Browsed by
Month: July 2021

True Rest

True Rest

16th Sunday in Ordinary Time [B]
July 18, 2021
Mark 6:30-34

Last week, we listened to the stories of Jesus sending His disciples. This Sunday, we discover that the disciples have performed well and made their report back to Jesus. The mission was hugely successful. Many people were healed, and they longed to hear the word of God. The disciples became an instant sensation, and many people wanted to see them.

However, the creator of our nature recognized that the disciples are also human and not a bunch of superheroes. Their bodies, just like ours, needed rest. Jesus knew well that the disciples would get burnt out without enough rest, and they would develop physical and emotional problems. Jesus understood how essential rest is. Thus, as the Good Shepherd, Jesus brought his disciples to have a proper rest.

Why do we need rests? It is just something natural. As our bodies produce energy to spend for our activities, they also come out with wastes. Resting like sleeping is one of the biological mechanisms to dispose of unhealthy by-products. During our rest, our body repairs itself and recharges itself. Without sleep, we will experience physical and mental problems like fatigue, headache, emotional imbalance, anxiety, decreased immune system, depression, inability to concentrate, and eventually death.

Many people are living in the cities, and the demands of works and life are immensely insane. People are forced to work extremely hard and stay longer at work. These lead to sleep deprivation and other health issues. Often, this kind of mentality influences how we do and perceive our religious life. On the one hand, we tend to see that going to the church is just another obligation and burden that we need to carry. It is just additional work for us. On the other hand, we are also inclined to treat and measure our services and worship by the same standards we have in our workplaces. However, we miss the point.

To understand better why we need a rest, we shall go back to the creation story in the book of Genesis. God created the world in six days, and on the seventh day, God rested. Did God feel tired and need a rest? Surely, the almighty God did not need to rest. Then, why God created the 7th day and rested? The answer is that the seventh day is a rest day for us, man and woman. God invited Adam and Eve to rest with Him on the seventh day. From here, we understand that resting is not simply about our biological needs, but it is the purpose why we are created: Resting with God. Our bodily rest is fundamentally a reflection of our spiritual rests.

When Jesus invited his disciple to rest with Him, it was not only a physical recharge but a spiritual unity with Jesus. This is the same with us now. Our prayer life, our ministries, our worship are manifestations of our spiritual rests and unity with the Lord. It is heaven on earth. It is also a preparation for us to receive eternal rest.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: ricardo esquivel

Istirahat Sejati

Istirahat Sejati

Minggu Biasa ke-16 [B]
18 Juli 2021
Markus 6:30-34

Minggu lalu, kita mendengarkan kisah Yesus mengutus murid-murid-Nya. Minggu ini, kita menemukan bahwa para murid telah bekerja dengan baik dan membuat laporan mereka kepada Yesus. Misi mereka sukses besar. Banyak orang disembuhkan, dan mereka rindu mendengar firman Tuhan. Bahkan, para murid menjadi sensasi dan viral, dan banyak orang ingin melihat mereka.

Namun, Yesus, pencipta alam kita, mengakui bahwa para murid juga manusia dan bukan superheroes seperti Avengers atau Justice League. Tubuh mereka sama seperti kita semua membutuhkan istirahat. Yesus tahu betul bahwa tanpa istirahat yang cukup, para murid akan kelelahan dan mereka akan mengalami berbagai permasalahan fisik dan emosional. Yesus mengerti betapa pentingnya istirahat. Jadi, sebagai Gembala yang Baik, Yesus membawa murid-muridnya untuk beristirahat dengan baik.

Mengapa kita perlu istirahat? Kita bisa melihatnya dari sisi biologis. Saat tubuh kita memproduksi energi untuk digunakan untuk aktivitas kita, tubuh kita juga mengeluarkan dengan zat-zat ‘limbah’. Istirahat seperti tidur adalah salah satu mekanisme biologis untuk membuang produk sampingan yang tidak sehat ini. Selama istirahat, tubuh kita memperbaiki diri dan mengisi diri dengan energi baru. Tanpa tidur, kita akan mengalami masalah fisik dan mental seperti kelelahan, sakit kepala, ketidakseimbangan emosi, kecemasan, penurunan sistem kekebalan tubuh, depresi, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, dan akhirnya kematian.

Banyak orang tinggal di kota, dan tuntutan pekerjaan dan kehidupan sangat gila. Orang-orang dipaksa untuk bekerja sangat keras dan tinggal lebih lama di tempat kerja. Ini menyebabkan kurang tidur dan masalah kesehatan lainnya. Seringkali, mentalitas semacam ini mempengaruhi cara kita melakukan dan memandang kehidupan keagamaan kita. Di satu sisi, kita cenderung melihat bahwa pergi ke gereja hanyalah kewajiban dan beban yang harus kita pikul. Itu hanya pekerjaan tambahan bagi kami. Di sisi lain, kita juga cenderung memperlakukan dan mengukur pelayanan dan ibadah kita dengan standar yang sama yang kita miliki di tempat kerja kita. Kita merasa ibadah kita berhasil jika kita mendapatkan ‘sesuatu’ dari perayaan Ekaristi. Kita merasa pelayan kita berhasil jika kita berhasil mendapatkan lebih banyak anggota, subsribers, atau likes. Namun, jika kita berkutat pada mentalitas ini, kita kehilangan inti ibadah kita.

Untuk memahami lebih baik mengapa kita perlu istirahat, kita perlu kembali ke kisah penciptaan dalam kitab Kejadian. Tuhan menciptakan dunia dalam enam hari dan pada hari ketujuh, Tuhan beristirahat. Apakah Tuhan merasa lelah dan butuh istirahat? Tentunya, Tuhan Yang Mahakuasa tidak perlu beristirahat! Lalu, mengapa Tuhan menciptakan hari ke-7 dan beristirahat? jawabannya adalah hari ketujuh adalah hari istirahat bagi kita laki-laki dan perempuan. Tuhan mengundang Adam dan Hawa untuk beristirahat bersama-Nya di hari ketujuh. Dari sini, kita memahami bahwa istirahat bukan hanya tentang kebutuhan biologis kita, tetapi itu adalah tujuan mengapa kita diciptakan: Beristirahat bersama Tuhan. Istirahat tubuh kita pada dasarnya merupakan cerminan dari istirahat spiritual kita.

Ketika Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk beristirahat bersama-Nya, itu bukan hanya sekedar recharge biologis tetapi kesatuan rohani dengan Yesus. Sejatinya, kehidupan doa kita, pelayanan kita, ibadah kita adalah manifestasi dari peristirahatan rohani kita dan kesatuan dengan Tuhan. Ini adalah surga di bumi. Itu juga merupakan persiapan bagi kita untuk menerima perhentian kekal.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

BERTEKUN DALAM IMAN

BERTEKUN DALAM IMAN

Sabtu, 17 Juli 2021

Matius 12: 14-21

             Allah peduli dengan segala derita dan kesulitan umat-Nya. Bagimana cara Allah peduli bisa dilihat secara nyata dengan apa yang telah dilakukan oleh Putera-Nya Yesus Kristus. Sejak manusia terlempar dari taman firdaus karena jatuh dalam dosa, hubungan antara manusia dan Allah menjadi rusak, karena manusia tidak setia. “Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.”(Kej 3:24). Namun Allah tidak kemudian membiarkan manusia hidup dibawah perbudaan dosa, maka Dia mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus untuk memulihkan hubungan yang sudah rusak tersebut, lewat korban Kristus di atas kayu salib, sebagai tanda bahwa Allah berbelas kasihan kepada seluruh umat manusia. “Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.”(Kolose 1:20).

            Dengan demikian melalui Yesus Kristus harapan akan keselamatan dibuka kembali dan manusia tidak lagi dibawah kendali dosa, sebab kini Roh Kudus menyertai dan menuntun ke jalan yang benar. Jalan dan kesempatan yang sudah ada di depan mata setiap orang, yaitu Yesus Kristus, Sang Jalan yang menuju keselamatan. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6).  Dengan pilihan bebasnya manusia harus memilih, apakah memilih jalan kepada kehidupan atau sebaliknya? Proses memilih bukan sesuatu yang mudah, sebab masing-masing orang dituntut untuk bisa mempertanggung jawabkan pilihannya dengan cara berani menyangkal diri dan memanggul salibnya setiap hari. “Kata Yesus kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”(Luk 9:23).

            Saat ini, terasa bahwa pandemi covid 19 telah melumpuhkan sebagian sendi-sendi kehidupan masyarakat dan negara. Apakah ini adalah salib yang harus dipikul? Salib adalah tanda suatu pengorbanan. Ketika seseorang berkorban demi suatu nilai yang luhur dan suci ; membela kehidupan, menegakkan kebenaran, keadilanan, sikap rendah hati, murah hati, pengampunan, kepedulian dan kedamaian untuk semua orang. Dengan pengorbanan Yesus yang rela menderita, disalibkan dan wafat, Dia telah menebus dosa-dosa manusia, sehingga harapan dibuka kembali untuk keselamatan umat manusia.   Pandemi Covid dan hal-hal lain yang menjadi tantangan hidup adalah realita yang harus dihadapi. Semua itu bisa menjadi jalan menyadari arti menjadi murid Kristus, yang tidak bisa lagi hanya mengandalkan diri sendiri. Dengan demikan seseorang terdorong untuk semakin dekat dengan Tuhan, dan membuka diri juga untuk peduli dengan sesamanya yang menderita. 

            Kristus telah datang dan hadir di antara manusia. Kehadirannya adalah harapan bagi semua orang. “Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap” (Mat 12:21). Oleh karena itu, saat seseorang berjalan bersama Kristus, maka ia tidak akan kehilangan harapan. Harapan akan terus mengalir dari dalam diri seseorang, karena iman yang ia hayati. Harapan bersumber dari Allah yang selalu berbelas kasihan untuk umat-Nya. “Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.”(Kis 14: 22).

                                                                                                                                         Serawai, Rm. Didik Setiyawan, CM        

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ORANG YANG PERCAYA

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ORANG YANG PERCAYA

Jumat, 16 Juli 2021

Matius 12:1-8

            Manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari Allah, karena manusia ada dan hidup berkat kehidupan yang diberikan oleh Allah. Olah karena itu relasi antara manusia dan Allah adalah hal yang tidak bisa dipisahkan, dan justru harus semakin disadari, agar setiap orang samakin hidup sejalan dengan kehendak Allah. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”(Efesus 2:10). Tidak jarang banyak orang sudah lupa atau bahkan tidak menyadari keterkaitannya dengan penciptanya. Apa tandanya? Tandanya yaitu ketika manusia membuat suatu keputusan dan tindakan, yang hanya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan materi, untung-rugi, dan hal-hal profan lainnya. Sementara itu pertimbangan dari sudut Allah dan kemanusiaan diabaikan. Namun jika seseorang sudah mampu menempatkan Allah menjadi bagian dari hidupnya, maka ia akan berpikir dan bertidak sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh Allah yang penuh kasih dan Adil. Jika apa yang diputuskan dan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang melawan nilai-nilai universal yang dimiliki oleh Allah, maka dengan sendirinya ia atau mereka melawan kehendak Allah.

            Dengan demikian seseorang akan bisa semakin dekat dengan Allah ketika hidupnya sejalan dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah adalah apa yang telah diberikan Allah kepada manusia, yaitu belas kasihan. “Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.”(Mat 12:7). Oleh karena itu, ketika seseorang bersikap dan bertindak dengan murah hati dan adil kepada sesama, terlebih kepada mereka yang lemah dan menderita, ia melakukannya untuk Allah juga. “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudar-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”(Mat 25:40). Allah telah terlebih dahulu berbelas kasihan kepada manusia dan Dia hadir dalam diri Yesus Kristus Putera-Nya dan telah menyatakan belas kasihan-Nya yang tidak terbatas kepada manusia. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”(Yoh 3:17).

            Ketika seseorang ada bersama dengan Kristus, maka ia akan dihidupi jiwa dan raganya oleh Kristus, sehingga ia bisa menjadi saksi Kristus dengan hidup seperti Kristus. “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula, bersama-sama dengan Aku.”(Yoh 15:27). Orang beriman tidak berjalan sendirian, sebab Roh Kudus akan selalu menyertainya. Segala yang dilakuakan oleh orang beriman bersumber dari relasinya dengan Kristus. Oleh karena itu, ia akan mampu menghadapi dan melakukan yang bagi manusia tampaknya mustahil, namun bagi mereka yang percaya, semuanya menjadi mungkin. Hal yang sering kali sulit dilakukan orang banyak orang adalah bermurah hati dan memaafkan sesamanya. Karena kekuatan Roh Kudus, maka hal itu bisa dilakukan oleh orang yang percaya. “Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada mustahil bagi orang yang percaya.”(Mrk 9:23).                                                     

                                                                                                                                       Serawai, Rm Didik Setiyawan, CM                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         

TETAP HIDUP DALAM HARAPAN

TETAP HIDUP DALAM HARAPAN

Kamis, 15 Juli 2021

Matius 11:28-30

            Sekarang dunia sedang dilanda pandemi covid-19. Banyak sekali dampak yang telah dimunculkan dari pademi tersebut ; banyak tenaga medis, dan masyarakat yang meninggal dunia, banyak orang kehilangan pekerjaan, para pelajar dan mahasiswa tidak bisa belajar dengan tatap muka, banyak tempat usaha dan perusahaan bangkrut, tempat ibadah untuk sementara banyak yang ditutub, dsb. Dalam situasi semacam ini, semua orang bertanya: “Kapan pandemi ini berakhir?”. Tidak ada orang yang bisa menjawabnya. Dibalik pertanyaan tersebut, semua orang memiliki harapan yang sama agar pandemi tersebut bisa segera berakhir. Realitanya, hingga saat ini, pandemi masih belum berakhir, sebaliknya justru muncul varian-varian yang baru dan datang gelombang kedua dari penyakit tersebut.

            Ditengah-tengah wabah yang memilukan ini, kehidupan manusia harus bisa berjalan. Setiap hari orang harus berjuang untuk memperhatankan hidupnya. Sekalipun pandemi masih ada, namun masing-masing tidak boleh menyerah, karena masih banyak hal harus dikerjakan. Oleh karena itu, masing-masing harus tetap berjalan. Apakah yang membuat masing-masing orang tetap miliki semangat untuk berjuang? Seseorang memiliki semangat jika ia memiliki harapan. Dengan demikian harapan adalah motivasi untuk bangkit dan berjuang. Jika orang tidak memiliki harapan, hal itu berarti orang tidak bisa melihat peluang dan kesempatan lagi.

            Bagaimanakah menumbuhkan harapan tersebut? Harapan bukan ada di luar diri manusia, tetapi ada di dalam hati dan budi manusia. Oleh karena itu harapan bersumber dari keyakinan atau kepercayaan masing-masing orang. Dengan demikian inti kekuatan harapan ada di dalam diri masing-masing orang, yaitu di dalam hatinya. “ Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari. Engkau akan merasa aman, sebab ada harapan, dan sesudah memeriksa kiri kanan, engkau akan pergi tidur dengan tenteram.”(Ayub 11:17-18). Pandemi dan hal-hal lain lagi bukan menjadi alasan seseorang untuk berputus asa, namun adalah peluang untuk memantapkan harapan dan mempertajam kepekaan dan kesadaraan seseorang untuk berbenah diri demi kehidupan yang lebih baik lagi.

            Harapan hadir dalam diri seseorang jika ia memiliki sumber harapan itu di dalam hatinya sendiri, yaitu relasinya dengan Tuhan.  Yesus datang untuk menghadirkan harapan bagi manusia. Sekalipun dosa-dosa manusia begitu tak terhitung, namun Yesus datang memberikan pengampunan dosa bagi manusia dan keselamatan. Yang dibutuhkan seseorang untuk menemukan harapannya kembali adalah mau terbuka dan mendengarkan Sabda-Nya. “Marilah, baiklah kita berperkara! Firman TUHAN. Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri ini.”(Yesaya 1:18-19).

            Dengan jelas Tuhan Yesus menyatakan kerinduan-Nya agar setiap orang tetap memiliki harapan di dalam hidup. Oleh karena itu, Dia mengajak semua orang untuk datang dan percaya kepada-Nya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:28).  Yesus Kristus telah mengalahkan segala penyakit dan maut/dosa dengan pengorbanan di atas kayu salib dan bangkit mulia untuk membawa semua orang pada kehidupan baru. “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”(Mat 8:17)

                                                                                                                                                        Serawai, Rm. Didik Setiyawan, CM

Translate »