Browsed by
Month: November 2016

Memilih Pemimpin

Memilih Pemimpin

Image result for election day

Bacaan: Timotius 2:7-8

Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan  dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita. 

Tepat pukul 7 pagi hari ini, di Aula Paroki St. Jerome tempat saya tinggal dipakai untuk tempat pemilihan. Berduyun-duyun orang Amerika datang untuk memilih calon presiden baru, Hillary atau Trump. Sejak 2 minggu lalu sudah ada lebih dari 21 juta orang memilih dan mengirim via pos. New York Times menganalisa kalau Trump mendapat dukungan banyak dari sekitar  28 juta (57%) orang putih Amerika yang bependidikan tak sampai perguruan tinggi. Sedangkan Hillary hanya mendapat 29% suara dari pemilih orang putih yang berpendidikan tak sampai college.

Sampai detik akhir ini masih ada 11 juta orang belum menentukan sikapnya akan memilih siapa. “Betapa sulitnya pilihan presiden kali ini, tak ada yang bisa diteladani dan tidak jujur” kata seorang calon pemilih. Jujur, berintegritas, bisa diteladan, serta mendahulukan kepentingan orang banyak adalah kriteria yang dicari dari seorang pemimpin.

Betapa bedanya dengan keadaan di Jakarta 4 Nov yang lalu. Jelas-jelas kita memiliki seorang gubernur yang jujur dan berintegritas, tapi masih ada sebagian orang tak bisa menerimanya. Demontrasi itu melukiskan kalau kepetingan politik dan kekuasaan sesaat lebih dicari orang, lalu berusaha dengan cara kotor menyingkirkan pemimpin yang ada dengan alasan apapun.

Kita sadar kalau sebagian besar para pemilih di negara kita masih kurang kritis, mudah diberdayakan dengan alasan tertentu. Semoga anda yang punya hak pilih bisa menentukan pilihan pada pemimpin yang baik, jujur, beritegritas, tak bercela sehingga kita memiliki pemimpin yang bisa mendahulukan kepentingan orang banyak.

God of the Living

God of the Living

32nd Sunday in Ordinary Time
November 6, 2016
Luke 20:27-38
“He is not God of the dead, but of the living, for to him all are alive.” (Luk 20:38)
 
The month of November is dedicated to honor all the saints in heaven as well as to pray for the souls in the purgatory. It begins with the celebration of All Saints’ Day on November 1 and the commemoration of the All Souls Day on November 2. We, the Dominicans, celebrate the all Dominican Saints on November 7 and pray for the souls of our Dominican family on November 8. This Church’s celebration traces its origin to Pope Boniface IV in the 7th century, yet its roots go deeper into Jesus Christ Himself.
In today’s Gospel, Jesus affirmed the truth of the resurrection of the dead. This truth presupposes that life is not ended in death but transformed. There is hope after this earthly sojourn. The probable context behind this verse is that of Jesus’ critique of the Sadducees’ unbelief as well as the pagan belief of the realm of the dead. During those times, ancient civilizations worshiped the gods of death more than other gods because they feared the power of death that could destroy life and bring human existence to nothing. The Greeks had Hades, the Romans worshiped Pluto and the Egyptians honored Osiris. Yet, Jesus revealed fundamentally a different truth: Our God is not God of the dead, but God of the living. He still gives us life despite our physical death. This means that we are not mere afterlife disposable garbage or useless souls wandering on earth. We are loved even if we are no longer here on earth. Thus when Jesus commanded us to love one another, this love is not only for our Christian fellows who are still alive, but also for our brothers and sisters who have gone ahead of us.
In ancient Roman tradition, the cemetery was located far away from the cities. These were called necropolis, literally the city of the dead, because the dead had nothing to do anymore with the living. Yet, early Christians opted to do their liturgy inside the catacomb, the underground cemetery. True, it was a hiding place from the Roman authority who persecuted the early Christians, but it was also reflected their faith that they were actually praying for and with the dead brothers and sisters. In many churches, the burial ground was within the same complex. Even in our place in Manila, the burial place of the departed Dominican brothers and priests is just beside our seminary. Their permanent rest place is just a few meters away from our temporary rest place! This proximity reminds us of the bond of brotherhood and love among us. We are reminded to pray for them and to imitate them who were faithful until death. We are reminded, too, that they also pray for us from heaven.
Following the teaching of Jesus, the Church believes that those who are no longer with us, are still part of the Church. Those in heaven are members of the Church triumphant; those in purgatory belong to the Church suffering, and we here on earth are part of the Church militant. Yet, all are one of the same Church, profess the same faith, and worship the same God. Since all are members of the body of Christ, we are united closely in Christ and His love. Thus, it is proper for us to manifest our love for our departed brothers and sister through our prayers and they help us in prayer and intercessions.
 
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan

Segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan

HARI SABTU MINGGU 31
MASA BIASA
5 November, 2016

Filipi 4:10-19
Lukas 16:9-15

Saudara-saudari terkasih,
    Kita semua sudah lama mendengar apa yang Yesus katakan dalam bacaan Injil hari bahwa, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mammon.” Namun tidak mustahil andapun akan bertanya, “apa itu Mamon?” Kebanyakan para ahli tidak semuanya sepakat memberikan arti kepada kata “mamon,” secara etimologis. Seringkali orang mengartikannya dengan “kaya” ataupun “kekayaan,” meskipun oleh beberapa ahli masih memberikan beberapa terjemahan yang lebih menarik. Terjemahannya datang dari kata Yunani atau juga dari bahasa Aramaica yang berarti “dimana semua orang percaya, atau menaruh kepercayaan kepada harta dan kekayaannya.” Apakah kita menaruh kepercayaan kepada kedudukan/jabatan, wewenang dan title? Sangat mungkin “mamon” dalam konteks ini bisa menjadi fokus seseorang untuk menjauhkan diri dari Tuhan, menjadikannya sebagai sumber hidup dan menjadi hidup satu-satunya.
     Dalam bacaan hari ini Yesus berbicara tentang kekayaan yang bisa saja membuat orang menjadi “tidak jujur.” Apakah itu yang Yesus maksudkan dengan orang yang mengikuti konsep ini untuk berlaku tidak jujur? Sepertinya Ya! Namun dipihak lain kepada mereka yang datang mendengarnya, Yesus maksudkan agar mereka berhenti mempergunakan kekayaannya untuk kepentingan diri sendiri. Tetapi mempergunakannya secara baik, dan tepat guna. Yesus mengingtkan agar kita tidak menaruh kepercayaan seutuhnya kepada harta benda duniawi untuk kehidupan kekal, tatapi mempergunakannya secara tepat untuk membangun kerajaan Allah di bumi tercinta ini. Kita seharusnya menaruh seluruh kepercayaan kepada Tuhan, dan mempergunakan semua berkat yang telah kita terima dari Tuhan untuk memuji, memuliakan dan melayaniNya dalam diri sesama.
    Segala sesuatu yang duniawi itu akan cepat sekali berlalu. Kita sudah sering juga melihat bahwa hidup orang dalam sekejap dapat berubah begitu cepat. Tetapi Allah dan kerajaanNya tetap selamanya, tidak pernah akan berubah. Oleh karena itu, kita harus bisa menaruh seluruh kepercayaan kepadaNya. Apakah anda hanya mempunyai satu tuan dalam hidupmu?
Saudara-saudari terkasih,
    Kita hanya mempunyai satu tuan di dunia ini: yakni “Allah Bapak kita yang penuh belaskasih.” Marilah kita berjuang dan berlomba-lomba mencintai dan melayani Tuhan kita; dengan demikian hidup kita akan dipenuhi dengan kedamaian dan kegembiraan serta sukacita, dan sekali kelak kita boleh hidup  berbahagia bersama Tuhan di surga. Amin.
Allah menciptakan langit dan bumi; dan kita mempergunakannya secara bijaksana

Allah menciptakan langit dan bumi; dan kita mempergunakannya secara bijaksana

HARI JUMAT DALAM
PEKAN BIASA KE 31
4 November, 2016

Filipi 3:17-4:1
Lukas 16:1-8

Saudara-saudariku terkasih,
    Dari Katekismus Gereja Katolik dikatakan: “Orang Kristen sejati adalah pelayan dan bendahara harta benda Allah, dan semuanya itu adalah kepunyaan Allah.” Sementara bacaan Injil hari ini Lukas berbicara tentang “bendahara yang tidak jujur,” sepintas boleh dikatakan bahwa bendahara ini sudah diracuni oleh kuasa setan. Bendahara itu dilaporkan telah menghamburkan harta milik tuannya. Tidak disangka-sanka perbuatannya itu diketahui oleh tuannya…ketika ia dipanggil oleh tuannya untuk mempertanggungjawabkan apa yang tuannya dengar tentang ketidak jujurannya. Sebelum dia jatuh melarat, karena dia tidak mungkin akan melanjutkan pekerjaannya lagi sebagai bendahara, secara licik ia masih mempergunakan kesempatan melakukan sesuatu, mempergunakan sisa-sisa jabatannya sebagai bendahara. Sekali lagi harta benda tuannya itu disalah gunakan untuk kepentingannya ketika ia sudah dipecat dan menjadi penganggur.  Oleh karena itu ia memanipulasi surat utang dari setiap orang yang berutang pada tuannya dengan cara mengurangi jumlah utang mereka. Oleh perbuatannya itu, ia malahan dipuji oleh tuannya atas kecerdikannya (acting prudently)
Saudara-saudari terkasih,
    Benarkah bahwa si bendahara itu dibiling “cerdik”? Ya, sangat mungkin pujian tuannya itu benar. Katekismus juga mengajarkan bahwa “segala seuatu yang dimiliki oleh setiap orang Kristen dipandang sebagai harta benda yang bisa dinikmati oleh orang lain, dinikmati juga oleh orang lain.” Dalam pandangan ini boleh ditafsirkan bahwa apa yang kita miliki bisa menjadi harta bersama yang bisa dinikmati juga oleh sesama. Pernyataan ini dimaksudkan agar kita tidak menjadi sangat terikat kepada harta duniawi….“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (“You cannot serve God and mammon.”)
    Sehubungan dengan “the common good” (harta benda bersama), telah ditunjukkan jyga oleh St. Karolus Boromeus yang pestanya kita rayakan hari ini. Santu Karolus Boromeus yang pada abat ke 16 telah menjadi kardinal dan uskup telah mendedikasikan (mempersembahkan) hidupnya untuk usaha membaharui pergolakan politik dan agama dalam tubuh gereja. Ia telah melihat bahwa ada banyak persoalan dalam tubuh gereja ketika ada pergolakan dan reformasi dari Protestan hanya karena kurangnya pengetahuan dan rendahnya pendidikan di Seminari. Pengetahuan intelektual dan latihan di Seminari kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, berkat usahanya dalam Konsili Trente, pendidikan di Seminari diperbaharui dan ditingkatkan mutunya. Beliaupun mendirikan dan menetapkan doktrin tentang semangat persaudaraan yang erat hubungannya juga dengan pendidikan di Seminari itu. St. Karolus Boromeus juga mempersembahkan hidupnya untu menolong orang miskin dan mereka yang membutuhkan perhatian dan cintanya.
Saudara-saudari terkasih,
    Betapapun St. Karolus Boromeus dilahirkan dari keluarga yang kaya-raya, ia memilih hidup panggilannya untuk melayani Tuhan dan sesama. Rahmat dan berkat yang ia terima dari Tuhan, baik material dan spiritual, pengetahuan dan jiwa kepemimpinannya, telah ia persembahkan kepada sesama. Sebagaimana dikatakan juga dalam surat pertama Petrus 4:10…”Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” St. Karolus Boromeus adalah salah satu idola kita dalam pengabdian dan pelayanan kepada sesama, menjadi seorang pengurus, pelayan, dan bendahara yang baik. Amin.
ALLAH MENCARI DAN MEMANGGIL

ALLAH MENCARI DAN MEMANGGIL

HARI KAMIS DALAM PEKAN
KE 31 – MASA BIASA
3 November, 2016

Filipi 3:3-8a
Lukas 15:1-10

“Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukanya?”

Pertanyaan retorik Yesus diatas mengundang jawaban spontan dari para gembala professiona: “Sudah jelas, setiap gembala pasti akan buat itu.” Akan tetapi dalam kenyataannya, bukan tidak mungkin bahwa ada juga gembala yang enggan atau tidak melakukan statement Yesus diatas. Alasannya, bahwa waktu yang dipergunakan untuk mencari yang hilang itu, bisa juga membawa dampak yang negatip untuk keseluruhan kawanannya.

Pertimbangan diatas Yesus mau menyatakan bahwa “betapa baiknya Tuhan Allah kita.” Dengan perumpamaan diatas Yesus juga mau menegaskan bahwa Allah benar-benar memperhatikan setiap pribadi yang telah Ia ciptakan tanpa batas. Kalau kita jauh dari Tuhan, kalau kita melepaskan diri dari Tuhan, Allah akan selalu memanggil kita kembali kepadaNya. Sikap Allah ini sudah bisa kita lihat sejak awal penciptaanNya. Dalam Kitab Kejadian 3:8 dan 9 dikatakan: “Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi Tuhan Allah MEMANGGIL manusia itu dan berfirman kepdanya: “DIMANAKAH ENGKAU?” Allah akan selalu mencari dan memanggil kita kembali kepadaNya ketika kita berusaha untuk lari dari padaNya, atau bersembunyi dari pandanganNya.

Oleh karena itu Yesus sekali lagi menegaskan dalam bacaan hari ini bahwa, …”akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

Apakah akan timbul pertanyaan: “Siapakah yang sembilan puluh sembilan orang itu?” Apakah anda mengenal siapakah mereka dalam kehidupanmu? Saya kira tak seorangpun tahu. Oleh karena itu sudah sangat pasti semua orang akan memerlukan pertobatan. Tak seorangpun sempurna, kita semua sebagai manusia yang lemah dan terbatas pada kemampuan.

Saudara-saudari terkasih,

Kenyataannya, bahwa kita semua kadang-kadang berusaha menjaukan diri dari Tuhan hanya karena kepentingan dan kesenangan pribadi. Oleh karena itu kita semua pasti memerlukan kasih dan pengampunan dari Tuhan. Dengan perumpaan yang simple dan singkat ini Yesus mau mengingatkan kita selalu bahwa Allah kita adalah Allah yang penuh kebaikan, kasih dan pengampunan. Atau juga seperti Pope Francis tak henti-hentinya mengingatkan kita: “God never gets tired of forgiving us. it is we who grow tired of asking for forgiveness.” Amen.ALLAH MENCARI DAN MEMANGGIL

Translate »