Browsed by
Month: August 2021

Iman yang Mengagumkan

Iman yang Mengagumkan

Minggu ke-21 Waktu Biasa [B]
22 Agustus 2021
Yohanes 6:60-69

Selama lima hari Minggu terakhir, kita telah mendengarkan Yohanes bab 6. Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai roti kehidupan, dan tubuh dan darah-Nya adalah makanan sejati untuk hidup yang kekal. Injil hari ini hadir sebagai puncak dari perjalanan kita melalui Yohanes 6, dan Injil dimulai dengan tanggapan dari pendengar Yesus, “Itu adalah perkataan yang keras. Siapa yang sanggup mendengarkannya.”

Ajaran Yesus kali ini sulit diterima karena bertentangan dengan prinsip dasar agama Yahudi. Bahkan hal ini benar-benar mengejutkan iman Yahudi mereka. Mempersembahkan daging-Nya sendiri sebagai makanan sama menjijikkannya dengan kanibalisme. Memberikan darah-Nya sebagai minuman bahkan merupakan penghujatan karena secara frontal melanggar perintah Tuhan untuk tidak makan darah [Im 17:10]. Namun, Yesus bergeming.

Pengikut Yesus menghadapi dilema. Mereka telah melihat Yesus melakukan mukjizat, menyembuhkan orang sakit dan memberi makan ribuan orang. Banyak dari mereka mengharapkan bahwa Yesus akan menjadi Mesias seperti Raja Daud. Namun, hal-hal tidak berjalan lancar sesuai dengan rencana mereka. Jika mereka menerima Yesus sebagai Mesias, mereka harus menerima perkataan Yesus dan memang memakan tubuh dan darah-Nya. Pada akhirnya, banyak yang tidak dapat menerima ajaran Yesus yang keras dan mungkin, mereka menganggap Dia sebagai orang gila atau bahkan orang yang kerasukan.

Hal yang menarik adalah tidak semua orang meninggalkan Yesus. Petrus, mewakili kedua belas murid, mengatakan bahwa mereka percaya pada kata-kata Yesus. Petrus mungkin tidak berbeda dari orang banyak yang gagal memahami ajaran Yesus yang keras. Namun, Petrus dapat menerima ajaran Yesus yang keras karena ia menerima siapa Yesus, yakni Yang Kudus dari Allah. Mustahil bagi Yesus, Yang Kudus dari Allah untuk berbohong. Apa yang dikatakan Putra Allah yang Ilahi pastilah nyata dan benar, betapapun misteriusnya hal itu. Ini adalah iman Petrus, dan ini harus menjadi iman kita.

Ada banyak aspek kehidupan dan iman kita yang masih menjadi tanda tanya besar bagi kita. Kita mungkin tidak dapat memahami realitas Trinitas. Kita mungkin masih menggaruk-garuk kepala setiap kali seorang imam berbicara tentang dua kodrat Kristus. Kita mungkin masih merasa pusing setiap kali seorang pengkhotbah menjelaskan tentang transubstansiasi. Namun, terlepas dari perkataan keras ini, kita percaya.

Jika kita dapat memiliki iman kepada Yesus terlepas dari perkataan yang sulit, kita dapat memiliki iman yang sama juga meskipun kehidupan yang sulit. Jika kita dapat mengatakan YA kepada Yesus dalam Ekaristi, kita akan dapat mengatakan YA kepada Yesus dalam hidup kita, betapa pun sulitnya hidup ini. Di masa Pandemi ini, kita sering bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkan masa dan penderitaan yang mengerikan ini. Jika kita tidak memiliki iman Ekaristi, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam keputusasaan. Namun, dengan iman seperti Petrus, kita percaya bahwa Tuhan memegang kendali, dan Dia memiliki rencana yang besar bagi kita. Kita mungkin tidak mengerti arti dari penderitaan yang kita alami, tetapi kita tahu bahwa itu akan masuk akal suatu hari nanti.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

SEMUA AKAN DIUJI HATI DAN BATINNYA

SEMUA AKAN DIUJI HATI DAN BATINNYA

Sabtu, 21 Agustus 2021

Matius 23: 1-12

            Pekerjaan yang sering dianggap remeh dan rendah dalam sebagian besar masyarakat salah satunya adalah menjadi pelayan, entah di dalam rumah tangga, ataupun di lembaga dan perusahaan. Dibalik pandangan umum tersebut, ada sesuatu yang menjadi alasan dasarnya, yaitu seseorang melihat menjadi pelayan atau sikap melayani itu sebagai sesuatu yang hina dan memalukan.  Bagaimana dengan pandangan Tuhan Yesus tetap sikap melayani?  Dia justru mengajarkan, dan memberikan teladan untuk hidup saling melayani. Sikap melayani bisa muncul jika seseorang memiliki kerendahan hati. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”(Mat 23:12).

            Yesus sendiri telah menjadi yang pribadi yang mau merendahkan hati-Nya dan menjadi pelayan bagi semua, agar manusia diselamatkan. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”(Mrk 10 :45). Seseorang akan bisa melayani jika ia berani untuk menanggalkan dan menyangkal keinginan untuk dihormati oleh sesamanya. Sebab ketika seseorang melayani ia harus menjadi orang yang dibawah untuk bisa melakukan sesuatu penuh pengorbanan untuk memberikan kebaikan bagi mereka yang dilayaninya. Oleh karena itu sikap melayani tidak bisa dimiliki dan dilakukan oleh mereka yang masih berpusat pada diri sendiri. Sikap menyangkal diri bisa disebut pengosongan diri. Hal tersebut telah dilakukan oleh Yesus Kristus sendiri. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”(Felipi 2:6-8).

            Sikap pengosongan diri adalah sikap yang utama sebelum seseorang bisa memiliki sikap rendah hati dan siap untuk melayani. Sebelum seseorang mampu mengosongkan diri, maka ia harus bertempur dengan dirinya sendiri dengan segala kecenderungan untuk dihormati, dihargai, dan menjadi yang utama. Jika seseorang berani menyangkal diri/mengosongkan maka akan hadir dihatinya sukacita dan damai dari Allah. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.”(Yoh 14:27). Oleh karena itu, peziarahan yang utama yang menghantar seseorang pada kehidupan kekal adalah berziarahan batin, yaitu perjalanan bersama dengan Kristus Yesus, agar hatinya tetap terjaga sebagai hamba, yang selalu siap untuk melayani kehendak Bapa di sorga. Semua akan diuji dari dalam hati dan batin seseorang sejauh mana masing-masing orang setia atau tidak dan rendah hati dihadapan-Nya. “Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.”(Wahyu 2:23).

                                                                                                                                               Serawai, Rm. Didik, CM

MISI UTAMA

MISI UTAMA

Jumat, 20 Agustus 2021

Matius 22:34-40

            Yesus Kristus turun ke dunia dengan membawa Misi menghadirkan Kerajaan Allah. Melalui Dia, Putera Allah, Allah Bapa menyelamatkan umat manusia agar terbebas dari dosa dan menerima keselamatan. Kerajaan Allah adalah Kerajaan Damai yang dibangun oleh Yesus Kristus sebagai fondasinya. Yesus mengutus para murid yang telah dipilih-Nya untuk juga ambil bagian dalam Misi yang sama. “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga  sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan. Kami telah memperolehnya dengan Cuma-Cuma, karena itu berikanlah pula dengan Cuma-Cuma.”(Mat 10:7-8).

            Apa yang melandasi Kerajaan Allah yang dihadirkan oleh Yesus Kristus? Kerajaan Allah hadir pertama-tama di dalam hati manusia, dimana Allah bersemayam. Kerajaan Allah akan tumbuh berkembang saat seseorang mau menerima dan percaya kepada Allah dan Yesus Kristus, Putera-Nya menjadi Juruselamatnya. “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”(Mat 12:28). Di dalam hati manusia, Allah menaburkan benih-benih Kerajaan Allah, dengan harapan bahwa benih tersebut bisa tumbuh, berkembang dan berbuah. “Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah.”(Mrk 4:26).

            Pertumbuhan benih Kerajaan Allah membutuhkan kerjasama dengan manusia, yaitu dengan cara menjaga dan merawat supaya benih tersebut bisa tumbuh berkembang. Cara menjaga dan merawat adalah dengan berani meninggalkan diri dan melaksanakan apa yang di Sabdakan-Nya. “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah : Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”(Mat 22:37-39). Di dalam hukum tersebut telah tercakup seluruh isi Kitab Suci. “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi.”(Mat 22:40).  Dengan demikian, jika seseorang mampu menjalankan hukum tersebut, maka ia telah menjadi pelaku Sabda/firman. “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”(Yakobus 1:22).

            Secara bertahap ketika firman Allah telah diterima di dalam hati manusia, maka benih Kerajaan Allah akan bisa tumbuh. Pertumbuhannya bisa dilihat dari perubahan sikap, cara pandang, dan prilaku seseorang yang menjadi lebih rendah hati, tenang, dewasa, dan murah hati. Dengan demikian seseorang akhirnya bisa menghadirkan wajah Yesus Kristus sendiri di dalam kata dan perbuatannya. Siapa pun orang yang melihat dan bertemu dengannya akan merasakan daya/energi positif yang penuh damai, sebab apa yang dipancarkan bukan dari dirinya sendiri tetapi Kristus Yesus yang diam dan meraja di dalam hatinya. “Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cavangnya.”(Luk 13:19).

                                                                                                                                                             Serawai, Rm. Didik, CM

HIDUP ADALAH PERAYAAN IMAN

HIDUP ADALAH PERAYAAN IMAN

Kamis, 19 Agustus 2021

Matius 22:1-14

            Setiap hari Allah mengundang orang beriman untuk menjalini hidup sebagai perayaan iman. Artinya, bahwa setiap peristiwa yang ada adalah sesuatu yang bukan kebetulan, termasuk juga peristiwa kelahiran masing-masing orang.  Semua terjadi dalam satu bingkai, dimana Allah yang menjadikan semua, yang menjadi penyelengaranya  dan Dia memberikan juga hukum-hukum-Nya untuk mengatur bagaimana perayaan tersebut bisa berlangsung dengan baik. “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”(Mat 22:2-3).  Setiap yang yang masuk di dalamnya akan bisa merayakannya dengan baik dan sukacita jika mengikuti aturan-aturan-Nya. Aturan yang mengatur dan menjaga perayaan tersebut adalah Hukum Cinta-Kasih. “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (1 Kor 16:14).

            Namun, sekalipun Allah telah menyediakan undangan dan hidangan dalam perayaan tersebut, yaitu kasih, damai, harapan dan keselamatan bagi mereka yang mau datang dan percaya, tetapi setiap orang dengan kebebasannya bisa saja memilih jalan dengan mengabaikan tawaran dan undangan dari Allah. Menyedihkan sekali dan sikap yang memprihatinkan jika mereka menolak tawaran kasih dari Allah, dan memlilih jalan sendiri menuruti keinginan-keinginannya sendiri, yaitu kesenangan-kesenangan, dan ambisi-ambisi. “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.”(  Amsal 4:18-19 ). Oleh karena itu, tanggung jawab dalam hal memilih dan menentukan jalan yang akan dilalui ada di dalam diri masing-masing orang. Sementara itu Allah tidak bisa memaksa manusia, namun Dia selalu mendorong mereka agar memilih jalan yang benar  dan telah menyiapkan berkat-Nya, damai sejahtera, dan keselamatan bagi mereka yang setia.

            Hidup akan menjadi merayaan yang penuh damai dan sukacita apabila masing-masing orang tidak mengabaikan undangan dan tawaran kasih Allah. Tanda bahwa seseorang tidak mengabaikannya adalah dengan hidup menurut hukum-Nya (Cinta-Kasih).  Kasih adalah bagaikan pakaian yang layak untuk merayakan perjamuan dengan Allah.  Sebab  di dalam kasih, seseorang masuk didalam relasi yang dekat dengan Allah yang Maha Mulia. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”(1 Yoh 4:7). Apa yang telah dimulai di dunia ini akan berpuncak dan menjadi perayaan yang penuh, yaitu persatuan manusia dengan Sang Pencipta di Sorga.  Kerajaan Allah bisa sudah di alami dan dirasakan di dunia ini ketika setiap orang bersatu dalam kasih persaudaraan dan menerima serta percaya kepada Yesus Kristus, Putera Allah. “ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, malainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3:16). Semuanya itu di mulai dari percaya kepada Kristus Yesus sebagai awal untuk kemudian akan tumbuh dan berkembang, serta berbuah dalam karya cinta kasih, dan akhirnya  menjadi sempurna dalam kepenuhan; hidup kekal di dalam sorga.

                                                                                                                                                           Serawai, Rm. Didik, CM

MENJADI PELAYAN DALAM KERAJAAN-NYA

MENJADI PELAYAN DALAM KERAJAAN-NYA

Rabu, 18 Agustus 2021

Matius 20:1-16a

Allah hadir di dalam dunia dalam diri Yesus Kristus, Putera Tunggal-Nya.  Dia adalah Firman yang telah menjadi manusia dan turun ke dunia dan tinggal bersama dengan manusia. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”( Yoh 1:14). Dengan demikian melalui kehadiran Yesus Kristus, menjadi jelas bahwa Allah peduli dan mengasihi umat manusia, sebab Dia tidak rela mereka hidup dalam cengkraman maut atau dosa. Setiap orang diundang untuk masuk dan hidup dalam Kerajaan-Nya, dengan cara menerima, percaya Yesus Kristus dan mau melaksanakan apa yang diajarkan-Nya. Apa yang diajarkan dan apa yang telah diberikan oleh Yesus Kristus adalah kasih, harapan, kebenaran, dan keselamatan. “Dan selanjutnya kata Yesaya: “Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan.”(Roma 15:12).

Mereka yang telan menerima dan percaya kepada Kristus dianugerahi kepercayaan untuk menjadi pelayan di dalam Kerajaan-Nya, untuk membawa jiwa-jiwa manusia untuk bisa mengenal dengan percaya juga kepada Yesus Kristus.  Mereka menerima “upah” dalam pengertian sebagai berkat yang dibutuhkan orang setiap orang, agar ia bisa melayani Tuhan dan sesama dengan suka-cita, kerendahan hati dan ketulusan. “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari  pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.”(Mat 20:1). Keterlibatan seseorang dalam menghadirkan Kerajaan Allah di dunia adalah jawaban bebas masing-masing orang dalam menanggapi tawaran dan panggilannya sebagai murid Kristus. Semakin seseorang dengan rendah hati dan tulus, maka semakin ia akan mampu membawa jiwa-jiwa manusia yang terselamatkan dengan iman mereka. Sebaliknya jika sikap rendah hati dan ketulusannya menipis, maka semakin ia menjadi sulit untuk menjadi sarana/sakramen keselamatan, bagi orang-orang yang ada disekitarnya, sebab ia masih belum sepenuhnya rela untuk mambawa Kristus kepada mereka yang dilayaninya. Akibatnya pelayanan-pelayanan bukan membawa damai namun sebaliknya bisa menjadi beban berat dan akan banyak mengeluh dan marah ketika pelayanan harus menuntut mereka untuk berkorban. “Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak , tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu.”(Mat 20:10-11).

Kerajaan Allah adalah Kerajaan Damai yang bersumber dari Allah yang dihadirkan oleh Yesus Kristus dan Dia melibatkan para murid-Nya juga untuk menjadi rekan kerja-Nya. Bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri, namun untuk kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan umat manusia. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”(Yoh 16:33). Sejauh dan sedalam relasi seseorang dengan Yesus Kristus, maka sejauh dan sedalam juga damai dan harapan yang ia terima dari Kristus. Dengan relasi yang dekat seperti ini, maka seseorang akan selalu rindu untuk tinggal bersama-Nya, dan akan berjuang untuk melaksanakan firman-Nya. “Jawab Yesus: “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”(Yoh 14:23).

                                                                                                                                                            Serawai, Rm. Didik, CM

Translate »