Browsed by
Month: August 2020

See Mary, See Jesus

See Mary, See Jesus

The Solemnity of the Assumption of Mary

August 15, 2020

Luke 1:39-45

Often, we, Catholics, are accused of overemphasizing Mary in our faith, liturgy and even our daily lives. The usual objections are: “Why do we should see Mary if we can go directly to Jesus? Why should there be Mary between you and Jesus?”

These kinds of objections follow from the underlying presupposition that salvation is only about Jesus and me. We just need Jesus, and the rest are obstacles to Jesus. We do not need the Church, the saints, and especially Mary. These are excess baggage that has to be removed so that we can fly quickly to God. While we might be saved with this faith, but this is narrow, individualistic and even pompous view of faith and more fundamentally, it is not kind of faith that God of the Bible teaches us.

In the Bible, God lays down the foundation for our salvation which is through His family. The primary keyword is covenant [or even translated as testament]. It is a solemn agreement to unite two parties into a family. God invited Adam, Noah, Abraham, Moses and David and their families to be part of God’s family and salvation may be available for these people. And in the fullness of time, Jesus, the Son of God, forged a new and eternal covenant with God in behalf of humanity and entire cosmos. We are saved through the family of Jesus, the kingdom of God.

If we call God as our Father, then we are brothers and sisters in the family of God. If we are brothers and sisters, we have responsibility for one another’s salvation. The saints ceaselessly love and pray for us because they are our holy brethren in heaven, and want us to join them. Their presence does not in any way hinder our gaze on Jesus because precisely the more we see them, the more we see God’s perfection. If we can appreciate the mountains or oceans as work of God’s power and beauty, the more we shall appreciate the saints as supernatural masterpieces of God.

Chief among the saints is Mother Mary. She is the type-A of a human perfected by God’s grace. The more we see Mary, who she is and what she has become, the more we come closer to God in awe and adoration. If God can do great things to Mary, He will do the same to us. If God can redeem Mary perfectly, He will redeem us as well. If God can bring Mary to heaven, He will bring us also to heaven. And as the great sister in faith, she has even utmost responsibility to bring us closer to God. She prays for us the hard; even she prays harder for those people who hate her.

St. Luke masterfully narrates how Mary, as the new ark of the covenant, brings Jesus in her womb to Elisabeth and John the Baptist. We also notice Elizabeth does not separate the two. When she sees Mary, she recognizes the Lord, and when she is aware of God’s presence, she acknowledges the sacred bearer, Mary. Through Jesus who is in Mary, Elizabeth and John are able to discover their authentic joy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bertanggung jawab atas Pilihanku

Bertanggung jawab atas Pilihanku

Sabtu, 15 Agustus 2020

PW. St. Maksimilianus Maria Kolbe

Bacaan I          Yeh 18: 1-10, 13b, 30-32

Bacaan Injil    Mat 19: 13-15

Bacaan pertama hari ini memberi pengajaran kepada kita tentang pertanggungjawaban. Dengan melihat pengalaman Israel yang saat itu berdosa di hadapan Allah, Israel ditantang untuk tidak melemparkan akar dosa kepada golongan nenek moyang mereka. “Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu”. Allah menolak alasan kedosaan Israel yang disebabkan oleh perbuatan leluhur mereka. Allah meminta Israel untuk bertanggungjawab atas segala pilihan tindakan mereka saat itu. Apa yang dituai adalah apa yang ditanam. Mereka menanam tindakan tidak setia pada Allah, maka mereka akan menuai hukuman dari Allah.

Memang, kecenderungan kita ketika berhadapan dengan kesalahan adalah sebisa mungkin melemparkan alasan-alasan kepada orang lain. Ini lumrah sebab sebagai pribadi, kita memiliki mekanisme pertahanan diri yang menghendaki agar diri kita benar, bersih dan selamat. Biarlah orang lain menanggung hukuman dari sebuah kesalahan yang mana kita juga terlibat. Prioritas kepada diri sendiri haruslah dipertahankan. Dinamika hidup yang demikian jelas-jelas ditolak oleh Allah. Kita harus berani mempertanggungjawabkan segala pilihan, kendati ada dorongan dari luar diri kita yang menuntun kita menuju pada kedosaan atau kesalahan. Namun, penekanannya adalah bahwa kita yang menentukan pilihan sikap.

Apa yang bisa kita petik? Kedewasaan iman dan hidup. Itulah keuntungan yang kita dapatkan jika dengan kesadaran, kita mau mengakui berbagai macam kelemahan diri tanpa perlu menyeret orang lain sebagai pemicunya. Kita harus ingat salah satu sifat dosa dimana melemparkan kesalahan kepada orang lain merupakan cara untuk tetap kelihatan bersih. Dalam peristiwa Taman Eden, misalnya, kita bisa mencermati ketidakdewasaan Adam dan Hawa dimana mereka berdua sama-sama melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Adam melemparkan kesalahan kepada Hawa sedangkan Hawa kepada ular.

Kita mohon rahmat agar dalam situasi mendatang, kita mampu bersikap dewasa dengan bertanggungjawab atas segala pilihan yang kita tentukan. Kalau salah, harus rendah hati mengakui kesalahan. Dengan demikian, kita semakin belajar pula untuk rendah hati kepada Allah sehingga kita akan mudah dibentuk oleh-Nya.

Karena Ketegaran Hati

Karena Ketegaran Hati

Jumat, 14 Agustus 2020

PW. St. Maksimilianus Maria Kolbe

Bacaan I          Yeh 16: 1-15, 60, 63

Bacaan Injil    Mat 19: 3-12

“Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kalian menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”. Mari kita melihat kata “ketegaran hati” yang menjadi alasan Musa memaklumi tindakan Israel. Ketegaran hati adalah sikap yang mencerminkan tentang keras kepala, susah diatur dan merasa selalu benar. Ini menarik sebab setiap orang bisa terjatuh masuk ke dalamnya. Ketegaran hati berkaitan dengan pilihan mementingkan diri sendiri. Prioritas yang ada pada dirinya hanyalah mengejar keuntungan dan kenyamanan.

Kita bisa membaca dari berita betapa sudah banyak kejahatan terlahir dari bibit-bibit konflik berupa sikap keras kepala. Tidak mau mendengar orang lain, cenderung egois, mencari kenyamanan sendiri atau membenarkan diri sendiri, merupakan bentuk lumrah adanya sikap keras kepala. Tentu saja, keras kepala menjadi batu sandungan kebahagiaan dan kesejahteraan sosial. Misalnya, ada keluarga yang keras kepala tidak mau mematuhi protokol kesehatan ketika memakamkan anggota keluarganya yang terinfeksi covid-19. Ada pejabat pemerintah yang keras kepala mengatur publikasi informasi covid-19 demi pencitraan jabatannya. Kita pun mungkin pernah memiliki pengalaman keras kepala berhadapan dengan situasi tertentu. Orangtua yang keras kepala terhadap anaknya dan sebaliknya. Murid yang keras kepala terhadap gurunya dan sebaliknya. Hal itu menandakan betapa kita masih lemah. Kita masih mudah terjatuh pada persoalan ketegaran hati, soal keras kepala sebagaimana yang dikritik Yesus dalam Injil hari ini.

Cara terbaik untuk menghilangkan keras kepala hanyalah kesadaran untuk rendah hati. Mau mendengarkan, memahami, berdiskusi, berbagi dan sebagainya, merupakan keterbukaan diri untuk mengubur kecenderungan keras kepala dalam diri masing-masing. Kita belajar dari Yesus yang mau secara rendah hati melayani dan mendengar orang-orang. Bahwa kekuatan kasih akan memampukan kita menjadi pribadi yang lebih baik. Mari, kita usahakan diri untuk lunak dan rendah hati agar menjadi hilanglah potensi-potensi sikap keras kepala dan tegar hati.

Kasih Tanpa Batas

Kasih Tanpa Batas

Kamis, 13 Agustus 2020

Hari Biasa XIX

Bacaan I          Yeh 12: 1-12

Bacaan Injil    Mat 18:21 19:1

Mengampuni adalah sebuah kedewasaan sebab tidak semua orang mampu sungguh-sungguh mengampuni. Mengampuni itu soal keikhlasan dan ketulusan di tengah kehidupan dunia yang dominan mengejar keuntungan. Sebagai makhluk sosial, kita harus menyadari konsekuensi adanya interaksi dengan orang lain. Karena interaksi itulah, maka lahir potensi bibit-bibit konflik. Tidak ada manusia yang hidup tanpa konflik sosial. Yang membedakan satu dengan yang lain adalah soal kualitas konfliknya: apakah konflik besar, kecil, lokal atau komunal? Di sisi lain, cara setiap orang untuk menanggapi konflik dengan mengusahakan perdamaian, merupakan tolok ukur kualitas dewasa setiap pribadi.

Ajaran Yesus hari ini dengan mengambil tema pengampunan mengajak kita untuk berani melakukan tindakan yang radikal. Memahami ajaran pengampunan, itu mudah. Namun, melaksanakannya secara spontan dan mendarah-daging, itu yang butuh proses. Mungkin, kita terbisa membela diri “Ah, dia khan sombong, kenapa harus diampuni?” “Bagaimana aku dapat mengampuni dia, sakit yang dia berikan padaku sungguh keterlaluan” atau “Baiklah aku akan mengampuni, tetapi hanya kepada orang-orang tertentu sajalah”. Pembelaan diri semacam itu cenderung membawa orang untuk menunda berbuat pengampunan. Ada yang belum tulus dalam getar iman dan suara hatinya. Maka, perlu waktu dan tantangan agar bisa semakin terasah.

Mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali merupakan ajakan yang diwartakan Yesus. Kiranya, ajakan tersebut bukan melulu terkait tentang angka dan hitungan, melainkan tentang ketiadaan batas dari sebuah tindakan pengampunan. Yesus sendiri meneladankan dalam hidup-Nya untuk memiliki semangat bela-rasa, empati dan kasih tanpa batas. Nilai-nilai itulah yang bisa kita terapkan dalam mengusahakan pengampunan. Allah Sumber Kerahiman juga memberi kita pencerahan bahwa tidak memandang berapa banyak dan berat dosa kita, tetapi jika ada yang mau bertobat dengan keseluruhan diri dan keinginan berubah, Allah pasti akan mengampuni. Mari, kita belajar mengampuni. Belajar memperpanjang kasih kepada sesama tanpa batas, sebab kita telah dicintai-Nya tanpa batas sejak dahulu, kini dan selamanya.

Hidup dalam Komunitas

Hidup dalam Komunitas

Rabu, 12 Agustus 2020

Hari Biasa XIX

Bacaan I          Yeh 9: 1-7; 10: 18-22

Bacaan Injil    Mat 18: 15-20

Di mana ada dua atau tiga orang berkumpul demi Nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka”. Sabda Tuhan di akhir Injil hari ini menegaskan tentang komunitas kristiani. Komunitas kristiani merupakan bangunan rohani yang hadir secara nyata di dunia. Didasari atas keyakinan iman yang sama, komunitas kristiani menampakkan wajah Yesus bagi dunia. Sangat menarik merenungkan identitas diri dalam nuansa komunitas kristiani: bahwa ketika orang menyediakan diri untuk dibaptis dan masuk sebagai anggota Gereja, sejak saat itulah identitasnya bukan lagi tentang diri sendiri, tetapi membawa juga identitas Gereja. Apa yang dialami dan dilakukannya menjadi representasi kehadiran Gereja. Maka, setiap anggota komunitas kristiani dituntut untuk dapat membangun jalur kehidupan yang beralaskan pada ajaran-ajaran Yesus.

Komunitas kristiani mewadahi segala aspek hidup setiap orang, mulai dari yang tampak lahiriah sampai pada taraf batiniah atau internal yakni misalnya soal dosa. Pemahaman tentang dosa dan cara pemulihannya diajarkan Yesus dalam Injil hari ini. Hal itu menandakan komunitas kristiani mengarah pada tujuan kekekalan hidup. Tidak diharapkan ada anggota yang hilang sehingga segala cara terbaik dikemukakan agar keselamatan dapat dialami semua orang.

Mari kita sejenak merenungkan tentang kekuatan komunitas kristiani ini. Kita bisa melihat dalam lingkup teritorial di mana kita tinggal. Sudahkah kita menikmati kekuatan komunitas kristiani? Sudahkah pula kita memberi daya bagi konsistensi komunitas kristiani? Yang paling pokok dari sebuah komunitas adalah adanya dinamika saling melengkapi. Tidak boleh ada yang hanya untung terus, atau sebaliknya dalam keadaan rugi senantiasa. Namun, keseimbangan untuk saling melengkapi, itulah yang menjadi nyawa dari komunitas kristiani. Kita bangun dan hidupi komunitas kristiani masing-masing. Bukan mencari keuntungan dari sana; melainkan belajar untuk memberikan diri sebagai cara kita mencintai Yesus.    

Translate »