kasus moral dan kasus perkawinan. Dalam kesempatan ini, dalam satu waktu seluruh pengetahuan yang pernah didapatkan di bangku kuliah, akan digunakan untuk menjadi ‘batu uji’ sehingga dapat memberikan tanggapan yang baik dan bijaksana serta tentu saja tepat dan tidak berlawanan dengan ajaran Gereja. Kunci utama dari ujian ini ketenangan, dan tentu saja kemampuan untuk mendengarkan. Kemampuan untuk mendengarkan ini tentu saja tidak dimiliki semua orang, karena membutuhkan latihan. Mendengarkan itu sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Seseorang bisa lepas dari kehancuran atau menjadi binasa, hanya kalah mendengarkan info atau data yang salah.

Yesus bersabda: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” Ajakan ini adalah ajakan untuk mendengarkan Dia yang akan datang. Mendengarkan Tuhan adalah sebuah pilihan sikap yang penting dan tak tergantikan, karena hanya Dialah yang harus didengarkan dengan sepenuh hati. Mendengarkan adalah sikap hati dan pemberian diri. Mendengarkan dengan keterbukaan hati berarti hanya membiarkan sesuatu yang baik saja, ke dalam dirinya. Hari-hari ini, hari-hari dimana kita semakin dekat dengan kehadiran Yesus, keselamatan sekaligus kebenaran sejati. Maka, hari-hari ini pun menjadi waktu yang istimewa bagi kita untuk berbenah dan menata hati sesuai dengan kebenaran yang akan datang tersebut. Mendengarkan Dia yang akan datang membawa keselamatan membutuhkan keterbukaan dan sikap sepenuh hati, maka kita mohon rahmat supaya kita dimampukan pada hal tersebut.

Selamat pagi, selamat membuka hati pada kehadiran Yesus, Sang Kebenaran Sejati. GBU.

Translate »