Browsed by
Month: August 2021

Doa St. Dominikus

Doa St. Dominikus

Hari Raya St. Dominikus de Guzman
8 Agustus 2021
Mat 28:16-20

Hari ini, keluarga Dominikan merayakan hari raya St. Dominikus de Guzman, pendiri dan bapak Ordo Pewarta. Oleh karena ini, izinkanlah saya memberikan sedikit renungan tentang st. Dominikus. Perayaan tahun ini sangat khusus karena kita juga memperingati 800 tahun wafatnya Dominikus. Ini adalah ‘Dies Natalis’, hari kelahirannya di surga. Dan 800 tahun sejak kematian St. Dominikus, Ordo yang ia dirikan semakin kuat dan muda.

Ordo Pewarta mungkin bukan kongregasi terbesar di Gereja Katolik, [kita hanya memiliki sekitar enam ribu saudara], tetapi tentu saja, kita terus diberkati dengan panggilan-panggilan baru. Di Indonesia sendiri, kita memiliki banyak frater-frater dalam formasi. Di Filipina, rumah formasi Dominikan dipadati oleh frater-frater.

Apa alasan di balik pertumbuhan ini? Tentu saja, ada banyak alasan yang bisa dikemukakan, namun saya dapat menyodorkan satu alasan: doa St. Dominikus sendiri. Di saat kematiannya, St Dominikus berjanji kepada saudara-saudaranya, “Jangan menangis, karena saya akan lebih berguna bagimu setelah kematian saya dan saya akan membantumu di sana lebih baik daripada selama saya hidup.” [kata-katanya ini bahkan dikutip dalam KGK 956]

Doa-doanya terbukti berfaidah. Ordonya telah menjadi bagian sejarah panjang dunia dan Gereja, dan tidak semuanya baik. Ordo juga ambil bagian dari beberapa peristiwa kelam dan memori yang menyakitkan. Bahkan, ada kalanya Ordo tampak runtuh karena bebannya sendiri atau terpecah menjadi faksi-faksi yang lebih kecil. Namun, Ordo dapat mengatasinya. Saya percaya bahwa penjelasannya tidak dapat dijelaskan dengan kekuatan manusia saja. Ini adalah belas kasihan Tuhan dan cinta Dominikus yang besar bagi saudara-saudaranya.

Yang sungguh menakjubkan bahwa St. Dominikus tidak sendirian. Dia berdoa bersama dengan orang-orang kudus Dominikan lainnya, seperti St Thomas Aquinas, St Martin de Porres, St Katarina dari Siena, dan banyak Dominikan yang telah masuk surga. Setiap hari, doa-doa mereka semakin kuat dan riuh, karena semakin banyak orang suci bergabung dengan paduan suara mereka ini.

Ordo Pewarta adalah sebuah keluarga dan komunitas, dan yang menakjubkan adalah bahwa anggotanya tidak terbatas pada mereka yang ada di bumi, tetapi juga mereka yang di surga. Saudara-saudari kita di surga melakukan hal-hal yang lebih menakjubkan lagi bagi kita. Saya mungkin sendirian di sini saat saya memberi renungan, tetapi anggota keluarga surgawi saya mendukung dan menyemangati saya. Saya mungkin sendirian dalam waktu belajar, tetapi para kudus Dominikan berada di garis depan dalam membimbing saya. Surat Ibrani berbicara tentang awan para saksi surgawi yang mengelilingi kita [Ibr 12:1], dan sebagai anggota Ordo, saya mengenal beberapa di antara mereka. Kita mungkin kecil, tapi kekuatan kita bukan hanya di dunia ini. Bahkan, pekerjaan yang lebih besar dilakukan di surga demi Ordo, Gereja dan keselamatan jiwa.

Banyak dari kita mungkin bukan anggota Ordo Dominikan, tetapi kita adalah bagian dari keluarga Allah yang lebih besar, Gereja. Ordo St. Dominikus hanya sebuah cerminan dari Gereja Kristus. Kita memiliki satu Bapa di surga, dan tidak ada sukacita yang lebih besar bagi seorang ayah kecuali melihat anak-anaknya saling membantu dan mengasihi. Selama kita membantu dan mengasihi saudara-saudara kita di bumi ini, tidak lupa kita bersyukur kepada saudara-saudara kita di surga yang senantiasa mengasihi dan mendukung kita, sampai kita bertemu di surga.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

BELAJAR UNTUK SETIA DALAM IMAN

BELAJAR UNTUK SETIA DALAM IMAN

Sabtu, 7 Agustus 2021

Matius 17:14-20

            Para murid bertanya kepada Yesus mengapa mereka tidak bisa mengusir setan, ketika ada seorang datang kepada mereka untuk meminta dibebaskan? Yesus menjawab mereka dengan jelas, karena mereka kurang percaya. “Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada mustahil bagimu.”(Mat 17:20).Dari jawaban Yesus ini, hal yang menentukan dalam hidup orang beriman adalah percaya; mengandalkan kekuatan Allah.

            Bagaimana agar seseorang bisa percaya kepada Tuhan. Iman tumbuh seperti biji dari kecil terus berkembang menjadi besar dan akhirnya bisa berbuah. “Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makain tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.”(Mrk 4:26). Iman selalu terkait Kerajaan Allah karena berhungungan dengan Allah Tritunggal Maha Kudus  yang dimianinya. Hal itu berarti Iman adalah suatu relasi yang dirawat dari hal-hal kecil dalam ketekunan dan kesetiaan, dalam proses dan waktu, hingga akhirnya merasuki seluruh dimensi hidupnya; hati, budi, kata-kata, dan perbuatannya. Oleh sebab itu iman tidak bisa dibeli seperti orang memerlukan barang-barang di toko, dan juga bukan sesuatu yang instan (tanda dimasak lama), seperti makanan siap jadi. Iman adalah relasi dengan Tuhan yang bertumbuh dalam diri seseorang dalam ketekunan dan kesetiaan. “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergocang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayan.”(Kolose 1:23).

            Oleh karena itu, jika seseorang ingin mendapatkan iman yang kuat, maka diperlukan ketekunan dan kesetiaan, dalam menghadapi setiap persoalan-persoalan hidup yang harus dihadapi. “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurniaan imanmu, yang jauh lebih tinggi nilainya dari emas yang fana, yang diuji kemurniaannya dengan api, sehingga kamu memperolah puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”(1 Petrus 1:6-7). Dengan demikian, saat seseorang harus menghadapi persoalan-persoalan hidup, hal itu bukan sesuatu tanpa arti, namun saat itulah saat untuk memurnikan imannya. Mereka yang bertekun dalam kesetiaan iman akan mendapatkan buah-buah yang baik, dan Allah akan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menjadi saksi kebenaran dan belas kasih-Nya. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”(Mat 25:23).

                                                                                                                                                            Serawai, Rm. Didik, CM

DENGARKANLAH DIA

DENGARKANLAH DIA

Jumat, 6 Agustus 2021

Markus 9:2-10

            Yesus Kristus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung, dan disana Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. “…..Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat, Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.”(Mrk 9:2). Apa maksud Yesus menunjukkan semua itu kepada para murid-Nya? Yesus mau menyakinkan kepada mereka bahwa, Dia datang dari Allah Bapa, yang telah dikatakan dan diramalkan oleh para nabi. Oleh karena itu saat itu dalam penampakkan Yesus bersama dengan Elia dan Musa. “Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.”(Mrk 9:4). Pada saat itu jiga diproklamirkan siapa sebenarnya Yesus Kristus. Dia adalah Anak Allah yang dikasihi oleh Bapa di surga, yang turun ke dunia untuk menjadi juruselamat dunia. “Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”(Mrk 9:7).

            Yesus ingin bahwa para murid melihat dan percaya. Pengalaman para murid bersama Yesus Kristus ini, menjadi sumber kekuatan dan tanda yang menyadarkan mereka bahwa Yesus lah yang menjadi pusat kehidupan semua orang beriman. Sebab apa? Karena di dalam Yesus Kristus semua telah disatukan dan di damaikan lewat korban di atas kayu Salib. Di Golgota, dari atas kayu salib, Yesus mengampuni semua doa umat manusia. “Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”(Luk 23:34). Dengan demikian lewat darah-Nya semua orang yang percaya dibersihkan dan menerima keselamatan. Sebelum bisa menerima rahmat tersebut, maka seseorang perlu membuka hati untuk percaya. Bagaimana supaya seseorang bisa percaya kepada Tuhan Yesus? Kuncinya adalah terbuka untuk mendengarkan Dia. Itulah yang diserukan oleh Roh Kudus sendiri. “Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”(Mrk 9:7).

            Mendengarkan suara Tuhan membutuhkan sikap kerendahan hati. “Karena TUHAN jiwaku bermegah, biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.”(Mzm 34:3). Dengan sikap rendah hati, maka seseorang akan berani menyadari keterbatasannya dan dengan demikian mau membuka hati untuk menerima dan percaya kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya. Setelah iman akan Yesus Kristus tertanam di dalam hati seseorang, maka iman tersebut akan tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah-buah dalam tindakan; kasih kebenaran dan kebaikan. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tujukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”(Efesus 4:2).  Guru yang bisa mengajari bagaimana rendah hati adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”(Mat 11:29).

            Kerendahan hati Yesus tampak jelas dalam inkarnasi; Allah menjadi manusia. Yesus telah mengosongkan diri-Nya agar Dia bisa mengasihi manusia dan menjadi bagian hidup mereka, sehingga bisa membawa manusia menemukan jalan kebenaran dan keselamatan. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”(Filipi 2:5-8). Jika seseorang selalu mendengarkan suara-Nya bertahap ia akan dibimbing jalan hidupnya.

                                                                                                                                                                 Serawai, Rm. Didik, CM

PENGORBANAN KRISTUS

PENGORBANAN KRISTUS

Kamis, 5 Agustus 2021

Matius 16:13-23

            Setelah sekian lama para murid melihat dan mengalami kebersamaan dengan Yesus Kristus, lalu Yesus bertanya kepada mereka. “ Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16: 15-16). Petrus menjawab bukan dari mulutnya sendiri, namun karena Roh Allah yang menyertainya. “Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”(Mat 16:17). Dengan demikian pengenalan dan iman kapada Yesus Kristus, bukan semata-mata karena usaha manusia, namun karena Roh Kudus yang bekerja di dalam diri seseorang yang percaya.

            Namun karena kemanusianya seseorang tidak bisa menangkap sepenuhnya misteri Allah yang Maha Agung.  Cara pandang manusia, seringkali tidak sama dengan cara pandang Allah. Mesias bagi Petrus yang mewakili para murid lainnya, melihat seperti tokoh super hero, yang tidak dapat dikalahkan dan selalu menang. Oleh karena itu ketika Yesus berbicara tentang diri-Nya yang akan ditangkap, diadili, difitnah, disiksa dan di salibkan, maka Petrus terkejut dan menolak pemikiran tersebut, karena Petrus berpikir dengan sudut pandang sebagai manusia. “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Mat 16:21). Sementara Yesus berbicara sebagai Anak Allah yang diutus untuk menebus dosa-dosa umat manusia dan menyelamatkan mereka. “Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyalah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”(Mat 16:23).

            Mengimani Yesus Kristus adalah mengenal, memahami arti dari pengorbanan atau salib sebagai jalan menunju pada kembangkitan dan kehidupan. Yesus adalah Mesias yang telah rela mengorbankan jiwa dan raga-Nya untuk penebusan manusia yang berdosa. Lewat korban salib Yesus Kristus, manusia berdamai kembali dengan Allah Bapa yang dahulu hubungan tersebut telah dirusak oleh dosa-dosa manusia. “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamian itu kepada kami.”(2 Kor 5:18).    

                                                                                                                Serawai, Rm. Didik, CM

MENGENAL ALLAH

MENGENAL ALLAH

Rabu, 4 Agustus 2021

Matius 15:21-28

                Semua orang yang datang kepada Yesus tidak pernah ada yang ditolak, walaupun yang datang bukan dari kalangan orang Israel. Hal itu berarti, Yesus datang ke dunia untuk semua umat manusia yang beraneka ragam budaya, suku, dan bangsa. Oleh karena itu, Yesus mengabulkan permohonan seorang ibu yang berasal dari Kanaan, karena ia datang dengan penuh iman dan apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus pasti akan terjadi. “Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.”(Mat 15:28). Tidak ada orang yang akan dikecewakan, sebab  kehadiran Yesus Kristus justru untuk mereka yang lemah dan mengangkat orang-orang berdosa menemunkan kembali  harapannya  akan  keselamatan. “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”(Mat 9:13).

                Pertanyaannya, sekalipun Tuhan Yesus sudah membuka kedua tangan-Nya untuk manusia, apakah manusia mau percaya? Berapakah orang yang berani bersandarkan dan mengandalkan-Nya? Belum tentu orang-orang yang setiap hari duduk makan semeja dengan Yesus bisa benar-benar percaya kepada-Nya. Sebaliknya bisa terjadi, mereka yang dianggap jauh dan tidak ber-Tuhan, ternyata lebih mau membuka hatinya untuk-Nya. “Setelah Yesus mendengar hal itu , heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Isarel.”(Mat 8:10).  Oleh karena itu, siapakah yang mengetahui isi hati dan kedalaman iman seseorang?  Tidak bisa orang lain melihatnya, hanya Allah sendiri yang bisa melihatnya.

                Demikianlah seseorang akan bisa mengerti bahwa ketika seseorang berdoa dan memohon kepada Allah, sebelum ia meminta kepada-Nya, Dia terlebih tahu apa yang ada di dalam hatinya. “Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada-Nya.”(Mat 6:8). Oleh karena itu, adalah sesuatu yang membahagiakan jika seseorang dekat dengan Tuhan. Dan hal ini merupakan pengalaman yang sangat personal antara seseorang dengan Allah sendiri. Setiap orang dengan caranya sendiri mengungkapkan imannya dan cintanya kepada Tuhan. Dengan demikian tidak ada orang yang bisa menilai dan menyatakan mereka lebih suci atau baik, dan yang lain tidak, sebab tidak ada satupun bisa melihat kedalaman iman seseorang, maka yang penting adalah seseorang menjaga hatinya senantiasa tulus, rendah hati dan siap untuk memuliakan nama-Nya dalam setiap kata, keputusan dan tindakannya.

                Allah Bapa yang Maha Tahu melihat hati setiap orang. Oleh karena itu, Dia tidak akan salah memilih dan memberikan berkat-berkat-Nya yang telah disiapkan-Nya untuk mereka yang dikasihi-Nya.”Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Jangan pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”(1 Samuel 16:7).  Hal inilah menjadikan seseorang akan selalu damai di hati dalam segala situasi, sebab Allah senantiasa ia rasakan di hatinya. Mereka yang dengan hatinya percaya kepada Yesus Kristus, akan menerima hal yang sama dari-Nya, yaitu hati yang baru, hati yang penuh dengan belas kasih. Itulah tandanya, bahwa Tuhan hadir di dalam hidupnya. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah, dan mengenal Allah.”(1 Yoh 4:7).

Serawai, Rm. Didik, CM,

Translate »