Browsed by
Month: April 2021

KASIH TUHAN YANG MENYELAMATKAN

KASIH TUHAN YANG MENYELAMATKAN

Kis 8:26-40; Yoh 6:44-51

Kamis, Pekan ke III Paskah

Dalam Injil hari ini, Yesus menyatakan bahwa kedatangan kita kepada Yesus adalah sebagai tanggapan terhadap tarikan Bapa, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Allah Bapa menarik semua orang kepada Putra-Nya dan kedatangan kita untuk percaya kepada Yesus selalu sebagai tanggapan atas inisiatif Tuhan terhadap kita. 

Tuhan akan berusaha menarik kita kepada Putra-Nya dengan berbagai cara. Dalam bacaan pertama hari ini, seorang sida-sida, kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, menjadi percaya kepada Yesus. Allah Bapa menarik dia kepada Yesus pertama-tama melalui Kitab Suci. Saat dia membaca dari nabi Yesaya, pertanyaan muncul di hati dan pikirannya. Pertanyaan-pertanyaannya yang timbul dari pembacaan reflektifnya terhadap Kitab Suci adalah sarana yang melaluinya Allah menarik dia kepada Putra-Nya. Tuhan terus menarik orang Etiopia kepada Yesus melalui pelayanan Filipus, yang dapat terlibat dengan pertanyaan orang Etiopia dengan cara yang membantu. Hal ini menyebabkan orang Etiopia bertanya kepada Filipus untuk minta dibaptis, “Apakah ada sesuatu yang menghentikan saya untuk dibaptis?” Allah Bapa membawanya ke titik di mana dia meminta untuk dibaptis. Dia dibenamkan ke dalam hidup Yesus yang bangkit. 

Saudari-saudaraku, Tuhan terus menarik kita kepada Putra-Nya melalui Firman Tuhan dan melalui pelayanan orang beriman lainnya, seperti Filipus. Tuhan tidak pernah berhenti menarik kita kepada Putra-Nya. Gereja yang membantu dan ramah yang diwakili oleh Filipus adalah cita-cita yang didesak oleh Paus Fransiskus  yang ingin melihat sukacita Injil bersinar dalam kehidupan semua orang yang menerimanya. Paus Fransiskus merupakan sosok perwarta yang sangat inspiratif. Kehadirannya dalam setiap perjumpaan membawa sukacita bagi banyak kalangan. Kita juga dapat membantu menyebarkan kabar baik, seperti orang Etiopia yang pulang untuk membawa iman ke negaranya sendiri. Dasar dari ini semua adalah perjumpaan dengan Yesus yang membawa sukacita.

Saudari-saudaraku yang terkasih, tugas menginjili baik itu lingkungan terdekat kita, tempat yang jauh atau bahkan bangsa lain bisa tampak menjadi beban jika fokus kita  hanya pada kemampuan kita sendiri. Bagaimanapun, Roh Kudus telah merencanakan segalanya. Maka, yang perlu kita lakukan hanyalah mendengarkan Roh dan siap sedia mengikuti arahan-Nya. Marilah kita berdoa semoga kita fokus pada Roh Kudus untuk dijadikan alatnya dalam mewartakan Injil dan bukan pada diri kita sendiri. Dan mari kita juga selalu menjadikan Yesus sebagai Roti Hidup Sang Sumber kekuatan kita. Dalam Injil hari ini Yesus mengatakan, “Akulah Roti Hidup yang turun dari surga. Jika seseorang makan roti ini dia akan hidup selamanya; roti yang akan kuberikan adalah daging-Ku, untuk kehidupan dunia.”

Kristus Sang Roti Hidup

Kristus Sang Roti Hidup

Yoh 6:35-40

Rabu, Pekan ke III Paskah

Injil hari ini diawali dengan kata-kata Yesus tentang Roti hidup. Kata-Nya, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.” 

Saudari-saudaraku, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan buah-buah Ekaristi. Orang menerima Roti hidup. Roti itu tidak mengenyangkan perut, tetapi menyelamatkan hidup. Berkat Roti itu, orang dianugerahi hidup kekal sebab roti itu tidak lain adalah tubuh Kristus sendiri. Persatuan dengan Kristus memungkinkan kita untuk bersatu dengan yang ilahi karena dalam Kristus ada keilahian. Itulah puncak dari perutusan Yesus ke dunia. Dia datang memperkenalkan kehidupan baru di dalam Allah Bapa-Nya. Dia datang sebagai roti kehidupan artinya Dia sebagai makanan hidup rohani umat beriman.

Maka, fokus permenungan kita hari ini adalah mengimani Yesus sebagai Roti hidup yang berasal dari Allah. Yesus meminta agar kita belajar melihat dan percaya kepada-Nya. Mari kita mulai dengan belajar mengutamakan Ekaristi dan belajar pula menjadi orang yang semakin pantas merayakan Ekaristi. Dibalik itu semua ada iman dan pengakuan atas Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat manusia. Mari juga menyadari bahwa makan daging-Nya dan minum darah-Nya itu lebih dari sekedar ikut dalam perayaan Ekaristi dan menerima komuni kudus, tetapi berarti juga kita memiliki hubungan pribadi yang khusus dengan Yesus Kristus.

Apakah Yesus Menjadi Roti Kehidupanmu?

Apakah Yesus Menjadi Roti Kehidupanmu?

Yoh 6:30-35

Selasa Pekan ke III Paskah

Injil hari ini mengisahkan mengenai ajakan Yesus kepada orang banyak, untuk percaya kepada Dia yang diutus oleh Tuhan, mengakibatkan orang banyak itu meminta tanda. Tuntutan ini merupakan indikasi yang jelas bahwa mereka belum memahami arti kata-kata Yesus. 

Mari kita tempatkan diri kita dalam perikop Injil hari ini. Apa yang paling membuat kita masing-masing lapar dan haus? Mungkin kita memiliki banyak makanan fisik, tetapi mungkin juga tidak. Jika ya, apa lagi yang kita dambakan? Apa yang kamu inginkan? Ketika telah mengenali atau mengidentifikasi keinginan terdalam tersebut, mari kita gunakan keinginan ini untuk mempersilahkan Tuhan mengajari kita tentang Roti Hidup. Mungkin bisa membantu untuk mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan, inilah keinginanku saat ini dalam hidup …” Dan, biarkan diri Anda mendengar Yesus berkata kepada Anda, “Aku ingin memberimu lebih banyak lagi. Aku adalah apa yang kamu sangat rindukan. Jika kamu datang kepada-Ku, semua keinginanmu akan terpenuhi.” 

Saudari-saudaraku, Yesus adalah Roti Hidup. Dalam Ekaristi, Ia adalah Tuhan yang bangkit, yang menyertai kita sampai akhir zaman. Apakah Anda percaya bahwa Ekaristi mampu memenuhi keinginan Anda pada tingkat yang paling dalam? Mungkin terlalu sering kita merayakan Sakramen Ekaristi dengan cara malas dan suam-suam kuku. Akibatnya, kita sering gagal untuk benar-benar menerima Tuhan kita Yesus Kristus pada tingkat yang menjawab kehausan terdalam kita.

Percayakah Anda dan saya pada kata-kata Yesus, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Semoga kita senantiasa berkata dan memohon kepada Yesus, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

Semoga kerinduan kita atau sebagian dari kita, yang karena pandemi Covid-19 tidak bisa menerima Kristus secara sakramental, dapat segera terpenuhi. Tuhan memberkati.

Apa yang Kamu Cari?

Apa yang Kamu Cari?

Senin Pekan III Paskah

Yoh 6:22-29

Injil hari ini mengisahkan tentang orang banyak, yang setelah dikenyangkan dengan mukjizat penggandaan roti, mencari-cari Yesus. Tetapi mereka ini tidak mengetahui mukjizat atau keajaiban lainnya yang Yesus perbuat, yakni berjalan di atas air yang membuat para murid ketakutan. Maka, dikisahkan bahwa orang banyak ini heran bagaimana Yesus sampai ke seberang danau padahal mereka tidak melihat Dia naik ke perahu bersama para murid.  Namun, Yesus menegur orang banyak yang mencari-Nya. Hal Ini dikarenakan mereka salah memahami siapa Yesus, yakni mereka mencari Yesus karena berfokus pada hal-hal duniawi semata.  Yesus mengundang mereka untuk mengalihkan perhatian mereka ke hal-hal surgawi yang kekal. Dia ingin mereka mencari makanan yang hanya bisa Dia berikan, sebagai Juru Selamat, yang akan bertahan selamanya.

Saudari-saudaraku, di masa-masa sekarang yang sulit karena pandemi covid-19, ada banyak godaan bagi kita untuk datang kepada Yesus, Sang Pembuat mukjizat. Kita meminta dan memohon, kadang cenderung memaksa, dengan memperbanyak dan menambah waktu dan jenis doa-doa agar Yesus ‘membuat’ mukjizat: menyembuhkan yang terpapar, melindungi kita dari Covid-19 dan segera mengakhiri pandemi ini. 

Apakah berdoa memohon pertolongan, kesembuhan dan perlindungan terhadap Covid-19 atau berakhirnya bencana-bencana dan lain-lain adalah salah? Tentu tidak! Tetapi yang salah adalah usaha kita yang mencari Yesus dikarenakan hanya agar Dia menjadi pembuat mukjizat dalam hidup kita seturut kehendak dan impian-impian kita. Dengan demikian, sadar atau tidak kita menjadikan Yesus sebagai pemuas hasrat, nafsu, ambisi, atau pemenuhan harta, materi dan hal-hal fana lainnya. Kita tidak mencari Yesus untuk hidup yang kekal.

Sewaktu saya merenungkan Injil hari, saya bertanya pada diri saya sendiri apakah saya berfokus pada apa yang duniawai, yang tak pasti, sementara, sekilas, dangkal, atau sebaliknya pada apa yang kekal, abadi dan dalam. Apakah saya mencari-cari Yesus hanya dikarenakan supaya Dia melakukan mukjizat dalam hidup saya, yakni untuk mewujudkan harapan dan cita-cita saya? Ataukah saya mencari-Nya karena saya percaya bahwa Dialah roti hidup sejati yang akan memberikan kehidupan abadi?

Apa yang kamu cari?

Tubuh Mulia

Tubuh Mulia

Minggu Ketiga Paskah [B]
18 April 2021
Lukas 24: 35-48

Mukjizat adalah kejadian langka, tetapi ada jenis-jenis mukjizat yang bahkan lebih langka dan lebih berharga daripada yang lain. Penyembuhan memang mukjizat dashyat tetapi hidup kembali setelah kematian lebih luar biasa. Namun, ada satu mukjizat yang sepenuhnya unik dan tak tertandingi: kebangkitan. Namun, apa yang membuat kebangkitan berbeda dari mukjizat-mukjizat lainnya?
Kebangkitan mengandaikan kematian, dan definisi kematian adalah keterpisahan permanen antara tubuh dan jiwa. Jadi, kebangkitan adalah penyatuan kembali tubuh dan jiwa yang telah terpisah oleh kematian. Injil hari ini menceritakan bahwa Yesus menunjukkan kepada murid-murid tubuh-Nya serta luka-luka-Nya. Dia ingin menunjukkan kepada mereka bahwa apa yang dialami para murid di ruang atas bukanlah ilusi atau fantasi, mereka juga tidak melihat hantu atau roh tanpa tubuh. Apa yang mereka temui adalah tubuh manusia yang hidup. Apalagi luka itu membuktikan bahwa tubuh Kristus yang bangkit sama dengan tubuh yang disalibkan. Yesus bahkan meminta makanan dan sungguh makan ikan yang diberi. Dia bertingkah laku seperti manusia biasa, dan oleh karena itu, murid-murid-Nya tidak perlu takut lagi, tapi diajak untuk percaya.
Namun, kebangkitan Yesus pada dasarnya berbeda dari yang terjadi pada Lazarus. Kita ingat bahwa Lazarus, saudara Maria dan Marta, wafat, tetapi Yesus membangkitkan dia dari kubur. Namun, Lazarus pada akhirnya akan menghadapi kematian sekali lagi. Apa yang terjadi pada Lazarus biasanya disebut ‘resuscitatio’. Sementara itu, Yesus bangkit dari kematian dan tidak akan mati lagi. Kristus tidak akan lagi mengalami kematian karena Ia tidak menerima tubuh biasa, tetapi tubuh yang sangat mulia. Ini adalah tubuh yang sama yang Yesus terima dari Perawan Maria, ini adalah tubuh yang sama yang berjalan di Galilea, ini adalah tubuh yang sama yang mewartakan Injil kepada para murid, dan ini adalah tubuh yang sama yang disiksa, disalibkan, dan dikuburkan di makam. Dan sekarang, kekuatan ilahi telah mengubah tubuh ini menjadi tubuh yang mulia.
Apa yang membuat tubuh yang dimuliakan ini luar biasa? Pertama, tubuh ini kekal dan tidak akan mati. Kedua, tidak lagi mengalami penderitaan seperti sakit atau penuaan. Ketiga, tubuh ini tidak tunduk pada hukum alam dan terbebas dari batasan ruang dan waktu. Ini menjelaskan mengapa Yesus bisa masuk ke ruang para murid yang terkunci [lihat KGK 645]. Keempat, tubuh ini bisa mengubah wujudnya. Ini menjelaskan mengapa para murid sering tidak mengenali Tuhan yang telah bangkit. Kebangkitan tidak hanya tentang penyatuan kembali antara jiwa dan tubuh, tetapi tentang tubuh yang dimuliakan dan disucikan untuk hidup yang kekal.
Realitas tentang kebangkitan memperkuat kebenaran dasar tentang tubuh kita. Kitab Kejadian mengatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia material sebagai sesuatu yang baik. Pribadi manusia, termasuk tubuh kita diberkati dan disebut ‘sangat baik.’ Adalah rencana Tuhan agar ciptaan-Nya yang luar biasa tidak menjadi sia-sia dalam kematian dan dekomposisi. Dia menghendaki agar tubuh yang baik dan diberkati ini terus ada selama-lamanya dan menjadi bagian dari surga-Nya yang menakjubkan.
Dari kesadaran ini, apakah kita mempersiapkan tubuh kita untuk surga? Apakah kita menyalahgunakan tubuh kita dengan gaya hidup yang tidak sehat? Apakah kita menggunakan tubuh kita untuk menghormati Tuhan dalam doa dan perbuatan baik? Apakah kita menghancurkan tubuh kita, Bait Roh Kudus, dengan kejahatan dan kecanduan? Apakah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup dan menyenangkan kepada Tuhan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »