Browsed by
Month: July 2021

Potensi transformatif Sabda Allah

Potensi transformatif Sabda Allah

Kel 33:7-11;34.5b-9.28; Mat 13:36-43

Sebagai manusia yang masih bertubuh ada benih-benih ilalang: amarah, kebencian, iri hati, balas dendam dll., yang membuat perspektif diri menjadi sempit dan tidak mampu melihat rencana keselamatan Allah secara lebih luas dan menyeluruh. Yesus menjelaskan perumpamaan tentang gandum di antara ilalang karena kemampuan berpikir manusia terbatas. Apalagi jika manusia beraliansi dengan dunia dan segala kefanaannya. Pikiran Allah tak bisa diselami. Kasih dan kebaikan-Nya pun demikian luas dan dalam melampau pengetahuan manusiawi kita yang terbatas pada keinginan dan kepentingan sesaat.

Banyak kali kita terlalu dibebani dengan pikiran-pikiran negatif dan tidak berguna sehingga tidak ada ruang untuk mengaktifkan potensi-potensi diri kita yang baik dan bermanfaat untuk sesama. Kita terlalu fokus pada satu-dua hal yang sehingga mengisap seluruh waktu dan tenaga yang seharusnya bisa dilipatgandakan untuk melakukan kebaikan. Kita butuh kasih dan rahmat penyembuhan dari Allah supaya pikiran dan hati kita terbuka, dilepaskan dari beban-beban yang tidak perlu fokus dan bersatu dengan Allah dan kerajaan-Nya. Sebab saatnya akan datang dimana orang yang baik dan benar akan dipisahkan dari yang jahat. Ini memberi kita harapan dan peluang untuk bertobat dan kembali kepada kebaikan dan kebenaran. Sebab benih sabda Allah memiliki potensi untuk mentransformasi lahan yang tidak subur menjadi subur, yang tidak baik menjadi baik agar menghasilkan buah-buah yang berguna bagi pertumbuhan dan penyebaran kerajaan Allah dan demi keselamatan manusia.

Pesta Santo Yoakim dan Santa Anna

Pesta Santo Yoakim dan Santa Anna

Sir 44:1.10-15; Mat 13:6-17

Pesta Santo Yoakim dan Santa Ana, orang tua Santa Perawan Maria atau Kakek-Nenek Tuhan Yesus, kita peringati hari ini. Peringatan ini sangat penting untuk membantu kita mengingat dan berbagi kenangan kakek nenek kita yang melalui kebijaksanaan, kepercayaan dan tradisi mereka, membentuk karakter, pemikiran, dan kehidupan kita saat ini.

Izinkan saya berbagi dengan Anda cuplikan kecil kakek-nenek saya ini dan saya harap ini menginspirasi Anda untuk mengingat dan berbagi tentang kakek-nenek Anda juga. Dari pihak ibu, saya mengalami hidup dengan nenek saya selama sekitar 10 tahun. Di pihak ayah, kami sama sekali tidak merasakan kehadiran orang tuanya. Namun, melalui kisah ayah saya (Gabriel Sila, +2017), kami mengenal dan mengingat, setidaknya, sejarah, nama, dan hubungan antara keluarga besar kami. Nenek saya (dari pihak ibu), Maria Bait Thaal, meninggal pada tahun 1998, ketika saya masih di seminari kecil. Suaminya, Yosef Nau Olin, meninggal lebih awal ketika ibu saya baru berusia kurang dari lima tahun. Ibu saya (Hendrika Kono Olin) adalah bungsu dari tujuh bersaudara dan satu-satunya perempuan. Dia biasa memberi tahu kami bahwa nenek saya menginginkan anak perempuan, namun, mereka yang lahir selalu laki-laki. Alhamdulillah, akhirnya gadis yang diharapkan datang dan melalui dia, kami dikaruniai enam saudara; saya sendiri anak ketiga. Yang paling saya ingat dari nenek saya adalah karakternya yang kuat dan kesetiaannya untuk selalu dekat dengan kami di rumah ibu dan ayah saya di Timor, Indonesia. Dan yang paling menarik adalah meskipun dia memiliki tujuh anak, hidupnya tidak pernah lepas dari ibu saya. Dia merawat ibu saya dengan baik dan tidak pernah meninggalkannya sendirian sampai akhirnya dia meninggal.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” Perayaan Santo Joaquín dan Ana mengingatkan kita akan peran orang tua, kakek-nenek dan leluhur kita, panggilan dan tanggung jawab mereka untuk membentuk dan memberi orientasi tentang masa depan generasi mendatang. Mereka harus menghayati iman tradisi dan harapan mereka, mengkomunikasikannya dan mentransmisikannya sebagai janji dan tugas yang harus dipenuhi oleh anak-cucu mereka. Kepada generasi yang lebih muda, yang lebih tua menunjukkan kesetiaan, ketekunan dan harapan mereka, kedalaman pengalaman dan kebijaksanaan yang harus dipupuk dan dihargai dengan kekaguman, cinta dan rasa hormat, dan yang tidak boleh diabaikan atau dilupakan begitu saja.

Seperti Bunda Maria, kita juga dilahirkan dan dibentuk oleh iman, tradisi dan budaya orang tua dan kakek-nenek kita. Kita dipanggil untuk menjadi orang-orang dengan iman dan karakter yang kuat, yang menghayati dan mengamalkannya melalui doa dan pengabdian melalui kasih dan kesetiaan kepada Tuhan dan sesama. Maria juga mewarisi hukum, tradisi dan budaya orang tua dan leluhurnya, kedekatan dan cintanya kepada mereka dan semua kerabatnya, imannya yang kuat kepada janji dan kesetiaan Allah, terutama di masa-masa krisis dalam hidupnya: semua ini menunjukkan kenyataan, peran dan otoritas keluarga sebagai pusat di mana Allah mengukuhkan perjanjian dengan umat-Nya, memanifestasikan diri-Nya dan berdiam di antara keluarga umat manusia, memanggil dan membentuk mereka untuk menjadi bagian dari hidup dan misi ilahi-Nya bagi keselamatan umat manusia.

Oleh karena itu, dalam semangat perayaan hari ini, kita diingatkan untuk selalu menatap ke masa depan, berharap pada generasi yang akan datang, sebagai berkat dan impian yang Tuhan janjikan kepada kita untuk mewarisi bumi dan janji-Nya kepada nenek moyang kita, dengan terus melestarikan dan merawat yang terbaik dari masa lalu demi kebaikan dan kelangsungan keluarga umat manusia, kebudayaan dan sejarahnya hari ini dan esok. Sebagaimana penulis suci Kitab Sirakh dengan indah mengungkapkannya: “Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya. Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus.”

Betapa indahnya berkat dan kasih Tuhan melalui kehadiran, kehidupan dan sejarah kakek-nenek dan orang tua kita. Semoga Tuhan yang pengasih dan penyayang memberkati semua kebaikan hati mereka dan jiwa mereka mendapatkan damai dan ketenangan selamanya.

Reclining

Reclining

17th Sunday in Ordinary Time [B]
July 25, 2021
John 6:1-15

The miracle of the multiplication of the bread is one of the few stories recorded by the four evangelists. The event must be impressively memorable and powerful for the disciples and other witnesses. Why did the four evangelists opt to include this story in their gospels?

There are many possible motives, but one apparent reason is that the story of the multiplication of the bread serves as a sign to the greater miracle, the Eucharist. If we try to observe the story’s details, we will discover some striking similarities with the Last Supper of the Lord, the first Eucharist. One particular action is that Jesus ordered them to recline. To ask a classroom of 40 students to take their seats is a tough job, and here Jesus asked five thousand men not only to sit but to recline! Yet, John the evangelist did not tell us that the people turned to be chaotic, and all seemed to be fine and smooth.

photocredit: Natashya Vaitkevich

This gesture of reclining seems to be ordinary, yet in ancient times, to recline is to be able to rest, and in fact, it is the gesture of a freeman. Slave was expected to serve when their masters eat, and they would spend most of their time doing labor. Thus, they did not have much time to enjoy their meals, lest to recline. By asking the people to recline, Jesus was giving them the rest they truly desired.

The gesture of reclining while enjoying the food was a typical ancient way to have a banquet. The host and the guests would share a low table that they may recline, consume the meals, share stories, and enjoy the entertainment. Jesus Himself often was invited to attend such banquets [see Luk 7:36]. By asking the people to recline and offer them food, Jesus acted as the host of a great feast, and the people were His honored guests.

Lastly, when Jesus took the bread, gave thanks, and gave it to the people, our catholic instinct should immediately tingle. These are the actions in the Eucharist. Yet, St. John added another essential detail: reclining. The gesture of reclining is the same gesture the disciples had in the Last Supper [See John 13:12]. In a sense, the people who reclined and received the bread from Jesus were sharing in the first the Eucharist of Jesus.

Every time we participate in the Eucharist, indeed, we are expected not to recline on the altar! Yet, we receive even greater gifts than five thousand people from the gospel. Not only do we have a break from our works and chores on Sunday, but we enjoy the proper rest in God. We are reminded that our purpose is not simply here on earth but in God. Not only do we attend a religious service, but we become part of the divine banquet of God’s children. We do not slave to our works, to this world, to the power of darkness, but men and women freed by God’s grace. Not only do we partake in physical food, but the bread of life, Jesus Christ Himself. Indeed, the Eucharist is heaven on earth.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Duduk

Duduk

Minggu Biasa ke-17 [B]
25 Juli 2021
Yohanes 6:1-15

Mukjizat penggandaan roti adalah salah satu dari sedikit cerita yang dicatat oleh keempat penginjil. Tidak bisa disangkal bahwa peristiwa ini pasti sangat mengesankan bagi para murid dan saksi-saksi sehingga mereka tidak bisa melupakannya. Namun, dari sekian banyak cerita tentang Yesus, mengapa keempat penginjil sepakat untuk memasukkan kisah ini dalam Injil mereka?

Ada banyak kemungkinan, tetapi satu alasan utama adalah bahwa kisah penggandaan roti berfungsi sebagai tanda yang merujuk pada mukjizat yang jauh lebih besar, Ekaristi. Jika kita mencoba mengamati detail cerita ini, kita akan menemukan beberapa kesamaan yang mencolok dengan yang terjadi dalam Perjamuan Terakhir Tuhan, Ekaristi pertama. Dikatakan dalam Injil, Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya, mengucap syukur [Bahasa Yunani – eucharistesas], dan memberikannya. Aksi-aksi yang sama dilakukan Yesus saat Ekaristi pertama.

Namun ada satu tindakan khusus yang Yesus perintahkan orang banyak untuk lakukan: duduk. Tidak ada yang aneh dengan posisi duduk, tetapi jika kita cermati kata Yunani yang digunakan, kita akan mengerti bahwa Yesus meminta orang-orang tidak untuk duduk biasa, tetapi duduk dengan bersandar, atau duduk santai.

Gerakan duduk santai ini tampaknya biasa-biasa saja, namun pada zaman kuno, duduk semacam ini adalah untuk dapat beristirahat dan bersantai, dan pada kenyataannya, ini adalah gerakan dan postur orang merdeka saat mereka makan. Berbeda dengan seorang budak yang akan melayani ketika tuannya makan, dan mereka akan menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk bekerja, sehingga, mereka tidak punya banyak waktu untuk menikmati makanan mereka dan bersantai. Dengan meminta orang-orang untuk berbaring, Yesus memberi mereka istirahat yang benar-benar mereka inginkan.

Sikap duduk bersandar sambil menikmati makanan adalah cara kuno yang khas untuk mengadakan perjamuan makan atau pesta. Tuan rumah dan para tamu akan berbagi meja rendah sehingga mereka dapat bersandar pada meja tersebut, menikmati makanan, berbagi cerita, dan menikmati hiburan. Yesus sendiri beberapa kali diundang untuk menghadiri perjamuan seperti itu [lihat Luk 7:36]. Dengan meminta orang-orang untuk berbaring dan menawarkan mereka makan, Yesus bertindak sebagai tuan rumah perjamuan besar, dan orang-orang itu adalah tamu kehormatan-Nya.

Terakhir, kita tahu bahwa tindakan-tindakan Yesus di mukjizat pelipat gandaan roti ini berhubungan erat dengan Ekaristi. Namun, St. Yohanes juga mengingatkan kita bahwa duduk bersandar juga berhubungan dengan Ekaristi. Gerakan duduk bersandar ini adalah gerakan yang sama yang dilakukan para murid dalam Perjamuan Terakhir [lihat Yohanes 13:12, kata Yunani ‘anapasein’]. Dalam arti tertentu, orang-orang yang duduk bersandar ini dan menerima roti dari Yesus ikut ambil bagian dalam Ekaristi Yesus yang pertama.

Setiap kali kita berpartisipasi dalam Ekaristi, tentunya kita diharapkan untuk tidak duduk bersandar dan santai-santai saja! Namun, kita menerima rahmat yang lebih besar dari lima ribu orang di Injil hari ini. Tidak hanya kita bisa beristirahat dari pekerjaan dan tugas-tugas kita pada hari Minggu, tetapi kita menikmati istirahat yang sejati di dalam Tuhan. Kita diingatkan bahwa tujuan kita bukan hanya di bumi ini, tetapi di dalam Tuhan. Tidak hanya kita menghadiri sebuah ibadah, tetapi kita menjadi bagian dari perjamuan ilahi. Kita bukan budak pekerjaan kita, dari dunia ini, dari kuasa kegelapan, tetapi pria dan wanita yang dimerdekakan oleh kasih karunia Tuhan. Tidak hanya kita mengambil bagian dalam makanan fisik, tetapi roti hidup, Yesus Kristus sendiri. Sungguh, Ekaristi adalah surga di dunia.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Benih gandum dan ilalang dalam diriku: mana yang lebih subur …

Benih gandum dan ilalang dalam diriku: mana yang lebih subur …

Sabtu, 24 Juli 2021

Mat. 13: 24 – 30 :

Perumpamaan ini cukup menggelitik karena nyambung dengan pengalaman pergulatan harian kita. Setiap saat kita hidup dalam tegangan tanpa henti: antara baik-buruk, gengsi dan rendah hati, kepentingan diri dan pelayanan …dst. Hanya saja, pengalaman kita yang banyak itu jarang kita maknai atau kita refleksikan. Bukan karena kita malas atau lupa. Kita sudah lama terjebak dalam kesibukan kronis. Seringkali multi-tasking. Tidak sempat hening dan melihat pengalaman itu dalam terang iman. Akibatnya, selain kehilangan makna, kita seringkali mengulang kesalahan yang sama berkali-kali selama bertahun-tahun. Kita pun mengalami dan dengan jujur mengakui bahwa pengertian dan kehendak yang saleh ternyata tidak cukup untuk mengadakan perubahan kualitatif dalam hidup. Kita sering terganggu oleh pertanyaan “mengapa ilalang dalam diriku selama ini lebih cepat bertumbuh dibanding gandum .… “

Kecenderungan yang baik, suci, indah … biasanya sangat kita sadari, kita doakan dan kita agendakan. Tidak ada orang yang normal dan sehat merencanakan kejahatan. Tapi entah bagaimana, kerinduan bagus dan suci itu sering tidak terjadi, atau kalau pun terjadi, rasanya terlalu minimalis dan ala kadarnya. Bahkan orang sekaliber santo Paulus mengalami misteri ini. Paulus bingung ketika menyadari bahwa banyak hal baik yang ia ingin lakukan, tetapi yang terjadi malah sebaliknya (Rom. 7: 13-26). Seperti Paulus, kita pun mengalami adanya daya kegelapan yang terus operasional dalam diri kita tanpa kita sadari. Bahkan pengetahuan kita, pendidikan, usia dan pengalaman yang banyak, seringkali tidak mampu mengatasi tegangan ini. Kita hanya terheran-heran, mengapa ilalang tetap saja subur.

Dalam suratnya kepada komunitas di Korintus, Paulus mengatakan bahwa kita ini dianugerahi harta yang amat berharga. Tetapi harta ini tersimpan di dalam bejana tanah liat (2Kor.4:7). Sebagai citraNya, kita diberi sifat dan harta ilahi, tetapi semua harta amat berharga itu bercampur dengan kelemahan kodrat sebagai manusia. Tegangan ini akan terus terjadi dan kita memang harus hidup di dalam ongoing tension ini. Bahkan tegangan inilah yang mengasah kita menjadi pribadi dengan kecerdasan rohani yang memadai. Yang diperlukan adalah kemauan dan kerelaan untuk melatih self-denial, terutama terkait selera dan kelekatan, apapun bentuknya. Ini proses yang perlu kerendahan hati dan ketekunan, karena tidak ada solusi instant bahkan ongoing tension ini tak pernah selesai. Ketika Paulus mengeluhkan hal ini pada Tuhan, dia mendapat jawaban untuk tidak cemas, karena rahmat cukup untuk mengatasinya.

Translate »