Browsed by
Month: September 2018

Blessedness  

Blessedness  

Blessedness

Lukas 6:20-26

Ketika diminta tanggapan tentang cultural shifts yang terjadi sesudah konsili vatican ke-2, sekelompok imam muda tidak memberi tanggapan. Alasannya bukan karena tidak mau, melainkan karena empat puluh tahun yang lalu mereka belum lahir. (Priests Convocation 2018 di Rancho Mirage, Palm Desert).

Disinyalir bahwa kemajuan massif saat ini dalam mass media atau konektivitas, bukan membawa keterhubungan dan kedekatan melainkan pemisahan dan keterpisahan. Generasi milenial misalnya akan mengatakan irelevan untuk hidup dalam satu dunia tanpa networking: internet, Google, twitter, facebook, wattsapp, seterusnya.

Yesus juga mengajarkan satu gaya hidup yang irelevan, berbeda menurut mata dunia, namun berguna untuk dunia dan semua generasi: detachment, keterpisahan dari dunia. Kendati kita hidup di dalam dunia, namun “bukan berasal dari dunia.”

Seperti kotbah di bukit, orang Kristen harus mampu membedakan diri dari dunia. Membalikkan cara pandang melalui metanioa, yakni transformasi spiritual, perubahan mental, nalar yang dicerahi oleh Injil, untuk masuk dalam visi dan karakter hidup yang dibawa oleh Kristus sendiri.

Ini adalah tanda keterpisahan dari dunia untuk menemukan kebahagiaan sejati, kesatuan dengan Allah dan sesama, yang secara paling radikal termanifestasi di dalam peristiwa salib. Kristus tersalib adalah suatu realitas baru yang lahir, penolakan terhadap dunia, karena persentuhan antara kasih Allah yang menyelamatkan dan ketidakselamatan atau keselamatan palsu yang ditawarkan oleh  dunia.

Peristiwa salib adalah God’s invention, original and divine gadget, dimana Allah punya akses kepada manusia dan manusia punya akses dan konektivitas dengan Allah karena kebangkitan Kristus yang melahirkan suatu zaman, milenium baru, hidup baru, budaya baru, generasi baru yang ditandai oleh kasih, damai, keadilan dan keselamatan sejati karena belas kasih Allah sendiri.

Renungan 9/10/18

Renungan 9/10/18

Renungan 9/10/18

Injil Lukas 6:12-19:

Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.

Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul:

Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus,

Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot,

Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.

Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.

Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.

Orang-orang seperti apa yang dipilih untuk menjadi rasul Yesus? Jawabannya sederhana saja: Orang-orang dari kalangan biasa tanpa pengaruh yang menonjol dalam masyarakat di mana mereka berasal.

Andreas dan saudaranya Simon adalah nelayan. Demikian juga dengan Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus yang adalah pedagang ikan. Matius atau Levi adalah seorang penagih pajak bagi pemerintah Romawi. Sedangkan Simon dari Kanaan adalah seorang nasionalis fanatik yang berani bertaruh nyawa untuk melawan pejajah Roma.

Mereka semua adalah pekerja keras dengan kemauan dan tekat yang besar untuk mengikuti Yesus. “Orang-orang terpilih” ini yang akan menjadi „alat yang efektif“ di tangan Tuhan untuk mewartakan “Kerajaan Allah.” Mereka memiliki kelemahan manusiawi namun dibimbing dan dilindungi oleh kuasa Ilahi. Rasa kagum dan cinta kepada Yesus membuat mereka menjadi satu kawanan. Yesus mengkonfirmasi niat dan cinta mereka dalam doa. Yesus tetap mendampingi mereka dan menurunkan kuasa Ilahi, yakni Roh Kudus agar mereka bisa mewartakan Injil, mengusir setan dan kekuatan jahat dalam diri orang-orang yang mereka kunjungi dan layani. Inilah tanda-tanda hadirnya “kerajaan” yang diwartakan Yesus.

Pertanyaan untuk kita: Apakah kita juga merasa sebagai sarana atau alat di tangan Tuhan untuk menghadirkan kerajaan-Nya? Tanda-tanda konkret apa yang bisa kita alami dalam hidup harian bahwa Tuhan hadir di antara kita. Yesus memilih dan memanggil para Rasul-Nya dengan doa sepanjang malam. Apakah kita juga punya relasi khusus dan personal dengan Yesus yang memanggil kita masing-masing, memberi ruang bagi intervensi Ilahi, terutama ketika menghadapi persoalan-persoalan konkret dan serius dalam hidup?

Renungan Senin 09/10/2018

Renungan Senin 09/10/2018

Injil Lukas 6:6-11:

“Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.

Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri.

Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?”

Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.

Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.”

—-

Kisah injil tentang penyembuhan orang yang mati tangan sebelah adalah sebuah teguran keras sekaligus peringatan terhadap manusia yang tidak taat kepada Allah tetapi kepada aturan.

Acapkali kita tidak mampu merasakan penderitaan orang lain. Kita merasa diri benar karena ingin menegakkan aturan. Padahal aturan itu sendiri barangkali salah. Aturan yang salah pasti aplikasinya juga salah. Taat aturan secara buta membuat kita tidak sanggup melihat realitas apa adanya. Dan hal ini juga membuat kita tidak mampu memberi respond yang tepat terhadap kebutuhan sesama. Terutama mereka yang sakit dan butuh pertolongan. Kita lebih banyak bertindak seperti para farisi dan ahli kitab. Pandai membuat aturan dan suka memberi judgement. Namun tanpa rasa dan fleksibilitas. Tiada empati terhadap yang menderita. Dan lebih jahat lagi, tidak memberi kesempatan agar orang disembuhkan dari penderitaan yang dialaminya.

Aslinya hukum sabat dimaksudkan untuk memuliakan Allah dan melakukan perbuatan baik. Namun dimanipulasi dan disalahgunakan.

Seperti si sakit, kita juga butuh kesembuhan dari Tuhan. Kita harus mendengarkan dan lebih taat pada suara Tuhan, bukan suara-suara lain. Ulurkan tangan karena Tuhan menyuruh. Bukan pada ketakutan dan amarah serta suara-suara para komplotan jahat. Telinga dan hati kita harus lebih sensitif dan terbuka pada kehadiran Allah, dan hanya pada kuasa dan belaskasih-Nya sajalah kita mesti berpasrah diri.

Beyond Healing

Beyond Healing

Twenty-Third Sunday in Ordinary Time

September 9, 2018

Mark 7:31-37

 

“Jesus has done everything well; he even makes the deaf to hear and the mute to speak.” (Mk. 7:37)

 

The deaf man whom Jesus heals is so blessed. He is able to see Jesus, and He finds healing. Inspired by this miracle, we wish that we will also meet Jesus and He will heal our sickness and solve our problems. Thus, we come to various places where we believe Jesus will heal us. We visit pilgrimage sites, we attend prayer and worship meetings, we recite various novenas, and we become actively involved in the Church’s organizations. We believe that our faith in Jesus will save us. However, what if our prayers are not granted? What if our problems are not solved but rather grow in number? What if our sickness is not healed, but gets worse? What if we do not feel that we are saved? One time, I visited Flora [not her real name], a colon-cancer patient, and she asked me, “Brother, I have faith in God, and I faithfully serve the Church, but why am I suffering from this terrible sickness?” Surely, it was a tough question.

In today’s Gospel, Mark, the evangelist, seems to present Jesus as the traditional faith-healer. Just like other healers, Jesus touches the affected body parts of the sick person, namely his ears and tongue. Jesus also spits because, in ancient times, saliva is believed to have therapeutic effects. The act of spitting itself is also considered to drive away evil spirits, and some diseases are thought to come from these evil spirits. Then, Jesus groans to heaven and says a word, “Ephphatha!” This is like other faith-healers who utter certain formula of magic words or incantation as to affect the healing desired. What the people need is to have faith in the faith-healer, and viola, they are healed.

Inspired by this kind of model, we begin to treat Jesus as a faith-healer. We just need to have faith in Him, and the rest will be just perfect. We believe in Him, and we will be saved. That’s all! This image of Jesus is, however, distorted and even dangerous. We reduce Jesus as mere instant problem-solver and an ultimate trouble-shooter. Again, what if we do not get what we expect despite our effort to trust in Him?

Mark is inviting us to read his Gospel more profoundly.  There is something more remarkable that we, ordinary readers of the Bible, miss. In original Greek, the term for speech impediment or mute in the Gospel of Mark is “mogilalos.” This very term is also used in the book of Isaiah when the prophet prophesied, “…, and the mute tongue – “mogilalos” – sing for joy (Isa. 35:6 – our first reading)”. But, the prophecy is not only about healing the diseases, but it is about the holistic restoration of both the land and the people of God (see Isa 35:1-10). Mark does not only want to present Jesus as someone more powerful than faith-healers, but he points to us that Isaiah’s prophecy is being fulfilled. In Jesus, God has come to His people and redeemed us. Yet, what does it mean in our daily lives?

This means our faith in Jesus has to be bigger than ourselves, our personal problems and concerns. It is true that we may not have immediate healing to our sickness and solution to our problems, but our lives and our capacity to live and love are enlarged. And, as we become more loving, we begin to change also people around us. As people change, our world will become a better place.

Going back to Flora. After reflecting for a while, I answered Flora, “Well, I do not exactly know why God allows this sickness. But, as you can see, your family is doing their best to help you recover because they love you. Now, you are doing your best to get healed because you love them. See, God has made you bigger than yourself before. I believe faith is working in you.”

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA

PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA

PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA

Mikha 5:1-4a atau Roma 8:28-30; Matius 1:1-16, 18-23

Saya yakin bahwa kita semua pernah melihat acara malam penganugerahan pemenang piala OSCAR (anugerah bagi para insan perfilman), para bintang film dan sutradara yang memenangkan piala itu tentu saja akan tersenyum lebar dan tertawa bahagia. Tidak jarang mereka meneteskan air mata haru dan dengan terbata-bata memberikan sambutan singkat. Biasanya dalam sambutan singkatnya itu, ia mengucapkan terima kasih kepada orang tua dan siapa saja yang telah berjasa dalam hidupnya.

Hari ini kita merayakan pesta kelahiran SP Maria. Bunda Maria dihormati dan dicintai umat Kristiani karena Yesus Kristus, anaknya. Karena Yesus Kristus, maka Bunda Maria selalu disebut dalam doa dan iman orang kristiani. Bahkan ada begitu banyak orang kristiani yang sangat mencintai Bunda Maria dan berdevosi kepadanya. Nabi Mikha menubuatkan Bunda Maria yang akan melahirkan Sang Mesias. Injil Matius hari ini mengisahkan proses kelahiran Yesus dari perawan Maria yang didampingi oleh St Yusuf suaminya.

Kelahiran St Maria Bunda Tuhan tidak dapat dipisahkan dari pribadi Tuhan Yesus Kristus, putranya. Demikianlah, kita bisa merenungkan betapa kelahiran kita tidak dapat dipisahkan dari orangtua & sanak saudari kita. Kita selalu berada dalam rangkaian hubungan yang saling tak terpisahkan. Itulah sebabnya, sikap dan tindakan yang mau memutus hubungan persaudaraan dan kekerabatan bukanlah tindakan yang bijaksana. Kita lahir dan ada dalam jalinan relasi yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa berkata “Aku tidak butuh orangtuaku, aku tidak butuh saudara saudariku, aku tidak membutuhkan teman-temanku. Aku bisa hidup sendiri. Aku tidak butuh siapa-siapa”. Hari ini kita diajak menyadari bahwa hubungan kita dengan siapapun akan tetap terpatri dan tercatat dalam sejarah hidup kita dan menjadi bagian hidup kita selamanya. Semoga dengan bantuan rahmat Allah, kehadiran kita dapat menjadi berkat bagi orang-orang disekitar kita.

Translate »