Browsed by
Month: November 2018

Kenosis

Kenosis

Bacaan: Filipi 2: 5-11Image result for kenosis

“Yesus Kristus walau dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.”

Ajaran tentang kenosis atau “Jalan menurun dari Yesus Kristus” menjadi salah satu pengajaran khas Paulus pada kita semua. Kata rupa dalam bahasa aslinya adalah “eikon” yang berarti bahwa Yesus sungguh memiliki kesamaan dengan Allah. Kesamaan ini berarti bahwa kealahan Yesus itu penuh dan sama seperti yang dimiliki oleh Bapa sendiri. Selanjutnya Paulus memakai kata “milik yang harus dipertahankan.”  Kesetaraan itu tidak membuat Yesus ingin agar statusnya dipertahankan, dan takut kehilangan apa yang sudah dimilikinya. Dia bahkan dengan rela melepaskan dan mengosongkan diri, artinya membiarkan kesetaraan itu tak tampak dan seakan hilang dari hidup dia.

Kalau kita bandingkan dengan perjalanan hidup manusia, sebenarnya perjalan kita juga ke arah kenosis. Pada awalnya sebagai seorang anak manusia yang terlahir, kita tak memiliki banyak kekuatan dan butuh bantuan serta perlindungan. Kita lemah sebagai anak-anak. Menginjak dewasa kita merasa hidup ini berjalan naik sealur dengan kenaikan karier, jabatan, status ekonomi dan sosial kita. Sering kali orang sulit melepaskan semua status sosial, ekonomi dan penghargaan karena dia mencari dan meraihnya dengan penuh perjuangan. Padahal kalau hidupnya terus dijalani. Gerakan kita akan menurun. Orang semakin renta dan tua. Mulai kehilangan tenaga juga fungsi tubuh yang berkurang. Hingga akhirnya orang tak mampu lagi berbuat apa-apa terbaring dan butuh bantuan orang lain lagi karena kelemahan dan ketuaan. Gerakan hidup kita mulai dari bawah, naik, dan turun lagi.

Yesus mengajari kita dengan semangat kenosis bahwa orang perlu siap untuk melepaskan segala yang mengikat, terutama tentang status sosial dan kejayaan pribadi. Semua itu tidak harus dipertahankan sebagai milik. Namun orang perlu mengosongkan diri agar mengikuti gerak Yesus yang turun ke bawah, merendahkan diri. Semoga gerakan kita dalam hidup ini menjadi gerak turun sehingga suatu saat nanti Allah akan meninggikan kita juga karena kita menjadi murid yang mengikuti teladan Paulus dalam gerak kenosis.

Buah Kehidupan yang Hanya Dikenal Allah

Buah Kehidupan yang Hanya Dikenal Allah

Bacaan: Lukas 14: 14 Related image

“Bila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta. Maka engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas engkau. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

 

Budaya meng “upload” foto, mengubah status dan menanggapi tulisan dan gambar orang dengan like dan dislike menjadi hal yang tak terelakkan dalam dunia internet. Orang yang memasang cerita dan gambar punya keinginan agar orang lain segera menanggapi dan memberi komentar positif. Semakin banyak orang berkomentar dan memberi acungan jempol, orang makin merasa keberadaannya berharga dimata komunitas maya. Sebaliknya, sepinya respon dan banyaknya jempol terbalik membuat hati dan pikiran orang tercabik-cabik karenanya. Seolah orang lain tak menerima dirinya dan keseluruhan eksistensi hidup yang telah dibangunnya selama ini. Hingga kalau suatu saat orang jatuh pada disorder behavior, komentar, pujian dan tanda like dicari agar orang makin besar rasa harga dirinya.

Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita pada sebuah panggilan radikalisme kemuridan yang tinggi. Kalau engkau berbuat sesuatu yang baik, hendaklah jangan sampai orang lain bisa membalasnya. Tak perlu mencari sensasi dan mengupload foto bahwa kita telah berjasa baik, tidak usah memberitahukan bahwa kita telah mempertahatikan orang miskin dan melayani mereka dengan sebaik-baiknya. Biarkanlah semua hal baik yang dilakukan itu terjadi. Seolah orang lain tak tahu dan hanya ALlah saja yang tahu.

Balasan dari Allah yang dibahasakan di sini, “Mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar” berarti bahwa penghargaan Allah pada kita akan diberikan nanti di zaman akhir. Pemberian yang tidak lapuk dan digerus waktu. Tanggapan orang dengan pujian dan kesukaan hanya akan bertahan sebentar saja. Durasinya singkat dan menyenangkan diri kita pada waktu sesaat saja. Hal itu membuat kita haus dan mencari terus tanggapan dan balasan sesama. Namun apa yang akan Allah berikan pada kita di zaman akhir nanti bersifat permanen dan tak akan habis. Kita tak perlu ketakukan bahwa pahala Allah itu akan hilang dari kita. Tak usah resah bahwa Allah akan memberi dislike pada kita!

Kita  memohon pada Tuhan agar kita diberi hati yang siap menerima sepi pujian duniawi, tapi kaya pujian Ilahi. Biarlah ALlah sendiri yang tahu dan kenal kebaikan serta buah kehidupan kita sehingga kelak kita boleh menerima pahalaNya yang tak uzur oleh waktu.

Deacon

Deacon

31st Sunday in Ordinary Time

November 4, 2018

Mark 12:28-31

 

“You shall love the Lord your God… The second is this: ‘You shall love your neighbor as yourself.’ There is no other commandment greater than these.” (Mk. 12:30-31)

I am currently preparing for my ordination to the diaconate. It is a transitional stage before I become a priest of Jesus Christ. Despite the fact of being transitional, a deacon in itself is an important state in the life of the Church. Bishop Virgilio David, DD of Kalookan reminded the 15 newly-ordained Jesuit deacons in his homily last October that we shall not see a deacon as a mere stepping step toward higher states, like priests and bishops. It is the very core in the layers of concentric circles that make up the ordained ministries of the Church. The diaconate is not a lower rank but the core, without which both the offices of presbyters and bishops collapse. It is the foundation on which we build leadership in the Church. Yet, why do the deacons have to be placed at the core, and become the foundation?

Pope Benedict in his apostolic letter “Omnium in Mentem” clarified further the basic identity of a deacon. He wrote, “deacons are empowered to serve the People of God in the ministries of the liturgy, the word, and charity.” The deacons are the heart of both the ordained and non-ordained ministers of the Church because they perform and remind the most basic duties of every Church’s servants: to serve and love God and His people. The very word deacon is coming from the Greek word, “ diakoneo ” meaning to serve, and therefore, a deacon is someone who serves, a servant. Yet, it is not any service. If we go back to the first chapter of the Gospel of Mark, the first person who serves Jesus, the God-man, is Peter’s mother-in-law (Mar 1:31). She serves Jesus because He has restored her to health. It is not a service done out of fear, but gratitude and love. Thus, to serve and to love are at the very essence of being deacon.

In today’s Gospel, Jesus faces the scribe who asks Him on the first of all the commandments. In the Law of Moses, aside from the famous Ten Commandments, they have hundreds of more commandments. Jesus answers, “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind.” Jesus quotes part of the Shema or the basic Jewish Creed that every devout Jews would recite every day (see Deu 6:4-5). Yet, Jesus does not stop there. He completes the first and the greatest law with another one, “You shall love your neighbor as yourself.” It also comes from the Old Testament (see Lev 19:18). To the delight of the scribe, Jesus’ answer is an orthodox one, but there is something novel as well.

The connection between first and second turns to be a watershed. For Jesus, true love for God has to be manifested in love for others, and genuine love for others has to be oriented toward God. Thus, it is unthinkable for Jesus to order His disciples to kill for the love of God. Or, Jesus will not be pleased if His followers are busy with performing rituals, but blind to the injustices that plague their communities.

With these Jesus’ first commandments in mind, we can now see why the role of the deacons is fundamental in the Church. The deacons are those who are called and empowered to fulfill Jesus’ commandment of love. The deacons are to serve and love God and His people, both in the context of Christian worship and real life. While it is true that deacons are one of the ordained ministers in the Church, every Christian is also called to become a “deacon” in our lives, to serve God and His people out of love.  Without the heart of a deacon, who is the very core of Church’s ministry, every Christian, whether they are lay or cleric, will lose their identity and fail to accomplish the most fundamental law of Christ.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

RENDAH HATI DALAM MELAYANI

RENDAH HATI DALAM MELAYANI

Sabtu, 3 November 2018

Hari Biasa (H)

Flp. 1:18b-26; Mzm. 42:2,3,5bcd; Luk. 14:1,7-11

RENDAH HATI DALAM MELAYANI

Saya memiliki seorang dosen, yang kalau mengajar di kelas kami, selalu menyebut dua orang teman kami, yang akan dijadikan contoh cerita, dalam tema kuliah apa pun. Nah, yang menarik, dua teman ini, yang satu selau digambarkan sebagai orang yang baik, jadi pasti ceritanya akan selalu baik; sedangkan teman satunya akan selalu digambarkan sebagai orang yang jahat, jadi ceritanya adalah cerita yang tidak baik. Ya, antagonis dan protagonis begitulah. Teman-teman kami pada awalnya santai-santai saja, apalagi kalau itu menjadi sebatas candaan saja. Namun suasana berubah tidak nyaman, ketika dosen kami ini malah seolah-olah memiliki stigma negatif terhadap teman kami yang selalu dijadikan contoh cerita yang tidak baik, karena penilaian bukan lagi soal benar salah, namun penilaian berdasarkan subjektivitas alias menunjuk pribadi yang dijadikan ‘bahan cerita’. Mungkin beda ceritanya dengan teman kami yang selalu jadi ‘contoh baik’, karena dengan demikian kelebihan dan kemampuannya akan dihargai, meski ada bahaya karena bisa menjadikannya tinggi hati.

Yesus memperingatkan kita bahwa penghargaan bukanlah prestasi namun sebagai anugerah. Jadi penghargaan yang didapat bukan pertama-tama menjadi tujuan, karena itu adalah ‘bonus’ atau kebaikan Allah sendiri. Kadang kita merasa layak untuk dihormati, namun kalau tidak hati-hati, itu bisa berbalik mempermalukan diri sendiri, terlebih berhadapan dengan orang yang lebih pantas mendapatkan penghargaan. Rendah hati pun bukan sikap tidak menghargai diri sendiri, namun tahu bagaimana harus menempatkan diri. Maka, daripada kita banyak berpikir tentang bagaimana cara agar mendapatkan penghargaan dari orang banyak, lebih baik kita memikirkan bagaimana cara melayani dan menghargai orang lain. Dalam konteks Kerajaan Allah, melayani orang yang hina adalah sama dengan melayani Allah sendiri. Maka, dengan demikian melayani dengan rendah hati dengan tidak mengharapkan penghargaan dari orang lain, tentu akan memancarkan kemuliaan Allah sendiri, tanpa pernah kita minta, karena memang Allah  sendirilah yang senantiasa memampukan kita untuk berbagai macam tugas pelayanan.

Selamat pagi, selamat memancarkan kasih Allah. GBU.

DALAM IMAN  KITA DISELAMATKAN!

DALAM IMAN  KITA DISELAMATKAN!

Jumat, 2 November 2018

PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN (P/U)

2Mak. 12:43-46; Mzm. 130:1-2,3-4,5-6a,6-7,8; 1Kor. 15:12-34; Yoh. 6:37-40

DALAM IMAN  KITA DISELAMATKAN!

Setiap kali ada orang yang meninggal, apalagi yang meninggal adalah orang-orang terkenal, maka tidak mengherankan jika banyak karangan bunga yang disampaikan sebagai tanda simpati dan sekaligus ucapan belasungkawa dari yang mengirim. Bagi yang menerima ucapan, ini tentu sebagai sebuah penghormatan yang berharga terlebih bagi saudara atau keluarga yang sudah meninggal. Namun, bagi orang yang sudah meninggal, hal yang terpenting bukan seberapa banyak karangan bunga yang dikirimkan, namun justru, tentu saja adalah doa-doa yang tiada putus dan tiada henti bagi mereka. Untuk itulah gereja kita, sampai sekarang ini memiliki kebiasaan untuk mendoakan orang-orang yang sudah meninggal, karena kita yakin bahwa mereka semua sedang berada dalam ‘perjalanan’ menuju kehidupan abadi. Dan tugas kita adalah ‘mengiringi’ langkah mereka menuju ke sana, dengan doa-doa yang dipanjatkan. Doa sekaligus menjadi sebuah kekuatan, agar kita yang masih ada di dunia ini, selalu mengupayakan keselamatan bagi orang lain, dalam bentuk apa pun.

Hari ini kita mengenangkan arwah semua orang beriman, dan caranya yang utama adalah dengan doa-doa yang kita panjatkan. Doa adalah dimensi hidup yang penuh keindahan. Pertama, tentu saja, dengan doa kita diajak untuk mengupayakan keselamatan bagi orang lain, bukan melulu keselamatan bagi diri sendiri. Kedua, dengan berdoa, kita diingatkan bahwa hidup adalah perjalanan, dan di ujung sana ada kehidupan kekal, sedangkan hidup di dunia adalah sementara saja. Maka, jangan pernah merasa ‘lekat’ dengan segala sesuatu yang ada di dunia. Beruntung manusia memiliki iman yang besar kepada Allah, karena dengan iman lah manusia bisa bertahan sampai hidup kekal. Secara fisik, semua manusia akan mati, namun manusia memiliki jiwa yang tidak akan mati selamanya, kalau kita sungguhberiman kepada Allah. Semua tidak akan pernah hilang, mati atau pudar, karena Allah yang memanggil, melindungi dan menebus semua manusia tanpa kecuali.

Selamat pagi, selamat mendoakan saudara-saudara yang sudah meninggal. GBU.

Translate »