Browsed by
Month: May 2021

Agar mereka semua menjadi satu

Agar mereka semua menjadi satu

Kis 20:28-28 Yoh 17:11b-19

Injil hari ini mengisahkan tentang Doa dan Wasiat akhir Yesus kepada murid-murid pada Malam Perjamuan Terakhir sebelum kematian-Nya. Sebagai Imam Agung, Yesus bertindak tidak hanya sebagai Perantara keselamatan antara Allah dan manusia, melainkan di saat yang sama menjadi Korban yang mempersembahkan diri-Nya lewat sengsara dan wafat-Nya di Salib. Inti dari doa Yesus adalah “agar mereka menjadi satu.” Inilah harapan utama Yesus. Ia memohon agar murid-murid yang telah dipilihnya selalu dijaga, dilindungi dan diberkati sebagai satu kawanan, selalu tinggal dalam kesatuan dengan Bapa melalui perantaan Putra dan kesatuan di antara mereka yang dipilih dan dikuduskan-Nya. Sebab hanya dalam Roh dan iman yang dikaruniakan Allah, mereka akan mampu dan bertahan dalam melaksanakan tugas pewartaan yang dipercayakan Guru dan Penyelamat mereka yang diutus Bapa. Yesus juga dalam doa-Nya menyebutkan alasan mengapa murid-murid yang dipilih-Nya harus dikuduskan dalam kebenaran, yakni karena dunia membenci mereka. Mereka akan mengalami pelbagai cobaan, penolakan dan penyiksaan oleh kuasa Si Jahat, yakni Iblis. Ia berdoa: “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

Merenungkan kata-kata Yesus ini dalam doa-Nya bagi pengudusan para murid dan karya perutusan mereka di dalam dunia, kita melihat bahwa Gereja dan tugas pewartaan yang diembannya di semua tempat dan segala zaman bergantung sepenuhnya pada Kuasa dan Penyelengaraan Ilahi. Tugas pengudusan dunia dan manusia melalui pewartaan Injil, melalui pengajaran iman, melalui pelayanan sakramen-sakramen Gereja, melalui keterlibatan aktif di dalam kehidupan sosial oleh para pelayan yang diutus Allah di dalam Gereja adalah semata-semata karya Allah sendiri. Yesus telah menguduskan para Rasul dan tugas pewartaan mereka seluruhnya ada dalam kuasa Allah. Di dalam Roh Kudus, yakni Roh Kebenaran yang dijanjikan dan diutus Bapa dan Putra, karya penyelamatan Allah di dalam dunia mendapatkan makna dan arahnya yang benar. Dengan ini misteri keselamatan Allah yang diwahyukan melalui Kristus kepada Gereja dalam ziarah rohaninya di dunia, hidup dan pewartaannya, hanya dapat berarti dan efektif kalau ada keterlibatan misioner, yakni bersentuhan langsung dengan keseharian hidup umat, konteks kebudayaaan, agama dan sosial, yang oleh dan dalam kuasa Roh Allah sendiri, benar-benar digeluti, digarami dengan nilai-nilai Injil, ajaran dan tradisi iman, melalui karya pastoral-pelayanan Gereja di dalam dunia. Hanya di dalam kuasa dan penyelenggaraan Ilahi dan keterlibatan misioner Gereja, kita boleh berharap bahwa doa Yesus benar-benar terwujud, yakni agar kita semua menjadi satu, satu kawanan dengan satu Gembala, Imam Agung Allah, Kristus sendiri.

Setia hingga garis akhir

Setia hingga garis akhir

Kis 20:17-27 Yoh 17:1-11a

Kita hidup di dunia karena ada arti dan tujuan tertentu yang telah Tuhan tentukan untuk kita. Tuhan memberikan rahmat hidup yang begitu melimpah melalui orang-orang yang mengasihi dan mendampingi kita, terutama dengan mereka kepadanya Tuhan menganugerahkan rahmat pelayanan iman dan Injil kepada kita. Begitu melimpah dan indahnya rahmat pelayanan ini sehingga kita tidak pernah merasa puas melainkan selalu merasa lapar dan haus untuk membaktikan diri hingga kepenuhannya. Hal ini dapat kita temukan dalam diri Paulus seperti kita lihat dalam bacaan pertama hari ini: “Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kis 2:18-24).

Kutipan ini memberi kita gambaran yang jelas dan berarti tentang bagaimana rahmat hidup yang melimpah itu harus kita tanggapi dengan penuh iman, kesetiaan dan kerja keras. Paulus menggambarkan pertobatannya sebagai jalan kepada hidup dan kebenaran Kristus yang diwartakannya dengan penuh semangat, tidak kenal lelah, dan tidak pernah menyesalinya. Perjumpaannya dengan Tuhan yang menyelamatkannya adalah titik balik dari kegelapan batin dan dosa yang membawa maut kepada hidup baru dan keselamatan di dalam Allah. Ia amat mensyukuri rahmat pertobatan dan panggilannya, namun lebih dari itu, dengan rahmat hidup baru yang diterima, ia mengisinya dengan mengabdikan seluruh hidupnya demi Allah dan umat, demi Injil dan janji keselamatan untuknya ia dipanggil. Baginya, misi adalah rahmat, pemberian Allah yang tak bisa dihindarinya, dan melaksanakannya dengan pemberian diri yang total tidak lain dari karya Roh Allah sendiri. Tidak sedikit tantangan dan cobaan yang harus dihadapi, namun cinta dan kesetiaannya akan Tuhan, tidak pernah membuatnya mundur: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:19-20). Ia percaya bahwa Kristus yang wafat dan bangkit, hidup dalam dirinya, memberi kekuatan dan kesabaran bagi karya pelayanan dan pewartaannya, Kristus yang sama akan membawanya hingga garis akhir.

Menghayati Makna Pembaptisan

Menghayati Makna Pembaptisan

Kis 19:1-18 Yoh 16:29-33

Di dalam pembaptisan kita menerima anugerah pertobatan melalui kuasa Roh Allah. Kita menerima pembaptisan dengan Air dan Roh Kudus yang membawa kita masuk ke dalam terang hidup baru di dalam Kristus. Air menandakan hidup yang mengalir dari sumbernya yakni Kristus sendiri. Air juga punya kuasa untuk membersihkan. Secara rohani air yang dikuduskan membasuh hati, budi dan kehendak kita agar bebas dari kuasa dosa dan kejahatan. Kuasa pembaptisan lalu mendapatkan maknanya secara penuh melalui kasih dan pengenalan yang benar akan Allah. Rahmat hidup baru ini lalu mendorong kita untuk tidak tinggal diam saja melainkan terus bekerja dan mewartakannya dalam hidup kita.

Bagaimana menghayati rahmat pembaptisan kita? Hal ini tentu sangat bergantung pada panggilan kita masing-masing.

Di dalam hidup berkeluarga, misalnya, orang tua dipanggil untuk mengajarkan iman yang mereka hayati kepada anak-anak. Hal-hal sederhana yang bisa diajarkan seperti doa-doa harian seperti Tanda Salib, Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Doa Tobat dll. Selain itu anak-anak juga perlu diperkenalkan untuk mencintai Allah dengan membaca Kitab Suci. Sebab kita yakin bahwa rahmat iman yang kita terima selalu dalam proses pertumbuhan. Karena itu perlu sekali untuk dirawat terus-menerus agar jiwa anak bertumbuh secara baik dan sehat sehingga bisa menghasilkan buah-buah yang baik dan berguna sesama.

Kita tahu bahwa kerajaan Allah hadir melalui hal-hal yang kecil, sederhana dan tidak nampak. Karena itu kita perlu terbuka pada kehadirannya agar Roh Kudus terus bekerja dalam diri kita melalui perbuatan-perbuatan baik, kendati sekecil apapun, sebab kita yakin bahwa semua yang datang dari Allah tidak akan kembali dengan sia-sia.

Sanctified

Sanctified

7th Sunday of Easter [B]

May 16, 2021

John 17:11b-19

John chapter 17 is traditionally called Jesus’ prayer as a high priest. This prayer was in the context of the Last Supper and just before His passion and death. Jesus prayed to the Father and interceded for His disciples and all of us who believe in Him. It was a beautiful and powerful prayer.

One interesting subject that Jesus asked from the Father is that Jesus did not plead that the Father took the disciples from the world but rather to protect them from the evil one. We remember that Jesus was soon returning to the Father in the ascension, but Jesus did not want them to follow Him yet. Instead, Jesus then asked the Father to sanctify the disciples in Truth.

To sanctify is to make holy. Often our understanding of being holy is limited to those people who already in heaven. We call them the saints or the holy men and women. Yet, the fundamental meaning of ‘to be holy’ is ‘to be set apart’. In Biblical Hebrew, the word for holy is “Kados”, and it has the same meaning. Therefore, to be sanctified means to be set apart for purposes. For example, holy water is not just ordinary water because it has been blessed and set apart from everyday use like drinking or washing. It is now only for religious purposes.

In His prayer, Jesus was sanctifying His disciples. Jesus was making His disciples holy, and He was setting them apart from this world, for the Truth. Though the disciples were in the world, they no longer belonged to the world. They were consecrated to the Truth that is Jesus Christ Himself [see John 14:6]. The disciples belonged to Jesus. Thus, they remained in the world, not because they enjoyed and attaching themselves to the world, but they were to preach the Truth and bring Jesus.

Jesus’ prayer is not only for His apostles two thousand years ago but for all of us. When we are baptized, we have been set apart from the world and for God. We belong to God. Yet, the same baptism makes us share in the mission of the apostles. We remain in the world because God sent us to bring Christ to more people.

However, the temptation is that we often forget how we are and believe that we are part of the world rather than belong to Christ. We are not only simply in the world, but we become too worldly. We become too attached to the world and busy with many temporal affairs. Indeed, I am not suggesting that we all enter the monasteries or turn to be hermits. We remain in the world as who we are now, as parents, spouses, workers, teachers, students, yet in all of these, we bring Christ. Thus, holy parents do not mean those who pray in the chapel 24/7, but who raise their children with dedication and bring them to Christ. Holy workers are not those who come to workplaces and mediate the whole day, but those who work hard and honestly.

We remember Blessed Carlo Acutis. He loved to go to Mass and pray the rosaries, but He was an ordinary student and a computer geek. He used his passion for the computer to establish a Catholic website to spread the devotion to the Holy Eucharist. If Carlo Acutis can do it, why can’t we?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dikuduskan

Dikuduskan

Minggu Paskah ke-7 [B]

16 Mei 2021

Yohanes 17: 11b-19

Injil Yohanes bab 17 secara tradisional disebut doa Yesus sebagai imam agung. Doa agung-Nya ini terjadi dalam konteks Perjamuan Terakhir, dan tepat sebelum sengsara dan kematian-Nya. Di sini, Yesus berdoa kepada Bapa, dan menjadi perantara bagi para murid-Nya serta bagi kita semua yang percaya kepada-Nya. Sebuah doa yang sangat indah.

Satu hal menarik yang Yesus minta dari Bapa adalah bahwa Yesus tidak memohon agar Bapa mengambil murid-murid dari dunia, tetapi untuk melindungi mereka dari si jahat. Kita ingat bahwa Yesus segera kembali kepada Bapa dalam kenaikan-Nya, tetapi Yesus belum ingin para rasul mengikuti-Nya. Sebaliknya, Yesus kemudian meminta Bapa untuk menguduskan murid-muridnya dengan kebenaran.

Menguduskan berarti menjadikan kudus atau suci. Seringkali, pemahaman kita tentang kekudusan atau kesucian terbatas pada orang-orang yang sudah di surga. Kita menyebut mereka orang-orang kudus atau santo dan santa. Namun, arti fundamental dari ‘menjadi kudus’ adalah ‘dipisahkan’ atau ‘dikhususkan’. Dalam Bahasa Ibrani, kata untuk kudus adalah “Kados” dan memiliki arti yang sama. Oleh karena itu, dikuduskan berarti dikhususkan untuk tujuan tertentu. Seperti misalnya air suci, bukan lagi air biasa karena telah diberkati dan dipisahkan dari penggunaan biasa seperti minum atau kumur, dan sekarang dikhususkan untuk keperluan keagamaan.

Dalam doa-Nya, Yesus menguduskan murid-murid-Nya. Yesus menjadikan murid-Nya kudus, dan ini berarti, Yesus memisahkan mereka dari dunia ini, bagi kebenaran. Meskipun para murid ada di dunia, mereka bukan lagi milik dunia. Mereka dikuduskan pada kebenaran yaitu Yesus Kristus sendiri [lihat Yohanes 14: 6]. Murid-murid ini sekarang milik Yesus. Jadi, mereka tetap di dunia, bukan karena mereka menikmati dan melekatkan diri mereka pada dunia, tetapi mereka diutus memberitakan Kebenaran dan membawa Yesus.

Doa Yesus tidak hanya untuk para rasul-Nya dua ribu tahun yang lalu, tetapi untuk kita semua. Ketika kita dibaptis, kita telah dipisahkan dari dunia, dan dikhususkan bagi Tuhan. Kita adalah milik Tuhan. Namun, baptisan yang sama membuat kita ikut serta dalam misi para rasul. Kita tetap di dunia karena Tuhan mengutus kita untuk membawa Kristus kepada lebih banyak orang.

Namun, godaannya adalah kita sering lupa siapa kita sebenarnya, dan mulai percaya bahwa kita adalah bagian dari dunia, bukan milik Kristus. Kita tidak hanya di dunia ini, tapi kita menjadi terlalu duniawi. Kita menjadi terlalu terikat dengan dunia, dan sibuk dengan banyak urusan duniawi. Tentu saja, saya tidak menyarankan agar kita semua memasuki biara atau beralih menjadi pertapa. Kita tetap di dunia seperti kita sekarang, sebagai orang tua, suami-istri, pekerja, guru, siswa, namun dalam semua ini, kita membawa Kristus. Jadi, orang tua yang kudus bukan berarti mereka yang berdoa di kapel 24 jam, tetapi yang membesarkan anak-anak mereka dengan dedikasi dan membawa mereka kepada Kristus. Pekerja suci bukanlah mereka yang datang ke tempat kerja dan kemudian bertapa sepanjang hari, tetapi mereka yang bekerja keras dan jujur.

Kita ingat Beato Carlo Acutis. Dia senang pergi ke Misa dan berdoa rosario, tetapi dia adalah siswa biasa dan pencinta komputer. Dia menggunakan kecintaannya pada komputer untuk membangun situs web Katolik untuk menyebarkan devosi kepada Ekaristi Kudus. Jika Carlo Acutis bisa melakukannya, mengapa kita tidak?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »