Browsed by
Month: October 2017

Senin Pekan Biasa XXIX

Senin Pekan Biasa XXIX

Senin Pekan Biasa XXIX

Bacaan: Roma 4:20-25; Lukas 12:13-21

 

“Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga” Begitulah moto kaum materialistis bin serakah. Kaya akan harta benda memang tidak dilarang. Namun, ketika kita menjadi materialistis, berfokus hanya pada harta kekayaan serta tidak peka terhadap sesama yang menderita dan berkekurangan, hidup kita senantiasa merasa terancam, tidak damai, dan tidak tenteram. Sebab, dengan mentalitas seperti itu, kita menjadikan harta benda sebagai tujuan utama hidup kita atau men-tuhan-kan harta kekayaan, dan bukan semestinya hanya sebagai sarana belaka.

Saya pernah membaca cerita tentang cara unik untuk menangkap monyet oleh orang-orang Afrika. Caranya demikian. Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan mengikat/menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan. Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak akan melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

Barangkali kita tertawa dengan kebodohan monyet-monyet tersebut. Namun, terkadang kita dapat berlaku sama seperti monyet itu jika kita begitu terikat dengan kekayaan dan harta benda kita. Kita bisa menjadi orang yang serakah atau tamak. Orang yang serakah adalah orang yang dibelenggu oleh keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, dan complain apa yang Tuhan berikan kepada kita. Yesus menegaskan kepada kita untuk “jangan mengingini” apa yang tidak menjadi hak kita. Dia juga menyatakan bahwa kehidupan seseorang (kebahagiaan seseorang) tidak ditentukan oleh kelimpahan harta miliknya.

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus berkata: “Janganlah kamu mengumpulkan di bumi,” (Mat 6:19). Dalam Injil hari ini Yesus menegaskan: “Hindarilah keserakahan dalam segala bentuknya.” Dia mengajarkan hal ini dengan sangat tegas dalam perumpamaan tentang “Orang kaya yang bodoh.” Di dalam perikop ini, Yesus tidak menyalahkan orang kaya tersebut karena rajin mengumpulkan harta, namun karena keegoisan dan ketamakannya. Orang ini kehilangan kemampuan untuk memperhatikan orang lain. Dengan kata lain, Yesus mengatakan kepada kita bahwa untuk menemukan kebahagiaan sejati, kita perlu bertumbuh menjadi “orang yang kaya” bagi Tuhan dan sesama daripada menjadi kaya bagi diri kita sendiri.

Harta benda pada dasarnya bersifat sosial dan bertujuan untuk membuat manusia semakin manusiawi dan beriman kepada Tuhan. Dalam hidup meng-gereja, harta benda disebut sebagai harta benda gerejawi dan harus dimanfaatkan sesuai dengan tujuannya, yaitu memenuhi kebutuhan sarana-prasarana untuk beribadat kepada Tuhan, mencukupi kebutuhan hidup para petugas pastoral, dan berbuat amal kasih, terutama terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka, baiklah kita menggunakan harta benda/milik pribadi tidak jauh dari tujuan di atas. Semakin kita kaya akan harta benda, hendaknya kita semakin mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan dan sesama, atau semakin bersahabat dengan Tuhan dan segala ciptaan-Nya. Ingatlah bahwa “karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu” (Ef 2:8-9).

 

Minggu, 22 Oktober 2017

Hari Minggu Biasa XXIX
Hari Minggu Evangelisasi
[Yes. 45:1,4-6; Mzm. 96:1,3,4-5,7-8,9-10ac; 1Tes. 1:1-5b; Mat. 22:15-21]

MENGGANTI KACAMA ‘NEGATIF’ DENGAN KACAMATA ‘POSITIF’

Saya mensyukuri bahwa sampai hari ini masih bisa membaca dengan normal tanpa menggunakan kacamata. Beberapa teman, ada yang mengalami kesulitan membaca kalau tidak menggunakan kacamata, entah karena ‘minus’, ‘plus’ atau bahkan kombinasi kedua-duanya atau menggunakan lensa silinder. Namun, kalau tidak menggunakan kacamata, memang akan kesulitan membaca. Apalagi teman-teman yang masih kuliah dengan mengerjakan tugas akhir berupa penulisan tesis, membaca tentu saja akan menjadi kegiatan dominan sehari-hari. ‘Kacamata’ menjadi semacam ‘juruselamat’ untuk mereka yang memiliki kekurangan soal penglihatan, dan akan selalu menyesuaikan dengan keadaan masing-masing mata. Ya itu tadi, kalau mata ‘minus’, maka lensa yang dipilih akan menyesuaikan, dan tidak mungkin akan menggunakan lensa silinder, demikian seterusnya. Karena lensa yang tepat, akan menentukan penyesuaian mata yang tepat pula, sehingga semuanya dapat berfungsi normal.

Hari Minggu ini, kita juga hendak merenungkan soal ‘kacamata’, tapi dalam arti kacamata sebagai sebuah ‘cara pandang’. Kita mengikuti sebuah kelanjutan cerita tentang rasa iri yang menimpa orang-orang Farisi terhadap Yesus. Yesus berbuat banyak hal: menyembuhkan orang sakit, melepaskan orang kerasukan roh jahat, memberi makan 5000 orang dan bahkan membangkitkan orang mati. Orang-orang Farisi ini takut tersaingi maka mereka selalu menempatkan setiap perkataan mereka dan tindakan mereka kepada Yesus dalam ‘kacamata’ iri hati. Seperti yang mereka katakan untuk mencobai Yesus: “…katakanlah kepada kami pendapatMu: apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Yesus tahu isi hati orang-orang Farisi dengan segala maksud rencana busuk mereka, maka dengan penuh hikmat, Yesus menjawab: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Dan lewat jawaban ini, ‘jebakan’ orang-orang Farisi menjadi mentah dan menemui kebuntuan.

Cara pandang kita terhadap sesuatu memang akan selalu mempengaruhi perkataan dan tindakan kita, seperti orang-orang Farisi yang selalu memakai ‘kacamata’ iri hati ketika harus menilai sosok Yesus, sehingga tak ada perkataan dan perbuatan simpatik yang mereka tunjukkan kepada Yesus. Namun, satu hal yang pasti, Yesus selalu dapat mengatasi maksud jahat tersebut, karena bagaimanapun kebenaran tidak pernah akan lekang oleh apapun. Kita diajak oleh Yesus untuk memandang segala sesuatu dari berbagai macam posisi dan dimensi, bahkan selalu memandang dalam sisi positif meski kadang ada sesuatu yang hampir tidak ditemukan sisi baiknya. Dengan menemukan sisi-sisi baik dari sebuah keadaan atau diri seseorang, kita juga belajar untuk menemukan kebaikan-kebaikan Allah dalam peristiwa kehidupan, meski secara kasat mata, hal tersebut mewujud dalam sesuatu yang tidak baik. Semoga kita mau menanggalkan ‘kacamata’ negatif kita dan menggantinya dengan ‘kacamata’ yang positif, sehingga hidup kita senantiasa memancarkan kebenaran yang datang dari Allah saja.

 

Tax

Tax

Tax

29th Sunday in Ordinary Time

October 22, 2017

Matthew 22:15-22

“…repay to Caesar what belongs to Caesar and to God what belongs to God.” (Mat 22:21)

“In this world nothing can be said to be certain, except death and taxes.”  Benjamin Franklin once said. Indeed, tax is an unpleasant and unavoidable fact in our lives as ordinary citizen. A portion of our hard-earned wage is suddenly taken away from us, and only God knows where it goes. In modern society, almost all we have, we gain, and we use are taxed. The practice of taxing people goes back to first known organized human societies. The basic idea is that tax will provide a common resource for the improvement of the community, like building roads, free education and quality health care. Yet, the ideal is often met with abuses. In olden time, the kings and chieftains taxed people so they could build their grand palaces and feed their wives. Unfortunately, the situation does not change much in our time.

In the time of Jesus, taxation is a burning issue. Ordinary Jews like Jesus himself are taxed heavily by the Roman colonizers, and for those who are not able to pay, they are dealt with severity. Their properties are confiscated, they are put to jail and even face capital punishment.  Not only that the Jews need to pay tax to the Romans, but they need also to pay the religious tax to support the Temple. These leave simple Jewish farmers or laborers with almost nothing, and the poor become even poorer. Both Jesus and the Pharisees are also victims of this unjust system.

Any Jew would abhor paying tax to the Romans and lament his obligation to support the Temple, but majority of the Jews will prefer to abide with the rules and pay the tax because they do not want to court problems. The Pharisees and other pious Jews detest using the Roman coins because there is engraved the image of Caesar as god. The entire system is simply idolatrous for them. Yet, even many Pharisees pay their share as to maintain peace and order. The usual impression of this Gospel episode is that wise Jesus outwits a team of Pharisees and Herodians, who plan to trap Him with a tricky yet politically charged question. Yet, going deeper, there are so much at stake. Though the question is directly addressed to Jesus, the same question is applicable to all Jews who are forced to pay tax to the Romans. Thus, condemning Jesus as idolatrous means they also condemn the majority of fellow Jews for paying tax.

Jesus’ answer is not a categorical yes or no, rather he formulates it in such a way that does not only save Him from the trap, but saves everyone who are forced to pay tax from the idolatry charge. Ordinary Jews are working extremely hard for their lives and families, and it is simply a merciless act to condemn them as idol worshipers simply because they need to pay tax and avoid severe punishment. Jesus’ answer removes this guilt from poor Jews struggling to feed their family as the same time enables them to be holy in the sight of the Lord. From here, to give what belongs to God does not simply mean to pay the religious tax or to offer sacrifices in the Temple, but it is primarily to help others getting closer to God. What belongs to God? It is His people.

In our own time and situation, we may pay our taxes to the governments and live as good and law-abiding citizen, but do we give what belongs to God? Do we, like the Pharisees, place unnecessary burdens on others’ shoulders? Do we ridicule other who are not able to go the Church because they need to feed their family? Do feel holy simply because we are active in the Church and donate a big amount of money? What have we done to bring people closer to God?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebalikan dari Iman

Kebalikan dari Iman

Sabtu, 21 Oktober 2017

Roma 4:13, 16-18
Mazmur 105
Lukas 12:8-12

Apakah lawan kata atau kebalikan dari “iman”?

Banyak yang menjawab “keraguan”, orang yang ragu-ragu berarti tidak beriman. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa jawaban yang lebih tepat adalah “kepastian.” Keraguan adalah hal lumrah dalam beriman. Keraguan menandakan bahwa kita tidak bisa dengan kekuatan sendiri memastikan bahwa sesuatu akan terjadi seperti yang kita perkirakan. Mempunyai iman berarti memiliki pegangan untuk terus maju berjalan walaupun tujuan kita belum kelihatan. Dalam hal ini, pegangan kita adalah Tuhan sendiri. Iman kita percaya bahwa Tuhan akan selalu membimbing kita dan menyelamatkan kita.
Sebaliknya, kalau kita sudah percaya diri dan pasti akan masa depan, kita tidak perlu bantuan yang lain, termasuk bantuan dari Tuhan sendiri.

Santo Paulus sangat terkesan dengan iman Abraham. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, dia berulangkali menyebut Abraham sebagai teladan orang yang beriman. Abraham dipanggil oleh Tuhan untuk meninggalkan segalanya, untuk membawa semua anggota keluarga, pelayan-pelayannya, ternaknya, untuk pergi ke tanah yang dijanjikan. Dia tidak tahu bagaimana perjalanan itu akan berakhir. Tapi imannya membuat dia percaya bahwa Tuhan akan selalu menolong dan menyertainya.

Hidup kita seringkali penuh dengan rintangan dan kesulitan. Pada saat kita ragu bagaimana kita bisa melalui semua itu dengan selamat, kita tidak perlu merasa bersalah karena kita tidak beriman. Justru di saat seperti itulah kita harus mengandalkan iman kita, yaitu bahwa Tuhan akan menepati janjinya untuk tetap menyertai kita dan tidak akan meninggalkan kita. Dengan imanlah kita mendapatkan kekuatan untuk menempuh situasi apapun yang penuh kegelapan dan penderitaan, dan yang jalan keluarnya tidak menentu. Mungkin situasi itu adalah masalah dalam keluarga atau pekerjaan, mungkin ada hubungannya dengan situasi sosial politik di mana kita tinggal. Apapun juga, dengan iman kita percaya bahwa Tuhan terus menyertai kita. Kita memang tidak pasti bagaimana semuanya akan berakhir, tetapi Tuhan akan selalu membawa semuanya menjadi lebih baik.

Antara Iman dan Perbuatan

Antara Iman dan Perbuatan

Jumat, 20 Oktober 2017

Roma 4:1-8
Mazmur 32
Lukas 12:1-7

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma hari ini termasuk salah satu yang digunakan untuk mendasari ajaran Gereja-gereja Reformasi atau Protestan, terutama yang berkembang dari ajaran Martin Luther. Salah satu prinsip mereka adalah sola fide atau “hanya iman.” Yang dimaksud di sini adalah bahwa keselamatan manusia hanya diperoleh karena iman kepada karya anugerah Allah yang dikerjakan-Nya melalui Yesus Kristus. Prinsip sola fide inilah yang sering dibenturkan dengan ajaran Gereja Katolik. Kita menjunjung tinggi perbuatan-perbuatan amal sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari iman kita, sedangkan orang Protestan sering menuduh bahwa kita terlalu mengandalkan perbuatan baik untuk memperoleh keselamatan. Kalau kita melihat lebih dalam konteks sola fide, kita harus ingat bahwa Martin Luther hidup di masa di mana Gereja Katolik banyak menggunakan surat indulgensia. Pengampunan dosa seperti dijual-belikan dengan perbuatan yang harus dilakukan seseorang. Seringkali indulgensia ini disalahgunakan untuk kepentingan yang lain. Karena itulah Luther bereaksi sangat keras dan mengedepankan iman sebagai satu-satunya jalan keselematan.

Setelah hampir 500 tahun dimulainya Reformasi, kita telah mengalami banyak kemajuan dari dialog dengan para saudara-saudari kita umat Protestan. Tahun 1999, misalnya, Gereja Katolik melalui Dewan Kepausan untuk Memajukan Persatuan Kristiani dan Federasi Lutheran Sedunia (Lutheran World Federation) mengeluarkan pernyataan bersama tentang Doktrin Pembenaran (http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/chrstuni/documents/rc_pc_chrstuni_doc_31101999_cath-luth-joint-declaration_en.html atau terjemahan tidak-resmi ke dalam Bahasa Indonesia: http://www.katolisitas.org/deklarasi-bersama-lutheran-dan-katolik-tentang-doktrin-justifikasi/). Pada intinya, Gereja Katolik dan Gereja Lutheran sama-sama mengakui bahwa manusia dibenarkan oleh Allah Tritunggal dan diselamatkan melalui Kristus dalam iman. Iman ini adalah anugerah Allah melalui Roh Kudus yang bekerja melalui firman dan sakramen di dalam komunitas beriman dan yang memperbaharui hidup mereka untuk mencapai kepenuhan di hidup yang kekal. Karena itulah Doktrin Pembenaran tidak bisa hanya dilihat sepotong melainkan harus diperlakukan sebagai satu bagian dari seluruh aspek iman kita yang berhubungan satu sama lain.

Dalam Deklarasi Bersama ini juga dinyatakan bahwa kedua Gereja mengakui bahwa perbuatan baik adalah buah dari pembenaran. Menurut Gereja Katolik, perbuatan baik dimungkinkan oleh anugerah Tuhan dan karya Roh Kudus dalam hidup manusia sehingga pembenaran dari Allah dikuatkan dan persatuan dengan Kristus diperdalam. Gereja Lutheran melihat pembenaran sebagai anugerah dari Tuhan yang sudah sempurna. Tetapi mereka juga percaya bahwa efek dari pembenaran itu masih bisa berkembang dalam kehidupan iman seseorang. Dari deklarasi ini kita dapat melihat bahwa terdapat banyak persamaan antara kita dengan saudara-saudari Protestan kita. Banyak denominasi lain selain Lutheran juga sudah banyak yang mengadopsi Deklarasi Bersama ini. Semoga ini semua tanda bahwa kita umat Kristiani semakin bersatu dalam Kristus.

Translate »