Browsed by
Month: January 2019

Siapakah Melkisedek?

Siapakah Melkisedek?

Rabu, 23 Januari 2019

Ibrani 7:1-3, 15-17
Mazmur 110
Markus 3:1-6

Nama Melkisedek, yang digunakan secara luas oleh sang pengarang Surat kepada Umat di Ibrani, hanya muncul sekejap dalam Perjanjian Lama (Kejadian 14:17-20). Ia disebut sebagai Imam Allah yang Maha Tinggi, dan memberikan berkat kepada Abraham. Tidak ada cerita silsilah keluarganya. Dia muncul dan hilang begitu saja dalam cerita Abraham.

Seorang imam memegang peranan penting dalam kehidupan agama Yahudi karena hanya merekalah yang dapat mengorbankan sesuatu kepada Allah. Di Bait Allah, hanya imam yang boleh masuk ke dalam tempat yang paling suci. Menurut hukum Taurat, hanya mereka yang keturunan Lewi yang bisa menjadi imam. Dengan kata lain, status imamat seseorang tergantung pada garis darah.

Dalam silsilah suku-suku Israel, Yesus bukan keturunan Lewi melainkan keturunan Yehuda. Dalam hidupnya juga tidak pernah dikisahkan Yesus menyebut dirinya sebagai imam. Bisa jadi si pengarang Surat kepada Umat Ibrani (dulu diperkirakan St. Paulus tetapi para ahli Alkitab sekarang berpendapat lain) ingin menyusun suaut jalan pikiran sistematis untuk menunjukkan kuasa Yesus sebagai imam. Karena tidak mungkin menarik garis darah Yesus dari suku Lewi, ia pun membandingkan Yesus dengan Imam Melkisedek. Kuasa imamat Melkisedek datang langsung dari Allah, bukan dari garis darah.

Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium menegaskan bahwa kita yang dibaptis menjadi bagian dari Tubuh Kristus dan ikut serta dalam misinya sebagai imam, raja, dan nabi. Imamat kita bukan berdasarkan siapa nenek moyang kita, melainkan melalui pembaptisan dalam Kristus. Dalam perayaan misa, kita mengambil bagian dengan aktif berpartisipasi dengan imam di altar mempersembahkan kurban Ekaristi. Di luar misa, kita pun bertugas sebagai imam dengan mengkuduskan hidup kita dan setiap orang yang kita temui melalui tindakan dan perkataan kita. Setiap dari kita mempunyai peranan penting untuk ambil bagian dalam misi Kristus menyembuhkan dan menyelamatkan dunia.

Semoga kita diingatkan selalu betapa besar misi kita di dunia ini. Mazmur tanggapan hari ini: “Engkau adalah imam selama-lamanya, menurut Melkisedek,” adalah penegasan dari Allah sendiri akan status kita sebagai imam dalam Kritus.

Sabat Dibuat Untuk Manusia

Sabat Dibuat Untuk Manusia

Selasa, 22 Januari 2019

Ibrani 6:10-20
Mazmur 11
Markus 2:23-28

Beberapa tahun lalu, sebagai bagian dari pendidikan pastoral, saya magang (internship) sebagai chaplain atau pembimbing rohani di sebuah rumah sakit Yahudi di Los Angeles, California. Di sana ada sebuah lift khusus, di mana setiap hari Sabat (Sabtu), lift ini akan berhenti di setiap lantai. Dengan demikian, orang-orang Yahudi Ortodoks tidak perlu memencet tombol lantai, sesuatu yang dianggap pekerjaaan dan tidak boleh dilakukan di hari Sabat.

Situasi demikian mungkin kedengaran aneh dan absurd di telinga kita. Saya tidak mencoba berdebat dengan alasan teologis dan spiritual mereka. Tetapi ini menunjukkan bagaimana orang Yahudi, baik jaman Yesus sampai masa kini, sangat serius dengan peraturan tentang hari Sabat.

Beberapa kali saya melihat atau mendengar bagaimana sekelompok umat Katolik di Amerika menjadi seperti polisi liturgi. Di gereja, mereka mengawasi setiap tindakan romo dan petugas-petugas liturgi dalam misa. Jika ada sesuatu yang menurut mereka tidak sesuai peraturan, mereka akan melaporkan ke uskup. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa berkonsentrasi untuk merayakan sakramen Ekaristi jika pikirannya terfokus untuk menemukan kesalahan-kesalahan dalam liturgi.

Kisah Injil hari ini bukan bermaksud meyakinkan kita untuk mengabaikan segala peraturan dengan seenaknya. Yesus mengajak kita melihat prioritas kita yang sejati. Apakah hukum atau peraturan lebih tinggi dari kepentingan hidup dan hak asasi manusia? Apakah kita lebih mementingkan kata-kata dalam sebuah peraturan daripada melihat konteks dalam hidup bermasyarakat?

Yesus memberi jawabannya pada kita. Hari Sabat dan semua peraturan dibuat untuk manusia, bukan sebaliknya. Manusia dibuat untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Inilah tujuan hidup kita. Peraturan dan hukum dapat membantu mencapai tujuan itu. Tetapi mereka hanyalah sarana, bukan tujuan.

Anggur Baru

Anggur Baru

Senin, 21 Januari 2019
Hari Peringatan Santa Agnes, Martir

Ibrani 5:1-10
Mazmur 110
Markus 2:18-22

Bacaan Injil hari ini seperti meneruskan tema dari Injil hari Minggu kemarin mengenai pernikahan di Kana. Yohanes kemarin menempatkan mujizat Yesus merubah air menjadi anggur sebagai tanda pertama dalam misinya di dunia. Hanya Yohanes yang menggunakan peristiwa ini dalam Injilnya. Mungkin kita bisa melihat tanda ini sebagai tanda Yesus memulai hubungan istimewanya dengan umat manusia secara nyata. Kisah pernikahan di Kana menjadi latar belakang pernikahan Yesus sang mempelai pria dengan GerejaNya.

Serupa dengan pemikiran ini, Markus pun menggunakan istilah pernikahan untuk menggambarkan Yesus: sebagai mempelai laki-laki yang sudah datang dan makan bersama semua yang hadir dalam pesta. Tapi tidak semua orang mengenalnya, dan tidak semua orang mau ikut berpesta dengannya. Para pengikut Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi mencemooh pengikut Yesus karena tidak pernah berpuasa. Pandangan mereka sempit dan tidak pernah berkembang, berkutat pada perkataan dalam Hukum Taurat dan mengabaikan tanda-tanda yang diberikan Yesus. Seperti kain tua, ketika ditambal dengan kain baru yang belum susut mereka menjadi robek setelah dicuci. Seperti kulit tua yang diberi anggur baru, mereka menjadi rusak dan bocor.

Yesus datang sebagai anggur baru, anggur yang berkualitas terbaik seperti yang dirasakan orang dalam pernikahan di Kana. Tapi apakah kita siap menyambutnya? Apakah kita memilih berpegang pada ego, kenyamanan, kekayaan, nilai-nilai kolot, atau hal lainnya yang kita pikir membuat hidup kita lebih nyaman? Kata lainnya adalah comfort zone.

Memang manusia pada hakikatnya susah untuk mau berubah, kecuali kalau terpaksa. Hidup Kristiani bukan tentang hidup gampang atau nyaman. Seorang Kristen menyerahkan dirinya pada gerakan-gerakan Roh Kudus, dan harus peka pada panggilan Tuhan dalam segala situasi.

Hari ini di Amerika Serikat adalah hari libur nasional untuk mengenang Dr. Martin Luther King, Jr., tokoh penegak keadilan dan pembela hak asasi manusia, terutama untuk masyarakat kulit hitam pada saat itu. Sebagai seorang pendeta dan orang yang terpelajar, Dr. King dapat saja meneruskan hidupnya dengan nyaman memimpin sebuah gereja kecil di daerah Selatan. Tapi dia memutuskan menjawab panggilan Tuhan untuk memulai gerakan membela hak warga minoritas. Dia membawa anggur baru Tuhan ke dalam kantong kulit orang jaman itu yang tidak mau memberikan hak sama pada warga kulit hitam. Kantong kulit lama tidak siap menerima anggur baru. Sama seperti orang Yahudi pada jaman Yesus, mereka yang berkeras hatinya berhasil membunuh Dr. King.

Untuk sesaat, sepertinya kebaikan kalah dan kejahatan menang, kantong kulit lama berhasil menghancurkan anggur baru. Tapi seperti diperkirakan Yesus, kantong kulit itu pun juga lama-lama hancur setelah diisi dengan anggur baru yang terus melimpah. Marilah kita juga selalu meneruskan anggur baru Tuhan ke dalam kantong-kantong kulit tua di dunia ini yang terbuat dari kejahatan dan ketidakadilan.

Jesus the Bridegroom

Jesus the Bridegroom

Second Sunday in Ordinary Time

January 20, 2019

John 2:1-12

 

Mary who was once a bride and has passed through tiny gritty of a Jewish wedding can sense immediately something goes wrong. The wine is running out. In the Jewish context, wine is an essential ingredient in every joyous occasion, as it is ordained by God to “gladden men’s hearts” (Ps 104:15) The lack of it can spell a disastrous result. It is the source of shame, and even a family dispute.

Everyone knows that it is the responsibility of the bridegroom to provide the wine, yet Mary does something unexpected. Instead of notifying the groom, she approached Jesus and points to him the gravity of the looming disaster. However, instead of getting an immediate favorable response, the plot twists even more. In a surprising statement, Jesus says to his mother, “Woman, how does your concern affect me?” (Jn 2:4). This statement is a Semitic expression indicating that the issue at hand is not Jesus’ problem. In a sense, Jesus is right because it is the job of the groom to fix the problem, but in a much more profound sense, Mary is also right because Jesus is the true Bridegroom.

Jesus understands that He is the Bridegroom, but the hour is not at Cana, but at the Cross. Thus, He says, “My Hour has not yet come.” (Jn 2:4) Yet, Mary as a mother knows her Son best. She has faith in Jesus, that Jesus is not only the Bridegroom at the Cross who gives His life for His Bride, the Church, but Jesus is also the Bridegroom in every marriage, family, a community that reflects this Church. Thus, when Jesus transforms the water into wine, it does not happen in historical level, but in a more profoundly symbolical way. Yes, Jesus helps the couple from disaster, but more than that, He supplies what is fundamentally lacking in every marriage: the best wine, the true joy of married life.

One of my duties as a deacon is to check whether the particular couple is canonically fit for the Church’s marriage. To fulfill this, I need to interview the couple and ask some pertinent questions. Yet, I usually go beyond, and I remind them why the Church does not recognize civil marriage. The answer is plain yet very basic: Jesus, the true Bridegroom, is not there, or to be precise, we make a deliberate effort to exclude Him in our marriage. The union between man and woman is not just a human, social and cultural phenomena but a divine reality. When a man and a woman commit themselves into marriage, God Himself who wills to make them one. Therefore, marriage is primarily and fundamentally God’s grace working in the human relationship. And if God unites them together, He will be the one who sustains and brings into perfection. This is why marriage is elevated into the level of sacraments of the Church.

However, I continue reminding the couples that marriage in the Church does not only mean to celebrate the sacrament of matrimony but to stay within the Church, the Bride of Christ, throughout their lives: to attend the Eucharist as a family, to participate actively in the Church as a couple, to pray regularly together. As the wine is impossible without a jar of waters, God’s grace will not work in our marriages unless we open ourselves to this grace. Like Mary who points Jesus what is lacking in the wedding in Cana, so the Church asks Jesus to fulfill every marriage with the best wine.

 

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

KASIH ALLAH SUNGGUNG NYATA

KASIH ALLAH SUNGGUNG NYATA

Sabtu, 19 Januari 2019

KASIH ALLAH SUNGGUNG NYATA

Ibr 4:12-16

Mrk 2:13-17

Yesus bertemu dengan lewi seorang pemungut cukai dan lewi dijadikan muridNya. Yesus juga ikut makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa. Mengapa Yesus mau mengujungi mereka? Yesus memiliki tujuan, yaitu membawa mereka pada pertobatan. Pertobatan adalah penyembuhan rohani, dimana karena kasih, Yesus menganpuni dosa dan mereka melinggalkan segala dosa serta siap melakukan kehendak Allah.

Setiap pribadi berharga dihadapan Tuhan, oleh karena itu semua orang diundang untuk mengenal dan percaya kepada Nya. Manusia dengan segala kelemahan dan kerapuhannya, pada dasarnya tidak bisa hidup tanpa belas-kasih Allah, sebab kehidupan berasal dari Allah. Orang yang sadar akan siapa dirinya, akan senantiasa dekat dengan Tuhan. Sebab hanya melalui kasih Nya, manusia mendapatkan kedamaian dan keselamatan.

Karena Allah telah menerima kita apa adanya, bahkan Dia telah mengampuni dosa-dosa kita, maka sikap yang perlu ditujukkan kepada Allah adalah; syukur yang mendalam dan bersikap yang sama seperti Allah bersikap kepada kita, terhadap sesama. Oleh karena itu hidup yang dijalani menjadi kesaksian atas belas kasih Allah. Lewat kata dan perbuatan kita menghadirkan kasih Allah kepada sesama. Bagaimana menjaga agar setiap saat bisa menghadirkan kesaksian kasih Allah dalam hidup? Semua berawal dari relasi dengan Yesus Kristus yang kita jalin setiap hari. Jika kita dekat dengan Kristus maka apa yang kita lakukan akan seturut dengan kehendak Nya.

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih, kami bersyukur atas kasihMu yang tanpa syarat kepada kami orang berdosa. Ajarilah kami untuk bisa menjadi pribadi yang siap melayani dan mengasihi sesama, sama seperti yang telah Engkau lalukan kepada kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin

Translate »