Browsed by
Month: December 2019

Like John the Baptist

Like John the Baptist

2nd Sunday of Advent [A]

December 8, 2019

Matthew 3:1-12

John the Baptist is a prominent figure in four Gospels, and he powerfully appears before Jesus begins His public ministry. But, who is this John the Baptist? His name is simply John, and the Church calls him the Baptist to distinguish him from other John in the Bible like John the son of Zebedee, one of Jesus’ disciples. John the Baptist is the miracle son of Zacharia and Elizabeth in their old days. And since Elizabeth and Mary, the mother of Jesus, are relatives, John and Jesus are closely related to each other.

Certainly, there is something strange about this John. He is eating locust and honey. Surely, it is an exotic food, but we need to remember he is living in the desert, and this kind of food is common. He is wearing clothing made of camel’s hair and a leather belt around his waist. It is just a fashion statement or he has nothing to wear. John’s clothing reminds us of the things Prophet Elijah wore in his time [see 1 Kings 1:8]. John is presenting himself as a prophet, and not any prophet, he is the new Elijah. The appearance of Elijah is an important sign of the imminent coming of the Messiah [Mal 4:5].

One thing for sure about John is that he becomes very popular, and people from all over the country come to him, to listen to his preaching and to be baptized as a sign of repentance. Yet, despite the great number of followers, he remains true to his mission. He is preaching on the coming of someone who is much greater than him, even he declares that “is unworthy to carry His sandals.” He is God’s instrument in fulfilling the prophesy, and he has a specific role to play.

Now, we know a little background about John the Baptist, what will be next for us? Certainly, we are not called to follow him in wearing clothing made of camel’s hair or to eat locust everyday, but we are to prepare the way for the coming of the Savior. How? Some of us are called literally to baptize people like myself. Some are commissioned to preach and educate people. Yet, all of us are to live a life of repentance. The repentance has to be alive and penetrating all aspects of life. The word used by John in Greek is “metanoiete” and it does not simply mean “repent!” but more precisely, “keep repenting!”

The first stage of repentance is certainly turning away from sinful life, but it is more than that. Repentance is not about one-done-deal action, but a life-long process. The word “Metanoia” is coming from two words, “meta” meaning “changing” and “nous” meaning “mind”; Thus, “metanoia” means changing of mind, changing of the way we see life and the way we live. Our mind is no longer earth-bond, but fixed into God. The transformation is not from sinful life to a good life, but a life that is even closer to God. It implies changing of priority. Do we make God as our priority? It entails holiness. Do we do things that are pleasing to God? This presupposes love of God. Do we love God more than other things, or do we love other things more than Him?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabtu Pekan Adven I 2019

Sabtu Pekan Adven I 2019

Bacaan: Yesaya 30:19-21,23-26; Matius 9:35-10:1,6-8

Dalam bacaan Injil hari ini, kita menjumpai pribadi Yesus yang selalu tergerak dan memiliki hati yang penuh belas kasih kepada umat Allah yang terlantar, tersesat dan sakit. Untuk itu, Dia memberikan kuasa dan perintah kepada para murid-Nya untuk memberitakan kabar baik (Kerajaan Allah) serta melayani umat Allah dengan penuh cinta tanpa pamrih. Hal ini karena Yesus sendiri telah memberikan kepada mereka rahmat dan sukacita berlimpah tanpa menuntut balasan apa-apa.

Masa Adven sebagai masa penantian adalah masa yang tepat untuk mengenali hati Yesus yang penuh cinta dan belas kasihan. Kedatangan Yesus ke dunia adalah sebuah sukacita yang besar bagi dunia. Karena itu, hendaknya kita selalu siap untuk memberitakan kabar gembira melalui perhatian yang tulus terhadap sesama, terutama mereka yang lemah, sakit, terpinggirkan dan tertindas. Hendaknya kita sadar bahwa kehidupan yang kita alami adalah sebuah rahmat yang diberikan Tuhan secara gratis kepada kita. Maka dari itu, hendaknya kita selalu berjuang untuk memiliki hati seperti Yesus yang selalu tergerak untuk mengulurkan tangan tanpa pamrih bagi sesama yang membutuhkan. Sikap hidup iman seperti ini akan membuat orang mendapatkan anugerah istimewa berupa rahmat yang melimpah dalam hidup kita. Maka dari itu, hendaklah setiap rahmat yang kita terima, kita syukuri dan kita bagikan kepada orang lain, agar orang lain pun juga terberkati seperti kita.

Jumat Pekan Adven I 2019

Jumat Pekan Adven I 2019

Bacaan: Yesaya 29:17-24; Matius 9:27-31

Bacaan injil hari ini sangat menarik untuk kita renungkan. Dua orang buta yang memohon kesembuhan, mendapatkan jawaban positif dari Tuhan. Apa kira-kira kunci utama yang dapat membuat orang buta itu melihat kembali? Jawabannya ada pada ungkapan mereka: “Ya Tuhan, kami percaya!” Kepercayaan/iman inilah yang mengubah segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Iman atau kepercayaan yang dimiliki 2 orang buta ini tidak hanya berhenti pada ungkapan verbal saja. Mereka berdua telah membuktikan dan memperjuangkan imannya melalui tindakan: Mencari tahu / informasi tentang siapa Yesus dan bagaimana kuasanya (bertanya). Membuka telinga lebar-lebar terhadap Yesus. Dan berteriak / ngomong / minta tolong kepada Yesus. Di sini, ditampakkan bahwa iman menuntut perwujudan konkret dari orang yang bersangkutan.

Pengalaman 2 orang buta tersebut menjelaskan kepada kita bahwa iman/kepercayaan memegang peranan yang besar dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup. Dengan iman, segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tidak ada yang mustahil di hadapan iman. Trus, kadang-kadang ada umat yang bertanya: “Romo, saya sudah menyerahkan segala persoalan hidup saya kepada Tuhan dengan penuh iman, tetapi kok nggak pernah membawa kelegaan atau ketenangan ya?” Berserah kepada Tuhan tidak sama dengan melemparkan masalah kepada Tuhan, sehingga kita menjadi lega karena terbebas. Tidak! Berserah kepada Tuhan dengan penuh iman artinya: kita berani menghadapi persoalan / permasalahan hidup kita itu bersama Yesus. Persoalan hidup itu ada untuk dihadapi dan bukan untuk hindari. Seperti 2 orang buta tadi, mereka percaya, namun mereka mau menghadapi persoalan hidupnya dengan cara: BERTANYA, MEMBUKA TELINGA TERHADAP YESUS DAN MEMINTA TOLONG KEPADA YESUS.

Melalui perikop hari ini, kita diajak untuk semakin percaya dan beriman kepada Allah dalam menyongsong kelahiran Yesus Kristus sang Juru selamat. Marilah kita bersyukur kepada Allah, sebab Yesus masih mempunyai banyak tangan yang siap menggandeng kita menghadapi persoalan-persoalan hidup ini. Serahkankanlah perjuangan dan persoalan hidup kita kepada Allah dan hadapilah bersama dengan Dia.

Kamis Pekan Adven I 2019

Kamis Pekan Adven I 2019

Bacaan: Yesaya 26:1-6; Matius 7:21. 24-27

Terkadang kita menjumpai ada saudara/saudari kita yang hidup doanya kenceng banget (Rosario setiap hari, misa harian rajin, doa lingkungan tidak pernah absen dst) tetapi ketika kesulitan atau penderitaan datang menghampirinya, ia mudah sekali lari meninggalkan Tuhan. Ada apa ini? Adakah yang salah dengan caranya berdoa mereka? Apakah ia punya dosa warisan? Ataukah ia kurang rajin lagi dalam berdoa? Semua pengandaian itu salah!

Seringkali kita merasa puas dan tenang ketika telah melaksanakan kewajiban-kewajiban keagamaan kita atau bahkan berbangga diri, pada saat mampu melampaui kewajiban-kewajiban tersebut. Perasaan itu sah-sah saja. Sebab kita manusia memang boleh berbangga dengan pencapaian yang dapat kita buat. Namun demikian, Injil hari ini mengajak kita untuk lebih masuk lagi ke kedalaman iman kita. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” ay 21. Maksudnya, hidup doa dan kewajiban-kewajiban keagamaan kita memang penting untuk membangun relasi yang lebih erat dengan Allah. Namun yang tak kalah pentingnya adalah perwujudan dari tindakan kultis tersebut. Kalau kita mau jujur, setiap kali kita berdoa dan memohon, Tuhan selalu mengajak kita untuk melakukan tindakan konkrit dalam hidup kita. Entah itu memaafkan teman sekerja kita, entah itu ajakan untuk lebih murah hati terhadap sesama, ajakan untuk setia kepada pasangan, tidak menaruh dendam pada orang lain yang berbuat salah dst. Nah… kalau ajakan-ajakan Tuhan ini belum kita laksanakan, artinya kita belum: “Mendengar perkataan Tuhan dan melakukannya.” Oleh karena itu, jangan heran apabila iman orang yang demikian mudah “roboh” karena tidak mendasarkan imannya dengan baik.

Hari ini kita diajak untuk berlaku bijak, dengan melandaskan hidup beriman kita pada, “Mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah.” Semoga kita tidak mudah diombang-ambingkan kesulitan dan penderitaan hidup ini, karena kita telah meletakkan fondasi iman kita dengan benar.

Rabu Pekan Adven I 2019

Rabu Pekan Adven I 2019

Bacaan: Yesaya 25:6-10a; Matius 15:29-37

Berbicara soal selera, hal itu tidak dapat diperdebatkan karena kepuasan lidah masing-masing orang itu berbeda. Orang Solo dan Jogja umumnya suka masakan yang manis, orang Batak dan Padang umumnya suka masakan yang pedas, orang Jakarta atau Flores biasanya suka yang asin-asin. Kelezatan dan kenikmatan lidah memberikan kepuasan tersendiri bagi orang yang suka berwisata kuliner.

Kepuasan pesta orang Timur Tengah tampak dalam bacaan pertama hari ini. Tuhan akan menyediakan suatu perjamuan yang luar biasa lezat dan nikmat. Itulah suatu perjamuan “Dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya”. Pesta perjamuan yang diselenggarakan Tuhan itu mau mengungkapkan sukacita pada jaman kedatangan Mesias. Bacaan Injil hari ini juga melukiskan sukacita yang berlimpah dari orang-orang yang tadinya berkabung dan menderita karena telah berjumpa dengan Yesus Sang Mesias. Yesus menyembuhkan orang dari berbagai macam penyakit. Dan bahkan Yesus pun menyediakan suatu perjamuan pesta yang luar biasa, saat ia menggandakan roti untuk memberi makan ribuan orang.

Pada masa Adven ini, kita bersama-sama menantikan Sang Mesias yang membawa sukacita bagi hidup kita. Kedatangan-Nya ditandai dengan sukacita karena terjadinya pembebasan dan kelimpahan rezeki lahir batin. Tanpa kita sadari, sebenarnya hidup kita setiap hari telah dikunjungi oleh Sang Mesias dengan aneka macam kelimpahan rezeki lahir batin, pembebasan dari bahaya dan juga kedamaian yang kita temukan dalam keluarga kita masing-masing. Semoga kita dimampukan untuk menyadari kehadiran Mesias dalam hidup kita setiap hari yang barangkali amat sederhana sekalipun. Semoga berkat yang telah kita terima, mendorong kita untuk mampu membagikannya kepada sesama kita sehingga akan semakin banyak orang yang mengalami kehadiran sang Mesias dan terberkati. Rahmat Tuhan senantiasa membantu kita.

Translate »