Browsed by
Month: July 2020

CARILAH KERAJAAN ALLAH

CARILAH KERAJAAN ALLAH

Jumat, 17 Juni 2020

Matius 12;1-8
Apa yang dikehendaki oleh Allah? Jawaban atas pertanyaan tersebut
sekaligus merupakan kahekat Allah dan juga tujuan hidup manusia. “Jika memang
kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan
persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.(Mat
12:8).Tidak sedikit orang berpandangan bahwa dengan aturan-aturan agama yang
ketat orang bisa bertemu dengan Tuhan. Aturan-aturan ketat belum tentu
membuat seseorang hidup baik, jika hatinya jauh dari Allah.
Tanda jika seseorang jauh dari Allah, dan bahkan ia tidak kenal siapa Allah
itu, yaitu jika ia jauh dari sikap dan tindakan ”KASIH”. Mengapa? Karena Allah
adalah kasih, maka jika orang tidak berbelas kasih, maka ia tidak mengenal Allah.
“saudara-saudaku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu
berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal
Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah
kasih.”(1 Yoh 4:7-8).
Kasih adalah Allah. Dia ditemukan dalam diri setiap pribadi manusia, karena
manusia berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu jika orang
saling mengasihi, di sana Allah hadir dan ia hidup di dalam dan bersama dengan
Allah. “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah
adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam
Allah dan Allah di dalam dia.”(1 Yoh 4:16).
Karena Allah adalah kasih, maka jalan untuk sampai kepada-Nya adalah kasih
itu sendiri. Oleh karena itu Yesus sangat mendorong para murid-Nya agar mereka
berbelas kasih kepada sesamanya, dan mengasihi Allah dengan seluruh
kekuatannya. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama
dan yang pertma. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung
seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”(Mat 22:37-40).
Ketika kasih tinggal di dalam diri seseorang, Allah tinggal di dalam dirinya dan
buah dari sana adalah damai sejahtera dan keselamatan. Itulah yang perlu menjadi
fokus hidup setiap orang, agar Kerajaan Allah hadir dan semua orang hdup damai
dan dunia pun juga akan damai. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan
kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”(Mat 6:33).

BELAJAR UNTUK JUJUR

BELAJAR UNTUK JUJUR


Matius 11:28-30
Allah mengenal dan mengetahui bagimana kondisi dan pergulatan hidup
masing-masing orang. “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di
hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang
kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. “(Ibrani 4:13). Allah
tahu juga apa yang menjadi persoalan hidup manusia, bahkan juga semua
kelemahan dan dosa-dosanya. Oleh karena itu, dihadapan Tuhan Allah, semua
orang tidak bisa menyembunyikan dirinya.
Karena Allah tahu semua yang ada dalam diri setiap orang, maka sikap yang
perlu dibangun adalah jujur dihadapan-Nya. Jika seseorang masih berusaha
menyembunyikan diri, hal tersebut tidak ada gunanya, karena Allah sudah tahu
semuanya. Kejujuran adalah tanda kerendahan hati seseorang. Ketika ada
kerendahan hati, maka seseorang akan dengan gembira menyambut undangan
Kristus untuk datang kepada-Nya. “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan
berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:28).
Dengan demikian, semua orang bisa datang kepada-Nya, jika ia memiliki
kerendahan hati, dengan mau bersikap jujur kepada Tuhan. Tidak sedikit orang
yang kesulitan melakukannya. Apa yang menghalanginya? Seseorang sulit bersikap
jujur karena ingin selalu tampak baik dihadapan semua orang. Ia berpendapat
harga dirinya lebih penting dari nilai-nilai kebenaran; kejujuran dan kerendahan
hati. Akan tetapi sebelum seseorang bisa bersikap jujur dihadapan Tuhan, ia tidak
akan bisa menyambut-Nya. “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab
aku menanti-nantikan Engkau.”(Mzm 25:21).
Seseorang bisa bersikap tulus, jujur dan rendah hati dari Kristus. “Pikullah
kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah
hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”(Mat 11:29). Perjalanan hidup
seseorang akan terasa ringan dan damai, ketika berjalan bersama dengan Kristus,
sekalipun harus menghadapi banyak kesulitan dan persoalan hidup. Orang yang
dekat dengan Tuhan, akan bisa lihat semua realita sebagai peristiwa iman, karena
Kristus membantunya untuk mengerti dan memberi makna disetiap hal yang ia
hadapi.”Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, Aku memimpin engkau di jalan
yang lurus. Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engaku
berlari engkau tidak akan tersandung.”(Amsal 4:11-12).

SIAPAKAH YANG BISA MERASAKAN KEHADIRAN TUHAN

SIAPAKAH YANG BISA MERASAKAN KEHADIRAN TUHAN

Rabu, 15 Juli 2020

Matius 11:25-27
Banyak orang ingin melihat tetapi tidak melihatnya dan banyak orang yang
ingin mendengar dan mengalami kehadiran Allah, tetapi juga tidak bisa
mendengarkan dan mengalami-Nya? Lalu siapa yang bisa melihat, mendengar dan
mengalami kasih Tuhan? Semua itu akan tersembunyi bagi orang yang tidak
percaya kepada Yesus dan lebih percaya pada kecerdasan dan pengetahuannya
(harta duniawi). “Aku bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena
semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi
Engkau nyatakan kepada orang kecil.”(Mat 11:25). Mengapa mereka sulit atau
bahkan tidak bisa menangkap dan merasakan kasih Tuhan? Karena hatinya
tertutup oleh pemikiran dan kesombongannya dan bukan karena hal-hal yang lain.
Kemudian, siapakah yang layak menerima Kristus? Yaitu mereka yang
merasa tidak layak dihadapan Tuhan. Mereka yang merasa kecil dan rendah
dihadapan Allah. Mereka adalah orang-orang yang merasa haus, dan rindu oleh
belas kasih Allah. “Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan
orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin
mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”(Mat 13:17). Oleh
karena itu, apa yang menjadi kebanggaan orang-orang dunia dewasa ini, belum
tentu bisa merasakan damai sejahtera dari Allah.
Apa yang menjadi kebanggaan orang-orang dewasa ini dan jika orang salah
menempatkannya, bisa menjadi penghalang baginya untuk melihat dan mengalami
kasih Tuhan, yaitu uang. “Semua itu didengar oleh orang-orang Farisi, hambahamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka:
“Kamu mebenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab
apa yang dikagumi menusia, dibenci oleh Allah.”(Luk 16:14-15). Orang-orang yang
menjadi hamba uang, biasanya merasa lebih baik, lebih bijak, lebih pandai dll, dari
orang lain. Saat seseorang merasa lebih dari yang lain, maka ia jatuh dalam sikap
sombong. Oleh karena itu erat sekali hubungannya antara “harta duniawi” dengan
kesombongan.
Oleh karena itu, setiap orang jika ingin sungguh-sungguh dekat dengan
Kristus, ia harus menyangkal diri dan mengosongkan dirinya, sama seperti seorang
hamba di hadapan Tuhan. “Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang
yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan
mengikut Aku.”(Mat 16:24)

KASIH ALLAH TERHALANG OLEH KESOMBONGAN

KASIH ALLAH TERHALANG OLEH KESOMBONGAN

Selasa, 14 Juli 2020

Matius 11:20-24
Ketika Yesus hadir ke dunia, Dia membawa misi untuk menyelamatkan manusia. Mengapa manusia perlu diselamatkan? Karena manusia sudah terperosok sangat dalam di dalam dosa. Dimulai oleh Adam yang jatuh dalam dosa dan seterusnya berulang kali manusia jatuh dalam kelemahan dan dosa. Akibat dosa tersebut manusia terpisah dari Allah dan manusia ada dalam bahaya maut. Yesus datang dari Allah turun ke dunia menyelamatkan manusia dengan pengorbanan di atas kayu salib. ”Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena penganggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya, yang dilimpahkan -Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.”(Rom 5:15).
Dengan berbagai cara Yesus meyakinkan kepada manusia agar mereka bertobat, kembali kepada Allah dan percaya kepada Yesus penyelamat. Cara yang dipakai untuk menyakinkan kepada manusia agar mereka kembali kepada Allah dengan cara hadir; mengajar, mengadakan banyak mujizat, dan puncaknya Dia berkorban di atas kayu salib untuk penebus dosa-dosa manusia. Dari atas kayu salib, Yesus berdoa untuk manusia yang menghianati cinta-Nya. “ Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”(Luk 23:34).
Apa yang telah dilakukan Yesus semata-mata untuk keselamatan manusia. Akan tetapi sebagian orang juga sulit menangkap dengan segala kasih dan kebaikan yang telah dilakukan Yesus untuk manusia. Penduduk Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum tidak percaya dan tidak mau bertobat, sekalipun di kota-kota tersebut, Yesus sering mengadakan mujizat. Yesus prihatin dan menegur mereka. “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.”(Mat 11:21).
Persoalannya adalah mereka menolak Yesus karena hati masih tertutup untuk Yesus. Hati tertutup karena banyak hal lain yang lebih menarik dan penting dari pada keselamatan jiwa mereka dan tawaran kasih dari Tuhan Yesus. Itulah bukti bahwa manusia sering kali bersikap sombong dan hal itu menjadi penghalang untuk bisa melihat segala kebaikan dan cinta Tuhan. Oleh karena itu agar seseorang siap menerima kasih Tuhan perlu kerendahan hati. “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu”(Yakobus 4:10).

CARILAH KERAJAAN ALLAH

CARILAH KERAJAAN ALLAH

Senin, 13 Juli 2020

Matius 10:34-11:1

Siapakah sanggup mengikuti Kristus? Mereka yang menjadi murid Kristus adalah orang yang telah menerima Kristus sebagai pusat hidupnya. Menjadi pusat berarti segala sesuatu bersumber dan mengalir dari Kristus, sehingga apa yang dipikirkan, dikatakan dan yang dikerjakan sesuai dengan kehendak Kristus. Dia benar-benar manjadi jalan, kebenaran dan hidupnya (Yoh 14:6). Dengan demikian Kristus ditempatkan diatas segala-galanya, bahkan juga diatas kepentingin diri sendiri.
Tantangan pertama sebagai murid Kristus adalah menghadapi dirinya sendiri. Setiap orang memiliki keinginan-keinginan sementara itu keitka ia mengikuti-Nya, semua yang menjadi keinginannya harus disesuaikan dengan nilainilai Kerajaan Allah atau nilai yang diajarkan oleh Kristus: kebenaran, keadilan, cinta kasih, kejujuran, kerendahan hati, tahu batas, dan hidup dalam pengharapan. Maka yang menjadi fokus hidupnya sekarang adalah Kerajaan Allah dan kebenarannya. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”(Mat 6:33-34).
Perjuangan seorang murid Kristus adalah terus menerus memperbaharui diri seturut dengan kehendak Tuhan. Proses pembaruan diri adalah proses pertobatan yang berlangsung terus menerus sampai akhir hidup. Pertobatan bukan sebatas mengakui kesalahan dan dosa, namun terutama menyesal dan usaha terus menerus untuk berubah, memikul salib dan semakin mencintai Allah. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”(Mat 10:38).
Jika seseorang berada dalam proses pertobatan, maka ia berada dalam kesadaran bahwa Kristus bersamanya. Dengan demikian rahmat-Nya akan terus mengalir dalam hidupnya. Dengan pertobatan, seseorang menerima kasih karunia Allah yang menyembuhkan dan memulihkan relasi yang harmonis dengan Allah dan dengan sesamanya. “Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.”(1 Kor 12:9).
Akhirnya mereka yang setia tinggal dan berjalan bersama dengan Kristus akan selalu dalam perlindungan-Nya. Kristus selalu menyartainya dan dimanapun mereka berada Kristus hadir di dalam diri mereka. “barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.”(Mat 10:40).

Paroki St. Montfort Serawai, ditulis oleh Rm Aloysius Didik Setiyawan CM

Translate »