Browsed by
Month: July 2020

St. Maria Magdalena

St. Maria Magdalena

John 20:1-2. 11-18.

Ungkapan Latin: “Nomen es omen”, artinya “nama adalah tanda”. Kita masing-masing memiliki nama. Di balik nama seseorang ada arti, makna tertentu bagi orang itu.

Hari ini kita merayakan salah satu orang kudus di dalam Gereja dengan nama Maria Magdalena.

Injil memberi tahu kita bahwa ia adalah seorang wanita pendosa, darinya Yesus mengusir keluar tujuh setan. Maria yang berarti Maestra, merujuk pada Gereja sebagai Bunda bagi semua orang; dan Magdalena yang dalam bahasa Yunani berarti “menara” (St. Bede), adalah saksi pertama Kebangkitan Kristus dengan credonya: “Aku telah melihat Tuhan”.

Perayaan hari ini mengingatkan kita bahwa kita semua adalah orang-orang berdosa yang selalu dalam pencarian akan Tuhan. “Maria” adalah suara Sang Juruselamat.

Di balik kesedihan dan dukanya, Tuhan memanggil namanya untuk bangkit. Untuk keluar dari kubur kesedihan dan keputusasaan. Inilah suara yang membawa sukacita dan damai. Suara kebangkitan. “Maria” adalah suara Tuhan yang memanggil dan mendapatkannya kembali.

Pencarian Maria Magdalena adalah pencarian kita semua akan hidup, yakni Tuhan itu sendiri.

Kita berdoa terutama pada masa-masa krisis ini agar kita tidak pernah putus asa melainkan selalu menaruh harapan akan Tuhan sumber kebenaran dan sukacita sejati.

Dalam Yesus kita bersaudara

Dalam Yesus kita bersaudara

Mat 12:46-50

Renungan ini saya beri judul: “Dalam Yesus kita bersaudara.” Kita tentu ingat bahwa lagu ini sangat populer terutama untuk kalangan anak-anak di sekolah minggu. Syairnya sama dan diulang-ulang: “Dalam Yesus kita bersaudara…. sekarang dan selamanya.”

Lagu di atas mengingatkan kita akan bacaan Injil yang kita renungkan hari ini yang pada intinya berbicara tentang persaudaraan sejati: “Siapa pun yang melakukan Kehendak Bapa-Ku di Sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah Ibu-Ku.”

Makna persaudaraan ini melampaui ikatan-ikatan kekeluargaan, ras, budaya dan agama. Kendati demikian, ia sama sekali tidak menghilangkan atau menyangkal setiap keunikan yang melekat pada masing-masing pribadi melainkan diberinya arti baru oleh rahmat Ilahi melalui kesetiaan iman dan kasih yang benar akan Allah.

Kehendak Bapa adalah misteri Ilahi dan abadi yang menjadi makna tertinggi dan pusat pencarian jiwa-jiwa akan kebenaran. Inilah rahasia keselamatan Allah di mana kuasa dan kebijaksanaan-Nya menarik kita untuk masuk ke dalamnya agar sampai kepada kemuliaan dan kesempurnaan Ilahi.

Santu Paulus memanggil Allah sebagai Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang melalui sengsara, salib dan kebangkitan-Nya membuka secara terang-benderang makna keselamatan kita (Kol 1:3). Dan Santu Yohanes menulis: “Tak seorang pun datang kepada Bapa kecuali melalui Aku (14:6). Yesus sendiri berdoa dan berbicara kepada Bapa sebagai wahyu dan kebenaran untuk kita: “Siapa yang melihat Aku melihat Bapa” (Yoh 14:9).

Menjadi sahabat-sahabat Yesus adalah suatu anugerah sekaligus suatu panggilan untuk hidup secara baik dan benar di hadapan Allah. Semakin dekat dan mencintai Yesus bukan berarti bebas dari segala tantangan. Tapi dengan Yesus, tantangan itu pasti bisa dilalui. Semoga panggilan ini sebagai saudara Yesus selalu dijaga dan dirawat agar dapat menghasilkan buah-buah rohani yang baik bagi kerajaan-Nya. Dan semoga persaudaraan itu abadi selamanya. Amen.

Melihat tanda-tanda zaman dengan mata iman

Melihat tanda-tanda zaman dengan mata iman

Mt 12:38-42: 38

Di dalam Injil hari ini, Matius menampilkan kisah tentang orang-orang Yahudi yang meminta tanda dari Yesus.

Yesus menolak memberi tanda dan hanya memperingatkan mereka akan tanda Yunus, nabi dan utusan Allah bagi orang-orang Niniveh. Orang-orang ini, kendati dianggap jauh dari Allah, namun mereka mendengarkan kotbah Yunus, bertobat dan diselamatkan.

Demikian juga dengan Ratu dari Selatan, yang rela meninggalkan segala kesibukan dan kerajaannya demi mendengarkan kebijaksanaan Allah yang datang melalui nabinya, Salomon, simbol perdamaian yang diberikan Allah kepada bangsanya.

Yesus berkata bahwa yang ada di sini dan bersama mereka bahkan “lebih besar dari Salomo.”

Dalam terang Injil hari ini, kita barangkali bertanya: Tanda-tanda apakah yang sedang terjadi di dalam dunia kita saat ini?

Kita berhadapan dengan kejadian-kejadian tidak biasa. Banyak orang mati karena pandemic virus yang menjangkau seluruh dunia. Banyak orang begitu menderita karena penyakit, karena kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, anak-anak tidak bisa bersekolah, dll.

Tanda-tanda apakah ini yang Tuhan berikan?

Kiranya kita selalu sadar bahwa sebagai orang beriman kita tidak pernah sendirian. Tuhan selalu hadir bersama dengan kita.

Tuhan memberikan kita firman-Nya untuk kita baca dan renungkan, sebagai inspirasi yang menyegarkan dan menguatkan jiwa, kebijaksanaan dan kasih akan Tuhan dan sesama.

Kita juga diberikan sakramen-sakramen, di dalam pembaptisan, pertobatan dan Ekaristi. Kendati saat ini perayaan-perayaan sakramen dibatasi, namun kita harus bersyukur karena masih ada celah dan ruang yang Tuhan berikan kepada kita untuk merayakannya bersama keluarga dengan pelbagai pembatasan dan kehati-kehatian.

Tuhan berjanji akan terus dan selalu menyertai kita, Gereja-Nya, terutama di saat-saat di mana kita tidak berdaya, krisis dan sangat membutuhkan kehadiran dan pertolongan-Nya.

Tanda yang terbesar adalah kebangkitan-Nya sendiri. Seluruh kehadiran-Nya di dalam sejarah. Semua ajaran dan mukjizat dan Roh-Nya. Ia adalah Tuhan yang menderita agar kita hidup. Seperti Nabi Yunus yang tinggal di dalam perut ikan, Tuhan tinggal di dalam perut bumi, menjadi tanda yang menyelamatkan semua yang menderita, namun percaya dan berharap akan kasih dan pengampunan Bapa.

Mari merendahkan dan membuka hati kita bagi kehadiran-Nya, agar bisa mendengarkan firman-Nya, menangkap pesan dan makna-Nya dan menghayatinya dalam hidup dan karya kita.

Wheat among weeds

Wheat among weeds

16th Sunday in Ordinary Time [A]

July 19, 2020

Matthew 13:24-43

The parable of the wheat and weed is one of a kind. If we survey the details, we are supposed to raise our eyebrows. Firstly, if you become a person who will destroy your opponent’s field of wheat, you know that there are several other effective ways to accomplish that. We can simply set a small fire on the wheat, and the entire field will eventually turn to be an inferno. But, the enemy chose unorthodox tactic: to sow seeds of weed during the planting period. While the weed may disturb the growth of the wheat, they will not sufficiently damage and stop the harvest.  So, what is the purpose? What is surprising is that the decision of the field’s owner. When he was notified about the presence of the weed, he immediately knew the culprit, and instead to act promptly and protect their wheat, he decided to allow the weeds to thrive among his wheat.

As expected, the disciples were puzzled by the parable, and when the disciples asked the meaning of this parable, they found another mind-blogging answer. The owner of the field is God Himself and He allowed the children of the evil one to grow among the children of God both in the world and in the Church. Yes, God allows that! He allows His children will not have a smooth journey and growth in the world. God allows His children to be harassed, bullied, and even persecuted by the evil one. God allows His children to experience trials and difficult moments. The question is why?

We may take the cue from St. Paul. He once magnificently wrote, “We know that all things work together for good for those who love God, who are called according to his purpose [Rom 8:28].” God allows bad things to happen because these are for our good! What kind of goodness why we may ask? From our human perspective, perhaps it is nothing but absurd, but from His vantage point, things fall into its proper places.

Jesus invites us to call God as Father, and letter to the Hebrews reminds us, “for the Lord disciplines those whom he loves, and chastises every child whom he accepts [Heb 12:6].” Trials and difficulties are God’s pedagogy toward whom He loves. As parents, we know care and discipline have to work hand in hand. We are well aware that true discipline is also a way of loving. If we want our children to succeed in their lives, we need to teach them to delay their gratification. We allow them to experience pain and difficulty first before we give them a reward. My parents used to ask me to study and finish their homework first before I could enjoy watching television. It resulted not only in good grades, but also my acquired habit not to run from problems, but to endure it.

I do believe that it is also the same as our Father in heaven. He loves us by allowing us to endure the pain in this world so that we may truly appreciate the spiritual gifts. Allow me to end this reflection, by quoting St. Paul, “We also boast in our sufferings, knowing that suffering produces endurance, and endurance produces character [as children of God], and character produces hope,and hope does not disappoint us..” [Rom 5:3-5]

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

TERUS BERJUANG

TERUS BERJUANG


Matius 12:14-21
Setiap orang berjalan ditengah-tengah dunia yang keras. Oleh karena itu
setiap orang tidak ada pilihan lain kecuali berjuang. Jika orang tidak berusaha dan
berjuang, maka tidak akan mendapatkan apa-apa. Dalam hidup rohanipun juga
demikian, untuk bisa mencapai kesucian dan kesempurnaan hidup, setiap harus
berjuang untuk bisa setia mengikuti Kristus. “Saudara-saudaraku yang kekasih,
sementara bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang
keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu
dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman
yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.”(Yudas 1:3).
Sebagai manusia yang sedang berjuang, tidak ada satupun orang yang tidak
pernah jatuh. Setiap orang punya pengalaman jatuh, namun sebagai orang yang
mau berjuang, pengalaman jatuh dalam kelemahan bukan akhir dari segalagalanya. Yesus datang untuk memberi harapan bagi orang-orang berdosa. “Bukan
orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk
memanggil orang benar, melaikan orang berdosa.”(Mrk 2:17). Oleh karena itu
setiap orang diundang-Nya untuk datang, agar menerima Kembali harapan dan
semangat untuk hidup lebih baik. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan
berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:28).
Dengan demikian, kehadiran Kristus bukan melemahkan tetapi menguatkan,
bukan untuk menghukum tetapi menyelamatkan, dan bukan mematikan tetapi
menghidupkan dan memberi harapan. “Buluh yang patah terkulai tidak akan
diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya,
sampai Ia menjadikan hukum itu menang.”(Mat 12:20). Oleh karena itu, ketika
seseorang percaya kepada Kristus dan tinggal di dalam kasih-Nya, ia tidak akan
pernah kekurangan harapan, damai dan kasih.
Yesus ingin setiap orang yang menyadari bahwa hidup bukan lagi menjadi
beban, karena Dia telah datang. Di dalam Dia, manusia mendapatkan harapan,
keselamatan dan kehidupan kekal. “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melaikan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3;16).

Translate »