Browsed by
Month: February 2014

Visi dan Misi Lubukhati.org

Visi dan Misi Lubukhati.org

Visi “Lubuk Hati”

“Saya tak ingin menjadi ‘mandeg’[1] dan melakukan hal lumrah saja. Saya masih bermimpi besar bahwa suatu saat kita bisa menyebarkan iman seluas dunia. Saya ingin menjadi seorang pembicara katolik yang ulung, motivator handal kelas dunia! Lubuk hati menjadi langkah pertamanya!”

Antonius Galih Aryanto, Pr.

Digerakkan oleh sebuah kerinduan hati yang terdalam, Romo Galih (biasa akrab dipanggil demikian) tidak puas dengan melakukan kegiatan rutin pastoralnya sebagai seorang imam katolik. Ia tergerak untuk memberi sesuatu bagi orang seluas dunia, tanpa batas, tanpa sekat! Mimpinya sederhana : menyebarkan kabar gembira Injil seluas dunia!

Untuk mewujudkan mimpinya tersebut, Romo Galih memulai langkah nyata pertamanya dengan menggagas berdirinya situs “Lubuk Hati ” bersama beberapa tokoh awam yang memiliki keprihatinan yang sama. “Lubuk Hati” adalah sebuah situs yang menyebarkan kabar gembira Injil secara online. Dengan konsep evangelisasi online, batasan jarak, ruang dan waktu tak lagi menjadi soal. Siapapun, kapanpun, dan dimanapun, sepanjang ada koneksi internet, orang dapat menyebarkan maupun mengakses kabar gembira Injil.

Mengapa “Lubuk Hati”?

Nama “Lubuk Hati” dipilih sebagai lambang hati yang terdalam. Hati adalah indra keenam yang membuat manusia menjadi makhluk ciptaan Allah yang serupa dengan Allah itu sendiri. Hanya melalui lubuk hati sajalah, manusia bisa mendengar dan merasakan firman Allah yang hidup. Di dalam lubuk hati, sebuah gerakan yang paling dalam, murni dan dahsyat dapat muncul. Relasi yang erat, baik dengan Allah – sang pencipta, diri sendiri, maupun sesama manusia juga hanya bisa terjadi apabila relasi tersebut sudah sampai menyetuh lubuk hati. Dari dalam lubuk hatinya, seseorang bisa menutup ataupun membuka diri untuk Allah dan sesama.

Dengan kuasa Roh Allah sendiri , kehadiran situs “Lubuk Hati” diharapkan mampu menggerakkan lubuk hati para pengaksesnya. Jika hati yang terdalam telah tergerak, para pengakses bisa terbuka terhadap firman Allah yang hidup. Keterbukaan terhadap firman Allah menjadi awal dimana para pengakses mampu mengembangkan sebuah relasi yang lebih akrab dengan Allah, diri sendiri dan sesamanya. Akhirnya, relasi akrab tersebut akan mampu mengubah hidup para pembacanya. Hidup diubah menjadi sebuah hidup yang lebih hidup dan berkobar,  tidak termakan oleh arus rutinitas begitu saja, tetapi  digerakkan oleh visi, misi, impian, kerinduan, panggilan hati yang terdalam, sebagaimana  menjadi semangat dasar situs “Lubuk Hati”.

 

 

 

Misi “Lubuk Hati”

Didorong oleh semangat yang tidak ingin ‘mandeg’, Romo Galih mengajak berbagai pihak, baik kaum  awam maupun rohaniwan untuk ikut menyebarkan kabar gembira kepada dunia. Ia pun membuka diri seluas-luasnya bagi setiap pribadi yang sevisi untuk bekerja bersama demi pengembangan situs “Lubuk Hati”. Latar belakang sosial, ekonomi, maupun pendidikan bukanlah kriteria yang utama , namun kerinduan hati untuk memberi kontribusi bagi sesama menjadi hal yang menyatukan kita dalam lubuk hati.

Mulai dari seorang tokoh awam,  Wahono Widjaja sebagai pengembang situs dan support di bidang teknologi informasi, hingga rekan sesama rohaniwan katolik, para romo dan suster, telah bahu membahu dalam mengembangkan situs “Lubuk Hati”. Beberapa nama rohaniwan seperti Lusius Nimu, SSCC, Al Mary Ardi Handojoseno, SJ, FX. Sulistya Heru Prabawa, O.Carm dan para suster dari Daughters of Carmel telah ikut berkomitmen secara sukarela untuk ikut mengembangkan “Lubuk Hati”. Lebih lengkapnya, pengakses dapat membuka tag “narasumber” untuk semakin mengenal para rohaniwan yang menjadi kontributor situs “Lubuk Hati”.

Romo Galih merindukan situs “Lubuk Hati” menjadi milik para pengakses maupun sukarelawan yang terlibat di dalamnya dari seluruh dunia! Lubuk Hati for the world! Oleh karena itu, jika Anda rohaniwan katolik dan tertarik untuk memberi kontribusi kepada “Lubuk Hati” dalam bentuk apapun silahkan menghubungi kami melalui tag “Contact Us”. Kontribusi tidak hanya terbatas pada renungan-renungan rohani tertulis, namun kami juga mengembangkan dalam berbagai bentuk inovasi, antara lain :  Broadcasting (live dan on demand), pendalaman iman dan spiritualitas sebulan 2x, minggu ke II & ke IV. Bahan-bahan yang akan diberikan pun bisa bervariasi, meliputi hidup spiritualitas & doa, pendalaman Kitab Suci, ajaran, etika, moral dan sosial Gereja, mariologi, dan apologetika. Jika Anda masyarakat awam, Anda tetap dapat berkontribusi untuk situs “Lubuk Hati” dalam berbagai bentuk yang tidak kalah pentingnya, seperti : pengembangan website dan teknologi pendukung situs, pengembangan jaringan sosial dan komunikasi, pendanaan, dan aneka kontribusi lainnya yang sifatnya sukarela. Anda juga dapat menghubungi “contact us” untuk mendiskusikan lebih lanjut.

Terima Kasih, Salam “Lubuk Hati”, Kobarkan Iman Kristiani!

 [1] Ungkapan dalam bahasa Jawa yang artinya : diam di tempat, begitu-begitu saja, tidak ada kemajuan, stagnan.


Hablo Espanol un poco!

Hablo Espanol un poco!

hablas

Bacaan I: Yakobus 2: 14-24

Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?  Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Hari Rabu sore (Feb 19), saya diminta sekelompok kecil teman merayakan misa dalam bahasa Spanyol. Ini Misa yang ke 3x saya memakai bahasa Spanyol. Semula saya ragu karena tak pernah belajar Spanyol dengan serius, hanya lewat internet sembari mendengarkan lagu-lagu Enrique di Youtube. Namun sungguh ajaib bahwa umat bisa menjawab perkataan saya dalam misa itu dengan baik. Ternyata pengucapan bahasa Indonesia dan Spanyol tak jauh berbeda. Meski ada beberapa kesalahan omong tak apa, sembari belajar bahasa dalam Misa. “Tuhan mengijinkan” pikir saya.

Bulan lalu, seorang umat meminta saya memberi minyak suci di rumah sakit dalam bahasa Spanyol. “waduh..saya tak pernah lalukan dan menyiapkan!” Dia hanya berkata “Hazlo, Padre!” Just do it, lakukan dengan spontan Romo! Lagi..lagi..ajaib, saya membacakan doanya dalam bahasa Spanyol,  dan teman yang sakit itu menjawab dan  amat senang karena dia menerima sakramen dalam bahasanya.

Ternyata, kita butuh keluar dari rasa aman dan nyaman untuk bisa membantu orang lain. Spontanitas dan keberanian untuk mencoba menjadi kunci kita mengungkapkan iman dan menjadi terbuka pada dunia yang lebih luas dari lingkungan yang akrab dengan kita. Rasul Yakobus berkata hari ini, “Tunjukkan imanmu dalam perbuatan!

Iman kita butuh di ekpresikan dalam ibadah bersama, juga diwujudkan dalam perbuatan hidup. Lakukan itu dengan spontan, berani keluar dari rutinitas, “Out of the box”, dan mau mencoba sesuatu yang baru. Just do it today!

(terjemahan Judul: “Saya omong Spanyol sedikit saja!”

 

Tak sekokoh batu karang!

Tak sekokoh batu karang!

 

batu  Bacaan I: Yakobus 2: 1-9; Markus 8: 27-33

Kaesarea Philippi terletak di sebelah baratdaya Israel, wilayah dataran tinggi Golan, di kaki bukit Hermon. Wilayah ini daerah yang penuh bukit karang menjulang tinggi. Sebagian besar penduduknya bukan orang Yahudi, dan mereka kebanyakan menyembah dewa-dewa asing, terutama Baal, dewa kesuburan yang masyur di tanah ini.

Di tengah kuil dewa-dewa Kaesarea, Yesus bertanya pada muridnya, “Siapa aku ini menurutmu?” Petrus menjawabnya, “Engkalulah Kristus, anak Allah yang maha tinggi!”  Karena jawaban itu, Yesus berkata pada Petrus, “Petrus, di atas batu karang ini, aku akan mendirikan jemaatku!”  Yesus meletakkan kepercayaan yang amat besar dalam pundak Petrus. Dan nama Petrus berarti “batu karang”.

Dalam kenyataannya, Petrus tak sekokoh namanya, ia mudah goyah, takut, dan retak. Ia takut dan hampir tenggelam saat berjalan di atas air menjumpai Yesus. Dia diusir Yesus dan sebut sebagai “Iblis” karena tak memahami arti mesias yang harus menderita, “Pergilah engkau Iblis!” Bahkan Ia tak mau mengakui Yesus sebagai guru saat dia di tangkap oleh pengawal bait Allah.

Akhirnya, Petrus bisa belajar dari semua kelemahan itu. Dia akhirnya berani mati dengan gagah berani! Ia menjadi kokoh, tegar, dan berdiri kuat solid bagai batu karang, mati disalib dengan kepala di bawah, dan kaki menjulang ke langit.

Semoga hari ini kita bisa mengalahkan kelemahan diri, dan menjadi kokoh seperti Petrus!

Padamkan Amarahmu sebelum Matahari Terbenam!

Padamkan Amarahmu sebelum Matahari Terbenam!

angerBacaan: James 1:19-22 ; Markus 8:22-26

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;  sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja;

Kapan terakhir kali marah? Marah adalah keadaan emosional yang merespon suatu bahaya dari luar atau dari dalam diri.  Kemarahan bisa menimbulkan rasa berkuasa, sering disertai kehendak untuk menyerang dan bertengkar demi mempertahankan diri dari serangan dari luar.

Kita bisa marah pada orang tertentu (teman, coworker, employer), marah pada keadaan (macet, canceled flight, gaduh), juga marah karena kita cemas dan takut akan persoalan pribadi kita. Kemaraan bisa terjadi pada intensitas yang sedang, atau berkobar sampai tak terkendali.

Santo Yakobus berkata amarah tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Buanglah yang kotor dan jahat dari hati. Kemarahan menjadi tidak benar ketika diekpresikan dengan kasar, destruktif, irasional, serta membahayakan diri dan orang lain. Rasa marah perlu diekpresikan dengan asertif yaitu tidak merusak dan membahayakan diri serta sesama.

Belajarlah mengontrol amarah! Bukan amarah yang mengontrol kita. Bagaimana mengelola marah? Pertama, sadarlah bahwa sekarang kita sedang marah, kenali perasaan itu. Kedua, katakana pada diri, “be calm! God, have mercy!” Don’t be destructive!” Peace…peace… Ketiga, tarik nafas panjang-panjang berulang kali. Keempat, kalau mau diekpresikan kemarahannya, katakana to the point apa yang membuat marah kita! Kelima, salurkan energi marah dengan olah raga, melakukan aktivitas pribadi, hobi, atau sekeder jalan kaki diluar rumah beberapa blok! Pasti akan membawa dampak positif.

Sekali lagi, “padamkan amarah sebelum matahari terbenam!”

Kecaplah Betapa Sedapnya Tuhan!

Kecaplah Betapa Sedapnya Tuhan!

komuniYakobus 1: 12-18; Markus 8: 14-21

“Hm….betapa nikmatnya, yummy dan uenaak!” kata seorang teman seusai makan di Japanese Buffet, Concord. Seolah dia sungguh puas makan walau harus berkendaraan dari Berkeley ke tempat ini. Bahkan di Sabtu sore, orang mengantri panjang demi makan di restoran siap saji ini. “nikmat dan puas” itulah yang mendorong perut mencari makanan enak, membuat orang ingin selalu  kembali karena mendapatkan kepuasan.

Dalam audiensi Rabu lalu (Jan 12, 2014), Bapa Suci Fransiscus mengingatkan kita, “Ekaristi hendaknya menjadi tempat kita menemukan kedekatan dan pertemuan dengan Tuhan yang paling mendalam.” Tak ada tempat lain selain dalam Sakrament Gereja, terumat Ekaristi, kita merasakan kehadiran Allah yang amat sangat! Membuat kita selalu ingin datang lagi dalam perjamuan suci ini.

Namun sering kali kita sibuk pada hal-hal remeh yang mengalihkan pusat kita pada Ekaristi. Orang masih melihat, “Romo Siapa yang misa? Apa kotbahnya, membosankan atau lucu? Kor baik atau buruk? Apa ada teman yang aku kenal dalam misa?” Dan masih banyak hal lain yang membuat makna terdalam Ekaristi menjadi kabur dari pusat perhatian.

Para murid Yesus juga tidak memahami makna mukjijat penggandaan roti. Sampai Yesus berkata, “betapa kerasnya hatimu!” Mereka tak mengerti bahwa dalam mukjijat itu semua orang menjadi kenyang, dan masih sisa 12 keranjang. Penggandaan roti untuk 5000 orang menjadi tanda Yesus yang memberikan dirinya sendiri pada kita seperti dalam Ekaristi.

Semoga setiap petugas misa, Romo, Lektor, Koor mau berusaha menyiapkan diri dengan baik sehingga membantu umat menemukan Allah dalam Ekaristi, dan tidak menjadi batu sandungan .  Hingga mereka bisa berkata, “kecaplah betapa sedapnya Tuhan!”seusai misa, bukan hanya sesudah makan di Buffet!

Translate »