Browsed by
Month: November 2019

Harga Mengikuti Yesus!

Harga Mengikuti Yesus!

Hari Rabu, Pekan Biasa XXXI

Injil Luk 14: 25-33

“Jika seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudari bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Demikian kata-kata Yesus dalam injil hari ini yang ditunjukkan kepada orang-orang yang berduyun-duyun mengikuti-Nya. 

Yesus menantang murid-murid-Nya untuk memeriksa SIAPA dan APA yang  pertama dan terutama dalam hidup mereka. Kita dapat dikuasai dan dikendalikan oleh banyak hal yang berbeda: orang, uang, kesuksesan, kekuasaan atau ketenaran. Pilihan ada di tangan kita, siapa dan apa yang akan kita layani dan ikuti.

Saudari-saudara terkasih, cinta Tuhan memaksa kita untuk memilih siapa atau apa yang akan menjadi yang pertama dan utama dalam hidup kita. Kita dapat menemukan banyak alasan mengapa mengikuti Yesus hari ini tidak mudah. Namun, tidak peduli apa pun itu (siapa dan apa), mereka masih akan tetap menjadi alasan. Jika kita bertekad untuk mengikuti dan meyakinkan diri akan panggilan-Nya, alasan akan berhenti dan pemuridan akan dimulai!

Semoga Allah mengutus Roh Kudus mengisi hati kita dan mengubah hidup kita dengan kasih dan kemurahan Allah yang meluap untuk tetap setiap dijalan kemuridan Putera-Nya. Amin

Kesiapsediaan dan Kepantasan untuk Hadir dalam ‘Pesta Perjamuan’

Kesiapsediaan dan Kepantasan untuk Hadir dalam ‘Pesta Perjamuan’

Hari Selasa, Pekan Biasa XXXI

Injil Luk 14:15-24

“Perumpamaan Pesta Perjamuan” yang Yesus kisahkan dalam Injil hari ini (Luk 14:15-24) pasti mengejutkan para pendengarnya. Coba bayangkan jika seorang raja mengundang teman-temannya ke perjamuan, mengapa para tamu menolak undangannya? Perjamuan yang hebat akan membutuhkan waktu berhari-hari untuk dipersiapkan. Dan undangan pribadi akan dikirim jauh-jauh hari kepada para tamu, sehingga mereka akan memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan pesta yang akan datang. Betapa menjadi penghinaan bagi sang raja karena tamu undangan menolak untuk datang dan merayakan pesta tersebut! Kita tahu bahwa para undangan menolak undangan sang raja karena mereka menaruh kepentingan mereka sendiri di atas permintaan raja.

Akhirnya, karena yang diundang menolak untuk datang, maka undangan diberikan kepada pihak lain. Tetapi, itu tidak berarti bahwa orang yang menerima undangan bisa seenaknya saja berperilaku dalam perjamuan. Ada aturan main yang pantas diperhatikan. Yesus memperingatkan hal itu dengan berkata, “Sebab Aku berkata kepadamu, Tidak ada seorangpun dari para undangan itu akan menikmati jamuan-Ku.” 

Saudari-saudaraku, tawaran kasih Allah mengundang orang beriman untuk ikut dalam perjamuan. Dibutuhkan kesanggupan, kesediaan secara pribadi, “ya” yang sejati untuk ikut serta dalam perjamuan. Kesanggupan seperti itu merupakan tantangan bagi setiap orang yang mau serius dengan imannya. Dietrich Bonhoeffer, seorang Pastor Jerman yang mati karena imannya di bawah penganiayaan Nazi terhadap orang-orang Yahudi dan Kristen, membandingkan anugerah yang murah dan anugerah yang mahal: “Anugerah yang murah adalah rahmat yang kita berikan pada diri kita sendiri … khotbah pengampunan tanpa membutuhkan pertobatan … kasih karunia tanpa pemuridan, kasih karunia tanpa salib… Kasih karunia yang mahal adalah Injil yang harus dicari berulang kali, karunia yang harus diminta, pintu di mana seseorang harus mengetuk. Anugerah seperti itu mahal karena memanggil kita untuk mengikuti Yesus Kristus. Itu mahal karena untuk itu mengorbankan nyawanya, dan itu adalah anugerah karena memberi manusia satu-satunya kehidupan yang benar.”

Dengan demikian, perumpamaan ini berisi peringatan baik bagi mereka yang menolak ataupun juga yang mendekati pesta perjamuan dengan tidak layak. Rahmat adalah hadiah gratis, tetapi juga merupakan tanggung jawab yang luar biasa. Tuhan melimpahkan rahmat-Nya kepada kita masing-masing untuk mendekatkan kita kepada dirinya sendiri dan Dia mengundang kita masing-masing ke ‘perjamuannya’ agar kita dapat berbagi lebih dalam sukacita-Nya. Apakah kita siap untuk menjawab “ya” terhadap undangan Tuhan Sang Empunya pesta perjamuan? Apakah kita sudah mempersiapkan diri sehingga bisa layak untuk berpesta di meja perjamuan Tuhan? 


Bahagia dengan Berbagi

Bahagia dengan Berbagi

Senin, 4 November 2019, Pekan Biasa XXXI: Rom 11:29-36; Luk 14:12-14

Peringatan Wajib Karolus Borromeus, Uskup

Injil hari ini, diambil dari Luk 14:12-14, mengisahkan bahwa Yesus diundang makan oleh seorang Farisi. Anehnya, Yesus malah menegur sang tuan rumah dengan mengatakan, “Bila engkau mengadakan perjamuan siang atau malam, janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu, atau tetangga-tetanggamu yang kaya karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula, dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.” Tetapi sebaliknya, Yesus menganjurkan tuan rumah untuk berani mengundang mereka yang miskin, cacat, lumpuh dan buta.

Saudari-saudaraku, Yesus tidak mengajarkan bahwa adalah salah untuk mengundang teman dan kerabat untuk sebuah perjamuan. Sebaliknya, Yesus mengajari bahwa si tuan rumah dan tentunya kita bukanlah orang yang murah hati dan penuh kasih jika kita hanya mengundang orang-orang yang bisa membalas budi baik kita. Apalagi jika kita mengundang mereka yang kaya dengan motif status atau karena kesuksesan mereka mungkin dapat memberikan keuntungan bagi kita di masa depan. Jelas ini adalah sebuah keegoisan dan bukan kasih. Atau bentuk lainnya, banyak dari kita suka menyimpan ‘catatan’ tentang hal-hal baik yang sudah kita perbuat untuk orang lain sehingga mereka kita harapkan dapat melakukan hal-hal yang sama untuk kita. Dengan kata lain, hubungan kita seringkali dibangun berdasarkan sistem barter dan bukannya berdasarkan cinta. 

Mari kita menguji motivasi kita, saudari-saudaraku: apakah kita sudah melayani orang lain dengan kasih? atau selama ini kita sebenarnya sedang memperalat orang yang lain melalui pelayanan kita? 

Memang kita sebagai manusia, kalau kita memberi akan memilih orang-orang yang menyenangkan, orang-orang yang memiliki rasa hormat dan yang menghargai pemberian. Sikap ini harus dirubah kalau kita hendak menjadi pengikut Kristus. Jika kita memahami bahwa cinta tanpa syarat berarti tidak mengharapkan imbalan apa pun dari orang yang dicintainya, maka kita dapat memahami apa yang Yesus maksudkan dalam Injil hari ini.  Semoga kita dengan bantuan Roh Kudus semakin mampu untuk mencintai sesama kita, seperti kita mencintai diri kita sendiri, tanpa harus melakukan barter atau bahkan memperalat mereka!

Akhirnya, setiap peristiwa yang ada dalam hidup ini adalah lembaran kehidupan yang selalu mengingatkan kita akan kasih Tuhan yang tak pernah habis untuk disyukuri! Untuk itu marilah kita juga membaginya dengan yang lain dalam wujud cinta dan bukan barter sebagai ungkapan syukur kita. Amin

Zacchaeus the Tax Collector

Zacchaeus the Tax Collector

31st Sunday in Ordinary Time [C]

November 3, 2019

Luke 19:1-10

In the time of Jesus, there are at least two kinds of taxes. The first tax goes to the Temple of Jerusalem. This is a “sacred tax”. Those who collect them are performing a sacred duty, and those who pay are fulfilling their due to God. Yet, the second tax is exacted by the Roman government. In order to effectively get the taxes, the Romans employs the local collaborators. The Jews are heavily burdened by this tax because they are unjustly hefty, and often collected by coercion. The Jews understandably loathe those Jewish tax collectors who willingly betray their own people and are involved in greedy malpractices. These are the worst sinners, unclean, corrupt and traitors.

Certainly, Joseph, Mary and Jesus as a poor family, are having a difficult time to pay taxes themselves, and perhaps, fall victims to greedy tax collectors. However, despite this bitter reality, Jesus has a different attitude towards tax collectors. He is known to be the friends of tax collectors and sinners [Mat 11:19]. He shares his table with tax collectors [Luk 5:30]. He presents the tax collector as the protagonist in his parable, while the Pharisee as the bad guy [Luk 18:9ff]. One of His disciples, Matthew, is used to be a tax collector before he leaves everything and follows Jesus.

Today, we listen to the story of Zacchaeus, not ordinary tax collector, but the chief. Despite his high position and richness, he is a small stature. Thus, people look down on him both in a physical and religious sense. Yet, Jesus does something remarkable: He takes the initiative to look upon Zacchaeus who climbs the sycamore tree, calls him by name, and gets Himself invited to Zacchaeus’ house. This is unthinkable: the God-man calls and enters the house of the number-one public enemy in town. We notice that Jesus does not perform any earth-shattering miracles, but Jesus’ simple and loving gesture touches deeply Zacchaeus’ heart. Right there and then, he repents and ready to repair the damages he causes. Jesus declares, “Today salvation has come to this house (Lk. 19:2).”

What Jesus does deeply disturb the minds of orthodox Jews who prefer to distance themselves from the sinners, to avoid the contamination. Thus, they jeer at Jesus. Yet, Jesus takes the opposite direction: to enter the house and share a table even with the worst kind of sinners, chief tax collector, for one reason: “For the Son of Man has come to seek and to save what was lost.” (Lk. 19:10).

The Gospel offers us two attitudes towards our brothers and sisters who are struggling in their lives. We can choose whether like the crowd, to distance ourselves, and let them rot in hell, and even discourage any effort to embrace them, or like Jesus to takes the initiative to help them, even with simple gestures. It is true that when we open ourselves, there is no guarantee that our effort will be successful, and sometimes, we will get betrayed and hurt. Mother Teresa of Calcutta took care hundreds of homeless, but some of them turned against her and threw nasty gossips, and yet Mother Teresa continued to serve till the end of her life. Jesus has made His choice, so also many of His followers, now the choice is ours to make.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman

Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman

Sabtu Pekan Biasa XXX, 2 November 2019

Bacaan I: Makabe 12:43-45; Kor 15:12-34; Yoh 6:37-40)

Menjadi sehati sepikir dengan Yesus

Perjalanan hidup setiap orang di dunia ini pada suatu ketika akan berhenti. Semua orang tanpa terkecuali akan sampai pada yang namanya kematian. Kematian bagi orang yang tidak percaya Tuhan adah kesia-siaan. Bagi yang mengimani Tuhan kematian adalah jalan untuk bertemu dengan Tuhan dari wajah ke wajah. Dan kematian bagi orang Katolik bukanlah akhir dari segala-galanya, sebaliknya merupakan sebuah peralihan dari hidup yang fana menuju hidui yang abadi.

Hari ini bersama seluruh gereja kita mengenang semua arwah orang beriman, secara khusus kita mendoakan keluarga kita (orang tua, saudara/i, para leluhur), teman, kenalan, saudara-saudara kita yang dilupakan oleh keluarga mereka yang telah menghadap Tuhan. Bagi keluarga dan saudara-saudara kita kita yang masih di api penyucian, doa-doa dan perayaan ekaristi sangat penting bagi mereka karena dengan bantuan doa-doa kita mereka semua boeh diperkenan oleh Tuhan masuk dalam kemuliaan bersama dengan para Kudus di Surga.

Injil hari ini ditegaskan bahwa Allah sendiri menghendaki agar semua orang yang percaya atau beriman kepadaNya dibangkitkan pada akhir zaman. Yesus sendiri menjamin bahwa mereka yang telah diberikan Bapa kepadaNya tidak ada yang hilang. Sebuah harapan yang meneguhkan manakala kita Imani Yesus. Satu syarat untuk beroleh hidup kekal dan dibangkitkan pada akhir zaman adalah melihat Anak dan percaya kepadaNya. Dengan kata lain Iman kita yang aktif dan berbuah dalam mengikuti Yesus membawa kita kepada keselamatan yang dijanjikan Tuhan.

Iman seperti apa yang harus kita tumbuhkan? Bagi kita yang masih berziarah di dunia ini, kita masih mempunyai kesempatan untuk bertumbuh dalam iman akan Yesus. Beriman kepada Yesus berarti berusaha untuk mempunyai hati dan pikiran seperti Yesus. Kalau dunia modern sering membuat kita mengikuti gaya hidupnya, kenapa gaya hidup Yesus tidak bisa menjadi gaya hidup kita? Iman kita harus bertumbuh, berkembang dan berbuah, dan buahnya harus dinikmati oleh orang lain. Buah iman adalah kasih, kerendahan hati, mau memaafkan/mengampuni, sabar dsb. harus menjadi pola hidup kita. Kita percaya kalau gaya atau cara berpikir kita seperti Yesus, kita tidak perlu cemas dan takut untuk menghadapi kematian. Kematian malah dilihat sebagai kesempatan yang diberikan Tuhan untuk bertemu dengan DIA secara nyata.

Semoga dalam perayaan pengenangan arwah orang beriman membantu kita semua untuk menggunakan setiap kesempatan sebagai sesuatu peluang dalam berbuat baik dan juga peluang untuk mempraktekan iman kita dengan benar dan menghasilkan banyak buah yang dapat menyelamatka orang lain. Mari kita buka diri kita kepada Allah Roh Kudus agar kita kita dapat dituntunNya dan melakukan segalanya tidak dengan kekuatan sendiri tetapi kekuatan yang berasal dari Tuhan sendiri.

Translate »